
Micho merasakan sesak, sakit dan kecewa tumpah ruah di dalam dirinya. Micho mengalihkan pandangannya, bayangan Amara bahagia bersama Rayen memenuhi otaknya.
"Dasar, wanita murahan. Aku pikir kau dalam bahaya sehingga otakku memikirkanmu, aku mencarimu, nyatanya bayanganmu mempermainkan aku." gerutunya sambil mengusap kasar wajahnya.
"Bodoh, kenapa aku menuruti otakku yang sedang di permainkan wanita murahan itu," umpat batin Micho. Micho mengeratkan rahangnya dan mengibaskan tangannya ke arah Radit dan Damar.
"Pergi, nikmati malam kalian. Wanita murahan itu mempermainkan otakku," ucap Micho.
Damar mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa bosnya itu menyalahkan Amara, sedangkan otaknya sendiri yang berfikir. Damar melirik ke arah Radit yang tampak panik dan mengepalkan tangannya. Damar melirik juga ke arah ponsel yang bisa Mendeteksi keberadaan Amara. Hanya bingung yang dia rasakan ketika melihat dimana letak Amara berada.
Nada melangkah maju dan melayangkan satu tamparan pada Micho. Micho mengusap wajahnya dan menatap Nada dengan sorot mata dingin. Radit mendongak melihat ke arah Nada yang berani sekali melakukan hal itu, hampir saja Radit membuat bogem mentah untuk kakaknya. Nyatanya tangan Nada sudah terlebih dahulu mendarat sempurna dia wajah Micho.
"Jangan kurang ajar, Nona." bentak Damar yang tak suka jika bosnya di tampar. Radit hanya diam menyaksikan ini, dia akan mentraktir Nada karna menampar Micho nanti.
"Bagaimana bisa aku tidak kurang ajar pada suami sepertinya, Amara bersama dengan Rayen. Lalu bagaimana bisa dia membiarkannya," bentak Nada. Tatapan matanya seakan mengintimidasi Micho. Nada tau bagaimana nekatnya seorang Rayen. Dia takut Amara kenapa-napa.
"Bukankah mereka sama-sama suka, lalu apa gunanya aku mencari mereka?" sahut Micho. Nada menatap Micho dengan tajam.
"Kau pikir aku akan sepanik ini jika Amara bersama dengan orang yang baik? Amara bersama Rayen, itu artinya Amara dalam bahaya, Tuan Micho Yang terhormat." ucap Nada sambil menunjukan jarinya ke arah Micho dengan suara lantangnya.
Micho menatap Nada dengan tajam. Netranya mencari kebenaran dengan apa yang diucapkan Nada.
"Apa maksudmu?" tanya Micho sambil mencengkram tangan Nada dengan kuat. Nada memejamkan matanya dan merasakan sakit yang amat sangat. Radit maju beberapa langkah dan menepis tangan Micho. Micho menatap tajam ke arah Radit. Radit menarik Nada dalam dekapannya, melindungi wanita itu dari cengkraman Micho.
"Kak, istrimu bersama lelaki lain. Bagaimana bisa kau malah menganiaya wanita lain dan diam seperti ini. Amara dalam bahaya, apa telingamu tuli dan tak bisa mendengar perkataanya dengan baik?" bentak Radit.
Micho mengeratkan tangannya dan menatap ke arah Damar. Damar mengerti apa yang Micho mau.
"Di jalan X," ucap Damar setelah melihat GPS yang ada di ponsel Amara. Micho memejamkan matanya.
"Amara," ucapnya lirih. Antara percaya dan tidak percaya terhadap ucapan Nada. Bagaimana bisa mereka ada di rumah itu jika tidak saling suka?Bagaimana bisa? pikir Micho. Antara Sakit dan gelisah Micho melangkahkan kakinya pergi menuju ke arah dimana Amara berada.
😃😃😃😃
__ADS_1
Rayen menerbitkan senyuman saat dia benar-benar ada diatas tubuh Amara. Rayen menatap ke arah Amara yang menampakkan wajah tegangnya dan masih saja mencoba untuk memberontak.
Saat ini wajah Rayen bergerak maju, mendekat ke arah wajah Amara dan mengunci ke dua tangan Amara dengan tangan kanannya, tangan kirinya mengusap pipi mulus Amara yang basah karena air mata, turun ke leher, turun lagi membuka kancing baju atas milik Amara.
Amara semakin panik saat melihat gairah yang tampak dari sorot mata laki-laki yang kini mulai merayapkan tangannya itu. Amara memejamkan matanya mencoba mengumpulkan kekuatan dari tubuhnya yang merespon sentuhan itu.
Amara mencoba berteriak, saat Rayen melepas pakaian Amara dengan kasar, untung saja dia menggunakan pakaian dalam sehingga melindungi tubuhnya. Mata Rayen seakan membulat sempurna saat melihat gunung kembar di balik pakaian dalam Amara. Tangis Amara pecah, dia mencoba mumukul dan Menendang punggung Rayen dengan lututnya. Namun Rayen seperti batu yang tak bergerak sama sekali.
"Kau begitu indah, Baby. Kita nikmati malam ini, ucapnya sambil mendekatkan bibirnya ke arah, bibir Amara.
Brak,,,
Pintu terbuka saat Rayen hampir saja melancarkan aksinya untuk menikmati bibir ranum Amara. Rayen menoleh ke belakang dan di lihatnya seseorang Yang begitu asing baginya. Rayen yang hanya menggunakan celana Boxer turun dari tubuh Amara.
Amara bernapas lega, saat melihat Micho datang dengan sorot mata dingin yang mengintimidasi Rayen. Micho juga melirik ke arah Amara yang berantakan dan mengenaskan. Ada sesak yang menggelayuti hatinya melihat penampilan Amara yang mengenaskan. Tatapan mereka bertemu, Amara yang menangis seakan meminta dirinya untuk menghabisi Rayen. Ada rasa marah pada Rayen yang memperlakukan istrinya seperti itu.
Dengan tangan mengepal Micho meraih Rayen dan memberikan beberapa pukulan. Rayen melawan dan mereka saling adu kekuatan. Amara bangun dan beringsut mundur, menutupi tubuhnya dengan selimut sambil menyaksikan perkelahian 2 orang yang sama kuat itu.
Micho mendekati Amara yang menangis. Hanya isak tangis Amara yang terdengar, mata indah yang selalu dia tampakkan hilang entah kemana. Wajah yang biasanya berseri hilang tertutup duka. Ada rasa sakit yang menyayat hatinya ketika melihat pemandangan ini. Micho mendekati Amara, Amara beringsut mundur dan tampak ketakutan.
Micho mendekati istrinya dan memeluknya erat. Amara menangis sesenggukan. Micho mengusap rambut istrinya yang sudah berantakan kemana-mana.
"Menangislah," ucap Micho. Amara menangis dalam pelukan Micho. Meluapkan segala kegundahan dan ketakutan di dada bidang Micho. Micho memejamkan matanya, ada rasa sakit yang tengah dia rasakan. Sesal seakan menghantui otaknya.
Tubuh Amara menegang, ia mendorong Micho. Micho terkejut, ia memandangi wajah Amara yang memerah, Micho menangkap ada yang tidak beres dengan Amara.
Micho menggendong istrinya setelah menghubungi Radit untuk membantu Damar mengurus masalah ini.
"Micho, panas, tolong lepaskan aku." ucap Amara saat ia bersentuhan dengan Micho.
Micho mencoba untuk tidak panik, ia berjalan keluar membopong tubuh Amara yang bergerak kesana kesini mencari sebuah kepuasan. Micho mengepalkan tangannya.
"Rayen," lirihnya.
__ADS_1
Micho mendudukan Amara dalam mobil belakangnya, kondisi Amara yang seperti ini bisa membahayakan Amara jika terlalu dekat dengannya. Pikir Micho. Namun, Amara menarik lengan Micho sehingga Micho masuk juga ke dalam mobil.
Dengan gerakan liar tak terkendali, bibir Amara menyergap bibir Micho yang saat ini ada diatasnya. Amara mencoba mencari kepuasan, walaupun gerakannya sangat kaku. Micho menyunggingkan senyum setelah sebelumnya terpaku dan terkejut atas ulah Amara. Dia tau gerakan Amara adalah gerakan orang yang tak pernah melakukan hal ini sebelumya.
Ada rasa bahagia dan bangga, saat Amara memilih melampiaskan gairahnya padanya. Bukankah jika mau dia bisa saja menerima sentuhan Rayen? Tapi nyatanya Amara sibuk menghindar dan menahan walaupun itu melukai dirinya.
Micho mengepalkan tangannya. Rayen, nama itu seakan membuat darahnya mendidih.
Amara kembali melakukan gerakan, Micho yang terpancing seakan tak mau menyiakan kesempatan, meski otaknya menolak, tetapi tubuhnya merespon. Micho memutar tubuh Amara hingga dia ada di bawah dan Amara berada di pangkuannya.
Dengan gerakan liar Micho menyergap bibir ranum merah muda milik Amara, menggigit bibir Amara sehingga Amara membuka mulutnya. Bibir Micho menjelajah masuk, Amara menatap wajah Micho yang sangat tampan baginya.
Gairah Micho semakin besar saat merasakan bibir Amara begitu manis. Dia semakin terpancing dan semakin menggila. Ada perasaan bahagia dan lega saat menyesap menjilat dan m-e-l-u-m-a-t bibir yang semanis madu itu.
Amara mendorong Micho saat dirinya mulai kualahan dan kehabisan napas. Micho melepas ciuman panas itu. Mereka saling menatap. Hening, tak ada kata yang mampu keluar dari mulut keduanya. Hanya deruan napas yang memburu yang terdengar. Amara memejamkan matanya, mengingat ini semua seakan kembali membuka luka lama. Tetesan air mata membasahi pipinya. Micho mengusap pipi Amara.
"Kita ke apartemen sekarang," ucap Micho sambil mendudukan Amara. Amara hanya diam, Micho maju dan menancap gas mobilnya menuju apartemen.
Amara masih syok dengan kejadian yang dialaminya, tak ada percakapan diantara mereka.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di apartemen, Micho keluar dari mobil kemudian menggendong istrinya. Lagi-lagi Amara merasakan tegang saat mendapat sentuhan dari Micho. Amara memejamkan matanya, Micho melihat Amara.
"Bertahanlah, Ra." ucapnya. Amara hanya bisa diam dan menatap Micho sambil mengangguk.
"Dor,"
Sebuah tembakan entah dari mana datangnya melesat ke arah mereka. Micho yang sempat mengetahui mencoba menghindar. Namun, peluru itu menancap sempurna di lengannya. Amara membelalakan matanya. Netranya melirik lengan Micho yang mengeluarkan darah segar. Amara mencoba melompat dari gendongan Micho, tapi Micho seakan melarangnya..
"Tetap berada di tempatmu, Nyonya Micho." ucap Micho dingin, yang seakan tak menghiraukan luka di tangannya.
😍😍😍😍
Like komen dan vote yok.. 😂😂😂😂
__ADS_1