
Nona, datanglah ke kafe nirmala ada kabar penting untuk Anda.
Amara memejamkan matanya. Kabar apa yang akan di dengannya? Amara segera mengambil tasnya kemudian menancap gas mobilnya dan bergegas menuju ke kafe nirmala.
Beberapa saat kemudian, Amara sampai di kafe itu. Dengan langkah terburu Amara mendekati Udin, orang kepercayaan yang selama ini membantu dirinya mencari informasi.
"Kaka, maaf aku lama." ucapnya sambil duduk didepan Udin.
"Tidak apa, Nona. Aku baru saja sampai," ucapnya.
"Kakak sudah mendapat informasi tentang penembakan tempo hari?" tanya Amara. Udin memberikan beberapa berkas pada Amara. Amara meraih berkas itu dan membacanya.
"Gengster?" tanya Amara. Udin mengangguk pelan, Amara tampak berfikir.
"Apa yang mereka mau? Mas Micho atau aku? Apa ada hubungannya dengan Rayen? Lalu, kenapa Rayen turut menghabisi mereka dan menolongku waktu itu, walaupun pada akhirnya dia juga tampak bejat mau menodaiku?" pikir Amara.
"Nona, apa ada yang anda tanyakan lagi?" tanya Udin. Amara menghela napas panjang.
"Mereka mempunyai ikat kepala kuning?" tanya Amara. Undin mengeluarkan beberapa foto dari amplop coklat dan memberikan pada Amara.
"Tidak ada, Nona. Mereka orang yang berbeda. Memangnya ada apa?" tanya Udin. Amara menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Kak. Kalau begitu terimakasih. Lain waktu aku akan menghubungimu lagi, Kak." ucap Amara. Udin mengangguk dan melangkah pergi.
Amara menghela napas panjang, pikirannya melayang, memikirkan beberapa orang berikat kepala kuning itu.
Apa benar mereka ada hubungannya dengan Mas Micho? Kenapa mereka selalu hadir di saat Mas Micho membutuhkan pertolongan? Sudah beberapa kali aku menyaksikan itu.
Pikirannya juga melayang memikirkan kejadian di bandara 2 bulan yang lalu. Dia juga mengingat kejadian semalam.
"Ikat kepala kuning? Mas Micho, aku akan menanyakan ini semua padamu. Apa kamu berurusan dengan mereka? Atau malah aku yang membuat mereka selalu ada?" lirih Amara.
Beberapa saat kemudian, terdengar dengingan ponsel dari tasnya. Amara mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari Raka kakak sulungnya.
"Halo kak, ada apa?" tanya Amara sambil tersenyum.
__ADS_1
"Olive merindukanmu, dia ingin bermain denganmu. Kau ada waktu, Sayang?" tanya Raka.
"Oke kak. Aku aku akan menjemput Olive. Bilang padanya, Aunty akan segera kesana." ucap Amara.
"Okey, kakak akan bilang padanya. O iya, kamu tidak ikut menemani Micho?" tanyanya lagi.
"Tidak kak, Mas Micho bersama dengan Damar." ucap Amara.
"Kebetulan, kakakmu Rafa memyusul kesana. Biarkan mereka reoni bersama," ucap Raka sambil tertawa. Amara mengeryitkan dahinya dan tersenyum.
"Kak Raka serius?" tanya Amara.
"Apa pernah kakak bohong?" tanya Raka balik. Amara memejamkan matanya, berharap suami kakak dan juga asistennya itu kembali menjalin persahabatan seperti yang di ceritakan Raka.
"Semoga hubungan mereka membaik, aku akan segera berangkat kak. Aku tak jauh dari rumah kakak." ucap Amara.
"Okey, kakak akan mengatakan pada kakak iparmu." ucapnya.
"Siap, Bos." ucap Amara kemudian menutup ponselnya.
Amara menyambar tasnya, sambil berjalan ia mencari kunci yang ada di dalam tasnya hingga ia tak melihat jalan dan menabrak seseorang.
Amara mengangkat wajahnya dan mengamati orang di depannya.
"Erika," Amara tersenyum dan berhambur mendekat kearah Erika untuk memeluk sahabat nya itu. Namun, Erika mendorong tubuh Amara hingga Amara mundur beberapa langkah.
Amara tampak terkejut dan menatap Erika tak percaya.
"Erika, apa yang kamu lakukan? Aku Rara, kau melupakanku?" tanya Amara mencoba mencairkan suasana. Amara tersenyum sambil membenahi tasnya yang hampir terjatuh.
"Jangan sok baik di depanku, Ra. Kamu tau kebusukanmu itu sudah ku ketahui, kamu itu tak lebih dari wanita murahan yang mau menikung temannya sendiri," Erika tampak tersulit emosi dan memaki Amara.
"Apa maksudmu Erika? Aku tidak mengerti," ucap Amara.
"Jangan berkilah, kau tidak sadar keberadaanmu membuat aku menderita. Kamu tau, aku kehilangan kebahagiaan saat ada kamu. Kamu itu tidak lebih dari wanita murahan," ucap Erika sambil mendorong tubuh Amara.
__ADS_1
"Erika, aku tidak seperti yang kamu maksud." sanggah Amara. Banyak orang yang menatap kearah keduanya. Sehingga tatapan aneh tertuju pada Amara.
"Jangan munafik Amara, kamu kan yang membuat Rayen berubah? Kamu tau, seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkanmu,!" ucap Erika kemudian melangkah pergi. Amara menatap punggung Erika dan menggelengkan kepalanya. Lama tidak berjumpa, namun sahabatnya itu sangat berbeda.
"Kamu belum tau saja Erika, bagaimana liciknya Rayen," bisik Amara kemudian melenggang pergi. Amara menancap gas mobilnya menuju ke rumah Raka.
***
Di sebuah pengadilan, Micho hanya bisa diam dan menyimak kesaksian seorang wanita yang tengah bercerita tentang kejahatan papanya. Bagaimana bisa papanya melakukan kejahatan seperti itu? Damar hanya bisa menepuk pelan pundak Micho, Rafa? Rafa terdiam, dan tampak terkejut dengan fakta yang menyebut bahwa prayoga adalah dalang dari permasalahan yang terjadi di Alexander group.
Bahkan Prayoga juga yang mempunyai ide gila mencelakakan Zahira juga Khalista hingga mereka hampir kehilangan nyawa beberapa bulan yang lalu.
Tapi, titik fokus mata Rafa tertuju pada saksi yang kini tengah berbicara. Suara itu mengingatkan pada seseorang, namun wajah orang itu tak nampak jelas di matanya karna duduk menghadap hakim.
Beberapa saat kemudian, hakim menjatuhkan hukuman. Terang saja, Prayoga di tetapkan sebagai tersangka dan harus menerima segala kosekwensinya. Micho melirik ke arah Andika dan Abimanyu yang tampak hadir disana. Perusahaan mereka juga telah dikuasai Zata Star sebagai pemilik saham terbersar. Micho hanya bisa pasrah, papanya benar-benar keterlaluan.
Setelah sidang dinyatakan selesai, semua orang keluar dari pengadilan. Kini tinggal Micho, Rafa, dan Damar yang berada disisi kanan, dan Abimanyu serta Andika di sisis kiri. Mereka mendekat dan saling menatap. Sorot mata Micho menatap ke arah Andika dan Bima.
"Dunia begitu sempit, Tuan Andika. Tidak mengira, kau adalah suami dari Sabrina Khalista. Sabrina Khalista, mantan kekasihku. Aku harap kalian bahagia, dengan segala kemenangan Anda." ucap Micho, Andika tampak mengeratkan Rahangnya. Namun berusaha menahan emosi. Micho melangkah pergi, Abimanyu dan Andika hanya menatap punggung Micho dan rombongannya menjauh darinya.
Micho dan Rafa terhenti ketika melihat gadis cantik berusia setara dengan Amara berdiri di depan sana. Gadis yang tadinya menjadi saksi di sidang papanya. Rafa terkejut, melihat sorot mata teduh gadis cantik yang berdiri di sana. Begitu juga dengan Micho, Micho tampak terkejut melihat wajah itu. Keduanya ingin memastikan dan melangkah ke arah wanita itu.
Wanita itu mendongak dan terkejut melihat kedatangan 2 orang yang sangat dia kenali.
"Kak Micho, Kak Rafa?" sahutnya. Gadis itu tampak bingung, bagaimana bisa 2 lelaki itu ada disini?
"Bianca?" ucap Micho dan Rafa bersamaan. Micho tak percaya dengan fakta. Bagaimana bisa Alea bianca bekerja sama dengan papanya untuk melakukan kejahatan? Bukankah dia wanita yang baik-baik?
Rafa memejamkan matanya, menatap ke arah Micho dan Bianca dengan tatapan yang rumit. Kesalah pahaman masa lalu membuat Rafa sedikit memanas. Namun, ia mencoba menahan diri untuk mendapatkan penjelasan dari wanita di depannya.
"Bagaimana bisa kalian disini?" tanya Bianca. Bianca memandang 2 pria itu bergantian. Debaran jantungnya tak terkontrol ketika memandang ke arah Rafa. Iapun mengalihkan pandangan matanya ke arah Micho. Orang yang beberapa tahun yang lalu memberikan bantuan untuk pengobatan ibunya.
"Seharusnya kami yang bertanya, bagaimana bisa kamu menjadi tangan kanan papaku untuk melakukan kejahatan?" tanya Micho.
"Papa?"
__ADS_1
😀😀😀
Lik komen ya, pada bingung seperti ada adegan yang terlewati? Memang iya loncat 107😀😀 sabar ya. Ini ujian... semoga bisa lulus review 106 nya.