Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Jangan Besar kepala


__ADS_3

"Sebaiknya kita masuk, kita makan malam dulu. Nanti kalian bisa lanjutkan lagi perkenalannya," ucap Elysa kemudian merangkul pundak Amara dan Micho dan melangkah ke rumah. Nada dan Dan Damar mencoba menahan gejolak hati yang takut Akan keadaan ini.


Damar dan Amara saling memandang, keduanya kini ingat bahwa mereka pernah bertemu sebentar saat Rafa dan Micho terlibat perkelahian di apartemen Micho kala itu.


"Bisa jelaskan tentang pertemuan ini?" tanya Damar. Nada menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tau, mungkin takdir yang menginginkan mereka bertemu." ucap Nada. Damar mengangguk, keduanya mengikuti langkah Amara dan Micho yang berjalan ke arah tempat makan.


"Tante menyiapkan makanan kesukaan kamu, dan kesukaan Micho. Tante harap kalian menikmati makanan ini. Damar, dan kamu Nada tante harap kalian menikmati juga," ucap Elysa.


"Tentu," ucap Nada.


Acara makan berjalan dengan Lancar. Namun, Elysa menangkap sebuah keadaan yang membuat Amara dan Micho merasa canggung. Bukan Elysa jika tidak bisa membawa suasana.


"Joy, kamu menyiapkan apa yang mama minta?" tanya Elysa agak berbisik.


"Sudah dong ma. Joy dan papa yang menyiapkan," ucap Joy. Elysa tersenyum dan memandang ke arah suaminya.


"Hebat, kalian benar-benar hebat." ucapnya lagi.


"Damar dan Nada apa tante boleh minta tolong?" tanya Elysa. Damar dan Nada menatap ke arah Elysa bersamaan.

__ADS_1


"Dengan senang hati," sahut Nada.


"Kalian bantu Joy untuk mengerjakan skripsi," ucap Elysa. Nada mengangguk, begitupun dengan Damar. Mereka mengikuti Joy ke ruang belajarnya.


Elysa sekarang menatap kearah Amara dan Micho, dia juga menatap ke arah Prayoga. Elysa menangkap sebuah kejanggalan yang sangat tampak diantara mereka.


"Micho, Rara, tante menyiapkan sebuah parti kecil untuk kalian di taman belakang. Nikmati malam ini, kalian harus memberikan sesuatu yang membahagiakan untuk tante, segera lah kesana." ucap Elysa.


"Micho, om berharap banyak dari kalian. Kalian sama-sama orang istimewa, om harap kalian bisa memulai awal yang baik dan memberikan kabar yang bahagia," ucap Herman. Micho dan Amara saling menatap, mereka hanya tersenyum getir. Amara bangkit dan melangkah pergi. Herman menatap ke arah Micho.


"Kenapa masih disini?" tanya Herman. Micho berdiri dan mengikuti arah Amara berjalan. Di taman belakang, disulap menjadi sebuah taman yang cantik, lampu berkelap kelip menghiasi malam ini. Sebuah meja hias indah terletak disana dengan berbagai santapan ringan. Musik klasik mengalun lembut membuat suasana nan romantis.


"Nona Sheyna Amara," suara itu membuat Amara berdesir. Suara seseorang yang dianggap mengambil mahkotanya.


"Takdir mempertemukan kita kembali, rasanya baru kali ini kita benar-benar berkenalan. Setelah anda berhasil menghancurkan pernikahan saya," ucap Micho panjang lebar. Amara masih menatap ke arah air didepannya tak menanggapi ucapan orang yang 4 tahun ini sengaja dia hindari.


"Opss, takdir? apa benar takdir? Atau memang kamu bersekongkol dengan papa untuk pertemuan ini?" ucap Micho. Ucapan Micho berhasil membuat Amara bereaksi, Amara menatap tajam ke arah Micho.


Amara memandang seorang yang berdiri tepat disampingnya itu. Sejenak mereka saling berpandangan, pertemuan 2 bola mata itu membuat desiran halus dihati Amara juga Micho. Micho segera mengalihkan pandanganya. Entah kenapa, sorot mata indah Amara mampu membuat hatinya bergetar.


"Bersekongkol? bahkan aku tidak punya cita-cita untuk bertemu dengan manusia sepertimu, Tuan Micho adytia Pratama." ucap Amara. Micho tersenyum kecut, menolak menikah dengan Amara adalah caranya untuk membalas sakit hati pada wanita didepannya ini. Lalu, sekarang dia sudah bisa melupakan masa lalu? Micho menghela napas panjang, dia sampai saat ini masih saja merasakan sakit hati karna ditinggalkan Sabrina, dan orang yang menyebabkan itu sudah bahagia? tidak bisa dibiarkan, pikirnya.

__ADS_1


"Tidak ber cita-cita? benarkah?" tanya Micho.


"Lalu, apa kamu berharap aku memohon padamu untuk menikahiku begitu? Jangan harap Tuan," ucap Amara tegas.


"Aku hanya memastikan, jangan salah sangka Nona Sheyna Amara," ucap Micho.


Micho melangkah maju, Amara mundur ke belakang, Micho maju lagi, mengikis jarak diantara keduanya. Amara hampir saja mundur, tetapi tangan Micho meraih Amara dan benar-benar keduanya tak ada jarak sama sekali. Amara mendongak Micho menunduk menatap wajah Amara kedua pasang mata itu saling beradu. Jantung Amara berdetak hebat, perasaan takut menyelimuti hatinya. Micho bisa merasakan detak jantung Amara yang tak beraturan. Kini dia tau, wanita di depannya masih saja menyimpan trauma masa lalu. Micho tersenyum puas dan mendekatkan mulutnya di telinga Amara.


"Jangan takut, aku tidak akan menodaimu," ucap Micho. Amara memejamkan matanya. ucapan Micho bagaikan goresan sembilu yang menoreh luka dalam di hatinya. Amara mencoba melepaskan dirinya tetapi Micho Semakin kuat menekan tubuhnya seakan mengatakan jangan bergerak.


"Kau lihat, tante Elysa dan om Herman ada diatas mengamati kita, sebaiknya kau ikuti permainan ini. Kita berdansa," ucap Micho ditelinga Amara. Amara melirik ke atas, dan benar saja. Elysa dan Herman mengamati mereka. Micho tersenyum sinis.


"Jangan besar kepala, Nona Sheyna Amara. Kau pikir aku memelukmu seperti ini karena terpesona dengan tampilan barumu? Jangan berfikir terlalu jauh, ku rasa Make up tebalmu itu membuat kamu seperti ondel-ondel," ucap Micho. Amara menghela napas panjang. Harus berhadapan dengan manusia seperti Micho adalah ujian terberat baginya. Amara hanya diam, enggan untuk menjawab ucapan Micho yang hanya akan menimbulkan perdebatan.


Diastas sana Elysa dan Herman saling berpandangan, dia tau 2 orang disana tampak berpura-pura mesra dengan berdansa. Elysa memandang ke arah Prayoga.


"Apa yang sebenarnya terjadi? bisa kau ceritakan pada kami?" tanya Elysa. Prayoga tersentak kaget.


😍😍😍😍😍😍😍


Jangan lupa dukungannya...

__ADS_1


__ADS_2