Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
130


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah sadar?" tanyanya. Amara menatap ke arah suara. Wajah itu mirip sekali dengan dirinya, siapa dia? batinnya.


"Siapa anda?" tanya Amara. Melati memejamkan matanya, sakit sekali ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh darah dagingnya sendiri.


"Jika aku mengatakan bila aku mamamu, apa kamu percaya?" tanyanya kembali. Amara membelalakan matanya, menatap ke arah wanita yang kini ada di depannya.


Mama? memang wajah mereka begitu mirip, bahkan walau sudah berumur wanita di depanya memang tampak memiliki banyak kemiripan dengannya.


Lantas, jika wanita itu mamanya. Lalu, siapa Mama Hana dan Papa Rusdiantoro? Siapa juga Rafa dan Raka? Amara menatap lekat kearah wanita itu, ia memaksa dirinya untuk bangun. Wanita itu tampak khawatir dan membantu Amara.


"Jangan banyak bergerak dulu, kamu harus banyak istirahat. Tidak boleh kecapean, kasian baby dalam perutmu, Nak."


Melati tersenyum sambil mengusap pundak Amara. Amara tampak membeku, berulang kali ia terkejut karna ucapan wanita di depannya. Tadi mengaku mama, dan sekarang Baby? Dalam perut? Benarkah? Lelehan tangis Amara membasahi wajahnya, Amara memejamkan matanya. Merasakan sesak yang mendera batinnya. Omong kosong macam apa ini?


Amara mengusap pelan perut datarnya. Micho, bayangan suaminya itu menari di pelupuk matanya. Bayangan darah yang mengucur dari pundaknya terekam jelas di otaknya.


Aku sangat mencintaimu, segera ramaikan hari kita dengan datangnya makhluk disini, jadilah ibu untuk darah dagingku. Jadikan aku seorang ayah untuk mereka," ucap Micho sambil mengusap pelan perut datar Amara kala itu.


Amara meraih jarum infus di tangannya. Hatinya tak sanggup lagi untuk menahan, jika memang dia hamil. Maka orang yang dia ingin beri tau adalah suaminya.


Lagi-lagi bayangan Micho menari di pelupuk matanya.


Sayang, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,


Ucapan Micho sebelum pada akhirnya dia tumbang terekam jelas di pelupuk matanya. Amara tak tinggal diam, dia juga tak mendengar kan ucapan wanita yang mengaku sebagai mamanya.


"Apa yang kamu lakukan, Nak? No, jangan lakukan itu," ucap Melati sambil menahan tangan Amara yang terus berusaha melepas inpus itu.


"Bisa lepaskan, Nyonya? Aku harus menemui suamiku," ucap Amara. Melati memejamkan matanya, perih sakit ketika dia harus di hadapkan pada kenyataan yang ada di depannya. Nyonya? Panggilan macam apa itu?

__ADS_1


"Tapi kamu masih sakit Sayang," cegah Melati.


"Bahkan jauh dari suamiku membuat aku lebih sakit, Nyonya. Biarkan aku pergi," ucap Amara tegas sambil meraih selang infus.


Lagi-lagi Melati menahan tangan Amara. Ia menatap Amara dengan tenang, kedua wanita beda generasi itu saling memandang. Ada rasa hangat yang merasuk dalam dada.


"Lepas Nyonya, bahkan anda tidak mengerti perasaan saya. Suami saya membutuhkan saya, anak saya juga membutuhkan ayahnya!" bentaknya sambil terisak. Membuat Melati terperanjat kaget.


Air mata Melati mengalir deras. Kenangan 23 tahun silam berputar seperti film di memori otaknya, ketika berusaha menyelamatkan Amara dan Kenzo.


"Bahkan mama sangat tau bagaimana rasanya, Sheyna Amara,"


Melati berkata dengan lirih, membuat Amara menatap tajam kearah wanita yang ada di depannya. Ada rasa nyeri saat dirinya melihat tangis dari wanita di depannya.


"Mama?" lirih Amara.


Tidak bisa di pungkiri pelukan itu begitu hangat dan nyaman dia rasakan saat ini. Meskipun, di pelukan Mama Hana juga sama hangatnya.


"Aku mamamu, mama kandungmu, mama yang melahirkanmu dan sangat menyayangimu. Tapi takdir begitu jahat memisahkan kita, sehingga mama harus merelakan kamu berada dalam pelukan orang lain untuk keselamatanmu," lirihnya di sela isak tangisnya.


Amara memejamkan matanya, apa artinya keluarga Rusdiantoro bukan keluarganya? Bagaimana bisa? Kenyataan ini begitu menusuk jantung hatinya. Sakit, perih, sesak, semua menyatu dalam batinya. Kebahagian atau kepedihan? Bahkan keluarga itu begitu menyayanginya. Dan sangat menyayanginya.


"Mama tau bagaimana rasanya harus memilih antara anak atau suami, mama tau," ucap Melati lagi.


Melati melepas pelukannya, memegang kedua pipi Amara, menatap wajah itu dengan deraian air mata.


"Tolong, tolong jagan pergi," ucapnya. Amara tak sanggup untuk berfikir, kenapa melarangnya pergi? Jika tau bagaimana sakitnya, kenapa harus melarangnya? Amara menggelengkan kepalanya.


"Anda bukan siapa-siapa, jangan melarang saya. Lepaskan tangan Anda, Nyonya!" tegasnya. Melati melepaskan tangannya dari tangan Amara, hatinya sakit melihat kenyataan ini.

__ADS_1


Amara mencabut infus itu, ia tampak memejamkan matannya merasakan sedikit ngilu di tangannya.


"Amara, apa yang kamu lakukan?" seseorang yang baru saja dari luar menahan tangan Amara. Amara menatap ke arah Zidan dan juga lelaki paruh baya yang kini mengusap punggung wanita yang mengaku sebagai ibunya. Lelaki itu sangat tampan, membuat hatinya sedikit tenang.


"Amara, jangan bertindak ceroboh. Di luar sana berbahaya, kau bisa celaka. Cobalah mendengar apa kata kami," ucap Zidan lembut. Amara tampak sedikit tenang, ia menatap ke arah Zidan.


"Tapi aku tidak bisa terus disini Kak. Pasti mama papa sangat mengkhawatirkan aku, Kak Rafa, Kak Raka, aku tidak bisa terus di sini," ucap Amara.


Kenzo dan melati melangkah maju, menatap ke arah Amara yang tampak bersedih. Kenzo duduk tepat di depan Amara, ia menatap lekat ke arah Amara. Amara menatap ke arah pria paruh baya di depannya.


"Papa dan Mama, kami adalah papa dan mamamu juga. Tidak maukah kamu sebentar saja bersama kami? Ada saatnya kita nanti bertemu dengan keluargamu, tapi sekarang diluar sana sangat berbahaya untukmu, tolong hargai usaha kami untuk menjagamu, Nak." Kenzo menatap ke arah Amara dan mengusap pelan air mata Amara. Amara tak mampu berkata apapun. Air matanya terus saja berderai.


"Apa kalian tidak bergurau? Kenapa kalian membiarkan aku mendapat kasih sayang dari orang lain jika memang kalian adalah orang tuaku?" tanya Amara. Dia tidak bisa menolak jeritan hati yang memang merasakan kehangatan ketika berada di antara mereka.


"Untuk melihatmu dan memelukmu seperti ini butuh waktu 23 tahun, Nak. Jika kami bisa melakukannya, kami sangat bahagia. Namun, keselamatanmu lebih utama dari apapun. Kami tau, kamu berada dalam pelukan hangat keluarga yang sangat menyayangimu sehingga kami harus merelakanmu bahagia bersama mereka," ucap Kenzo lagi.


"Merelakan anaknya bahagia dengan orang lain? Jika kalian sayang denganku, maka tidak bisa cara kalian di benarkan," sanggah Amara sambil memgusap air matanya kembali.


"Setelah sekian lama, kenapa baru sekarang kalian datang? Bahkan ketika aku telah bahagia bersama dengan suamiku, kalian mengambil aku darinya. Dan sekarang aku tak berdaya di sini, sedangkan suamiku tak tau bagaimana keadaannya. Aku mohon, izinkan aku pergi." ucap Amara kemudiam bangkit dari ranjangnya.


Kenzo menatap punggung Amara yang melangkah pergi. Sedang Melati hanya menahan tangis dan di tenangkan oleh Zidan.


"Justru karna suamimu yang membuatmu dalam bahaya, makanya kami menyelamatkanmu darinya," ucap Zidan lantang. Deg!!! Amara menghentikan langkahnya, Bagaimana bisa? Ribuan pertanyaan mengiang di otaknya.


πŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒ


Maafkan aku yang baru bisa up...like komen ya..


Othornya lagi sedikit kurang enak badanπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2