Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Kamu baik-baik saja?


__ADS_3

Micho melirik ke arah Amara dan melihat sebuah Kesedihan, Micho meraih ponsel Amara sehingga membuat Amara terkejut kemudian mematikan ponsel Amara.


"Kenapa diambil? Kembalikan," Amara mencoba meraih ponsel yang diarahkan Micho ke atas, Amara mencoba berdiri dan menggapai ponselnya. Tiba-tiba Micho mengerem Mendadak. Amara tersungkur dalam pangkuan Micho. Mereka saling menatap, Micho menghela napas panjang. Ada yang tidak beres dengan beberapa mobil di belakangnya yang sedari tadi mengikuti.


"Micho, ada apa?" tanya Amara sambil membenahi posisinya dan kembali duduk di joknya setelah berhasil mengambil ponselnya dari tangan Micho. Amara m? membenahi duduknya dan menggulung rambut indah nya ke atas. Micho melirik Amara dengan tajam.


"Gerai lagi rambutmu?!" ucap Micho. Amara menghela napas panjang.


"Apa maksudmu??"


"Aku bilang di gerai," ucap Micho lagi. Amara menghela napas panjang. Micho kembali melajukan mobilnya saat Amara kembali menggerai rambutnya. Amara hanya diam. Rasanya begitu menyebalkan jika harus berhadapan dengan Micho yang seperti singa.


Micho terus saja mengawasi pergerakan beberapa mobil di belakangnya dari kaca sepion. Micho menambah kecepatan mobilnya sehingga mobil di belakangnya ikut bertambah.


Amara memejamkan matanya, rasa takut dan was-was menggerogoti hatinya. Ini adalah ke dua kalinya Micho mengajaknya untuk olahraga jantung dalam kecepatan mobil Maximum.


"Micho, ada apa?" tanya Amara sambil berpegangan pada jok mobil depan." Micho terus saja menghindar enggan untuk meladeni pergerakan 2 mobil di belakangnya. Micho mengeluarkan alat komunikasi dan menaruh di telinganya. Ia mencoba menghubungi Damar dan Radit bergantian. Namun, mereka tidak mengangkat panggilan Micho.


Micho menghentikan mobilnya ketika 2 mobil itu telah mengepung mobilnya. Beberapa orang dengan sragam identity yang tak asing berhamburan ke luar dari mobil. Amara tampak terkejut dan menutup mulutnya.


"Amara, jangan keluar. Tetaplah di sini,"


"Tapi, Micho."


"Aku mohon Amara, Aku akan melawan mereka." ucap Micho. Tanpa pikir panjang, Micho keluar dari mobil dan menekan tombol kunci.


Amara tidak bisa keluar, kini netranya hanya bisa melihat pertandingan 6 orang melawan satu orang saja. Amara tampak panik. Amara mencoba membuka pintu untuk membantu Micho, namun usahanya sia-sia.

__ADS_1


Micho membagi tendangan dan pukulan, hingga Menumbangkan 3 lawan, namun beberapa orang menyerah dari belakangnya dan membuat Micho tersungkur. Amara tampak tak kuat lagi. Dia menghubungi ponsel Nada, dan mengirimkan VC.


"Serahkan Mobilmu, Tuan. Jika kau masih sayang dengan Nyawamu," ucap salah satu diantara 2 preman yang masih berdiri.


"Cih, apa kau tidak takut terkapar seperti temanmu? Menyingkirlah," ucap Micho dengan suara beratnya.


"Jangan sombong kau Tuan," bentak preman itu. Kedua preman itu maju bersamaan, menyerang dan terus memberikan tendangan. Satu tendangan berhasil mengenai dada Micho, membuat dirinya mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya.


Tak mau kalah, Micho kembali memberikan tendangan dan pukulan hingga membuat 2 orang yang menyerangnya tersungkur.


Micho terkejut saat preman-itu tersungkur didepanya. Lagi-lagi Mereka kembali bangkit, mengelilingi Micho.


Di tengah kepanikannya Amara melihat beberapa orang dengan ikat kepala yang sama dengan beberapa minggu yang lalu saat menolong anak kecil muncul entah dari mana datangnya. Amara mengamati beberapa orang itu. Mereka membantu Micho yang kualahan menghajar beberapa preman. Amara memejamkan matanya, ia begitu hafal jika orang yang menggunakan ikat kepala itu adalah preman yang mencoba merampoknya 4 tahun lalu. Dia membantu Micho, jadi apa benar Micho adalah bosnya? Micho juga yang mengambil kehormatannya? semua itu memperkuat dugaannya, namun Amara mencoba membuang segala gundah di hatinya. Mencoba menghilangkan kecurigaannya.


Jika mereka anak buah Micho, lalu ketika di bandara saat in percobaan penculikan kenapa ada mereka juga? Apa ada Micho diantaranya? Micho, kenapa kamu penuh misteri, siapa mereka?


"Sebenarnya siapa mereka? Kenapa selalu datang ketika aku dalam kesusahan?" batin Micho sambil terus menyerang.


"Kau Tidak apa-apa, Micho?" tanya Damar yang baru datang. Damar melacak ke beradaan Micho lewat GPS setelah Micho Menelpon dan tidak di ketahuinya.


"Kita pemanasan,Tuan Damar. Aku tidak apa-apa. Rasanya sudah lama kita tidak berolahraga," ucap Micho yang memasang kuda-kuda siap untuk menyerang.


"Mentingkirlah," bentak Damara.


"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Jangan Harap,Tuan." ucap kepala teman itu.


"Maju, serang mereka,"ucapnya lagi.

__ADS_1


Beberapa preman itu maju dan mulai menyerang dengan brutal dan tak beraturan. Yang ada diotak mereka hanya emosi semata, sehingga memudahkan Micho dan Damar mengecoh mereka yang telah kehilangan kendali.


Micho dan Damar bergerak lincah, memberikan pukulan dan tendangan yang tepat sasaran dan gerakan menghindar dengan tenang.


Sang pimpinan Preman seakan terkesima dengan lawan mereka, dia mengangkat kedua tangannya. Beberapa preman serempak menghentikan aksinya.


"Kali ini kalian lolos, Tuan. Lihat saja nanti. Aku akan mendatangimu dan akan melumpuhkanmu!" ucap kepala preman itu. Micho dan Damar saling berpandangan, menyeringai tipis dan menatap tajam kearah 4 preman itu.


"Menyingkirlah, aku tidak ada waktu untuk meladeni kalian lebih lama," ucap Micho. Preman itu mundur perlahan-lahan. Damar dan Micho saling berpandangan.


Micho melirik beberapa orang beikat kepala kuning sudah menghilang entah kemana. Micho menghela napas panjang.


"Ikut aku, kita menginap saja di rumah nenek Amara, kita bicarakan hal yang mau kau sampaikan di sana," ucap Micho. Damar mengangguk pelan.


Micho berjalan dan membuka tombol kunci sehingga membuat pintu mobil bisa di buka, Amara yang masih saja dirundung kepanikan segera berlari dan menghambur ke arah Micho. Amara memegang kedua tangan Micho, mengamati setiap sudah wajah Micho. Menyentuhnya dengan khawatir.


"Micho, kamu tidak papa?" tanya Amara. Micho tersentak kaget, Amara sebegitunya mengkhawatirkan dirinya. Rasa sesak menyelubungi hatinya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Micho sambil tersenyum tipis. Amara menghela napas panjang dan memejamkan matanya dan mengucap banyak Syukur.


Micho merasa tersentuh dan meraih Amara dalam dekap hangatnya. Micho merasakan kenyamanan dan merasakan ketenangan. Amara merasakan hal yang sama. Amara yang tadinya merasakan panik, kini hilang entah kemana.


"Tuhan, apa ini cinta?" tanya batin Micho.


Damar mengabadikan momen indah ini, Micho melirik ke arah Damar yang tak memperdulikan tatapan tajamnya.


"Gajimu habis bulan ini, Damar." ucap batin Micho.

__ADS_1


😊😊😊😊


__ADS_2