Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
135


__ADS_3

"Kita ke rumah sakit sekarang, kita melihat keluarga kita yang terluka karna mereka melundungimu. Sekalian kita cek kandungan," ucap Micho. Amara mengangguk pelan. Micho berjalan ke arah mobil yang di bawa Damar.


Dengan hati-hati Micho mendudukan Amara di dalam jok mobil.


"Aduh," keluh Amara. Micho tampak terkejut dan menatap ke arah Amara dengan wajah paniknya.


"Kenapa? Ada yang sakit, hem?" tanyanya. Amara mengangguk pelan dan membalas tatapan lembut suaminya.


"Apa yang sakit?" tanya Micho dengan pelan sambil mengusap pipi merah merona Amara.


"Ini, hati aku yang sakit karna kamu terlalu lama jauh dariku," ucap Amara.


Micho melengkungkan senyumnya, saat Amara memalingkan wajahnya karna malu. Menyembunyikan wajah merahnya, dan merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa seperti itu.


Micho menutup pintu mobil dan berlari kecil menuju ke arah kanan. Dia masuk ke dalam dan menatap Amara yang tersenyum-senyum ke arahnya.


"Apa?" tanya Amara. Amara menutup wajahnya dengan kedua tanganya, menyembunyikan wajahnya yang tampak memerah.


"Sepertinya sekarang kamu sangat nakal. Siapa yang mengajarimu seperti itu?" tanya Micho. Netranya menatap istrinya yang masih saja menutup wajahnya.


"Aku hanya bercanda mas," ucap Amara kemudian menatap ke arah depan.

__ADS_1


Micho menggelengkan kepalanya. Bahagia? Sangat bahagia, dia begitu bahagia bersama dengan Amara. Wanita yang dulu sangat di bencinya nyatanya sangat dia cintai saat ini.


"Sayang," panggil Micho.


"Hem," jawab Amara.


"Lihat disana," ucap Micho sambil mengarahkan telunjuk tangannya ke samping. Dengan sepontan Amara mengikuti kemana arah telunjuk Micho mengarah.


Setelah melihat dengan tenang dan tak mendapat apapun di pandangannya, Amara merasakan ciuman lembut di pipinya. Membuat dirinya semakin malu.


Amara memandang Micho, yang bersiap menjalankan mobilnya.


Micho tak menjawab apapun dan melajukan mobilnya.


"Itu pembalasan yang setimpal untuk istri nakal sepertimu," jawab Micho santai. Amara mengernyitkan dahinya dan menatap ke arah depan.


Di sepanjang jalan, Micho hanya tersenyum. Kebahagiaannya begitu sempurna manakala takdir Tuhan kembali mempersatukan Amara denganya, rasa syukur bertubi-tubi terucap dari lubuk hatinya.


Lampu lalu lintas yang berwarna merah menghentikan laju mobilnya. Micho berhenti kemudian menoleh ke kanan. Dia menatap mobil polisi yang membawa Seorang wanita yang dia kenal bernama Erika.


Micho menghela napas lega, setidaknya akar dari masalah yang selama ini mengganggunya telah di amankan. Sekarang tugasnya tinggal memastikan keluarganya segera sembuh dan menjaga Amara dengan sebaik mungkin.

__ADS_1


Milano dan Rayen? Sebentar lagi dia berharap mendapat laporan 2 orang itu telah tertangkap.


****


Di sebuah gedung yang menjulang tinggi, beberapa staf tampak panik ketika mendapati beberapa orang polisi mencari atasan mereka. Selang beberapa menit saja, polisi tersebut telah meringkus Milano dan Rayen.


Mereka di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatanya. Sempat juga ingin kabur, tapi polisi melepaskan timah panas sehingga kaki kedua orang itu mengalami luka tembak.


Milano dan Rayen hanya mampu menelan ludah kasar. Alih alih mendapat harta yang dia mau, kini hukuman seumur hidup malah menunggu di depan mata. Menyesal? Ya hanya itu yang mampu dia lakukan. Tapi, hukum masih tetap terus berlaku.


***


Beberapa saat kemudian, sampailah Amar dan Micho di rumah sakit.


Amara dan Micho keluar dan menyusuri koridor rumahsakit. Amara beehenti ketika melihat Mama Hana dan Papa Rusdiantoro berdiri diujung sana.


Sudah dipastikan Mama Hana yang begitu penyayang itu sangat mengkhawatirkan keadaan Rafa, kakaknya.


"Mama," sapa Amara.


😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2