Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Mogok


__ADS_3

Micho dan Amara saling berdiam, Gadis itu diam seribu bahasa, enggan bertanya ataupun sekedar basa-basi semata. Micho melirik Amara yang fokus pada jalanan. Tak ada keinginan untuk memulai obrolan.


Chittttt,,,,


Mobil itu oleng ke kanan dan kekiri membuat tubuh Amara bergerak kesana kesini. Amara yang panik memejamkan matanya dan mengeratkan pegangannya pada dasboar depan.


"Micho, ada apa? kenapa mobilnya seperti ini?" ucapnya. Micho berhasil menghentikan mobilnya. Micho dan Amara menghela napas panjang, mereka saling berdiam dan saling berpandangan. Perasaan lega menghampiri keduanya saat Mobil bisa berhenti dengan sempurna.


"Ada apa?" ketus Amara sambil menatap tajam ke arah Micho. Micho mengernyitkan dahinya, dari tadi gadis di sampingnya hanya diam seribu bahasa dan sekarang berteriak keras sekali? ucapan Amara berhasil membuat Micho sedikit geram.


Tanpa menjawab ucapan Amara, Micho keluar dari mobil dan memijat pelipisnya.


"Shitt." umpatnya. Ban belakangnya kempes, dan itu membuatnya menggelengkan kepalanya. Amara keluar dari mobil dan menatap Micho dengan sorot mata tajamnya. Ini benar-benar menguji kesabarannya.


Amara sedikit terkejut mendapati kenyataan ini, pasalnya mereka berhenti di tengah jalanan sepi yang jauh dari pemukiman. Micho mengambil ponselnya dan menghubungi Damar, namun asistennya itu tak juga mengangkat panggilan darinya.

__ADS_1


"****,,," umpatnya lagi.


Amara juga tampak kesal saat menekan ponselnya dan gagal mendapatkan jaringan.


"Kita harus bagaimana?" tanya Amara ketus membuat Micho mengalihkan pandanganya menatap gadis cantik yang berdiri di belakangnya.


"Kesialan begini selalu aku dapat ketika bertemu denganmu, kenapa Ada wanita sial sepertimu." ketus Micho. Amara membelalakan matanya.


"Kenapa menyalahkan aku?" bentak Amara.


Amara merasakan sesak yang mendera perasaannya. 4 tahun mencoba menghindar dari manusia laknat di depanya dan sekarang harus berhadapan dan harus pula menjalin kedekatan? Takdir macam apa yang mempermainkan mereka?


"Apa kau lupa Tuan Micho yang terhormat, aku hanya mencoba mencari keadilan yang sampai saat ini tak pernah aku dapatkan. Aku rasa itu hukuman yang setimpal untuk manusia laknat sepertimu, manusia laknat sepertimu memang pantas mendapat kesialan," ucap Amara dengan tegas.


"Mau kau cari keadilan sampai ujung dunia pun tidal akan pernah menemukan, karna aku tidak..." ucapan Micho menggantung di tengah jalan.

__ADS_1


"Tidak apa?" tanya Amara. Wanita itu seakan mengintimidasi Micho. Micho tampak pias, mengatakan pada wanita di depannya kalo preman itu tidak memperkosanya? bukankankah itu akan melepaskan belenggu yang selama ini menyiksa batin wanita di depannya?


"Tidak apa?" tanya Amara lagi. Micho mengalihkan pandanganya.


"Lupakan," ucap Micho. Amara menghela napas panjang.


"Apa kau masih mengingat ancamanku waktu itu sehingga kau tidak menikah diusiamu yang sudah tua?" ucap Amara. Micho membelalakan matanya. Dia dikatai tua? Bahkan ancaman macam apa yang dilontarkan dia juga sudah lupa. Yang menyebabkan dia tidak menikah hanya karna masih mengharapkan Sabrina.


"Aku tidak akan menggagalkan kembali pernikahanmu, aku sudah memaafkan manusia laknat sepertimu, menikahlah." ucap Amara.


"Menikah atau tidak bukan urusanmu Nona, kau pikirkan saja nasipmu. Bukankankah kau juga belum menikah, kau cari saja manusia yang sudi menikah dengan wanita sepertimu," ucap Micho. Amara memejamkan matanya. Ini yang selalu menghantui pikirannya. Micho tersenyum sinis. Ucapan Amara kala itu masih jelas terekam di memori otaknya.


"Kau harus menikah denganku, mana bisa aku menikah dengan orang lain jika orang yang menodaiku ada didepanku, ingat Tuan Micho yang terhormat. Aku akan menjadi ancaman bagimu, jangan harap kamu bisa menikah."


😃😃😃😃😃😃

__ADS_1


__ADS_2