
Pagi hari yang cerah, seusai salat subuh. Micho dan Amara mennghabiskan waktu dengan memasak di dapur. Amara menyempatkan diri untuk melihat ke arah ponselnya. Sungguh terkejut ketika melihat pesan yang di kirim oleh Nada kepadanya.
Amara memejamkan matanya, Nada? sahabat dan juga sekertarisnya itu memutuskan untuk pergi? Wanita cantik yang 1 tahun lebih muda darinya itu mau meninggalkannya? Wanita cantik dengan segala kelebihan yang mengantarkan dirinya sukses lulus 2 tahun lebih cepat pendidikan formalnya dengan jalur axelerasi.
Melihat gelagat Amara yang tidak baik membuat Micho mendekat ke arah Amara dan memandang istrinya yang sibuk memanggil Nada.
Berulang kali memanggil dan pada Akhirnya Nada mengangkatnya.
"Halo, Nad. Apa maksudmu? Kenapa mau kembali ke sana secepat ini? Disana sudah ada Amel juga yang lainnya!" cerocos Amara panjang lebar. Tak ada sahutan, Nada masih terdiam.
"Nad!" sentak Amara.
Terdengar isakan tangis dari sahabat yang kini terdengar menyedihkan. Amara memejamkan matanya. Hanya satu yang bisa membuat Nada menangis. Rafa?
"Dia menyakitimu? Aku akan memberi pelajaran saat ini juga," ucap Amara. Ucapan Amara mendapat respon pada Nada.
"Jangan, dia tidak salah Amara. Biarkan semua ini tetap menjadi rahasia kita, jangan pernah memberitau apapun pada Kak Rafa," Nada menghapus air matanya dan menutup koper miliknya.
"Aku tidak perduli," Amara menutup ponselnya dan meletakan di atas meja.
"Sayang, ada apa?" tanya Micho. Disaat yang bersamaan ponsel Micho berdering dan menampakan Nama Radit di ponselnya.
"Ada apa Dit?"
"Kak, masih berlakukah tawaran Kakak untuk aku pergi mengurus perusahaan cabang di negara P?" tanya Radit. Micho mengerutkan keningnya, ia terdiamm dan tampak mengulas senyum yang indah. Meta, Mela dan Lyly memang sangat profesional, tapi Micho jauh lebih percaya jika Radit yang menghendelnya.
"Apa kau yakin?" tanya Micho. Micho menatap ke arah Amara seakan meminta izin keluar dulu. Amara mengiyakan, Micho pun berjalan ke luar.
"Aku yakin Kak," Micho memejamkan matanya. Radit, adiknya itu tampak menyembunyikan sesuatu yang dengan jelas bisa di baca oleh Micho.
"Apa ini ada hubungannya dengan Aku dan Amara?" tanya Micho. Radit tampak terkejut, sejujurnya memang itu yang dia hindari. Perasaanya pada Amara yang menguasai dirinya tak sanggup dia tahan. Sepertinya menjauh lebih baik.
"Kau menyukai istriku?" tanya Micho. Radit terdiam.
__ADS_1
"Aku tau batasanku Kak, berbahagialah dengan Amara. Lagi pula Amara tidak mengenalku dengan baik, dia juga tidak tau hal ini," ucap Radit.
Micho menghela napas panjang, dia tau bagaimana rasanya melihat wanita yang dicintai menambatkan hati pada lelaki lain.
"Kau akan mendapat hal yang indah di waktu yang akan datang Radit, berangkatlah. Ku sererahkan semua pekerjaan di sana padamu," ucap Micho. Radit mengangguk pelan.
"Terimakasih, Kak. Oh iya Kak, aku ada tabungan, aku sudah mentrasfer pada kakak. Kakak bisa menggunakan untuk menambah modal di perusahaan kakak yang sempat terpuruk karena membantu perusahaan Papa," ucap Radit.
Micho mengeryitkan dahinya, ya selama menangani Alexander group keuangannya sedikit kacau. Radit mengirimkan nominal yang begitu banyak, darimana dia mendapatkannya?
"Heh, kakak masih bisa menghidupi diri dengan penghasilan restauran. Kau tak usah menghawatirkan aku. Lagi pula dari mana kau punya uang sebanyak ini?" ucap Micho. Radit tertawa. Mendengar tawa Radit membuatnya sesak. Hanya Radit dan Bi Rini yang selalu bisa membuatnya tersenyum.
"Sudahlah kak, itu uang halal," ucap Radit.
"Jangan main perempuan dan minum terlalu banyak. Jangan memanfaatkan keberadaan kita yang jauh," ucap Micho tegas.
"Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha. Kak." ucap Radit sambil tersenyum getir.
"Aku pamit Kak." pamit Radit sambil menahan sesak harus berpisah dengan kakaknya.
"Ya," jawab Radit pelan, sambil menghembuskan udara yang menyesakan dadanya.
"Kau marah?" tanya Micho.
"Mana bisa kak, kau kakak terbaik. Jangan membuatku sedih Kak, aku pamit." ucap Radit kemudian menutup ponselnya. Radit mengacak rambutnya. Rasa sesak menyeruak di dadanya.
Micho memejamkan matanya. Harus berjauhan dengan Radit kembali? Semoga adiknya itu tetap menjadi Radit yang baik sepeeti 4 tahun belakangan ini.
Micho menatap Amara yang kini di sampingnya. Micho mengusap pelan pipi mulus Amara. Wanita ini yang menjadi alasan Radit harus pergi meninggalkannya.
"Aku mau menemui Kak Rafa." ucap Amara.
"Untuk apa?" tanya Micho.
__ADS_1
"Nada, Nada menangis karna dia. Aku harus memberi perhitungan," ucap Amara dengan emosinya. Micho mengernyitkan dahinya.
"Apa yang dilakukan Rafa?" tanya Micho.
"Nada mencintai Kak Rafa, tapi Nada..." Amara tak meneruakan kata-katanya. Ia menatap Micho dan berhambur ke pelukan Micho.
"Nada tak mau mengungkap? Dan Rafa tidak tau?" tanya Micho. Amara mengangguk. Dia tau betul Rafa mencintai Bianca. Apa Nada tau kedekatan Rafa dan Bianca beberapa hari ini?
"Nada memilih pergi, dan aku tidak bisa membiarkan Nada terluka." ucap Amara. Micho memejamkan matanya. Rafa dan Amara sama-sama mematahkan hati orang dan mereka tidak tau? Kompak sekali mereka.
"Ini bukan salah Rafa, kamu tenanglah. Cinta tak bisa di paksa,"
"O, mentang-mentang baikan kamu membelanya?" tanya Amara jutek. Micho memegang kedua pipi Amara.
"Rafa tidak tau,"
"Tapi tetap saja salah!"
"Mana bisa sayang,"
"Kenapa kamu membelanya mas!" kesal Amara. Micho menatap Amara lekat dan mampu membuat Amara terdiam.
"Sekarang kamu dengarkan aku. Jika ada yang mencintaimu, dia tidak bilang. Kemudian dia patah hati karna pernikahan kita. Apa itu juga salahmu?" tanya Micho. Kepergian Radit masih membekas di otaknya, mau tidak mau dia harus memberi tau pada Amara.
"Mana bisa aku di salahkan, salah dia tidak bilang." ucap Amara. Micho tersenyum dan menatap Amara.
"Rafa mempunyai posisi yang sama denganmu, dia tidak tau Nada mencintainya. Dan di hati kakakmu sudah ada yang mengisi. Cinta tidak bisa di paksakan, jodoh di tangan Tuhan sayang." ucap Micho.
"Memangnya siapa yang mencintaiku?"
"Apa jika kamu tau kamu akan menerimanya?"
Amara tertawa dan menatap Micho.
__ADS_1
"Mana bisa aku berpaling dari suami seunik kamu,Mas." ucap Amara dan membuat Micho tersenyum.