
"Kau harus menikah denganku, mana bisa aku menikah dengan orang lain jika orang yang menodaiku ada didepanku, ingat Tuan Micho yang terhormat. Aku akan menjadi ancaman bagimu, jangan harap kamu bisa menikah."
Ucapan Amara yang sempat terlupakan karna fokusnya hanya pada Sabrina, kini terdengar jelas di ingatannya.
"Jadi apa alasan ini yang membuatmu masih sendiri sampai saat ini?" gumam Micho.
"Apa?" tanya Amara yang mendengar Micho bergumam tetapi tidak jelas di telinganya. Micho sedikit terkejut, pasalnya dia hanya bergumam pada dirinya dan tidak berbicara dengan manusia didepannya.
"Aku tidak berbicara padamu, sebaiknya kau mencoba mencari bantuan. Hubungi temanmu, Asistenku tidak bisa dihubungi." ucapnya ketus.
"Kau pikir dari tadi aku sedang apa? ini juga usaha," ucap Amara tak kalau ketus. Micho hanya diam dan mengalihkan pandangannya.
Malam semakin larut, hawa dingin juga mulai menusuk ditubuh mereka. Amara masih berdiri bersandar di pintu mobil sambil mengotak-atik ponsel yang jelas tidak Ada signalnya. Sedangkan Micho menimbang satu-satunya nomer kontak yang belum dia hubungi.
Meta
Mau tidak Mau Micho menghubungi wanita itu, sekertaris dan juga teman masa SMA dulu.
"Hallo, ada apa malam malam menghubungi ku, Micho?" tanya suara yang ada disebrang sana.
"Bisa membantuku mengirim orang? Mobilku kempes, aku tidak berhasil menghubungi orang lain." ucap Micho sambil memasukan tangan kanannya di saku celana.
__ADS_1
"Kamu dimana?"
"Aku share lokasinya, aku membawa kucing kedinginan, sebaiknya kau segera mengirim orang kesini secepatnya," ucap Micho.
Amara yang sudah tampak kesal membelalakan matanya ketika mendengar ucapan Micho, ia menoleh kesana-kemari mencari keberadaan kucing dan tak menemukannya. Apa mengataiku? pikirnya.
"Kucing?" tanya suara disebrang sana memastikan.
"Ya, kucing. Aku takut dia mati keinginan, wajahnya sudah tampak pucat sekali. Secepatnya kirim orang kesini, Meta." ucap Micho kemudian menutup ponselnya kemudian menatap ke arah Amara yang seakan bertanya mana kucingnya?
"Apa?" tanya Micho.
"Dimana kucingnya?" tanya Amara. Micho tak menjawab pertanyaan Amara kemudian melangkah dan duduk di tepi jalan. Micho mengusap kedua tangannya mencari kehangantan. Netranya melirik Amara yang masih senantiasa berdiri bersandar di pintu mobil.
Mata Micho tak Mau berpaling dari ciptaan Tuhan yang begitu indah itu, Amara menoleh ke arah Micho. Tatapan mereka bertemu hingga keduanya tampak salah tingkah dan mengalihkan pandanganya.
Amara melihat seekor kecoa yang ada dibawah kakinya. Seketika dirinya teriak histeris sambil menutup wajahnya, Micho terkejut dan segera berlari kearah Amara.
"Ada apa? Ra, Ada apa?" tanya Micho sambil memegang pundak Amara.
Amara yang merasa ketakutan sontak menenggelamkan wajahnya di dada biang Micho. Micho merasakan detak jantung yang beda dari biasanya. Laki-laki itu merasakan gemuruh yang menjalar dihatinya.
__ADS_1
"Micho," suara itu membuat Micho menoleh, di lihat nya Meta bersamaan dengan supir pribadinya membawa Mobil yang berbeda. Suara itu juga membuyarkan ketakutan Amara. Amara yang sadar jika dirinya Ada di pelukan Micho segera mundur beberapa langkah.
"Meta, kamu sudah sampai?" tanya Micho canggung. Meta mengangguk pelan.
Flash back on
Meta menatap layar ponselnya yang sudah keluar dari panggilan, Meta mencoba mencerna ucapan Micho.
"Kucing? pucat? bagaimana bisa dia mengenali wajah kucing Yang pucat?" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. Meta memanggil supir pribadinya supaya pergi ke alamat yang di share Micho untuk mengambil kucing. Dia sendiri juga berangkat untuk menjemput Micho. Kedua mobil itu melaju dengan kecepatan penuh.
Flash back off
"Mana kucingnya? Aku meminta pak Andi untuk membawa kucing itu, Aku juga sudah menghubungi bengkel untuk mengurus mobilmu, Tuan Micho." ucap Meta sambil menekan kata Tuan.
"Kucingnya lari, sebaiknya kau antar Aku pulang. Pak Andi, tolong kau antar Nona ini pulang juga, tanya alamatnya padanya." ucap Micho kemudian berlalu menuju ke mobil Meta tanpa mengatakan sepatah katapun pada Amara. Meta melirik Amara, Ada perasaan aneh di hatinya. iapun menatap Amara dengan sorot mata tajam kemudian berlalu.
Amara yang masih merasa syok hanya terdiam, memandang mobil yang Micho tumpangi dan menjauh dari jangkauan matanya. Sampai pada akhirnya pak Andi memintanya masuk ke dalam mobil.
"Maaf Nona, Mari kita berangkat." ucapnya. Amara tersenyum dan mengangguk pelan.
😍😍😍😍😍
__ADS_1
Like komen dan vote yaaaaa....