Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Membuat ulah


__ADS_3

Mereka berjalan menuju kearah pintu utama hotel. Micho dan Damar segera pergi sedangkan Radit tampak menunggu Amara yang tadi memintanya untuk mengantar ke suatu tempat.


"Dit, sudah lama menunggu? " tanya Amara yang baru datang. Radit terdiam memandang wajah cantik yang berada tepat didepannya.


"Dit, woi !!" Amara mengibaskan tangan di depan Radit yang enggan untuk berkedip. Radit terdiam merasakan detak jantung yang tak karuan. Bahkan tanpa make up sekalipun wajah itu terlihat cantik dan begitu mempesona.


"Kenapa kau itu cantik sekali, Ra? Apa disaat pembagian kecantikan kau itu terlalu rakus?" tanya Radit sambil memiringkan wajahnya mengamati wajah Amara. Amara tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Mau menggombal seperti apapun, gombalan recehmu itu tidak akan mampu menembus hatiku. Udah ah, sebaiknya kita segera berangkat. Nanti turunin aku di jalan ini ya," ucap Amara sambil memberikan selembar alamat pada Radit. Radit mengamati tulisan itu dan mengernyitkan dahinya.


"Kita mempunyai tujuan yang sama, aku juga akan ke daerah situ. Yakin tidak mau diantar sampe tempat? " tanya Radit. Amara menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Tidak, aku sendiri saja. Bukankan kamu juga ada keperluan? nanti aku akan mengabarimu jika membutuhkanmu,"


"Memanganya apa yang akan kamu lakukan disana? " tanya Radit.


Amara menghela napas berat, bayang-bayang itu muncul di otaknya. Amara hanya menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang," ucap Amara. Radit mengangguk, merekapun berjalan beriringan. 30 menit berlalu, Amara meminta Radit untuk menepikan mobilnya.


"Aku berhenti disini, Dit."


"Ya, jangan lupa menghubungi jika kamu membutuhkanku,"


"Siap, aku tidak akan sungkan untuk merepotkanmu." ucap Amara kemudian keluar dari mobil.


Radit menancap gas mobilnya, Amara melangkahkan kakinya menuju ke sebuah gang. Dengan langkah pelan Amara mengamati rumah di sebrang jalan. Rumah yang tampak asri dengan berbagai tanaman yang berjejer rapi. Para tamu berdatangan untuk menyaksikan kebahagiaan pasangan didalam.

__ADS_1


Amara menghela napas panjang, meyakinkan dirinya untuk tetap melangkah. Akan tetapi hatinya merasa ragu, menggangalkan pernikahan orang lain. Apa dirinya setega itu? tapi jika tidak melakukannya siapa yang akan bertanggung jawab atas dirinya? Akankah dirinya yang sisa itu akan mempersembahkan dirinya untuk orang lain? Amara menggelengkan kepalanya.


Tuhan, aku tau aku salah. Aku tau aku berdosa dengan melakukan hal bodoh ini, akan tetapi aku tidak sanggup jika harus hidup dalam ketakutan. Aku akan memperjuangkan apa yang masih bisa aku perjuangan. Meskipun dengan cara ini aku juga mempemalukan diriku sendiri, aku sudah tidak memperdulikan itu semua. ucap Amara pelan.


Amara melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah yang telah disulap dengan sempurna menjadi sebuah pelaminan yang mewah itu. Amara menyaksikan betapa bahagia 2 orang yang berdiri disana. Tiba-tiba saja air matanya menetes. Amara memandang wajah cantik dengan senyum bahagia di atas sana, Amara menoleh dan mendapati wajah tampan Micho Aditya Pratama.


"Dasar manusia kejam, kau pikir kau bisa bahagia sedangkan aku menderita? jangan harap. Maafkan aku nona cantik, aku akan merusak kebahagiaanmu. tapi percayalah kau akan mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari dia," ucap Amara.


"Untuk acara selanjutnya adalah tukar cincin, mohon kedua pasangan segera memgambil tempat dan melakukan acaranya," ucap MC.


"Nona Sabrina Khalista Bagaskara dan Mas Micho Adytia Pratama mohon untuk mengambil tempat, " ucap MC lagi.


Micho dan Sabrina berjalan kearah panggung. Keduanya tampak tersenyum bahagia, Micho dan Sabrina saling berhadapan. Tepuk tangan meriah menyambut kedatangan mereka diatas, Micho meraih tangan Sabrina dan akan meletakkan cincin cantik di jari Sabrina,,,


"Tunggu,"


Suara itu membuat Micho dan Sabrina menghentikan aktivitasnya. Micho dan Sabrina saling berpandangan. Micho tampak terkejut dengan kedatangan wanita cantik itu, ingatannya melayang pada beberapa hari yang lalu saat dia menolongnya dari para perampok yang hampir merenggut kesuciannya.


Sabrina dan Para tamu juga keluarga Sabrina saling menatap. Mereka menerka apa yang akan dilakukan gadis cantik itu.


"Ada apa kamu kesini? " tanya Micho. Amara tersenyum sinis dan menatap tajam kearah Micho. Matanya berkaca, tangan kanannya menyapu air mata yang tumpah di pipinya.


"Apa pertanyaanmu itu pantas dipertanyakan pada orang yang telah kamu renggut kesuciannya? " tanya Amara lantang. Bahkan urat malunya mungkin sudah putus hingga mengatakan hal sememalukan itu.


Micho terkejut, Sabrina pun juga. Air mata sabrina mengalir deras. Senyuman yang tadi melekat di bibirnya hilanglah sudah. Sabrina menutup mulutnya rapat, kakinya seakan lunglai tak bertenaga hingga dirinya terjatuh di kursi. Bik Nah mengusap pelan punggung Sabrina, menenangkan gadis itu.


Micho menatap tajam kearah Amara, tanganya mengepal kuat.

__ADS_1


"Apa maksudmu? " tanya Micho dengan aura dinginnya. Amara mendengus kasar.


"Masih bertanya? Apa perlu aku jelaskan perlakuan burukmu malam itu? " bentak Amara. Micho terhenyak. Matanya melotot tajam. Para tamu berbisik-bisik sedangkan papa dan Mama Sabrina tampak malu dengan semua yang terjadi. Mereka meminta satpam dan para bodyguard untuk mengusir para tamu,


"Acaranya batal, Aku tidak jadi meneruskan acara ini. Pergi kalian semua, " bentak mama Sabrina.


Micho menuju kearah Sabrina dan keluarganya.


"Om, tante. dengarkan penjelasanku dulu..." ucap Micho sambil menatap Papa Sabrina.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, pergi dari sini. Pergi ! " bentak papa Sabrina.


"Om, saya mohon dengarkan penjelasan saya, ini salah paham!" ucap Micho.


"Salah paham yang bagaimana yang kamu maksut? Dasar manusia tak bermoral, jangan harap bisa menikah dengan Sabrina," bentak Mamanya. Micho berjongkok dan menatap kearah Sabrina. Sabrina menangis tersedu, Sabrina terus saja menghindar dan merasa jijik dengan manusia di hadapannya.


"Pergi, pergi Micho. jangan pernah tunjukan wajah menjijikkanmu di hadapanku." ucap Sabrina. Micho menggeleng pelan.


"Aku bisa jelaskan,"


"Jangan harap aku mendengarmu,"


"Nona, aku harap kamu bisa bahagia lepas dari jeratan manusi laknat sepertinya." ucap Amara. Sabrina menatap tajam kearah gadis cantik yang tampak baru saja menangis itu.


"Pergi, dan jangan pernah memunculkan wajahmu di hadapanku. Jika kamu menginginkan Dia, cepat bawa dia dan jangan pernah kembali," Bentak Sabrina sambil melirik Amara.


"Sabrina, tolong dengarkan aku." pinta Micho. Sabrina tampak tersedu dan kemudian tak sadarkan diri. Micho tampak panik, dia hampir mengangkat tubuh Sabrina. Namun dengan cepat papa Sabrina mendorong Micho dan mengangkat Sabrina.

__ADS_1


"Pergi dan jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini, " tegas papa Sabrina. Micho mengeratkan rahangnya, tangannya mengepal kuat. Dengan emosi Micho mencengkram tangan Amara dan menariknya kasar, membuat gadis itu merasakan kesakitan.


😊😊😊😊


__ADS_2