
"Kenapa itu orang hobby mandi malam?" guman Amara.
Beberapa hari ini Amara selalu mendapati Micho mandi di malam hari. Amara duduk menyandar di sandaran ranjang sambil membaca novel online kesukaannya. Tak lama dari itu, Micho keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai haduk yang melilit di pinggang hingga lututnya.
"A ..." teriak Amara Karna terkejut. Micho menutup telinganya dengan kedua tangannya.
"Berisik, bisa diam tidak?" ucap Micho. Amara menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.
Diluar kamar, nenek yang mengira Amara ngelindur segera mendekat. Karna tadinya nenek tidak tau Micho telah masuk ke kamar Amara.
"Kenapa juga tidak pakai baju?" ucap Amara saat nenek hendak masuk.
Nenek Any mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Amara. Ya sebenarnya kamar itu kedap suara, tetapi karna pintunya sedikit terbuka nenek bisa mendengar dengan jelas ucapan cucunya.
"Ini sudah terlanjur, kau pun sudah melihatnya. Mau bagaimana lagi," ucap Micho tampak biasa saja.
Nenek Any menyunggingkan senyuman. Yang jelas saat ini dirinya bahagia karna ucapan ambigu dari cucu-cucunya, iapun melangkah pergi.
"Menyebalkan,"
"Tadi kau tidur, mana tau sekarang kau bangun," ucap Micho sambil berjalan menuju ke arah almari pakaian. Amara menghela napas kasar.
"Apa disini tidak ada baju? kenapa semua milik mu?" tanya Micho sambil menyibak baju yang isinya hanya milk Amara.
"Kau pikir Aku perempuan macam apa? Kenapa menanyakan baju lelaki disini?" tanya Amara agak ketus.
"Mana tau kau perempuam macam apa, kau pikir aku banyak waktu untuk mencari tau tentang dirimu? tidak ada pentingnya," ucap Micho sambil mengeluarkan satu persatu baju Amara dari almarinya.
"Micho, kenapa membuatnya berantakan? disini tidak ada ART!" Amara berjalan kearah Micho dan berkacak pinggang di depan Micho.
"Siapa yang nanya ada Art atau tidak? Aku tidak bertanya." ucap Micho dan masih saja mengeluarkan semua baju Amara.
__ADS_1
"Lalu siapa yang akan membereskannya?" tanya Amara terdengar nyaring. Micho berdiri dan menatap Amara.
Senyum tertarik di sudut bibir Micho. Dia melihat Amara dari atas ke bawah. Memperhatikan setiap lekuk tubuh wanita yang menggunakan hot pant yang memperlihatkan kaki jenjang yang biasanya tertutup celana panjang itu. ia menatap kaos oblong berwarna merah muda dan seakan menelanjangi Amara.
Amara menatap ke arah Micho yang seakan bersiap menerkamnya. Seketika rasa takut menghantuinya. Amara mundur beberapa langkah, Micho mengikutinya. Hingga Amara mentok di dinding dan tak punya ruang gerak karna Micho mengunci kanan dan kirinya dengan tangan. Amara memejamkan matanya, detak jantung serasa tak beraturan. Kini dia bisa melihat dengan jelas wajah tampan seseorang yang sudah sah menjadi suaminya.
Amara mencoba berdamai dengan keadaan, ia membuka mata dan menatap tubuh bagian atas Micho yang polos tanpa busana. Ia dapat melihat jelas wajah bersih yang selama ini begitu menyebalkan baginya. Sisa-sisa air menetes dari rambut Micho menambah ketampanan dari Micho Aditya pratama.
"Baju itu milik siapa?" tanya Micho sambil mengusap pipi mulus Sheyna Amara.
"Milikku," jawab Amara pelan. Ia masih saja merasakan takut karna sentuhan Micho.
"Kalau tau milikmu kenapa bertanya siapa yang harus membereskan, ya itu tugasmu!" ucap Micho sambil tersenyum sinis. Amara merasakan takut, sebal menjadi satu.
Kalau tidak ada status pertemanan dia antara mereka, mungkin Amara sudah menendang buah pisang kebanggaan Micho dengan lututnya. Hanya setengah dari kekuatannya untuk membuat Micho yang tak bersiap itu bisa tumbang. Namun, nyatanya Amara tak sanggup untuk melakukannya.
"Micho, lepaskan aku." ucap Amara seakan memohon. Micho masih saja medesak Amara mundur hingga mereka benar-benar dekat tanpa jarak. Amara merasakan napas hangat Micho yang menerpa pipinya.
"Aku rasa kau masih saja menyimpan trauma 4 tahun lalu. Aku harus membantumu untuk kembali pada kenormalan," ucap batin Micho.
"Jangan banyak bicara, kau pikir aku mau apa? carikan baju untukku." ucap Micho tegas sambil mengambil kotoran yang berada dia rambut Amara. Micho melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah.
"Aku mengambil ini," ucapnya sambil memperlihatkan daun kering yang tadi ada di rambut Amara.
"Carikan baju!" ucap Micho sambil membenahi handuk yang sedikit kendor.
"Salah siapa mandi tengah malam, memang apa enaknya sih mandi tengah malam?" tanya Amara sambil menggulung rambutnya hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Micho memperhatikan wajah cantik Amara yang semakin menggemaskan baginya itu.
"Ini karna ulahmu," batin Micho.
Amara berjalan kemudian membuka almari yang satunya. Menyibak beberapa baju dan menemukan kaos hitam milik Rafa.
__ADS_1
"Ini milik Kak Rafa," Amara mengambil kaos oblong berwarna hitam. Micho berdiri menatap ke arah Amara.
"Bawa sini," pinta Micho.
"Ambilah sendiri, aku sibuk!"
"Ini perintah, jangan membantah!" ucap Micho. Amara melempar baju ke arah Micho. Micho dengan sigap mengambil dan memakainya.
Micho mengambil celana selutut dan memakainya. Netranya melirik ke arah Amara yang memonyongkan bibirnya sambil menggantung pakaian yang di lempar Micho ke ranjang tidur. Ada sedikit senyum yang mengembang di sudut bibirnya.
"Rupanya kau mau mencoba menggodaku?" ucap Micho. kini dia berdiri di belakang Amara dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Amara. Menempatkan dagunya di pundak Amara.
Amara merasakan kenyamanan saat posisi seperti ini. Amara memejamkan mata indahnya sejenak dan memutar tubunya. Mereka berhadapan dan saling menatap.
"Mana ada, aku sudah tidak tertarik untuk menggodamu, Tuan Micho Aditya Pratama." ucap Amara. Micho menghela napas panjang dan menyelipkan anak rambut yang masih tertinggal ke telinga Amara.
"Bukankah aku pernah bilang padamu untuk menggerai rambutmu, lalu kenapa malah menggulungnya,?" tanya Micho sambil memperhatikan mimik wajah Amara yang sangat menggemaskan itu.
"Aku tidak menggodamu, posisi rambut seperti ini memang nyaman bagiku," ucap Amara.
"Apa kau tergoda padaku?" tanya Amara. Micho menggelengkan kepalanya.
"Turunkan," perintah Micho. Amara mendengus kesal dan mengambil japit rambutnya. Amara mengibaskan rambutnya ke kanan dan ke kiri. Gerakan Amara membuat mata Micho seakan terhipnotis.
"Mana bisa kau tergoda padaku, di hatimu ada Sabrina." ucap Amara sambil tersenyum meskipun ada getaran hangat dan sesak yang menjalar di hatinya.
"Kapan kita datang ke rumahnya untuk menjelaskan? Bukankah kau sempat bertemu dengannya?" tanya Amara. Micho tampak tak suka dengan pertanyaan Amara. Dia melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Amara. Wajahnya tampak tak bersahabat.
"Jangan membahas orang lain, jika kita berdua." tegas Micho kemudian melangkah pergi. Amara memejamkan matanya. Kenapa dengan Micho? Apa Aku salah? pertanyaan yang mengiang di otak Amara. Amara mengikutinya langkah Micho ke balkon kamar.
Amara melihat Micho yang memandang ke atas dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
"Micho, apa aku menyinggungmu? Aku minta maaf, aku hanya ingin membantumu." ucap Amara dan berdiri di samping Micho. Memandang kemerlip bintang diangkasa yang tampak indah malam ini.
😍😍😍😍😍😍😍