
Amara menggigit bibir bawahnya, apa yang akan dilakukan Micho untuk membuktikan cintanya? Hatinya yang tadi merasa dongkol, kini malah merasa penasaran. Micho melirik ke arah Amara yang menatap pemandangan malam di luar.
"Apa pemandangannya mengalahkah ketampananku? Kenapa kamu tampak suka sekali melihat kesana?" Micho bertanya sehingga Amara menoleh ke arahnya, narsis sekali lelaki itu.
Amara Menatap wajah lebam Micho akibat beradu kekuatan dengan Andika. Mengingat itu, Amara kembali mengingat betapa percaya diri suami yang kini duduk disampingnya itu mengungkap kata cinta untuk wanita lain. Rasa sakit menyelinap di hatinya, pantaskah untuk sakit hati pada pria itu?
"Aku tidak berminat untuk menatap lelaki seperti mu," decak Amara. Micho terdiam. Ia melirik ke arah Amara yang tampak murung.
"Apa karna lelaki tadi? Apa karna aku mengganggu kemesraan kalian begitu?" ketus Micho, pandangan berfokus ke depan. Amara menghela napas panjang. Kenapa malah Micho menuduhnya? Apa dia merasa benar sehingga melempar kesalahan pada Amara? Amara tampak geram merasakan suaminya itu.
"Kenapa menuduh kami? Dia hanya temanku, bukan siapa-siapa. Dia menolongku, seharusnya kamu berkaca Mas,!" bentak Amara. Namun, Mereka telah sampai di sebuah pasar malam yang indah di pusat kota, sehingga Amara mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang maksud Micho mengirim bodyguard untuk mengejarnya. Micho menatap Amara lekat dan memandang wajah Amara yang kembali berkaca.
"Kamu jahat, Mas. Sebentar kamu mengatakan cinta padaku, dan sebentar kemudian mengatakan cinta pada wanita lain. Sebenernya apa posisiku dihatimu? Apa aku hanya sebuah cadangan, yang kamu butuhkan di saat hatimu patah?" tanya Amara sambil menatap wajah Micho yang tampak memerah dengan sorot mata tajamnya. Micho terdiam, enggan menjawab pertanyaan Amara.
Amara mengerjabkan matanya hingga lelehan air mata tak terbendung mengalir deras di pipinya.
"Sampai kapan kau akan terus berbicara? Apa sudah selesai?" tanya Micho ketus. Pertanyaan Micho membuat sesak memaksa masuk ke dalam hati Amara. Bagaimana bisa Micho menyepelekan ucapannya?
Micho keluar dari mobil, berputar dan berhenti untuk membuka pintu untuk Amara. Dengan gerakan cepat Micho mengangkat tubuh Amara dalam gendonganya. Amara masih saja menangis, tapi ia merangkulkan tangannya ke leher Micho. Dia menatap wajah Micho yang tampak sedikit tenang.
"Lepaskan, aku bisa berjalan. Kenapa kesini? Bukankah kau mengatakan akan ke apartemen?" ketus Amara.
"Bukankah kau meragukanku? Bukankah kau butuh bukti dan pengakuanku? Bukankah pengakuan diri ku tempo hari masih tidak bisa kamu terima? Sekarang diamlah," perintah Micho. Amara merasa risih dengan pandangan orang-orang disekitar pasar malam.
Semua orang memandangnya, lagi pula apa yang akan dilakukan Micho di pasar malam seperti ini? Membuktikan apa? Geram Amara. Micho berjalan ke arah sebuah bianglala. Seketika Bianglala berhenti.
__ADS_1
Amara menatap takjup pada bianglala indah yang berbeda dari biasanya. Micho membawa Amara masuk dan mendudukkan Amara disana. Bianglala berputar dengan pelan. Amara menikmati pemandangan indah dari atas.
"Kamu akan tau betapa aku tulus mencintaimu sekarang, atau mungkin aku bisa terjun dari sini untuk meyakinkanmu," lirih Micho sambil duduk didekat Amara. Micho menggenggam tangan Amara dengan erat.
Amara tampak ketakutan ketika putaran kesekian kalinya dan berhenti di atas, bianglala adalah wahana yang dia sukai, tetapi ketika berada di dalam sensasi yang di rasakan hatinya selalu sama, takut dan bahagia bercampur dalam hatinya.
"Apa kamu benar-benar akan terjun? Kenapa berhenti diatas? Aku takut, mas." lirih Amara.
"Jika kau mau aku akan melakukannya," Micho berdiri. Amara menarik tangan Micho dan memandang ke arah Micho.
"Duduklah kembali, aku takut." ucap Amara lagi. Micho duduk dan menatap Amara teduh. Mereka saling menatap lekat. Micho mengusap pelan wajah cantik istrinya. Tiba-tiba lampu di arena pasar malam padam, membuat Amara berteriak histeris dan berhambur ke pelukan Micho.
"Mas, apa yang terjadi?" tanya Amara, ia memejamkan matanya. Micho tersenyum tipis dan mengusap puncak kepala Amara.
"Sheyna Amara I Love you"
disaat yang bersamaan kembang api meluncur dengan kerasnya dengan keindahan yang terlihat jelas dari tempat Amara berada. Amara menutup mulutnya ketika letusan kembang api bertuliskan love you. Amara tak percaya dengan apa yang dilihatnya, bagaimana bisa ini terjadi? Bukankan Micho masih mencintai Sabrina, lalu apa ini? Belum selesai keterkejutannya. Lampu yang semula padam kini tiba-tiba menyala.
Lampion yang semula dibawah berterbangan keatas, tampak begitu indah dan memukau. Amara mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya mengetatkan pelukannya kepada Micho.
"Mas, apa maksudmu?" tanya Amara lirih.
"Apa kamu benar-benar tidak mengetahui maksudku dan masih juga meragukanku? Hem?" tanya Micho.
Amara tampak menyembunyikan wajahnya di dada bidang Micho. Dia tersenyum tetapi dia masih enggan menjawab. Micho mencium puncak kepala Amara kemudian menatap wajah cantik Amara yang tersenyum di sertai tangis di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Kenapa menagis?" tanya Micho. Amara bangun dari dada Micho dan menatap lekat wajah tampan Micho. Micho mengusap sisa air mata Amara. Amara merasa bahagia dan haru secara bersamaan. Micho memegang kedua pipi Amara dan mendekatkan ke arahnya, hingga kini wajah mereka tampak dekat dan hidung mereka saling bersentuhan.
"Aku mencintaimu, aku sangat menyayangimu, Nona Amara. Aku mempersiapkan semua sejak kemarin, namun aku butuh waktu untuk meyakinkan diriku akan perasaanku. Sekarang, setelah aku bertatap muka dengan Sabrina. Aku sudah sangat yakin bila hatiku sudah tidak lagi mencintainya, hanya kamu yang ada disini." ucap Micho sambil mendekap tangan Amara di dadanya.
Amara memeluk erat tubuh Micho sambil terisak. Keduanya saling berpelukan erat dan mengungkap perasaan dengan bahasa tubuh.
"Jangan lagi meragukan aku, Sayang. Dari aku yang berikrar ijab kabul waktu itu, hanya kamu yang selalu mengisi hatiku. Nona Sheyna Amara," ucap Micho.
Air mata Amara semakin deras, Micho mendekatkan bibirnya ke bibir Amara. Dia memagut bibir ranum merah muda itu dengan lembut, membawa Amara dalam ketenangan dan kenikmatan. Amara mendorong tubuh Micho dan mengalihkan pandangannya. Ada seulas senyum yang membuat dirinya merasa malu. Wajah Amara tampak merah berseri.
"Katakan padaku jika kau mencintaiku," Micho mengarahkan pandangan Amara ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, Amara tampak mengusap air mata dan tampak terdiam.
"Aku sengaja memberikan hal sesederhana ini untuk mengungkapkan perasaanku. Kau tau, dulu hanya untuk datang kesini aku membutuhkan beberapa bulan untuk menabung sehingga aku bisa naik dan dengan puas main disini. Suatu saat nanti, jika aku harus kehilangan harta aku harap kau tetap berdiri di sampingku, menerima aku dengan segala kekuranganku." ucap Micho sambil menatap Amara dengan tenang. Amara mengarahkan telunjuknya ke bibir Micho, menatap Micho penuh cinta.
"Ini sangat istimewa bagiku, Mas. Aku sangat bahagia, aku juga sangat mencintaimu." ucap Amara.
Micho meraih Amara dalam dekap hangatnya. Rasa bahagia menyeruak di hatinya.
"Terimakasih, sayang. Aku harap kita akan selalu bahagia,"
"Aku juga berharap seperti itu, Mas.😀😀😀"
😍😍😍😍
Like komen yakkk...
__ADS_1