
"Ra-Ra..." Amara itu membuat Amara dan Anin menoleh bersamaan
Dilihatnya Mama Hana mengerjabkan matanya, netranya menatap kesana-kemari menetralkan cahaya. Anin segera memanggil dokter, sedang Amara mencium wajah perempuan paruh baya itu beberapa kali.
Raka, Rafa dan papa segera masuk dan melihat keadaan Mama Hana. Merely mengucap syukur pada sang maha Kuasa. Amara enggan untuk berpaling dari mamanya, dia senantiasa ada disamping ibu tercintanya.
Tak lama dari itu, dokter yang menangani mama Hana datang dan mengecek details jantung, tekanan darah dan suhu tubuh. Dokter tersenyum kemudian menatap Papa Rudi.
"Alkhamdulilah, kondisi Bu Hana telah membaik, jangan lupa minum obat dan makan Bu Hana, semoga lekas sembuh." ucap Dokter fahri kemudian melenggang pergi.
"Mama," Amara menggenggam tangan Mama Hana dan menciumnya. Mama Hana hanya tersenyum. Rasanya bahagia ketika melihat putrinya ada di dekatnya. Sebuah kebahagiaan yang sempurna baginya dan tak tergantikan ketika berdekatan dengan putri cantiknya.
"Kapan kamu pulang?" tanyanya sambil tersenyum, meskipun wajahnya masih tampak sayu dan pucat.
"Tadi pagi Rara pulang, Rara merindukan mama. Rara ingin memberi kejutan untuk mama, papa dan kakak. Tapi, ternyata Rara yang terkejut. Mama membuat Rara khawatir," ucap Amara. Buliran Air mata menetes di pipinya. prosesi ijab qobul yang menyesakkan dadanya mengiang di ingatannya.
"Maafkan mama, mama membuat kamu khawatir," ucapnya sambil mengusap lembut puncak kepala Amara. Amara masih betah di samping mamanya dan mencium tangan mamanya. Mama Hana mengusap air mata Amara dan tersenyum. Rafa, Raka dan Papa masih memberi waktu mereka untuk bersama. Meskipun sebenarnya mereka juga merasakan kerinduan yang mendalam pada Amara.
"Mama tadi bermimpi," ucapnya lirih.
"Mama mimpi apa?" tanya Amara Antusias.
"Mama bermimpi melihatmu menikah, mama juga bermimpi melihat dia memangkumu disini," ucap Mama Hana sambil menunjuk tempat dimana Amara dan Micho tadi beradegan mesra. Rafa, Raka, Papa dan Anin saling berpandangan. Mereka menatap ke arah Amara penuh tanya.
Rafa tampak tak suka, Raka dan anin hanya menahan senyum, sedangkan papa tersenyum lebar kemudian mendekat ke arah istrinya dan putrinya.
"Mama melihat mereka bermesraan?" tanya papanya. Amara menoleh kearah papanya yang tersenyum. Amara menahan tawa dan memalingkan wajahnya. Rona merah tampak sekali di wajahnya. Mama melihat? Lalu apa mama mendengar juga pembicaraan kami? batin Amara.
"Iya, mama bermimpi melihat Amara dipangku, Amara dan lelaki itu sangat mesra dan tampak bahagia, seperti saat kita muda, Pa." ucap Mamanya. Papa Rudi tersenyum dan merangkul pundak Amara. Mencium puncak kepala Amara. Air matanya meleleh, nyatanya walau bukan anak kandungnya, Amara menempati hati yang sama seperti Raka dan Rafa.
__ADS_1
"Terimakasih, Rara karna kamu Mengembalikan istri papa yang cantik ini." ucapnya. Air mata Amara merembes keluar. Ucapan terimakasih papanya membuat dirinya seakan jauh. Amara berdiri dan memeluk erat papanya.
"Pa, aku putrimu. Aku putri mama dan aku keluarga kalian, bukankah sudah kewajiban Amara untuk membahagiakan kalian?" tanya Amara. Pertanyaan Amara membuat pak Rudi semakin terisak dan memeluk Amara dengan erat.
"Bagaimana jika kamu tau kamu bukan keluarga kandungmu? apa masih sayang seperti ini pada kami? batin pak Rudi.
Mama Hana tak bisa membendung linangan air mata. Rafa menenangkan mamanya. Mata Rafa juga tampak berkaca. Raka dan Anin saling menguatkan, mereka tenggelam dalam rasa haru yang mendalam.
"Mama tidak bermimpi, Rara Benar-benar sudah menikah." ucap Papa Rudi. Mama Hana menatap Amara dan menggenggam tangan putrinya.
"Benarkah?" tanya mamanya. Amara memejamkan matanya. Menikah? Memang dia menikah, menikah dengan manusia laknat yang seenaknya sendiri. Amara mengingat surat perjanjian tadi, surat perjanjian yang banyak merugikan dirinya dan menguntungkan untuk Micho. Lembar terakhir membuat Amara semakin gerah.
Wajib melayani kebutuhan lahir batin, meskipun tanpa cinta jika diperlukan. pihak pertama suamimu, wajib dipatuhi dan di taati. Pihak pertama adalah raja dan tak bisa dibantah selama menjadi istrinya, dalam kurun waktu yang belum bisa di pastikan.
Amara mengeratkan tangannya. Manusia laknat itu benar-benar menguras emosinya. Mengatasnamakan menolong mama tapi meminta perjanjian seenak jidatnya. Menggelikan, gerutu hati Amara.
"Alkhamdulilah, Sayang. Jadi yang mesra-mesraan disini tadi benar-benar kalian?" tanya mama lagi. Amara tersenyum, wajahnya merona merah. Amara menyembunyikan wajahnya di dada bidang papanya.
"Ketahuan kamu," ucap Papanya sambil mengacak rambut Amara. Amara hanya tersenyum. Entah mengapa hatinya juga bahagia.
"Kapan mengadakan resepsi,? " tanya Mama Hana.
"Yang terpenting mama sembuh dulu, nanti kita atur jadwalnya." sahut papa.
"Dimana mantu mama? Ini sudah malam, waktunya pengantin baru masuk kamar." ucap mama Hana. Amara tersenyum dan mencium wajah mamanya. Amara melirik ke arah Rafa. Kakaknya masih saja dengan wajah datarnya. Amara mengusap pundak Rafa. Dia tau, kakaknya itu mengkhawatirkannya.
"Dia tadi ke kantor, ada berkas yang masih harus diselesaikan," ucap Amara mengarang.
"Okey, kamu temenin mama dulu, nanti pasti dia kembali." ucap Mama Hana dan doangguki Amara.
__ADS_1
Rafa melangkah pergi, dia membuka pintu untuk keluar, di saat yang sama, Nada mendorong pintu untuk masuk. Keduanya saling berhadapan. Nada tampak mematung, jantungnya terasa berdetak tak beraturan.
"Nada, kamu melamun?" tanya Rafa. Nada hanya tersenyum. Rafa menepuk pundak Nada dan tersenyum.
"Hati-hati jangan melamun," ucap Rafa kemudian melenggang pergi. Nada memejamkan matanya.
"Kak, ada waktu?" tanya Nada sambil tersenyum.
"Apa kamu perlu bantuan? jika iya kakak akan meluangkan wakti untukmu," ucap Rafa.
"Aku hanya ingin diner bersama, apa kakak keberatan?" tanya Nada. Rafa menggelengkan kepalanya.
"Okey, sekarang lebih baik." ucap Rafa. Nada tersenyum dan berjalan mengikuti langkah Rafa.
****
Micho masih mempersiapkan berkas untuk besok, sesekali mengusap kasar wajahnya. Sesekali juga melihat foto pernikahan yang dikirimkam Damar. Micho mengernyitan dahinya. Menatap wajah Amara yang sangat berbeda dari biasannya. Micho menepis bayangan Amara. Ia meraih surat perjanjian yang tadi dibuatkan Damar dan dia juga tidak tau isinya.
"Kenapa hanya menguntungkanmu, aku merasa di rugikan disini. Perjanjian macam apa itu," ucapan Amara mengiang di telinganya.
Micho membaca lembar demise lembar surat itu. Yang benar saja, dia tampak seperti lelaki murahan yang berharap lebih pada Amara.
😂😂😂😂
"DAMAR!!!!!!!!
😂😂😂😂😂
Like komen dan Vote ya....
__ADS_1