
Hari berganti hari, waktu terus bergulir dua minggu sudah berlalu. Sejak kepergian Nada, Amara menghabiskan waktunya untuk membantu di butik Anin Kakak iparnya. Micho? Dengan bantuan yang di berikan Radit, dirinya tengah kembali mengurus perusahaannya sendiri yang sempat menurun karna menyuntikan dana untuk perusahaan Alexander group waktu itu.
Kini, perusahaan itu sudah kembali pada orang yang memang seharusnya memegang kendali dan perusahaannya sendiri tengah kembali dalam masa stabil.
Amara meletakan kertas beserta pena yang tadinya dia gunakan untuk memdesain pakaian yang di pesan oleh beberapa klien. Namun, tampaknya Amara ada masalah dengan kepalanya. Sejak beberapa hari ini Amara merasakan kurang enak badan.
"Kak, nanti kalau aku pulang lebih cepat tidak papakan?" Amara menatap Anin yang tengah mengecek beberapa gaun pesanan.
"No problem, memang kamu kenapa?" tanya Anin sambil berjalan ke arah Amara yang tampak sedikit pucat.
"Enggak tau juga, kak. Aku kurang enak badan aja, sama pusing," ucap Amara sambil meneguk teh hangat yanh di buatkan oleh mbak Nindi.
"Mungkin kamu kecapean, butuh istirahat." ucap Anin. Amara mengangguk pelan, memang beberapa hari ini dirinya bolak-balik keluar kota untuk beberpa urusan.
Deringan ponsel Amara terdengar, tampak nama mama memanggilnya.
"Siapa?" Anin melirik Amara dan menghadapkan ponselnya pada Anin.
"Angkat dong," ucap Anin.
"Halo ma, asalamualaikum,"
__ADS_1
"Walaikumsalam, Sayang. kapan main kerumah? Sudah lama tidak main, mama merindukanmu lo," ucap Mama Hana sambil meletakan teh ke meja.
"Mama ingin kita makan bersama, Kakakmu adakan? Bilang juga padanya datang malam ini untuk makan bersama," ucap Mama Hana.
"Nanti malam?" tanya Amara.
"Hemm, kenapa? Keberatan?" tanya mama Hana.
"Amara tidak enak badan Ma," sahut Anin. Amara memberikan ponselnya pada kakak iparnya dan tersenyum ke arah mamanya.
"Pantas saja pucat, tampaknya dia kecapean." ucap Mamanya.
"Sebaiknya kita tunda saja, sampai Amara membaik Ma," pinta Anin. Mama Hana mengangguk pelan.
"Kak, aku pulang sekarang deh," ucap Amara sambil melirik jam yang menunjukan pukul 15.00.
"Kamu pucat sekali lo Ra, apa perlu kakak antar? Atau kakak hubungi Micho?" tanya Anin. Amara menggelengkan kepalanya. Sudah 3 hari ini dia begini dan membaik ketika sudah tidur beberapa saat.
"Enggak kak, aku sendiri aja. Lagi pula Mas Micho jug masih sibuk," ucapnya. Anin hanya bisa mengangguk. Amara mengambil tasnya kemudian menatap ke arah kakak iparnya.
"Aku pulang, Kak. Asalamualaikum,"
__ADS_1
"Walaikumsalam, hati-hati Ra,"
Amara memgangguk kemudian melangkah ke arah mobilnya. Amara memijit pelipisnya, tampaknya memang ada yang tidak beres dengan dirinya.
Amara meraih ponselnya dan membuat panggilan pada Micho, namun suaminya itu tak mengangkatnya, sedikit rasa kesal bergelayut di hatinya. Amara menancap gas mobilnya menuju ke apartemennya.
****
Waktu menunjukan pukul 18.00. Sesampainya di apartemen, Amara membersihkan dirinya dan menjalankan shalat magrib. Perasaanya tak menentu, ada rasa sesak dan rasa sebal yang bergelut di pikirannya. Amara kembali meraih ponselnya, menghubungi Micho dan kembali tidak ada jawaban.
Amara meletakan ponselnya di meja rias, netranya melirik kearah foto pernikahan yang terpampang disana, mengambil foto pernikahan sederhana yang sampai saat ini hanya keluarganya yang tau. Amara mengusap pelan foto yang menampakan wajah tampan suaminya. Suami yang selalu membuatnya berdebar saat didekatnya. Membuatnya tertawa bahagia saat menggodanya dan membuat sebal saat menjahilinya.
Amara mengedarkan pandangannya merasa sepi tanpa Micho. Hatinya berdesir ngilu, sesak tiba-tiba. Amara memejamkan matanya, menyebut nama Micho dalam bibirnya. Entah kenapa dia begitu merindukan sosok yang sedari pagi mengabaikan panggilan telpon darinya.
"Aku merindukanmu, Mas," ucapnya pelan mencoba mengeluarkan unek-unek yang menyesakkan dadanya. Amara menghela napas kemudian mengeluarkan pelan. Amara kembali mengambil ponselnya mencoba membuat panggilan pada Micho yang ternyata tidak bordering. Lagi-lagi Amara harus kecewa.
"Kau tau Mas, baru sekarang aku menyadari jika aku sepi tanpamu. Baru sekarang aku menyadari jika aku sangat tak berdaya tanpamu. Rasanya sesak ketika menahan gejolak rindu, Mas aku merindukanmu," lirih Amara.
Air mata Amara mengalir deras. Menyadari perasaanya ketika berjauhan membuat hatinya seakan perih teriris. Amara Melirik ponsel yang menunjukan pukul 19.30 kenapa suaminya tak kunjung pulang?
"Apa yang kamu lakukan sekarang Mas?" tanya Amara pada foto yang ada di tangannya. Amara meletakaan kepalanya di meja, matanya yang memang mengantuk terpejam dan terbang kealam mimpi.
__ADS_1
***