Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Lelaki buaya


__ADS_3

Keduanya keluar dari apartemen menuju ke restauran yang berada di depan sana. Amara dan Nada berjalan beriringan, waktu yang memang sudah sangat larut membuat jalanan tampak sepi sekali. Sesekali Amara mengusap lehernya yang merasakan dinginnya malam.


"Ra, kamu mau makan apa?" Nada memberikan menu makanan pada Amara. Amara menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak lapar, aku lemon tea aja." sahutnya. Nada memberikan kembali menu makanan pada pelayan setelah memesan spageti.


"Biasanya doyan makan, kenapa mendadak tidak mau?" tanya Nada lagi. Amara mengernyitkan dahinya, memang banyak pikiran membuat dirinya enggan makan.


"Aku masih kenyang, nanti aku juga makan. Lagi pula ini sudah malam, dari sini aku ingin segera tidur." ucap Amara lagi. Nada menghela napas panjang kemudian berdiri.


"Mau kemana, Nad?"


"Ke toilet sebentar,"


"Buruan, kelamaan aku tinggal!"


"Iya, bawel!"


Nada melangkahkan kakinya menuju ke toilet wanita. Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang mengendap ngendap seperti maling. Nada yang dari tadi mengamati gelagat tak beres juga mengendap- ngendap berjalan mendekati seorang laki-laki yang menggunakan jaket tebal. Setelah lama mengamati dan dirasa sangat mencurigakan, Nada memukul laki-laki yang tengah berdiri di depan pintu toilet itu.


"Kamu ngintip ya? dasar, buaya!" ucap Nada sambil memukul punggung orang yang membelakanginya itu. Lelaki itu menoleh dan menepis tangan brutal Nada yang menyerangnya. Pandangan mata orang yang baru saja keluar dari toilet mengamati 2 orang yang tengah berantem itu.


"Ada apa mbak, mas?"

__ADS_1


"Ini, dia ngin... " sebelum Nada menyelesaikan ucapanya, laki-laki itu membungkam mulut Nada dengan tangannya.


"Maaf mbak kami mengganggu kenyamanan anda, pacar saya kalo lagi ngambek memang begini. Maaf ya, kami permisi dulu." ucap laki-laki itu sambil tersenyum,


"pacar? Apa-apaan ini, pacar dari mana?" gerutu batin Nada. Lelaki itu dengan gerakan cepat mengangkat tubuh Nada, Nada secara reflek mengalungkan tangannya di leher lelaki itu.


Nada yang masih terkejut mendapati dirinya yang digendong ala bridal style dan entah mau dibawa kemana itu memberontak.


"Lepas! Lepaskan aku," ucap Nada. Lelaki itu memandang Nada dengan tatapan tajam.


"Lepas aku bilang!" bentak Nada lagi. Lelaki itu menurunkan Nada, sejenak mereka saling menatap. Pertemuan 2 bola mata yang indah itu membuat keduanya saling berdiam.


"Kamu mengintipkan?" ucap Nada mengintimidasi.


"Dasar, lelaki mesum." bentak Nada kemudian melangkahkan kakinya. Lelaki itu menarik tangan Nada, hingga Nada reflek mendekat. Nada yang memang jauh lebih pendek mendongak keatas, mereka kembali saling menatap. Lagi-lagi pertemuan 2 bola mata itu harus membuat sebuah rasa menyelinap. Nada menarik tangannya dari genggaman laki-laki itu.


"Ada apa?" tanya Nada sambil mendengus kesal.


"Kita belum selesai, kamu mau kemana?"


"Apanya yang belum selesai? katamu tidak mengintip, ya sudah kita selesai tidak Ada urusan lagi, semua salah pahamkan? "


"Kamu tau, gara-gara ulahmu jas kesayangan kakakku harus sobek. Kamu harus ganti rugi karena ini," ucapnya sambil menunjuk lubang yang berada di jas yang lelaki itu pegang.

__ADS_1


"Mana ada, aku tidak melakukan apapun." sanggah Nada sambil melirik lelaki itu.


"Ini karna ulahmu memukulku, membuat aku menarik jas yang nyangkut di pintu." bentaknya, Nada mengernyitkan dahinya.


"Ya udah tinggal beli lagi jas yang samakan beres." ucap Nada membela diri sambil membeluarkan dompet dari tasnya.


"Kamu pikir semudah itu?" ucap laki-laki itu. Nada mengurungkan niatnya mengambil dompet, dia memandang ke arah lelaki itu.


"Lalu aku harus apa?"


"Temani aku ke apartemen,


Plak...


Nada memberikan tamparan keras pada lelaki itu, lelaki itu memegang pipinya yang panas akibat ulah Nada.


" Jangan berpikir macam-macam, Tuan. Aku bukan wanita murahan yang mau diajak main gila seperti wanita lain yang mau menuruti napsumu itu," ucap Nada kemudian melenggang pergi. Lelaki itu mengernyitkan dahinya, tangannya masih saja memegang pipinya.


"Dia pikir aku mengajaknya tidur? Dasar wanita mesum," umpatnya. Tak lama dari itu ponselnya berbunyi, lelaki itu menatap ponselnya dan melihat nama Micho disana.


"Halo, Kak."


"Bagaimana, dit? Kamu sudah dimana, kenapa tidak sampai-sampai?"

__ADS_1


👌👌👌👌😃


__ADS_2