Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
149


__ADS_3

"Aku akan berusaha selalu ada di dekatmu, sampai maut memisahkan kita," ucap Micho.


Amara tersenyum mendengar ucapan Micho, mereka menikmati sarapan dengan lahab. Setelah menyelesaikan sarapan pagi, mereka segera berangkat ke kantor.


Jalanan panjang dilalui dengan hati yang bahagia, hingga tak beberapa lama kemudian sampailah mereka ke kantor Pratama Yoga grup.


Micho membawa Amara ke ruangannya. Ruangan yang di penuhi dengan fasilitas yang lengkap.


"Tunggulah disini, kalau perlu apapun hubungi sila, dia ada di depan sana," ucap Micho sambil mengecup pelan puncak kepala Amara.


Sila menghubunginya dan mengatakan bahwa para klien dan juga beberapa staf sudah berkumpul di ruang meeting. Terasa berat memang harus meninggalkan istrinya sendirian, tapi kekawatiranya sudah berkurang mengingat tempat mereka tidak berjarak jauh.


"Iya mas, jangan mengkhawatirkan aku. Segeralah ke tempat meeting, aku akan baik-baik saja," ucap Amara dengan tenang.


Micho melangkah pergi, sedang Amara menatap ke arah jendela. Memandang deretan gedung menjulang tinggi di sekitarnya. Tiba-tiba saja perutnya terasa kencang.


"Auhhhhhh..." keluhh Amara sambil memegang perutnya.


Amara memejamkan matanya, mengusap pelan perutnya yang membuncit. Sakit seperti ini sudah dirasakannya beberapa hari terakhir ini.


Namun, dirinya merasa masih baik-baik saja. Tetapi sekarang ini, semakin di tahan sakit itu semakin datang dengan cepat. Amara mengusap perutnya dengan tenang. Mencoba memberikan pengertian pada dirinya untuk bersabar menunggu Micho.


Ceklek.. suara pintu terbuka terdengar, Amara menoleh dan dilihatnya Sila membawakan camilan dan jus untuknya.


"Pagi Bu Amara, ada jus untuk ibu. Dinikmati Bu, bapak meminta saya membuatkan ini untuk ibu," ucapnya. Amara tersenyum dan berjalan ke arah sofa.


"Terimakasih Sila," Amara tersenyum dan duduk di sofa kemudian menikmati jus yang dibawakan karyawannya itu. Micho, walaupun sesibuk apapun dia selalu perhatian dengannya


"Sama-sama bu, apa ibu baik-baik saja?" tanya Sila yang melihat Amara sedikit pucat.


"Aku baik-baik saja, tapi perutku nyeri hilang datang tak beraturan Sila," ucap Amara.


"Apa tidak sebaiknya ibu ke dokter?" tanya Sila.


"Aku juga berfikir demikian," ucap Amara.


"Oh iya bu, saya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kalau ibu perlu apa-apa panggil saya,"


"Oh, iya terimakasih Sila," ucap Amara. Sila keluar dari ruangan itu. Amara menyandarkan tubuhnya dan mengangkat kakinya ke sofa, perlahan Amara memejamkan matanya dan mengarungi samudra mimpi.


Dua jam berlalu begitu lama, Micho yang baru saja menyelesaikan meeting segera berjalan menuju ke ruangannya. Yang jelas hatinya tak tenang meninggalkan Amara, bayangan wanita cantik itu selalu membayangi pelupuk matanya.


Ceklek,,, Micho membuka pintu ruangannya. Netranya mendapati Amara yang tertidur di sofa. Langkahnya bergegas menuju ke arah Amara yang tampak sedikit pucat. Dengan perlahan Micho mencium puncak kepala Amara, agar wanita itu tidak terbangun dari tidurnya.


"Auhh,,," keluhh Amara sambil memegang perutnya.


Micho tampak terkejut saat Amara memejamkan matanya, menggenggam erat tangan Micho.


"Sayang kamu merasakan sakit?" tanya Micho sambil berjongkok. Amara menggeleng pelan. Micho mengusap puncak kepala Amara dan menciumnya. Ada kepanikan yang saat ini bergelayut di hatinya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Micho pada Amara lagi. Amara sedikit ragu untuk mengatakannya, ia takut Micho akan semakin mengkhawatirkannya.


"Aku tidak papa, Mas." Jawaban itu yang selalu didengar oleh Micho setiap Micho bertanya. Amara menurunkan kakinya, Micho duduk di sebelah Amara dan mengusap perut istrinya.


"Sayang," panggil Micho.


"Hem,"


"Berbaringlah disini," pintanya sambil menepuk pangkuannya. Keduanya saling menatap lekat, dengan cepat Amara mengangguk dan meletakan kepalanya di pangkuan Micho.


"Apa benar kamu baik-baik saja? hem?" tanya Micho lagi. Micho melihat Amara begitu gelisah sejak pagi dan membuat dirinya teringat hari perkiraan lahiran yang tinggal beberapa hari lagi.


"Aku baik-baik saja, apa kamu meragukanku?" tanya Amara. Micho menghela nafas panjang,dia tau betul istrinya itu sangat keras kepala.


"Kita harus ke rumahsakit," ucap Micho. Namun, Amara menggeleng dengan cepat.


"Aku tidak papa, Mas."sanggahnya lagi.


"Tapi kamu seperti menahan sakit, Sayang," protes Micho.


"Aku tidak kesakitan, lebih baik aku tidur di pangkuanmu sejenak. Aku ngantuk sekali Mas. Apa boleh?" tanya Amara sambil memiringkan tubuhnya.

__ADS_1


Micho mengangguk pelan, Amara tampak memejamkan matanya. Tak lama dari terdengar denguran halus menandakan istrinya telah tidur. Micho mengusap pelan puncak kepala Amara dan memberikan kecupan hangat di kening istrinya. Micho kemudian mengusap pelan perut Amara dan menciumnya.


"Hai sayang, apa kamu tidak sabar akan memperdengarkan suara merdumu? Papa akan bahagia sekali, tapi jangan nakal. Jangan membuat mama sakit nantinya," ucap Micho. Tangannya terulur mengusap pelan perut Amara. Micho membacakan doa dan kembali mencium perut buncit istrinya.


Amara yang merasakan sentuhan hangat Micho membuka matanya, bibirnya tersenyum manis hingga sesaat kemudian Amara merasakan perutnya begitu kencang.


"Astagfirullah..." pekik Amara. Micho yang begitu khawatir segera membopong tubuh Amara. Dirinya tak kuat lagi menahan ketar ketir hatinya yang memang sejak tadi merasakan hal yang aneh dari istrinya. Micho juga tidak lagi menunggu persetujuan Amara untuk membawanya ke rumah sakit.


"Mas, mau kemana?" tanya Amara.


Tanpa menjawab pertanyaan Amara, Micho keluar dengan hati-hati, Sila yang sejak tidak enak juga tampak Khawatir melihat kearah Amara yang ada digendongan bosnya.


"Bapak Micho, bagaimana keadaan Nona Amara?" tanyanya.


"Sila, hubungi sopir untuk menyiapkan mobil!"


"Baik Pak,"


Micho terus berjalan dan menekan tombol lif menuju ke lobby bawah. Amara yang tampak lemah hanya diam, mata indahnya terus mengamati wajah Micho yang tampak tegang.


Sesampainya di bawah, sudah terparkir mobil mewah yang siap membawa Micho dan Amara pergi. Pak Bimo tampak membuka pintu dan mempersilahkan bosnya untuk masuk.


Pak Bimo melajukan mobilnya dengan cepat, melihat kepanikan atasannya membuat Pak Bimo bergerak cepat.


"Pak Bimo, bisa lebih cepat lagi tidak?" bentak Micho ditengah kepanikannya.


Pak Bimo mengerutkan dahinya, padahal ini sudah mencapai kecepatan yang sangat tinggi dan bosnya meminta lebih cepat lagi? Pak Bimo tidak menanggapi ucapan bosnya. Dia tau jika bosnya hanya terbawa suasana.


Amara menggenggam tangan Micho, mencoba memberikan ketenangan pada suaminya tersebut.


"Jangan marah-marah, aku baik-baik saja," ucap Amara. Micho menatap Amara dengan cinta, dia tau Amara menahan rasa sakit yang amat sangat menyakitkan dirinya. Micho memejamkan matanya, hatinya terasa sakit melihat istrinya berjuang untuk memberikan kebahagiaan kepadanya nanti.


"Mereka pantas dimarahi juga, aku hanya tidak mau kamu sakit terlalu lama,"


"Pengorbanan seorang wanita adalah saat dia berjuang untuk kelahiran buah hatinya, ini adalah hal lumrah yang dirasakan setiap wanita, mas." ucap Amara.


Micho mengusap peluh di dahi Amara, menghujani ciuman di wajah istrinya. Pak Bimo menghela nafas lega, setidaknya bosnya bisa menguasai hatinya dan terlihat tampak tenang mendengar penuturan istrinya.


Tak lama kemudian, Dokter Almira datang dan memeriksa keadaan Amara. Micho antusias mendengarkan penuturan dokter tersebut yang memberitahukan bahwa Amara sudah pembukaan 5.


Setelah mendapatkan pemeriksaan dari Dokter Almira, Amara sedikit tenang.


"Berapa lama dok? Berapa lama istri saya akan merasakan kesakitan begini?" tanya Micho.


"Berbeda-beda Tuan Micho, kita harus bersabar jika menghendaki kelahiran normal," ucapnya.


"Aku tanya berapa lama,Dok?" ucap tanya Micho sedikit emosi. Amara menggenggam erat tangan Micho yang seakan memberikan protes untuk tidak marah-marah. Micho menghela napas tenang dan mencium puncak kepala istrinya.


"Bisa satu jam, dua jam, bahkan lebih dari itu, kita berdoa saja semoga Nona Amara bisa lebih cepat dari perkiraan yang kami analisa," ucap Dokter Almira. Micho mengusap wajahnya kasar kemudian menatap Amara dengan tenang.


"Untuk mempercepat pembukaan, ibu Amara bisa berjalan-jalan kecil bu," ucap dokter itu dan diangguki Amara. Dokter Almira tersenyum kemudian pamit untuk meninggalkan ruangan.


"Sayang, masih sakit?" tanya Micho. Amara hanya terdiam. Matanya berkaca ia menggelengkan kepalanya.


"Sayang, apa sakit? Apa perlu aku menghubungi mama atau papa?" tanya Micho lagi. Lagi-lagi Amara menggelengkan kepalanya. Micho mendekap hangat tubuh Amara. Amara yang merasakan kencang meringis kesakitan, mengambil nafas dalam dan mengeluarkan pelan.


"Aku akan menghubungi mama," Micho mengulurkan tangannya dan mengambil benda pipih di saku kemejanya. Namun, amara menggeleng pelan.


"Jangan biarkan mereka heboh disini dan membuatmu semakin tegang, hubungi mereka nanti saja ketika baby kita sudah terlahir," pintanya.


"Okey, tapi kamu harus makan dan banyak minum. Siapkan tenaga untuk nanti," ucap Micho sambil meraih beberapa kantong plastik di meja. Micho melepaskan pelukan pada Amara dan mengambil buah apel disana. Mengupasnya dan menyuapi istrinya.


"Terimakasih, Mas," ucap Amara. Micho tersenyum kemudian mengusap pelan perut Amara.


"Kamu bilang ini adalah pengorbanan seorang ibu untuk anaknya, dan aku adalah suami yang berkorban untuk anak dan istrinya," ucap Micho lagi. Amara tersenyum dan mengusap pelan pipi Micho yang tadinya tampak tegang kini berangsur membaik.


"Doakan yang terbaik untukku," ucap Amara.


"Pasti," lirih Micho sambil menggenggam tangan Amara yang berada di pipinya.


"Auhhhhhh..." keluhh Amara tangan kirinya memegang perut buncitnya.

__ADS_1


Micho memejamkan matanya, menggenggam erat tangan Amara dan memberikan kekuatan untuknya. Jika bisa menggantikan posisi Amara saat ini, mungkin dia akan menggantikan posisi itu.


"Sayang kamu merasakan sakit lagi?" tanya Micho. Amara mengangguk pelan. Yang bisa dilakukanya saat ini hanya berdoa dan menemani istrinya.


Amara berulang kali menghela nafas dan dan mengeluarkan dengan pelan, sesaat rasa sakit itu menghilang dan muncul secara bergantian.


Beberapa jam sudah mereka berada dirumah sakit, dan salah satu perawat baru saja memeriksa dan memberi tahukan bahwa sudah pembukaan 7. Micho saat ini masih senantiasa disamping Amara. Micho menghela nafas panjang, mau sampai kapan dia harus menyaksikan perjuangan Amara? Amara melirik kearah Micho dan meletakan kepalanya di pangkuan Micho.


"Apa kamu tidak mau berubah pikiran?"


Amara menggeleng, yang dia bayangkan oprasi sangat menyakitkan. Bahkan melihat alat kedokteran itu membuat dirinya sudah tak mampu untuk menjawab pertanyaan Micho. Amara memejamkan matanya, membuat Micho merasa lega. Namun, 15 menit kemudian Amara membuka matanya dengan tiba-tiba.


"Auhhhhhhh..." pekiknya.


Micho teekejut dan menggenggam erat tangan Amara memberikan kekuatan pada istrinya itu.


Amara merasakan sakit yang begitu luar biasa, sakit itu semakin hilang dan muncul secara berturut-turut ini adalah nikmat dari sang maha pencipta untuk mendapatkan hadiah terindah nantinya. Micho mengusap pelan pundak Amara.


Dokter Almira memeriksa beberapa kali, dia hanya meminta Micho dan Amara untuk tetap bersabar agar persalinan berjalan dengan lancar. Mereka tidak henti-hentinya memanjatkan doa. Micho dengan sabar selalu ada disamping istrinya, menemani Amara menikmati setiap kenikmatan yang diberikan Tuhan untuk melihat makhluk kecil yang ada di kandungannya.


"Astagfirullah..." pekit Amara.


Air matanya mengalir. Ini yang membuat Micho tampak hancur, membuat Micho merasakan sakit yang menusuk hatinya. Micho mengusap pelan wajah Istrinya memandangnya penuh cinta. Dia harus kuat, jangan sampai meneteskan air matanya. Micho hanya mampu menangis di dalam hati melihat pemandangan di depannya.


"Aku mencintaimu, Sayang... aku mohon berjuanglah sedikit lagi," Micho mengusap wajah Amara dengan beribu kasih dan cinta.


"Aukhhh," pekik Amara di tengah ucapan Micho.


Kontraksi lebih sering terjadi, dan itu sangat menyakitkan bagi Amara. Amara menghela nafas panjang, dia hampir kehabisan tenaga, Dokter memberikan infus untuk memberikan asupan kekuatan pada Amara. Micho terus menggenggam tangan Amara di tengah kontraksi itu.


"Mas..."


"Hem," sahut Micho. Dia menatap ke arah Amara yang mencoba tersenyum meski menahan sakit itu, ia ingin secepatnya melewati proses ini, ia tidak tahan lagi melihat Amara kesakitan.


Di pelupuk matanya telah terkumpul buliran air mata yang bisa tumpah kapan saja saat dia mengerjabkan matanya. Ibu? Beginikah perjuangan ibunya dulu? Ibu yang meninggal setelah melahirkanya? Bahkan tak pernah dia merasakan dekap hangatnya. Kini air mata Micho benar-benar mengalir. Cengeng? Entahlah, yang pasti ini adalah cara untuk menghilangkan sesak di dadanya.


"Mas... aakkkkkk sakit mas..." lagi-lagi Amara mengalami kontraksi yang hebat. Membuat Micho di dera kepanikan yang luar biasa..


"Tuhan, jangan sakiti dia. Pindahkan saja sakitnya padaku. Aku tak sanggup melihatnya seperti ini," lirih Micho di tengah kepanikannya.


"Mas, aku minta maaf jika selama aku menjadi istrimu pernah membuatmu terluka. Aku minta maaf bila aku selalu menjengkelkan, aku minta maaf aku selalu membuatmu kerepotan," ucap Amara di tengah deraian badai kontraksinya.


ucapan Amara bagaikan pedang yang menancap dengan paksa ke hati Micho. Air mata Micho mengalir deras. Micho menggeleng pelan. Micho membungkam bibir Amara yang terus mengoceh dengan ciuman lembut. Seketika Amara terdiam dan menatap Micho dengan tenang.


"Apa yang kamu katakan. Aku mencintaimu Nona Amara, sangat mencintaimu dengan segala kurang dan lebihmu," ucap Micho. Micho tidak lagi menahan air mata yang mendesak keluar, bahkan dia tidak merasa malu pada perawat dan dokte yang saat ini bebarengan masuk ke ruangan itu. Dokter dan perawat memang siaga berjaga di samping kamar bersalin.


"Auchhkkkkkk..."pekik Amara lagi. Amara memejamkan matanya menahan rasa sakit yang mendera perutnya.


"Mas, ini sakit sekali mas..." ucapnya.


Amara sedikit mengeluarkan suara, rasa sakit di dalam perutnya membuatnya memekik berkali kali. Air matanya mengalir deras.


Para Dokter dan perawat segera mendekat setelah mereka melihat air ketuban mulai pecah. Micho terus saja memegang tangan Amara mengusap buliran air mata dan peluh di wajah istrinya.


Dokter Almira membimbing Amara untuk menarik napas, mengeluarkan dan mengejan secara bergantian. Amara mengejan dengan Kuat, tangannya mencengkram tangan Micho dengan kuat. Beberapa kali Amara memberikan goresan luka di lengan Micho saat mengejan. Namun, rasa sakit itu tak dirasakan Micho karna dia tau, Amara merasakan sakit yang jauh lebih dari apa yang dia rasakan.


Beberapa saat kemudian tangisan bayi mungil terdengar di dalam ruangan itu, memberikan kebahagiaan kepada pasangan yang kini menangis haru, Amara menghela napas lega, menangis bahagia. Micho bernafas lega melihat anak dan istrinya sehat dan berhasil melalui proses persalinan.


Micho menghujani Amara dengan ciuman hangatnya. Para perawat membantu Amara membersihkan diri, dan beberapa saat kemudian DOkter Almira meletakkan bayi mungil itu di atas tubuh Amara kemudian pamit pergi. Amara dan Micho tersenyum bahagia.


Micho mengangkat bayi yang beratnya 3 kg itu. Mengadzani dan iqomah secara bergantian. Setelah itu Micho membawa bayi itu kearah Amara.


"Lihat, dia cantik sekali sepertimu," ucap Micho. Amara yang semula berbaring di bantu Micho untuk duduk.


Micho meletakan putri cantiknya di gendongan Amara, bayi iti sangat cantik. Tetapi mirip seperti Micho. Bayi itu menggeliat, membuat Amara tersipu.


"Siapa nama untuknya?" tanya Micho. Amara tersenyum dan memandang Micho.


"Zieta aurora Natasya, apa boleh?" tanya Amara. Micho tampak tersenyum tipis.


"Baby Zie?" tanya Micho yang kemudian diangguki oleh Amara.

__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2