Aku Bukan Musuhmu

Aku Bukan Musuhmu
Customer spesial


__ADS_3

4 tahun kemudian


Hari berganti hari, waktu terus berjalan. Sheyna Boutique hari ini mengadakan ulang tahun yang ke 4. Banyak pelanggan yang berdatangan karna di hari yang spesial itu Nona Sheyna Amara sebagai owner sheyna boutique memberikan diskon 35 persen untuk setiap item pembelian.


Kini Amara memandang wajah mama tercinta yang tersenyum didepan layar ponsel HP nya.


"Ma, aku belom siap. Kenapa mama ngotot sekali," sanggah Amara sambil tersenyum.


"Sayang, mama tidak ngotot. Mama dan papa bingung harus menjawab bagaimana kepada mereka yang datang kesini untuk meminangmu." ucap mamanya. Amara merasakan sedikit sesak di dadanya.


"Ma, mama bisa kan mengatakan aku sudah punya calon."


"Tidak bisa begitu, Ra. Pasti mereka akan mendesak dan bertanya siapa calonmu," ucap mamanya lagi.


Amara terdiam, lagi-lagi mamanya mendesak nya untuk pulang. Memberikan kepastian pada orang yang berdatangan melamarnya. Karna selama ini banyak sekali rekan bisnis papanya yang meminang Amara untuk anaknya dan selalu saja mama dan papanya hanya bisa terdiam tak bisa menerima ataupun menolaknya.


"Kalo kamu sudah punya calon, minimal kenal kan pada mama dan papa. Jangan kamu sembunyikan, kamu sudah dewasa lo, 25 tahun sudah waktunya kamu berfikir tentang itu, Ra." ucap mamanya. Amara memejamkan matanya, beban itu membuatnya merasakan sesak yang luar biasa.


"Maaf Nona Sheyna, ada bu Elysa mau bertemu." ucap seorang karyawannya yang kini berdiri di sampingnya.


"Oh, iya. Bilang padanya sebentar lagi saya datang kesana." ucap Amara pelan.


"Elysa yang datang?" tanya mamanya sambil tersenyum. Amara mengangguk pelan.


"Iya, Ma. Customer spesial." ucap Amara. Mamanya tersenyum bahagia, Elysa adalah sahabatnya dulu. Sahabatnya yang sudah dianggapnya seperti saudara dan menganggap Amara seperti anaknya sendiri.


"Ya sudah, temui dia. Tadi tante Elysa sudah menghubungi mama." ucap mamanya.


"Ada apa?"


"Dia merindukanmu," ucap mamanya. Amara mengangguk dan menatap mamanya.


"Sampai jumpa nanti lagi, Ma. Sampaikan Salam Rara untuk papa." ucap Amara.


"Iya, jangan lupa luangkan waktu untuk pulang." ucap mamanya lagi. Amara tersenyum dan mengangguk. Setelah mengakhiri obrolan dengan mamanya, Amara berjalan menuju ke ruangannya. Amara tersenyum dan menyapa 2 orang yang sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri.


"Om, tante. Rindu kalian," ucap Amara sambil mencium pipi ke dua orang itu.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kamu?" tanya Elysa.


"Aku baik, Tan. Tante dan om dari mana? tumben ada waktu mampir kesini?" tanya Amara sambil memperlihatkan wajah sumringahnya.


"Tadi om dan tante baru saja meeting dengan Klien. Makanya mampir kesini, kan ulang tahun Sheyna boutique kali aja dapat gratisan." ucap Elysa sambil tertawa. Amara dan Herman, suami Elysa saling berpandangan. Mereka juga tertawa bersamaan.


"Boleh, aku kasih gratis buat om dan tante tersayang." ucap Amara. Elysa menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tante bercanda. Kami kesini sebenernya mau mengajak kamu dan Nada makan malam." ucap Elysa. Amara tersenyum kemudian berdiri mengambil beberapa minuman di lemari pendingin untuk tamunya.


"Wah, kebetulan sekali. Nanti malam memang kami merencanakan keluar," ucap Amara sambil meletakkan minuman di atasan meja.


"Wah, kebetulan. Om, juga mengundang sahabat om." ucap pak herman sambil memandang Amara.


"Acara penting dong, om."


"Tidak, ya kebetulan saja dia ada di sini. Dia menemui putranya, perusahaan milik saudara tirinya yang pernah di kuasai oleh orang lain telah kembali. Dia kesini merayu anaknya agar anaknya mau mengurus perusahaan itu, alhasil dia meminta om untuk membantunya." ucap pak herman.


"O, gitu." sahut Amara.


"Anak sahabat om pengusaha yang hebat, Ra. Dia baik, tampan dan dia juga mapan. Dia merintis perusahaannya sendiri dari nol, om berencana menjodohkan kalian," ucap herman panjang lebar. Amara mengernyitkan dahinya.


"Tidak, ini inisiatif om. Om sudah menganggap kamu seperti anak om, om juga menganggap dia seperti anak om. Tidak ada salahnyakan kalo kalian mencoba, om dan tante ingin yang terbaik untuk orang yang istimewa seperti kalian" ucap herman lagi.


"Iya, Ra. Lagi pula tante itu sahabat mama mu, mana mungkin tante mau menjerumuskan kamu." ucap Elysa.


"Bukan gitu, Tan. Tapi aku kan..."


"Kamu apa?"


"Aku belum siap,,, Tan. Aku,,, "


"Good afternoon my lovely princes. Aku merindukanmu, Sheyna sayang..."


Suara ribut dari luar membuat 3 orang saling berpandangan, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka. Nada tampak kesal sekali, dia menghadang sosok lelaki kemayu yang saat ini berdiri didepan pintu. Tetapi, laki-laki kemayu itu menepis tangan Nada dan masuk menghampiri Amara.


"Sayang, lihat asistenmu itu, dia menghadang rombonganku kesini. Kau tau, aku sudah membawa keluarga ku dan seorang penghulu untuk menikahkan kita." ucapnya dengan gaya kemayunya. Elysa dan Herman tampak menahan tawa, sedangkan Amara berdiri sambil menjauhi Wendi, lelaki kemayu yang jatuh hati padanya.

__ADS_1


"Wendi, hentikan." teriak Nada. Amara menghela napas panjang melihat kearah Nada.


"Panggil satpam," ucap Amara. Nada keluara dan berjalan ke depan.


"Sayang, kamu Mau mengusirku? aku bawa penghulu, aku juga bawa sasrahan didepan. Apa kamu tidak mau mempertimbangkan perasaanku?"


"Stop disitu, jangan melangkah kesini Wendi. Melangkah sedikit saja, aku akan lapor polisi. Mau masuk penjara?" gertak Amara.


"Sayang, aku kesini bawa papa mama lo. Jangan galak-galak."


"Bisa nggak jangan buat ulah, pergi diri sini." bentak Amara lagi.


"Okey aku pulang dulu, aku akan datang 2 hari lagi ya, aku akan membawa keluarga dan penghulu lagi, persiapkan pernikahan kita ya."


ucap lelaki kemayu itu kemudian keluar dari ruangan Amara. Nada tampak datang bersama dengan satpam.


Amara menghela napas panjang, Elysa dan Herman tertawa lepas saat Wendi sudah berjalan jauh. Nada mendekati Amara yang tampak kesal sekali.


"Bagaimana bisa, dia masuk?" tanya Amara.


"Maaf, Ra." jawa Nada cengar cengir.


"Aku bisa gila lama-lama dekat orang itu," ucap Amara.


"Dia siapa, Ra?" tanya Herman sambil tertawa.


"Dia Anak Pengusaha mie instan om, tapi ya begitu. Dia kemayu, mana mau coba Aku sama dia. Mama papanya sih baik, tapi masak iya aku nrima anaknya yang kemayu seperti itu, amit-amit." ucap Amara. Herman dan Elysa tertawa. Nada juga ikut tertawa.


"Kamu sih susah sekali deket lelaki, memang seperti apa yang kamu mau?" tanya Herman. Amara hanya terdiam. Nada mengamati wajah Amara yang sedih.


"Rara belum siap, om."


"Mau nunggu siap diusia berapa? Kamu juga Nad, nungguin apa? Kalian berdua sudah sukses, berpenghasilan sendiri, Mau apa lagi?" tanya Elysa. Nada dan Amara saling berpandangan.


"Ya sudah, om dan tante pamit. Jangan lupa nanti malam, okey." ucap Elysa.


Nada dan Amara hanya mengangguk pelan, kemudian mengantarkan pelanggan sepesial itu ke depan.

__ADS_1


😍😍😍😍


Haii... ada tangan kangen?? Jangan lupa like dan komennya ya... butuhh semangat dari kalian..


__ADS_2