
"Apa iya Nona Sheyna yang Pak Micho maksud? " tanya Lyli. Mela menatap Lily dengan sorot mata teduh.
"Aku juga berfikir hal yang sama," sahut Lily.
"Bagaimana kalau kita mencoba mencari Nona Sheyna dan mencoba menjelaskan padanya?" tanya Lily, Mela tampak berfikir.
"Apa benar-benar Nona Sheyna? bagaimana kalau kita salah? Mungkin saja Pak Micho mencintai wanita lain," ucap Mela. Lyli menghela napas panjang.
"Entahlah, lebih baik kita diam saja kali ini, aku takut saja jika kita salah langkah."
"Hem,"
Tak berselang lama, suara gaduh terdengar dari luar ruangan, banyak yang mengatakan jika bos besar datang dari negara I. Para karyawan menunduk hormat ketika bos besar mereka datang, tampak Damar dan Meta menyambut kedatangan tamu special.
Meta dengan gaya elegan turut menyambut papa Micho. Prayoga menatap ke arah Meta kemudian kembali melangkahkan kakinya. Ada sedikit rasa kawatir menyelimuti hatinya.
"Selamat siang, selamat datang Tuan Prayoga." sambut Meta dengan santun dan diangguki oleh Prayoga. Meta tersenyum dan mengikuti langkah kaki prayoga.
"Damar, dimana Micho? kamu sudah menyampaikan acara nanti malam?" tanya Prayoga panjang lebar. Damar masih terdiam, kesibukan hari ini begitu padat sehingga dirinya belum sempat mengatakan pada Micho. Bahkan, Micho belum mengetahui jika papanya datang ke sini.
"Tuan Micho di ruang santai, Tuan. Apa perlu saya panggilkan?" tanya Meta.
__ADS_1
"Maaf, Miss Meta. Saya rasa anda tidak perlu repot, saya akan menemui Micho disana." ucapnya kemudian melenggang pergi. Meta hanya terdiam dan merasa ada sebuah sekat yang sengaja dibangun oleh bos besar itu padanya.
Ceklek...
Prayoga membuka pintu ruang santai, bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman. Dilihatnya Micho, putra semata wayang yang begitu dia sayangi. Meskipun, Micho bukankah putra kandungnya. Putra yang 3 tahun ini enggan menemuinya Karna sebuah kesalahpahaman. Di depan matanya, Micho tengah berdiri di dekat jendela. Memandang keindahan kota di negara itu.
"Apa papa boleh memelukmu?" suara itu membuat Micho menoleh, Micho terkejut. Bibirnya melengkung membuat senyuman, seketika Micho berjalan dan meraih papanya.
"Papa, kenapa tidak memberi kabar jika mau berkunjung?" ucap Micho. Prayoga tersenyum dan menepuk pundak Micho, meskipun lama tak berbicara dengan putranya, nyatanya Micho tetap menjadi anak yang baik untuknya.
"Papa baik juga Micho," ucapnya. Micho mengangguk pelan, hatinya bahagia mendapati papanya ada di depannya.
"Duduklah, Pa. Pasti papa capek," ucapnya sambil menarik kursi untuk papanya.
"Kabar apa?" tanya Micho.
"Perusahaan milik Om Davit telah kembali, papa ingin kamu mengurusnya." ucap Prayoga. Micho mengernyitkan dahinya dan menggelengkan kepalanya.
"Apa yang papa lakukan? Papa tidak melakukan hal yang aneh kan?" tanya Micho. Prayoga menghela napas panjang.
"Micho, papa merebut apa yang seharusnya kita miliki. Itu perusahaan milik kakekmu, saudara tiri ayah sudah meninggal. Lalu, apa papa harus membiarkannya ada ditangan orang lain?" ucap Micho.
__ADS_1
"Pa, om davit punya keturunan juga." ucap Micho.
"Papa akan mencari sepupumu nanti," ucap Prayoga.
"Micho tidak bisa menjajikan apapun, sebaiknya kita makan siang. Papa pasti lelah," ucapnya.
"Hem, nanti malam ada undangan makan malam bersama sahabat papa. Papa mau kamu ikut," ucap papanya. Micho menatap kearah papanya.
"Apa papa merencanakan sesuatu lagi?" tanya Micho. Prayoga tertawa dan menepuk pundak Micho.
"Tidak," ucap Prayoga. Prayoga menghela napas panjang. Micho melangkah pergi, sedang prayoga masih berdiri.
Hati Prayoga merasa sesak sekali, untuk mendapatkan perusahaan milik saudara tirinya Prayoga melibatkan banyak orang, salah satunya adalah Bianca Alea Natasha. Seorang gadis cantik putri dari bawahannya. Prayoga memejamkan matanya, muncul penyesalan yang mendalam di hatinya. Tapi, keegoisannya jauh lebih tinggi diotaknya.
Bahkan saat ini, Zahira dan Khalista menantu dari Alex ikut merasakan pahitnya hidup karna kejahatannya. Mereka terkapar dirumah sakit akibat ulah Bianca. Melihat wajah Zahira membuat dia mengingat wajah saudara tirinya, Prayoga menahan sesak di dadanya.
Bianca? Bahkan sekarang dia meninggalkan gadis yang diperalat itu, bagaimana nasipnya? Prayoga mengusap kasar wajahnya.
Prayoga juga mengingat 2 keponakannya, putra dari Davit. Keponakan yang seharusnya dia jaga malah harus menderita karna Keegoisannya. Zahira dan Andika, putra Davit yang di temukan oleh Alex sahabat davit beberapa bulan yang lalu. Rasa sesak mendera hatinya, namun perasaan egois yang menganggap papanya lebih sayang pada Almarhum saudara tirinya membuatnya lega walaupun melakukan kejahatan yang sangat menyakitkan.
🤭🤭🤭🤭🤭
__ADS_1
Yang belum kenal dengan Alex, Davit, Zahira dan Andika, boleh Mampir di Novel othor sampai zahira Nanti ya... Kalian akan bertemu mereka disana...
Jangan lupa dukunganya..like komen vote. maaf telat up... othornya di kejar kesibukan..... 😂😂