
Pagi nan indah, sepasang suami istri tampak bermalas-malasan di atas ranjang. Setelah menunaikan ibadah shalat subuh, keduanya kembali ke atas ranjang. Mereka tampak saling memandang.
Kenyataan yang diketahui semalam masih menyisakan kebahagiaan yang mendalam. Cinta mereka tampak bersemi semakin kuat dan semakin kokoh. Micho beberapa kali mendaratkan ciuman di kening Amara. Keduanya tampak bahagia.
"Mas, apa yang membuatmu semalam menjadi tenang? Kulihat kamu sebelumnya mondar-mandir tak tenang ketika aku mendesakmu untuk jujur," ucap Amara sambil mengusap pelan dada bidang Micho.
Micho tampak berfikir dan tersenyum singkat kemudian mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Micho memperlihatkan foto Amara 4 tahun yang lalu pada istrinya itu.
"Aku menunggu ini," ucap Micho.
Amara melirik ponsel Micho yang memperlihatkan dirinya yang membawa paper bag dan berdiri di depan pintu bersama dengan securiti dan juga Mela. Satu foto lagi menampakan dirinya sendiri berdiri dengan anggun sambil tersenyum. Amara mengambil alih ponsel itu dan mengamatinya.
"Astaga siapa yang mengambil gambarku?" tanya Amara.
"Namanya Mela dan Lyly. Karyawan kepercayaanju," ucap Micho.
"Pantas saja mereka bisa menemukanku. Ternyata mereka mengambil fotoku," Amara terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Mereka mengambil fotomu dan akan memberi tahukan padaku. Tapi justru waktu itu aku menolaknya, aku menunggu foto ini semalam. Aku hanya memastikan apa itu benar-benar kamu atau bukan," ucap Micho.
"Jadi kamu menolak melihat gambar ini waktu itu?" tanya Amara.
"Hem,"
"Kenapa?"
"Karna aku takut jatuh cinta padamu, mereka bilang yang menemukan ini adalah orang yang sangat cantik. Aku belum siap untuk kembali merasakan sakitnya kehilangan," ucap Micho. Amara mencebikan bibirnya.
"Tapi pada akhirnya kamu meminta foto itu juga," ejek Amara. Micho mengeratkan pelukannya dan mencium kembali puncak kepala istrinya.
"Hemm, karna tidak pernah salah aku jatuh cinta berulang kali pada istriku sendiri," ucap Micho. Micho menundukan kepalanya dan mencium perut Amara yang sedikit membuncit itu.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kamu memaksa mereka untuk memberikan kalung itu padaku jika kamu tidak tau kalau itu aku?" tanya Amara. Micho tersenyum sambil mengingat kejadian 4 tahun yang lalu.
"Kamu tau, karna kedua karyawanku itu adalah orang yang aku percaya. Aku hanya iseng, aku juga ingin tau seberapa besar mereka dapat dipercaya," jawab Micho.
"Hem, masuk akal juga. Lalu, apa mereka menyimpan fotoku selama itu? Tampaknya mereka lama sekali mengirim sehingga membuatmu gelisah," ucap Amara.
Micho membuka kontak Mela. Micho membelalakkan matanya saat membaca balasan WA dari Mela tadi malam yang belum sempat di bacanya.
Bapak Micho yang terhormat. Untuk mendapatkan foto itu sangat tidak gampang. Bapak tau, rasanya saya dan Lyli sudah tidak sanggup bekerja. Maka dari itu kami memutuskan untuk tidak bekerja. Terimaksih bapak.
"Kenapa Mas?" tanya Amara yang melihat Micho mengangkat poselnya menelpon seseorang.
Di apartemen Lyly dan Mela.
Lyly yang masih sedikit demam bergulat dengan selimut, sedangkan Mela yang keseleo tampak memijit kakinya. Semalam dia terkilir saat mengangkat sesuatu karna mencari ponsel, alhasil dia tidak bisa berjalan. Keduanya memutuskan tidak masuk bekerja.
Deringan ponsel terdengar, Mela melirik ponselnya yang menampakan nama Pak Bos. Mela mengguncang tubuh Lyly dan mengangarahkan ponselnya pada Lyli.
"Apa kita tidak diperbolehkan absen hari ini?" tanya Lyli prustasi. Mela hanya menggeleng pasrah. Dia menekan tombol lousd speker dan mendengar suara dari bosnya bersama dengan Lyli.
Mela dan Lyli saling berpandangan. Padahal mereka hanya absen karena sakit, kenapa bosnya menangkap pesannya sejauh itu? Apa dia salah menulis pesan?
"Maaf, pak tapi kami..."
"Jangan mengundurkan diri, aku akan menambah kalian bonus bulan ini karna memberi apa yang aku minta, kirim nomer rekening kalian sekarang juga," ucap Micho.
Amara menatap suaminya dan tersenyum. Apa seperti itu suaminya menekan kedua karyawannya waktu itu? Sangat menggelikan.
"Tapi pak,"
"Aku bilang kirim nomer rekening kalian," ucap Micho lagi dengan tegas. Lyly meraih ponselnya dan mengirim apa yang Micho mau, sedang Mela masih menggenggam ponselnya.
__ADS_1
Amara mengambil ponsel Micho dan mengalihkan panggilan menjadi Vidio call. Amara melangkah ke arah balkon kamar. Micho mengikuti langkah istrinya dan melingkarkan tangannya di pinggang Amara. Meletakkan dagunya di pundak Amara.
Lyly dan Mela terkejut ketika mendapat alihan panggilan, mereka merapikan rambut kemudian menerima alihan panggilan tersebut. Mela dan Lyli tampak terkejut ketika melihat wajah Amara di layar kamera itu.
"Nona Sheyna," ucap mereka bersamaan. Amara tersenyum dan menatap dua orang itu dengan tenang.
"Kalian masih mengingatku?" tanyanya antusias.
"Bagaimana bisa kami melupakan wanita cantik dan baik seperti nona, bahkan kami belum mengucapkan terimakasih karna pak bos selalu memberikan bonus karna pekerjaan yang berhubungan dengan nona," ucap Mela bahagia.
"Hei, bukan karna aku. Itu semua karna kalian layak, kalian pantas untuk mendapatkannya," ucap Amara.
"Benarkah begitu?" tanya Mela bahagia, ia dan Lyli saling berpandangan. Amara tersenyum dan mengangguk pelan.
"Jika kalian dipercaya atasan kalian, yang sekarang adalah suamiku. Lalu, kenapa mau mengundurkan diri? Aku tidak akan membiarkan iti terjadi," ucapnya halus.
Mela dan Lyly tampak menganga tak percaya, wanita ini istri bosnya? Mela dan Lyly tersenyum canggung.
"Apa kalian mau mengecewakanku?" tanya Micho. Dia mencium mesra pipi Amara. Membuat Lyli dan Mela menelan ludah kasar.
"Tapi kami hanya mau absen untuk tidak masuk kerja pak, Lyly demam sedangkan kaki saya keseleo karna permintaan bapak tadi malam. Bapak tau, ponsel lama Lyly sudah ada di gudang, dan kami bersusah payah untuk mendapatkannya," sungut Mela.
"Uhuk, uhuk," Micho tersedak udara sehingga membuat Amara tertawa. Kini Micho, menatap ke arah kedua karyawannya dengan tajam.
"Jadi kalian tidak mengundurkan diri?"
"Tidak Pak,"
"Okey, syukurlah kalau begitu. Aku ucapkan terimakasih atas kesetiaan kalian, aku akan mentrasfer bonus kalian. Oh iya, beberapa minggu lagi aku akan mengadakan acara, aku harap kalian bisa membantu,"
"Terumakasih Pak, kami akan membantu. Yang tepenting bapak tidak membuat iri kami karna kesosweetan kalian. Kasihanilah kami yang jomlo ini. Terimakasih juga Nona Amara," 😀😀😀.
__ADS_1
Lyly mematikan ponselnya. Micho tampak membelalakan matanya. Amara tertawa lepas. Mela dan Lyly mereka begitu lucu.
😄😄