
Pagi itu, sesuai waktu yang sudah di sepakati, kami liburan ke salah satu pantai di daerah Banten , kebetulan Papi juga baru buka cabang Restauran di sana,
Saat tiba di pantai.
Melihat pantai dan berjalan jalan di tepi pantai, bisa membuat hati ini sedikit terhibur
“Kak Faila lihat sini!” Regi mengarahkan lensa cameranya ke arahku mengambil beberapa gambar.
Dion biasanya, duduk diam seperti batu setiap kali liburan. Tapi kali ini ia dan sesekali di memeluk pundakku, memperlakukanku seperti adek perempuannya, tidak ketinggalan si bontot yang ikut -ikutan dengan gaya alainya. Kami bersenang-senang walau tanpa Frans, menghabiskan liburan hari itu.
Matahari sudah mulai pergi meninggalkan cakrawala, membawa semua cahayanya di gantikan awan yang sudah mulai gelap.
“Ayo,” ajak mami merangkul lenganku. “Ada apa Fai dari tadi pagi kamu kelihatan murung ada masalah sama Frans?”
“Tidak, Mi hanya sedikit pusing saja, sepertinya aku kurang istirahat”
“Cerita sama mami, kalau ada masalah sayang , mami pasti cari solusinya.” Mami Frans selalu ada untukku.
“Tidak ada Mi, terimakasih Mi, karena selalu ada untukku, jangan pernah berubah iya Mi.” Aku memeluk, mami sudah seperti sosok ibu untukku.
“Baiklah sayang.” Mami membelai kepala ini dengan hangat.
Aku tidak bisa menyembunyikan kegelisahanku, aku terus saja memikirkan ‘Frans, dia lagi ngapain? bersama siapa? dan dimana ?’
Tetapi untuk pertama kalinya, aku tidak ingin meneleponnya, walau hatiku rindu, tapi tamparan yang aku terima malam itu, harusnya sudah jadi alasanku untuk meninggalkannya, tapi hatiku seolah terbuat dari lempengan-lempengan batu aku tidak membenci ataupun marah padanya, aku juga tidak merasa sedih.
Saat sudah malam aku memilih keluar dari penginapan dan duduk di luar, dinginnya angin malam aku tidak menghiraukan nya. Terlalu sibuk dengan pikiranku, tidak menyadari ada seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingku
Mataku menatap pemandangan laut, hembusan angin yang sejuk menyapu kulitku, sesekali ku pejamkan mata ini menikmati hembusan angin laut. Tidak sengaja mata ini menatap ke samping.
“Astaga!”Pekikku terkejut.
Tubuhku terjungkal dan terduduk ke belakang, karena kaget, seseorang duduk di sampingku, tanpa permisi, tanpa menyapa.
“Bikin kaget saja, datang gak bilang- bilang tanpa permisi juga,” ucapku marah.
“Iya ampun Nona, aku sudah permisi beberapa kali, tapi situnya yang gak dengar,”ucapnya membela diri.
“Kamu siapa?” tanyaku padanya.
“Kamu juga siapa?”Ia balik bertanya
“Aku bertanya, kamu balik bertanya, bagaimana sih,” ucapku protes aku masih merasa jengkel karena membuat jantung berdetak tidak stabil.
__ADS_1
“Iya, kamu bertanya, aku juga bertanya.” Ia bercanda.
“Iya, karena aku pikir kamu setan"
Tiba- tiba ia tertawa, karena aku menyamakan dengan sosok mahluk kasat mata.
“Terus niatnya, mau ngapain tadi kesini”
“Niatku sama seperti kamu, melihat pemandangan malam,” ucap lelaki itu .
“Untung aku gak pegang kayu tadi, kalau iya bisa- bisa kamu kena pukul,” kataku.
“Maaf, maaf deh nona manis.” Lelaki itu terlihat sopan.
“Baiklah, aku terima maafnya,” kataku lagi.
“Eh aku Mohan.” Ia menyodorkan tangannya, tapi mendengar nama itu, aku sontak melihatnya dari atas sampe ke bawah.
Aku belum menjawab, benarkah ia Mohan yang di bilang bang Niko?
‘ Apa mungkin Mohan yang ini, saingan Frans yang membuat aku dan Bang Niko jadi pelampiasan kemarahan Frans?’
Aku masih mengamatinya
“ Tidak, aku Faila panggil aja Fai,,” kataku menyambut uluran tangan.
Saling menyebut nama dan bersalaman, tetapi hati ini masih dilanda penasaran dengan sosok lelaki tampan yang wajahnya mirip orang- orang timur dengan hidung mancung badan tinggi.
Apakah ini orangnya , aslinya jauh lebih tampan, aku masih mengingat , seseorang di foto Instagram yang kulihat, merangkul lengan seorang wanita cantik, dipastikan dia adalah wanita penyebab diri ini ingin di tinggalkan Frans.
Wanita yang bernama Adelia itu yang membuat hati ini patah hati dan orang bernama Mohan yang membuatku dan Bang Niko jadi pelampiasan kemarahan Frans.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Mohan otak kecilku berputar- putar menyebut nama, Mohan, Mohan berpikir.
“Apa kita satu kampus? Tanyaku penasaran.
“Iya”
“Apa kita pernah bertemu?” aku bertanya semakin penasaran.
Menurut pengakuan Mohan, ia mengenalku, tapi aku tidak mengenalnya, saat itu juga aku merasa seperti artis papan Atas, sekelas Raisa, mana mungkin ada seseorang yang mengenalku tapi aku tidak mengenalnya.
“Iya sering, sering bangat malah,” pungkasnya dengan yakin.
__ADS_1
“Benarkah, di mana?”
Aku menyalahkan otakku yang payah, dalam hal mengingat, otak ini tidak mampu memproses hal-hal berat aku pelupa.
“Di kampus.”
“Jangan-jangan, kamu mengikuti sampai ke sini juga,” kataku menuduh.
Berharap ada pengagum rahasia, capek mengikuti Frans bertahun tahu begitu lama, berharap ada yang mengikuti, ada pengagum rahasia.
Ia tertawa. "Tidak sedekat itu juga kali kita,”
“Oh kirain,” ucap ku dengan menahan malu.
“Aku melihatmu tadi dengan kelurga Frans di pantai, Apa frans ga ikut?”
“Tidak ,dia ada latihan,” jawabku, tapi aku masih penasaran pada lelaki yang bertubuh tingg ini.
“Oh"
“Oh gitu, btw ini makin larut nih, aku takut di cariin, “ kataku beranjak dari tempat kami mengobrol.
“Ok, duluan saja.” Ia masih duduk menatap
Meninggalkan Mohan yang masih duduk , alasanku pergi karena, aku tidak ingin Lelaki itu bertanya ini-itu, apapun dariku tentang Frans
Sejak malam itu aku aku tidak bertemu lagi dengan Mohan hari
Hingga kembali ke Jakarta,
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak ikut ivent
karya keempatku, tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)