Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
jatuh di kamar mandi


__ADS_3

Baunya enak sekali, baunya dari dapur seperti daun bawang yang disiram kuah segar dan ditaburi bawang goreng baunya enak


Bau harum yang menyegarkan itu, membuat hidungku mengendus, dan perut rasanya jadi lapar.


Tapi mataku berat sekali untuk dibuka, dan badanku rasanya bagai ditiban benda berat.


“Oh badanku rasanya sakit sekali”


Aku mencoba membuka mataku, tapi tunggu ini dimana?


Oh aku belum menemukan petunjuk, aku dimana yang pertama yang aku lakukan mengecek bagian bawahku,aku mencoba merasakan ada yang berbeda gak. Tapi perasaan campur aduk, aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi, aku berada dalam satu kamar.Ini kamar siapa…?


“OH..baju siapa yang aku pakai. Baju kemeja yang kegedean


“Oh Iya ampun apa yang harus aku lakukan aku dimana?”


Tunggu. Apa ini apartemen Glen? Aku mau turun dari tempat tidur, tapi kepalaku rasanya masih pusing . mengeluarkan semuanya dalam kamar mandi, lemas, pusing berantakan.


Suara orang yang sedang memasak didapur, aku yakin Ia orang yang punya tempat ini. Tanganku semakin gemetaran pikiran anehku datang dalam benakku, bagaimana kalau, ia orang asing yang membawaku kesini,


Mata menoleh jam dinding.


“Wah jam sepuluh. Restauran bagaimana ini? aku harus keluar,” aku makin berputar putar dengan pakaian kemeja yang kegedean ditubuhku.


Aku memberanikan diri membuka pintu kamar


KREEEEEEEK


Kakiku melangkah keluar


~buuuk~


“Auhhh” suara itu dari bawah kakiku


“ OH apa yang terjadi?”


Mereka semua tergeletak di lantai, ada Farhan, Dony


Mohan. Semua terkapar berpencar di beberapa tempat dalam ruangan itu.


Tari sudah Rapih, Ia sedang menyiapkan sarapan diatas meja. Bau harum itu sepertinya kerjaan Tari dan seorang laki-laki yang membantunya didapur.


“Ah Tari ...!”


Aku memeluknya lengah rasanya, ketika ada tari disana melihatnya menyiapkan menu serapan seperti itu .pasti tidak ada yang aneh-aneh yang terjadi.


Aku masih memeluknya tidak membiarkannya kemana-mana.


“Mataku masih tertutup. Efek alkoholnya masih ada.


“Fai kamu masih mabuk?” Tanya Tari mandi dulu,aku sudah menyiapkan lemon di atas meja, kata tari aku masih memeluknya dari belakang seperti seorang anak yang manja. Mataku masih tertutup


“Setidaknya ganti bajumu Fai” kata Tari sedikit berbisik.


“Biarkan saja Tar,aku masih mengantuk” kataku setengah sadar.


“Sini minum dulu , Fai” suara Repina. Aku


melepaskan tanganku dari bahu Tari


Aku menoleh kearah sofa asal suara Repina.


Oh iya ampun “ aku mundur seperti kehilangan keseimbangan.


Sepasang bola mata itu lagi. Menatapku dengan tajam, tatapannya memandang dari ujung kaki sampai ke kepalaku.


Frans Menatapku begitu tajam, seperti menahan kemarahan yang akan meledak. Aku menatap kemeja yang aku pakai. Oh” iya ampun baju itu hanya mampu menutupi bagian sensitif ku,


Sisanya pangkal paha saya terpampang nyata, aku menarik baju itu agar bisa sedikit lagi menutupi bagian bawahku.


Aku mati kutu, melihat tatapan tajam dari Frans, tatapan kemarahan , aku tau itu, Aku tau bagai mana Ia lagi kesal dan marah, sama seperti saat ini. Entah apa saja yang kulakukan tadi malam sehingga aku mendapatkan tatapan itu.


Ia terus memelototi yang masih berdiri, seperti orang bego, ada Glen dan Repina duduk disana juga.


Mereka berdua hanya diam melihat kemarahan yang diperlihatkan Frans padaku .Glen memberi kode agar aku masuk kekamar lagi. Untuk menganti bajuku.


Aku masuk kembali mencoba mencari di lemari lelaki itu.


Tapi hanya kemeja kerja yang ada didalamnya.


Aku berdiri putus asa. Bersandarkan badanku dilemari kayu itu.


Mencoba mengingat kira-kira apa yang menyebabkan Frans Semerah itu melihatku.


Tapi otakku yang hanya segede biji jagung. sepertinya.


Karena tidak mampu bekerja dan mengingat sedikitpun apa yang terjadi tadi malam.

__ADS_1


Rasa panik itu membuat tenggorokanku terasa kering. Di Nakas kecil ada botol minuman, aku tidak berpikir itu botol minuman apa aku menghabiskan hampir setengahnya.


Oh ternyata Botol minuman yang memabukkan lagi yang aku habiskan tadi. Itu membuatku akan susah pulih pagi ini.


Hingga rasanya aku kembali merasa pusing dan mual dan keluar kembali dengan pakaian sialan itu.


“Fai kok gak diganti bajunya, aku sudah meletakkan di kamar mandi baju ganti yang Pas untuk kamu,” kata Tari


“Oh aku pikir air mineral di meja kamar barusan. Aku meminumnya lagi. Sepertinya aku mulai mabuk lagi”


“Iya ampun Faila,Kamu ada-ada aja deh ,itu bekas adira tadi malam di letakkan di situ,” kata Tari


Karena masih mabuk dan masih setengah sadar. Aku malah ikut duduk disamping Repina di Sofa itu,


Bodoh amat dengan semuanya


“Aku tidak tau bajunya di letakkan dimana Tar” kepalaku mau meledak rasanya” kataku dengan tanganku memijat keningku yang terasa bagai di pukul dengan palu besar.


pikiranku juga mulai ngelantur lagi . Efek minuman Benar-benar menyiksa.


Aku menyandarkan kepalaku di sofa dimana Repina duduk dan Frans. Aku menarik satu bantal untuk menutupi bajuku yang kependekan.


“Mandi aja, Fai pusingnya nanti langsung hilang” kata Repina


Tapi aku mengabaikannya. Tanganku masih memijat-mijat kepalaku yang sakit.


“Ini minum Fai ini madu campur lemon , mumpung masing hangat, habiskan,” kata Tari, menyodorkan gelasnya,


Ia menarik selimut kecil membantuku menutupi pahaku yang sedikit mengintip dari bantal kecil yang aku pangku.


Aku melirik Frans yang duduk didepanku.


“IYa” ampun kalau kamu, mau marah, marah aja, melihat kamu melotot seperti itu, malah lebih menakutkan bagiku, Aku tidak tau apa alasannya kamu marah padaku ” Tapi bisa kau menyingkirkan wajah sinismu dari hadapanku ?” kataku Pada Frans,


Mulutku tidak sikron dengan otakku, ketika hatiku merasa bersalah. Tapi otakku malah berkata lain


.


JIka hati dan pikiran tidak sejalan maka yang terjadi:


“Apa kamu masih berani bicara seperti itu padaku setelah apa yang terjadi” kata Frans dengan suara sedikit meninggi membangunkan Adira yang tidur si sebelahku.


“Iya memang apa masalahnya sama kamu, aku dan kamu tidak dalam hubungan dimana kau bisa memarahiku ,emang apa hakmu “kataku dengan masih setengah sadar .


“Iya ampun Fai kamu masih mabuk” Terlihat Tari sangat kawatir.


“Apa kita perlu membawanya ke Dokter”


“Tidak perlu” kata Frans mengendong tubuhku yang setengah sadar.


“Frans apa yang kamu lakukan?” Tanya Tari panik.


Ia membawaku kedalam kamar mandi dan mengguyur dengan air dingin. Menahan Tubuhku dibawah guyuran shower yang dingin.


Iya menekan mode dingin, kedua tangannya menahan tanganku menekannya di dinding. Aku kelagapan , karena guyuran air dinginnya membuatku kesusahan mengambil nafas.


“Apa yang kamu lakukan Ha…dengan suara yang masih setengah mabuk. Tapi masih bisa sedikit berpikir, hanya cara ngomong yang terdengar ngelantur.


“Apa kamu tidak sadar juga,sampai kapan kamu bertingkah tidak waras seper ini ? Apa kegilaan tadi malam belum cukup juga” kata Frans


“Berhenti” aku tidak bisa bernafas . Bodoh!” kataku tidak bisa mengontrol bibirku, Hatiku bilang sudah, tapi otakku memberi perintah lain kebibirku ,sehingga mengoceh terus dari tadi.


“Apa kamu bilang?” Bodoh ?” Hebat sekali kamu mengatai saya bodoh” kata frans terus mengguyur kepalaku.


Aku merasa pusing kepala itu semakin menjadi –jadi dan akhirnya muntah kembali dan memuntahkan kearah Frans dan memeluk tubuhnya karena tidak kuat lagi menahan pusingnya dan mungkin karena masuk angin juga.


“Iya ampun, Faila…! Kamu melakukanya lagi. Ia mendudukkan, di sisi kamar mandi dan ia membuka bajunya. Memperlihatkan Otot-0tot keras itu lagi. pemandangan yang menarik itu lagi.


“Haaaaa, dapat lagi yang seperti ini, aku mengelus dada itu mengelus bagian belakangnya.


“Fai, Fai berhenti, apa yang kamu lakukan, kamu sudah gila “ kata Frans mendorong tubuhku.


Aku tau apa yang aku lakukan itu memalukan.Tapi seperti ada yang lain mengendalikan pikiranku, tanganku, mulutku. Hatiku tidak bisa mengontrol mereka.


Aku mengutuk malam itu, dimana aku pergi untuk minum-minum dengan mereka, menyebabkan aku melakukan hal gila dan memalukan hari ini


Aku memaksa ingin meraih bibirnya .


“Fai dengarkan aku. Kamu mabuk sadarlah, Ia memberikan penolakan padaku.


Hatiku sudah bilang berhenti, tapi entah kenapa Tubuhku tidak konek, menerima perintah


“Aku tidak mabuk Frans , aku hanya ingin dekat denganmu” kataku dengan badanku yang masih berbau ayep, bekas muntah


“Dengar, aku tidak mau” kamu mabuk Faila” lihat badanmu semua berantakan”


Aku menoleh ketubuhku. Baju kemeja putih itu menerawang memperlihatkan seluruh bagian tubuhku dengan jelas.

__ADS_1


“Dengar Fai, kamu Mandi dulu. JIka aku masih merasa mabuk kita akan ke Dokter” kata Frans menguyur tubuhku dengan menyalahkan shower itu lagi.


Tapi aku memang sudah gila sepertinya,karena kelakuanku yang mempermalukan diri sendiri. Seperti bukan aku yang biasa. Kali ini aku menariknya ikut mandi bersamaku dan menarik lehernya sedikit memaksa dan mencoba mengejar bibir itu.


“Berhenti-berhenti Faila” kau membuatku Marah kali ini. Kelakuanmu Murahan” kata Frans lagi-lagi otakku tidak merespon .Tapi mataku mengeluarkan buliran hangat dari sudut mataku, mendengar kata murahan itu.


Aku melakukanya bagai seorang yang kerasukan. Ia mendorong tubuh dengan kasar.


Aku menantangnya balik ,agar ia membenciku sangat dalam, agar aku bisa menjauhinya. Aku ingin hatiku tau diri, dan melupakannya.


Tanpa kata-kata , aku berusaha kembali, meraih Lehernya lagi. Ia terlihat putus asa menatapku dengan sangat tajam.


“Ayo tampar aku, dorong aku dengan sangat kasar, hingga terluka jika perlu , biar aku punya alasannya ,menjauhimu , ayo lakukan. Bisikku dalam hati


Tapi tidak, Ia membiarkan aku menikmati sendiri bibirnya yang aku ***** dan menikmati sendirian. Terlihat seperti seorang wanita yang maniak.


Iya terlihat, menghela nafas panjang, melihat tingkahku.


“Fai, tolong berhentilah, ada apa denganmu jagan membuatku melakukan sesuatu yang aku sesali nantinya” kata Frans sedikit memohon.


Hatiku yang mendadak mati Rasa, tidak meresponnya.


Teruskan Fai bisik dari bagian lain hatiku,dan bagian lainnya mengatakan . Berhentilah Faila, sebelum terjadi hal hal buruk


“Faila “berhenti aku bilang.”


Dengarkan aku Faila. Aku tidak mencintaimu lagi. Aku sudah memiliki wanita Lain di hatiku Aku tidak ingin mengambil milik orang lain . Kamu sudah miliknya. Ini yang ingin aku katakan padamu dari kemarin. Jadi kembalilah padanya, mari kita menjalani hidup masing-masing. Aku berharap kamu dan hatimu mendengarnya” katanya dengan tangannya menahan kedua pundakku agar tidak mendekatinya lagi.


Aku merasakan mataku ingin menumpahkan air yang lebih banyak lagi, Itu belum cukup untuk alasanku untuk menjauhimu, bisikku dalam hati


Aku benar-benar merendahkan diriku di depan Frans. antara sedih, benci, takut, bercampur jadi satu.


Aku tidak peduli bisikku dalam hati mengundang petaka aku memaksa, meraih bibirnya lagi, dengan kedua tanganku ,Bibir itu terlihat memerah karena aku ********** dengan kasar tadi.


“Fai ,Tolong” Kata Frans wajahnya memerah dan Ia mengepal kedua tangannya aku berusaha menggapai wajahnya lagi, kelakuanku sangat menjengkelkan.


Siapapun saat ini diperlakukan seperti itu pasti akan sangat marah. Apa lagi seorang Frans Devan Lelaki favorit semua wanita.


Aku masih terus diam tapi tingakahku yang terus memburu wajahnya, aku tidak mendapatkan wajahnya kali ini, karena Ia menghindar dan menyingkirkan tanganku .


Kali ini, aku mau di dada bidangnya, aku peluk erat dan memberi kecupan , dimana-mana.


“Berhentilah Faila Kirana bertingkah murahan..!” Katanya dengan suara marah.suara itu menggema dalam ruangan kamar mandi itu dan pundaknya naik turun menahan emosi yang ingin meluap


Aku masih sibuk dengan kegilaanku, dengan diam,tidak menghiraukannya.


“Aku butuh lebih dari itu bisikku, ayo lakukan ,Tampar aku, agar aku punya satu alasan membencimu “ kata ku lagi masih dalam hatiku.


Hingga tidak terduga Terjadi


~PRAAAAAAK~


Frans mendorong tubuhku kebelakang dengan sangat kuat dan begitu cepat, aku belum sempat berkedip, kejadian begitu cepat. Hingga aku sudah terkapar di lantai .


Aku menginjak bekas muntahanku, terjatuh kebelakang , kepalaku terbentur ke Bathtub yang ada dalam kamar mandi


Frans berlari kilat kearahku . Kurasakan cairan merah mengalir deras di kepalaku bagian samping.


Cairan merah itu mengenangi bagian wajahku, kepalaku yang melorot dari bathtub mandi itu dan tergelatak kelantai


Terimakasih bisikku, Aku tersenyum padanya sebagai ucapan terimakasih. karena ia memberikan apa yang aku minta,


“Fai…! Aku masih mendengar Tari histeris melihat genangan merah itu dilantai


“Iya ampun apa yang tejadi” Repina panik dengan mulut ditutup dengan kedua tangannya.


~Tolong~


Tari terlihat gemetaran menatapku, semua berhamburan ke kamar mandi. Frans masih memangku kepalaku, meletakkannya di dadanya,


Aku masih bisa merasakan detak jantung , berdetak sangat cepat. Aku menatap wajahnya.Ia meneteskan butiran-butiran air bening dari wajahnya.


Aneh aku tidak pingsan ataupun ingin menutup mata aku masih sangat sadar.


Aku tidak bisa menjabarkan rasa sakit itu berasal dari mana. Sakit didalam dadaku, terasa jauh lebih sakit, dari luka kepalaku.


Hingga aku tertidur pulas, bagiku itu hanya tidur panjang yang menyenangkan.


Aku berharap. Jika aku bangun nanti semuanya baik-baik saja. Aku berharap Frans tidak merasa bersalah ,karena aku terluka.


Melihatnya menangis waktu aku terluka membuatku merasa bersalah,. Karena aku bertindak begitu, makannya Ia emosi dan melakukan hal itu. Itu karena . Ia ingin membela kehormatannya, ada seorang wanita gila yang menyerangnya membabi buta memaksa mengambil sesuatu dari bibirmya dengan sikap liar.


Makannya Frans membela diri. Jadi Ia mendorongan wanita itu. Bukan penganiayaan. Tapi pembelaan diri


Kira kira seperti itu.


Aku masih menutup mata dengan bobo cantik menurutku. Tapi suara itu membuatku tidak ingin bagun selamanya.

__ADS_1


Sepertinya Felix dan tante Mira ada dalam ruangan itu ,aku bisa pastikan itu di Rumah sakit .Karena bau obat-obatan Khas rumah sakit.


“Apa yang terjadi ?”


__ADS_2