
Aku dan Mohan masih duduk di bawah pohon besar itu, bercerita banyak, tiba-tiba rasa benci pada Mohan berkurang digantikan rasa berdebar di dalam dada.
Benci itu, seakan-akan hilang dari benakku.
“Salut padamu, dalam arti …. Kamu bisa mandiri, tanpa mengharapkan bantuan kakekmu, tetapi kamu memilih kerja daripada meminta- minta pada kakekmu dan kakakmu,” ujar Mohan.
"Padahal kakekmu kaya raya dan Resturannya di mana- mana tapi kamu memilih kerja pada orang lain itu yang membuatku penasaran juga padamu sebenarnya, Fai.”
Mohan membenarkan posisi duduknya membuat cara duduk santai.
“Aku minta maaf karena terus menganggumu selama ini, aku ingin belajar mandiri sepertimu, bekerja sambil kuliah tanpa harus mengemis pada keluarga yang selalu mengangapku salah" Mohan menatapku dengan tatapan mata sendu.
"Karena di mata mereka …. Aku ini anak haram dan selalu apapun yang aku lakukan tidak pernah benar di mata mereka.
Aku selalu menyalahkan ibuku kenapa aku harus lahir dari seorang wanita perebut suami orang ‘Pelakor.” Mohan terlihat sangat sedih.
"Ada yang terjadi di rumahmu?" Tanyaku.
"Melihat mereka selalu bertengkar karena diriku membuatku frustasi, kakak tiriku yang selalu menyalahkanku membuatku hilang kepercayaan diri,” ucap Mohan ia menceritakan semua tentang dirinya.
Kenapa ayah ku tidak bisa menghargai apa aku kerjakan? Kenapa ibuku selalu memaksaku ikut terlibat dalam perusaan ayah. Kenapa kakakku tidak menerimaku sebagai adik mereka. Apa semua ini jadi salahku?” Ia mencerita panjang lebar aku hanya mendengarnya.
“Mungkin pertanyaanmu itu pertayaan untukku untuk juga, tapi sayangnya itu dulu,” kataku.
Tiba tiba wajahnya yang mendung tadi berubah dan kini tatapan itu terfokus ke padaku dia seperti menungguku meneruskan cerita hidupku juga.
‘Tapi maaf, aku tidak mau melakukan itu aku tidak ingin m
“Fai, apa pernah kamu merindukan mereka maksudku orang tua mu?” wajahnya terlihat hati- hati.
“Dulu iya, tapi sekarang gak lagi, aku sudah biasa dengan hidupku sendiri,” aku memasang earphone itu kembali ke menyumpal lobang teligaku pertanda aku tidak ingin mereka di bahas.
“Bagaimana dengan kakekmu dan kakakmu, Apa mereka tidak penting?"
mendengar itu aku sedekit kaget dan Menyinggung tentang kedua orang itu kakek dan Hendro.
Membuatku ingin murka, aku memasang wajah sedingin mungkin dan memalingkan wajahku.
“Apa kamu lapar?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Mohan orang yang pengertian, melihatku memasang wajah dingin seperti itu, ia mengerti bahwa aku tidak ingin membagi cerita dengannya tentang kelurgaku
“Baiklah kalau begitu” memasang jurus mundur dari pertayaannya.
“Oh iya Fai, apa kau marah tentang pengakuanku tadi?”
__ADS_1
“Yang mana?” Tanyaku pura - pura tidak tahu
“Itu tentang mengikuti, mu.”
“Oh, setelah kau mengakuinya malah aku gak marah. Karena aku pikir kamu mengagangu ku seperti itu, karena kamu ingin balas dendam dengan Frans dan balik menghukumku,”
Lama rasanya kami bercerita panjang lebar dengan Mohan, waktu cepat berlalu, rasa lapar bisa lupa begitu saja, sampai -sampai kami melewatkan mata kuliah kami juga,
Entah berapa pasang mata yang menatap kami berdua berlalu lalang, melewati kami, tidak tahu apa di pikiran mereka, sepasang wanita dan laki- laki berduaan di balik pohon besar berjam jam lamanya. Ngapain cobo?”
Karena merasa lapar, Mohan dan aku melanjutkan duduk di pinggir danau yang teduh dan membawa makanan dalam box yang kami pesan di kantin kampus
Kami benar – benar menjadi akrap saat itu pertengkaran kami dengan mohan seperti tom dan jeri berhenti dulu atau jedah dulu besok lanjut lagi mungkin, apa mungkin kami akan berhenti bertengkar selamanya.
Menjelang sore, aku masuk ke Kamar asrama putri dan Mohan pulang. Ternyata Tari sudah ada duduk di dalam kabar dengan tampang masam seperti ibu Tiri yang kehilangan tali Bh.
Tangannya terlipat di dadanya, aku berpikir kalau ada masalah dalam keluarganya yang seperti biasanya , kalau dia pulang ke rumah orang tuanya, pulangnya ia pasti membawa seribu luka dan ujung ujungnya di balut dengan tagisan itu sudah ritualnya setiap kali pulang ke rumah orang tuanya.
Karena Tari memiliki Ibu Tiri yang menurut cerita . ibu tirinya memiliki dua muka dan lidahnya seperti ular. Wah bisa di pastikan itu sangat horror dengan bermuka dua dan berlidah berbisa
Katanya di depan Tari. ia akan baik, tapi setelah itu, akan menjeleknya pada ayahnya, dan setiap kali bertemu dengan ayahnya selalu pertengkaran yang terjadi.
Maka Lestari permana lebih memilih tinggal di asrama di universitas itu dari pada di rumahnya yang menurutnya rumahnya sudah seperti neraka.
“Wah Tari hebat yah, sudah tau bagaimana rasanya neraka berarti pada saat mati nanti kamu gak kaget lagi donk karena uda tau rasanya di neraka,” candaku waktu itu, waktu lagi ia menceritakan kisah Ibu tirinya, seperti judul si Netron Indonesia ‘Kejamnya ibu Tiri’
Kembali ke saat ini dia mempololoti ku dengan mata bulat nya yang mengemaskan
“Apa …?"
“Kau iya, bukanya kuliah malah pacaran sosor –sosoran,” katanya.
Terlihat seperti ibu yang sedang memarahi anaknya yang bolos kuliah, karena pacaran. Tari memasang raut wajahnya mengemaskan, bukannya menakutkan malah terlihat lucu.
“Mgomong apa sih, Tar?” tanyaku belum mengerti.
Ia menunjukkan group cating line.padaku,
applikasi buatan Jepang itu emang lagi tren di kalangan mahasiswa pada saat itu, dengan bunyinya yang khas dan bayaknya emoji yang di berikan membuat wechat ini begitu di minati mahasiswa.
Mataku hampir keluar rasanya, ketika aku melihat sepasang kekasih terlihat melakukan hal tidak senonoh di bawah pohon rindang.
Badan Mohan yang tengap menatap wajahku dengan posisi, seperti mengambil ancang- ancang untuk memberiku kecupan yang lagi menutup mata dengan cantik dan elegannya dengan rambut panjang di tiup angin sepoi - poi.
“Camera yang pintar,” kataku kagum.
__ADS_1
“Bukan begitu Tar,” aku belum sempat menjelaskan dan membela diri, ia ke buru marah dan memotong penjelasanku dengan mata bulatnya melotot.
“Bukan, bagaimana sih Fai buktinya kamu itu lagi sosor-sosoran, begituan ama Mohan,” ujar Tari
“Gila lu,” teriakku geli.
“Terus apa donk yag terjadi?" Ia menurunkan volume kemarahanya.
“ Mohan, ia hanya curhat pengen mandiri ingin cari kerja sama kayak aku,” kataku menjelaskanya.
“Makannya mulai besok dia mau kerja bareng aku dan belajar bersama."
“Oh benarkah?" ucap Tari.
Kali ini ini wajahnya benar- benar ceriah dan kembali imut lagi.
“Kelurganya menghukumnya dan menghentikan uang sakunya, agar ia bisa mandiri dan fokus ke kuliah nya dan ia menanyakan hal itu padaku,” kataku lagi.
“Oh begitu, kirain…”
Dan kali ini tubuh nya goyang kanan- goyang kiri , seperti boneka manikin yang ada di pajang di mobil.
“Kamu suka sama Mohan, iya? tanyaku penasaran.
“Iya Fai,” jawabnya tersemu - semu malu dengan wajahnya yang merah bagai tomat rebus.
Semua gosip panas itu berlalu dengan cepat. walau kadang ada beberapa orang masih melihat dan bergosip tentang kami, karena tidak merasa melakukannya, aku mengangapnya hanya angin berlalu saja.
Tapi sepertinya ada orang lain juga yang terusik, walau aku dan Mohan menggapnya angin berlalu, karena memang tidak ada apa-apa sama kami berdua,
Hari itu sehabis mata kuliah, aku melenggang kelur dari kelas, karena perut mulai keriyukan berjalan bareng ketiga teman yang sering bersamaku belakangan ini.
Saat Keluar ternyata Frans sudah menungguku di depan kelas . tatapannya tegas, aku bisa tahu, pasti ada sesuatu yang mengusiknya dirinya.
'Haduh apa lagi sih sekarang kataku' icapku membatin.
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)