
“Tapi kamu masih mau menemuiku Fai?”
“ Baiklah” kataku kurang bersemangat.
Frans setiap hari mengirim pesan, Menelepon . Tapi entah kenapa hatiku merasa tidak membutuhkannya lagi, aku merasa urusannya denganku sudah selesai. Aku berpikir Ia bisa melakukan apa yang Ia mau.
Aku hanya berharap satu saat ini . Kakekku sembuh, Jika Ia meninggalkan kami dan Kakak , maka semuanya akan berubah
~Kriiiing~
~Kriing~
Panggilan dari Frans lagi, Entah kenapa sejak malam itu Frans terus menghantuiku, disaat aku lagi tidak suka melihat wajahnya. Aku memutuskan tidak menerima panggilan darinya
Paling juga Ia hanya mengajak makan diluar,aku mengaturnya jadi mode diam, tidak ingin menggangu kakek. Kakek semakin hari semakin lemah. Nasehat-nasehatnya, seperti kata-kata terakhir untuk kami,
Aku tidak ingin meninggalkannya, walau hanya semenit sekalipun, aku akan selalu disampingnya disaat , Ia menutup matanya nanti, kangkernya semakin Parah, Ia menolak operasi karena katanya akan sia-sia. Ia takut saat Ia keluar dari dalam meja Operasi. Ia tidak bisa melihat kami.
Kata Dokter Tubuh renta kakek tidak kuat lagi, Untuk di lakukan Operasi. Ini artinya kakek di hari –hari terakhirnya untuk ada bersama kami di Dunia ini,
“Maafkan Kakek Fai karena saat itu Kakek meninggalkanmu di Panti asuhan “ kata kakek mengusap punggung tanganku dengan sisa-sisa tenaganya.
“Jangan dibahas lagi kakek, aku sudah melupakannya” Kataku dengan lembut, menatap sedih, wajah kakekku yang semakin lama –semakin lemah.
Baik kakak tidak meninggalkan ruangan kakek, sebagai Dokter Ia pasti tahu, seberapa kuat kakekku bertahan. Aku bisa melihat kekhawatiran di wajah kak Hendra.
Tari juga tidak pernah meninggalkan kami di rumah sakit. Ia sekarang punya dua alasan berada di rumah sakit itu. Karena aku sahabatnya, dan karena kak Hendra saat ini sudah resmi jadi pacarnya bahkan calon suami untuknya . Walau perkenalan Kak Hendra dan Ia begitu singkat , tapi sudah yakin satu sama lain,
Tidak seperti aku yang mengejarnya hampir bertahun-tahun pada akhirnya berakhir seperti ini juga, akan berpisah .
Tari akhirnya, melupakan Mohan, lelaki yang sudah Ia sukai sudah sejak lama, Sekaligus lelaki yang merusak masa depannya, tapi tidak bertanggung jawab
Mungkin benar. Jodoh sudah ada yang mengaturnya, bagaimanapun kita berusaha, mengejarnya dan menggenggamnya
__ADS_1
Hanya yang Kuasa yang berhak memutuskan Jodoh dan kematian untuk Kita,
Dari tadi pagi langit begitu mendung hingga sore ini, Seolah ikut merasakan kesedihan hatiku dan kakakku,
Aku melirik layar ponselku, Frans sepertinya sudah menyerah untuk meneleponku, Aku masih duduk disamping kakek begitu juga kakak,
“Jagalah!’ adikmu jangan kamu tinggalkan lagi Ia” kata kakek menasehati kak Hendro.
Air mataku semakin mengalir deras, aku tau saat ini akan tiba, dimana . Lelaki Tua ini akan meninggalkan kami berdua.
Kak Hendro menangis memeluk kakek. Setelah Ia memberi nasehat dan petuah –petuah untuk kami bertiga akhirnya Orang Tua itu pergi untuk selamanya.
Sore yang mendung untuk aku dan kakak, dan hujan airmata,
Dalam Tidur panjangnya. Ia menggenggam tanganku dan Tangan kakakku. Sepertinya , Ia belum rela untuk pergi meninggalkan kami seperti itu. Aku memeluk Raga yang tidak bernyawa itu. Kini Ia sudah terbujur kaku , tidak ada lagi senyuman hangat dari wajahnya.
“Maafkan aku kakek “ Aku terisak-isak,belum rela melepaskan Kakek .Ini bagai mimpi bagiku.
Maafkan aku karena membuatmu malu’ kataku aku menyalahkan diriku atas kepergian kakekku. Mungkin jika aku tidak memaksakan kehendakku, mungkin kakek masih ada sampai saat ini.Andai saja kau tidak memaksakan diri menikah dengan Frans mungkin Adella tidak akan menulis berita-berita bohong itu, dan tidak akan dibaca kakek, aku menangis Pilu meminta maaf ditubuh kaku kakekku.
“Fai sudah biarkan kakek pergi dengan tenang!” kata kak henro menahan tubuhku dan menyerahkan ke bagian rumah sakit agar di urus.
Malam ini kakek di tempatkan di rumah duka
Begitu banyak yang datang melayat dan banyak yang datang mendoakannya. Walau kakek sudah berumur tapi Ia pekerja keras dan tekun,
Aku hanya diam membatu, disamping peti itu, aku tidak menyapa para pelayat yang datang banyak yang aku sesali kenapa tidak dari dulu aku dekat dengan kakekku, kak Hendro yang menyapa mereka dan Tari. Aku menyadarkan kepalaku di Peti kakekku, aku tidak bisa menghentikan Airmata itu, rasa bersalah memenuhi kepalaku.
“Ini minumlah,” suara itu, membangunkanku,Frans datang, dengan kemeja hitam melayat,
Aku baru menyadari sekekeliling ternyata kursi-kursi dalam ruangan itu sudah penuh dan semua mata tertuju padaku yang meratap kepergian orang tuaku, satu-satunya yang aku miliki,
Frans duduk disamping, sebagai status suamiku, sudah seharusnya Ia berada di sampingku, Tapi aku terlalu sibuk dengan pikiranku, hingga lupa mengabari Papi dan Frans. Ia juga mengetahui kabar kepergian Kakek dari berita Televisi,
__ADS_1
Keluarga Frans menganggap ku masih marah atas kejadian beberapa minggu yang di rumahnya.
Tapi kenyataannya walau masih sakit, tapi tidak ada Niat tidak mengabari keluarga Frans.
Hanya karena rasa kehilangan itu terlalu berat aku pikul, semuanya jadi terlupakan,
Aku masih duduk mematung. Kini Papi dan Maminya Frans berdiri bersama kami dengan kak Hendro sebagai kelurga,
Setelah beberapa jam,
“Kamu harus Makan Fai kata Hendro mengulurkan sendok nasi kemulutku, Kamu tidak makan apa-apa dari tadi pagi kakak takut kamu pingsan nanti disini katanya sangat perhatian beruntungnya aku masih punya kelurga walau hanya seorang kakak laki-laki.
“Aku tidak lapar sama sekali kak “kataku menolak.
“Kita harus makan katanya, Ia juga menyendok ke mulutnya sendiri dan kini sendok itu mengarah kemulutku,
Matanya juga sembab sama seperti mataku. Perhatian kakak menjadi perhatian orang, Tapi Ia tidak peduli.kakak tetap menyuapiku seperti Adik kecil untuknya,
Papi dan maminya Frans yang disamping kakak, mereka hanya menatap tanpa berkata-kata,.Tapi aku bisa melihat tatapan tajam Papi , pada Frans yang berada di sampingku. Yang sibuk bermain ponsel. Ia takut dan langsung menyimpan Ponselnya.
Aku tidak berharap apapun padanya saat ini, jika aku ingin meminjam bahu untuk menangis, aku akan meminjam bahu kakakku, Aku tidak memperdulikan keberadaan Frans saat ini.
“Nanti istirahatlah biar aku yang disini kata kak Hendro
Tapi aku menolak. Aku akan mendampingi kakakku selalu mulai saat ini “
Kakak mengusap wajahku dengan beberapa lembar tissue, Frans merasa kami mengabaikannya , Ia keluar. Aku dan kakak merasa bodoh amat.
Aku sudah menceritakan semuanya pada kakak .Jadi Ia sudah tau semuanya, Dan kabar Maminya Frans menamparku bahkan kakak tau walau aku tidak menceritakannya. Tapi Ia tau sepertinya dari Mohan
Serangkaian acara berjalan lumayan lama, karena rekan bisnis dan karyawan kakek lumayan banyak juga yang memberi penghormatan terakhir pada kakek.
Kakek mempunyai sangat banyak rekan Bisnis hampir semuanya datang baik dari teman Papi Frans juga banyak yang datang.
__ADS_1
Setelah semua nanti acara selesai kakek akan di makamkan di Pemakaman Keluarga , bersama kedua Orang tua ami di Malang.