
Berjalan dengan Bang Niko membuatku merasa nyaman dan merasa terlindungi, saat Bang Niko tahu tentang penyakitku, aku jadi mau jalan bersamanya.
“Oh aku mau ngasih peliharaanku dulu makan ni uda pada teriak- teriak dari tadi,” ujar Bang Niko memegangi perut
“Makanya, Bang Niko minum obat cacing donk."
“Ntar gak ada lagi donk peliharaan ku.”
“Cacing di pelihara, kucing donk kalau gak si doggi"
“Gak boleh Fai di kost pelihara binatang. Kamu mau gak jadi peliharaanku,” ucapnya bercanda.
Aku langsung memukul pinggangnya, karena dia bilang aku jadi peliharaannya. Tapi itulah bang NIko suasana selalu rame dan bercanda kalau ada ia
“Bercanda Fai,” ungkapnya kemudian dengan tertawa.
“Iya”
“Aku cabut duluan ya Fai, lapar nih”
“Siap Bang, sampai ketemu nanti” Lelaki berambut gondrong berjalan ke arah kantin.
Aku masuk ke kelas, kelas hari ini lumayan lama, Tari sudah menyisihkan kursi untukku satu , di sampingnya seperti biasa.
*
Saat kelas selesai, aku mengajak Tari ke Perpustakaan mencari bahan untuk tugas mata kuliah kami.
“Ada apa?” Tanya tari setelah kami duduk di salah satu meja panjang di dalam perpus.
“Kenapa?” Tanyaku pura pura bloon.
“Ayo ceritain padaku.” Tari membernarkan posisi duduknya, seperti reporter televisi yang ingin mewawancarai sumbernya dengan sebuah
pulpen yang jadi mickroponnya yang di sosor pas di bawah bibirku.
“Gak ada apa- apa,” Jawabku pura- pura fokus ke salah satu buku yang aku pegang dan bolak- balik setiap lembarannya.
“Gak mungkin kita berada sini, kalau gak ada apa apa blon.” Ia menjotor kepala ini dengan pulpen yang di pegang tadi, ia memang seperti itu, tidak cukup hanya mulut yang bertanya sering sekali tangan, kaki ikut bekerja. Setiap kali bertanya apa-apa Tari selalu menyenggol kalau tidak menendang sepatuku.
“Iya gak ada apa- apa,” elakku masih dengan posisi sok serius
“Ayolah Fai, kamu gak pernah dengar ; ‘Masalah akan terasa ringan kalau kita berbagi atau bercerita ke pada teman,” katanya sok bijak.
“Iya gak ada,” kataku tidak perduli dengan, kata-kata bijaknya.
“Kalau gak ada apa –apa, kenapa kamu tidak berlari pada pangeran berkudamu itu sekarang”
“Ok. Ok … baiklah.” Aku menyerah dan memilih
menceritakan pada Tari.
Karena percuma juga menutupinya karena dia akan tetap mengorek sampe benar - benar sampai dapat.
__ADS_1
“Iya ampun Fai, separah itu kah? terus bagaimana selanjutnya apakah kamu akan mengejar lelaki itu lagi?”
“Iya aku masih belum menyerah sayang’ aku hanya mundur selangkah ,untuk melompat dua langkah,” kataku menggoda sahabatku.
“Dasar bodoh ,” rutuk Tari, ia terlihat kesal dengan kelakuanku.
“Tapi aku akan menganti jalanku,” kataku lagi
“Jalan apa? jalan apaan … HA?” Matanya melotot marah padaku.
“Aku akan fokus dulu ke kuliahku, nanti baru mengejar-ngejar dia lagi,” kataku, dengan menggodanya dengan mata di kedip-kedipkan.
“Gitu donk, itu baru temanku, kejar dulu cita citamu jika kamu
berhasil meraih impianmu, aku yakin cinta juga akan menyusul
nanti. Aku akan selalu mendukung dan kita akan berjuang
bersama sama, mengajar impian kita lupakan lelaki jahat itu,” kata Tari dengan tangan di kepal tanda cahyoo.
“Baiklah cinta, ayo kita mulai mewujudkan seperti yang kamu
bilang tadi, ayo kita mulai bekerja dengan otak kita, bukan
dengan mulut, karena orang ini sudah mulai terganggu dengan suara kita,” ucapku sambil sedikit berbisik juga.
Karena sejak dari tadi mata semua orang sudah melotot dengan tatapan sinis seperti ada catatan di kening mereka ‘Di larang Berisik, kalau mau berisik sana di Tong sampah’. Sekalian pungutin sampahnya.
Karena bahan tugas tidak kami temui di perpustakaan besar itu, untuk menemukannya, perjalan kami akan panjang sepertinya,
Karena buku kami cari, adalah buku lama dan penerbit lama juga,
Kami akan menemukan di sana.
“Pasar Senen pusat buku - buku lama,”kata Dira ada di sana.
“Kita biasa kesana juga cari buku- buku karena ga mampu beli yang baru,” ujar Repina, curhat jadinya.
Sebelum kesana aku mengabari Mami kalau aku akan
mengerjai tugas kelompok bersama Tari. Mami menyetujuinya. karena Tari sudah di kenal mami, maka naik angkot dari
kampus ke halte busway dan dari busway turun di halte Senen
di Bawah jembatan flyover Senen
ini pengalaman pertamaku menaiki busway walau sudah berapa lama.
Di kota metropolitan ini, tapi biasanya pergi kemana –mana, aku akan selalu bersama Frans kalau gak kelurganya, pengalaman baru untukku, berdesakan di pasar Senen, karena.
“ Fai, tempatnya memang selalu ramai,” ujar Repina memperingatkanku, aku tidak apa-apa justru aku merasa seperti ke masa lalu.
Bukan hanya kami yang ikut berburu buku bekas, ada beberapa mahasiswa lain juga.
__ADS_1
“Fai apa kamu capek, apa kamu bosan ?” Tari melirikku.
“Sepertinya, kamu baru pertama kali ke tempat seperti ini?” Tanya Dira
“Iya, ini pengalaman pertamaku tapi aku senang kok aku suka tempat yang ramai-ramai.”
“Orang seperti kami, jalan- jalannya ke tempat seperti ini,” celetuk Repina
Repina cewek Batak yang terlihat sangat judes dan mulutnya pedes melebihi pedasnya cabe rawit.
“Itu karena kloni- klonimu di sini kan, Repi,” canda Adira
“Eh…kau iya, ngatain, memang orang Batak banyak yang jualan dan cari makan di sini,” ujar Repina jutek.
“Tapi boleh donk, kita keliling melihat –lihat.” Aku penasaran dengan pasar senen yang terkenal dengan preman terminalnya,” kataku mengingatkanku dengan cerita Bang Niko.
“Emang kamu mau Fai?” Tari menatapku serius.
“Aku pengen lihat-lihat,Tar.”
Puas berjalan -jalan sekitar pasar Senen bukan hanya memburu buku, mereka juga mengajakku memburu pakaian impor barangnya masih bagus-bagus asal sabar memilih.
Lelah rasanya berputar-putar dari ujung ujungnya lagi, wajahku memerah bagai tomat rebus badan rasanya bau ikan asin.
“Kita cari makanan aja ayo, berhubung ini mulai sore akan ada pameran makanan enak di sebelah sana,” Repina menunjuk satu sisi jalan di samping jembatan layang di daerah Senen
“Wah pameran makanan.” Mendengar pameran makanan perutku langsung bergrilya.
“Iya pameran makanan murah dan segala jenis jajanan murah.”
Benar sekali, pameran makanan yang mereka maksud penjual makanan kaki lima yang jualan hanya sore saja yang berderet sepanjang sisi trotoar di samping jembatan layang dekat bioskop lama di daerah Senen.
Mataku seolah menari- nari melihat segala jenis makan dan jajanan
itu, belut goreng, ikan goreng, keong dan banyak lagi yang berderet
dan aku lihat Adira dan Repina dan Tari mengambil sendiri makanan mereka. Kerena ini pengalaman pertama bagiku, aku juga ikut saja.
“Ayo” Adira dan memberikan piring kosong padaku.
“Ambil sendiri?” Tanyaku dengan heran karena mirip prasmanan.
“Iya ambil sepuasmu,” kata Repina dan memasukkan beberapa macam lauk dan sayur ke piringnya dan aku pun memulai aksiku, bawa piring meja ke meja lain ingin mencobai semua masakan yang ada di sana, aku mencobai semua masakan ingin mencari ide dalam memasak juga.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi