Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Bersikap seperti biasa walau hati sakit


__ADS_3

Berjalan dengan Bang Niko membuatku merasa nyaman dan merasa terlindungi, saat Bang Niko tahu tentang penyakitku, aku jadi mau jalan bersamanya.


“Oh aku mau  ngasih  peliharaanku  dulu makan ni uda pada  teriak- teriak  dari tadi,” ujar Bang Niko  memegangi perut


“Makanya, Bang  Niko minum obat  cacing  donk."


“Ntar  gak ada  lagi  donk peliharaan ku.”


“Cacing  di pelihara, kucing donk  kalau gak si  doggi"


“Gak  boleh  Fai  di kost pelihara  binatang. Kamu mau gak  jadi  peliharaanku,” ucapnya bercanda.


Aku  langsung  memukul pinggangnya,  karena  dia  bilang   aku jadi peliharaannya. Tapi itulah  bang  NIko  suasana  selalu rame dan bercanda  kalau  ada ia


“Bercanda  Fai,”  ungkapnya kemudian dengan tertawa.


“Iya”


“Aku cabut  duluan ya  Fai,  lapar  nih”


“Siap  Bang,  sampai   ketemu nanti” Lelaki berambut gondrong berjalan ke arah kantin.


Aku  masuk ke kelas, kelas hari  ini  lumayan lama,  Tari  sudah  menyisihkan  kursi untukku  satu , di  sampingnya  seperti biasa.


                                   *


Saat kelas  selesai, aku mengajak   Tari  ke Perpustakaan mencari  bahan untuk  tugas  mata kuliah kami.


“Ada  apa?”  Tanya  tari setelah  kami  duduk  di salah satu  meja  panjang  di  dalam perpus.


“Kenapa?”  Tanyaku  pura pura  bloon.


“Ayo ceritain padaku.” Tari membernarkan posisi  duduknya,  seperti reporter  televisi yang ingin mewawancarai  sumbernya  dengan  sebuah


pulpen yang  jadi mickroponnya  yang  di  sosor pas di bawah bibirku.


“Gak ada apa- apa,” Jawabku pura- pura  fokus  ke salah satu buku yang aku pegang  dan   bolak- balik  setiap lembarannya.


“Gak  mungkin  kita  berada  sini,  kalau gak ada apa apa blon.”  Ia menjotor  kepala ini  dengan pulpen yang  di pegang tadi, ia memang seperti itu, tidak cukup hanya mulut yang bertanya sering sekali tangan, kaki ikut bekerja. Setiap kali bertanya apa-apa Tari selalu menyenggol kalau tidak menendang sepatuku.


“Iya  gak ada apa- apa,” elakku  masih  dengan posisi  sok serius


“Ayolah  Fai, kamu gak   pernah  dengar ; ‘Masalah  akan terasa ringan  kalau kita berbagi  atau bercerita  ke pada  teman,”  katanya  sok  bijak.


“Iya gak ada,”  kataku  tidak perduli dengan, kata-kata bijaknya.


“Kalau  gak ada apa –apa,  kenapa kamu tidak berlari  pada  pangeran  berkudamu itu  sekarang”


“Ok. Ok … baiklah.”  Aku menyerah  dan memilih


menceritakan pada Tari.


Karena percuma  juga menutupinya  karena dia  akan tetap  mengorek  sampe benar - benar  sampai dapat.

__ADS_1


“Iya  ampun  Fai, separah  itu kah?  terus  bagaimana  selanjutnya  apakah  kamu  akan  mengejar  lelaki  itu  lagi?”


“Iya  aku  masih  belum  menyerah  sayang’ aku  hanya mundur selangkah ,untuk melompat dua langkah,” kataku menggoda sahabatku.


“Dasar  bodoh ,” rutuk Tari,  ia terlihat  kesal dengan kelakuanku.


“Tapi  aku  akan menganti  jalanku,” kataku lagi


“Jalan apa? jalan apaan … HA?” Matanya melotot marah padaku.


“Aku akan fokus  dulu  ke  kuliahku, nanti baru mengejar-ngejar dia lagi,”  kataku, dengan menggodanya dengan mata di kedip-kedipkan.


“Gitu  donk,  itu baru temanku, kejar  dulu cita citamu jika  kamu


 berhasil  meraih impianmu,  aku  yakin cinta  juga  akan menyusul


nanti. Aku  akan   selalu  mendukung  dan  kita  akan  berjuang


 bersama sama,   mengajar  impian  kita  lupakan lelaki  jahat itu,”  kata Tari dengan tangan di kepal tanda cahyoo.


“Baiklah  cinta,  ayo kita  mulai mewujudkan seperti  yang  kamu


bilang tadi, ayo  kita mulai  bekerja  dengan  otak  kita,  bukan


dengan  mulut, karena  orang  ini  sudah  mulai  terganggu  dengan  suara  kita,”  ucapku  sambil  sedikit  berbisik  juga.


Karena  sejak  dari  tadi   mata  semua  orang  sudah  melotot  dengan tatapan  sinis  seperti  ada  catatan  di  kening  mereka  ‘Di  larang Berisik, kalau  mau  berisik  sana  di  Tong  sampah’.  Sekalian pungutin  sampahnya.


Karena  bahan tugas tidak  kami temui  di perpustakaan besar itu, untuk menemukannya, perjalan kami  akan panjang  sepertinya,


Karena  buku  kami  cari,  adalah  buku  lama  dan penerbit lama  juga,


Kami  akan  menemukan  di sana.


“Pasar Senen pusat  buku - buku  lama,”kata  Dira ada  di sana.


“Kita  biasa  kesana  juga  cari buku-  buku karena  ga  mampu  beli  yang baru,” ujar  Repina, curhat jadinya.


Sebelum kesana  aku  mengabari Mami   kalau  aku  akan


 mengerjai  tugas  kelompok  bersama Tari. Mami menyetujuinya. karena  Tari  sudah  di kenal mami, maka naik  angkot  dari


kampus  ke halte busway  dan dari  busway  turun  di halte  Senen


di  Bawah jembatan flyover  Senen


ini pengalaman pertamaku  menaiki  busway  walau  sudah berapa lama.


Di  kota  metropolitan ini, tapi biasanya  pergi kemana –mana,   aku  akan  selalu  bersama  Frans kalau gak kelurganya,  pengalaman baru untukku,  berdesakan di  pasar  Senen, karena.


“ Fai, tempatnya  memang  selalu  ramai,” ujar  Repina memperingatkanku, aku tidak apa-apa justru aku merasa  seperti ke masa lalu.


 Bukan hanya  kami  yang  ikut  berburu  buku  bekas,    ada  beberapa  mahasiswa lain juga.

__ADS_1


“Fai  apa  kamu  capek,  apa kamu  bosan ?” Tari melirikku.


“Sepertinya,   kamu  baru  pertama kali  ke tempat  seperti ini?” Tanya  Dira


“Iya,  ini  pengalaman  pertamaku    tapi  aku  senang kok aku suka tempat yang ramai-ramai.”


“Orang  seperti kami,  jalan- jalannya  ke tempat seperti ini,”  celetuk Repina


Repina  cewek  Batak  yang  terlihat  sangat judes dan mulutnya pedes  melebihi pedasnya cabe rawit.


“Itu  karena kloni- klonimu di  sini  kan, Repi,”   canda Adira


“Eh…kau  iya,  ngatain, memang orang Batak banyak yang jualan dan cari makan di sini,” ujar  Repina jutek.


“Tapi  boleh  donk,  kita  keliling  melihat –lihat.”   Aku penasaran dengan pasar senen yang terkenal dengan preman terminalnya,” kataku mengingatkanku dengan cerita Bang Niko.


“Emang  kamu  mau Fai?” Tari menatapku serius.


“Aku pengen  lihat-lihat,Tar.”


Puas berjalan -jalan sekitar  pasar Senen bukan hanya memburu buku, mereka juga mengajakku memburu pakaian impor barangnya masih bagus-bagus asal sabar memilih.


Lelah rasanya berputar-putar dari ujung ujungnya lagi, wajahku memerah bagai tomat rebus badan rasanya bau ikan asin.


“Kita  cari makanan aja ayo, berhubung ini  mulai  sore akan ada pameran makanan  enak  di  sebelah  sana,” Repina  menunjuk   satu sisi jalan di  samping jembatan  layang di daerah Senen


“Wah  pameran makanan.”  Mendengar pameran makanan perutku langsung bergrilya.


“Iya  pameran makanan murah  dan segala  jenis jajanan murah.”


Benar  sekali, pameran makanan  yang  mereka  maksud  penjual makanan  kaki lima  yang jualan hanya  sore  saja yang  berderet  sepanjang  sisi trotoar  di samping jembatan layang dekat bioskop lama di daerah Senen.


Mataku  seolah  menari- nari melihat segala  jenis  makan dan jajanan


 itu, belut  goreng, ikan goreng,  keong  dan  banyak lagi    yang  berderet


dan  aku  lihat   Adira  dan Repina   dan Tari mengambil sendiri makanan  mereka. Kerena ini pengalaman pertama bagiku,  aku juga ikut saja.


“Ayo”  Adira  dan memberikan piring kosong padaku.


“Ambil  sendiri?” Tanyaku  dengan heran karena mirip prasmanan.


“Iya  ambil  sepuasmu,” kata  Repina  dan memasukkan beberapa  macam lauk  dan sayur  ke piringnya dan  aku  pun memulai  aksiku,  bawa piring meja ke meja lain   ingin mencobai  semua  masakan  yang ada di sana,  aku mencobai semua masakan ingin mencari ide dalam memasak juga.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-The Cursed King(ongoing)


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi


__ADS_2