Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Batal kabur


__ADS_3

“Baiklah !”  kataku membatin,


“Kakak, katakan sesuatu agar ia tidak pergi kata Kaila mengingatkan kakek laki lakinya. Tapi ia cuek malah duduk disofa menatapku dengan tatapan menantang.


Seolah ia ingin mengatakan pergilah kalau kamu kamu berani, ia berpikir kalau aku emang mengejar dirinya,


Dasar makiku, menatap mata sinisnya


Makin membuatku makin jengkel, satu alisnya diangkat , dengan kode mengusir, dengan gaya tangan dilipat didadanya dalam hatinya dia tidak takut apapun.


Aku menarik nafas dalam -dalam dalam hatiku, aku bersumpah demi langit dan Bumi aku akan membalas segala penggunaannya dan tidak membiarkan aku kalah.


Tarik nafas dalam- dalam dan sebagai sebuah ritual penenangan pikiran.


Dan tidak ingin lelaki ini menang dalam permainan dalam mengusirku seperti keinginannya.


“Aku tidak kemana mana kok tadinya ingin menemui teman sebentar tapi sepertinya sudah malam jadi  lain kali aja deh ketemunya,”  kataku dengan senyum licik perlawanan menatap manusia kutub utara itu.


Saat itu matanya, langsung menatap dengan ganas, karena rencananya mengusirku gagal lagi


“Oh iya ampun kirain kalian tadi bertengkar” Kata Kaila dengan perasaan lega. Karena aku hampir saja mempermalukan kelurganya untuk kedua kalinya.


“Tidak kok, ia tadi melarangku pergi, dia khawatir”  kataku berbohong dan menoleh padanya yang terlihat sangat kesal, karena aku berbohong tentang dirinya


“Ciee yang mulai khawatir ni,”  kata Ifan  adik laki- lakinya meledek kakaknya yang terlihat manyun bagai balon kempes,


“Dasar kotoran,” cakap kotor, meninggalkan kami dengan raut sangat kesal.


Demi melampiaskan kemarahannya,  ia memakai sarung tinju dan memukul karung pasir yang di gantung di halaman belakang,


Aku naik lagi kekamar atas dan menonton Felix yang melampiaskan kemarahannya di halaman belakang, ia meninju beberapa kali karung pasir diikuti suara yang keluarnya dari mulutnya.


“Haaa Haaa..!


“Puk ..Pak..puk..pak.!


Suara itu terdengar sampai kekamarku,  yang berada di lantai atas, siapapun yang melihat lelaki itu pasti bisa membaca kekesalan di balik suara pukulan dan suara itu itu.


Apalagi sudah malam dan sudah hampir larut sudah waktunya untuk tidur.

__ADS_1


Aku menatap dengan skor 1:0  kemenangan ditanganku .


Satu gigitan apel ditanganku menggambarkan kemenangan yang aku peroleh


Aku berdiri dengan satu apel ditangan berdiri menontonnya di atas balkon lantai atas.


“Kreeeaak !”


Gigitan keduaku, ia menoleh keatas dengan sinar matanya lasernya yang tajam,


Tabu peperangan sudah dimulai diantara kami berdua. Siapa yang bertahan dan siapa yang akan tergusur.


Matanya yang tajam menatapku aku balas dengan tatapan tidak mau kalah, dengan gigitan apel yang terdengar nyaring dan gayaku yang bersandar di balkon menontonnya dalam kekesalan.


Aku tersenyum licik menatap matanya yang marah, sangat menyenangkan melihat lelaki kutub utara itu,  merasa kalah dan kesal seperti itu. Rasanya aku ingin tiap hari memberi pelajaran padanya,  hingga ia merasa lelah dan tidak sombong lagi, jika bisa sampai ia struk dan lumpuh saking kesal dan bencinya melihatnya.


Ia melemparkan sarung tangan tinju yang dipakai dan naik keatas sepertinya ingin menghampiriku,


Aku merasa untuk saat ini cukup sekian dulu,  aku tidak ingin memperpanjang permasalahannya, aku kabur dan masuk kekamarku dan beristirahat.


Pagi pagi membuat kejutan untuk kelurga Om Sami.


Kemampuanku dalam memasak tidak diragukan lagi, bakat alami yang diwarisi ayahku menurun padaku seorang koki emang cita- citaku dari dulu.Sepertinya, kelurga Om sami belum mengetahui bakat memasakku


Maka pagi itu aku yang memegang dapur dulu,


Membuat menu serapan untuk kelurga itu menu restoran ala Bintang lima,


menu serapan kali aku mencoba  3 menu serapan sekaligus


*Serapan ala gaya barat Continental break fast


* Serapan ala Nusantara Nasi goreng ikan teri Medan


* Gado –gado


Pilih gado gado karena Om Sami dan Tante Mira sangat suka makan gado –gado


dan nasi goreng untuk manusia kutub utara yang katanya menyukai nasi goreng ikan teri medan, kedua adiknya menyukai makanan ala kebarat- baratan

__ADS_1


“Wah bau enak bangat “  kata Kaila yang menatap takjub menu serapan yang sudah tersusun rapi diatas meja makan


“Kamu yang masak Fai…?” Tanya tante Mira dengan tatapan senang melihat menu yang sepesial diatas meja makan.


“Merasa kayak makan di Restoran ni,” kata Om Sami dengan pakaian kebanggaan sebagai abdi Negara. Sepertinya siap berangkat bertugas, satu lagi abdi Negara dengan seragam loreng- lorengnya. Duduk dengan ragu- ragu dimeja makan. Felix dengan gagah memakai seragamnya.


Sejak pertengkaran kami malam itu, gendang  perang sudah dimulai diantara kami, aku ingin memberi dia pelajaran dengan caraku. Hingga ia tidak lagi suatu  saat menghina wanita lain


“Iya tante, aku yang  memasaknya, aku ingin jadi istri yang baik,” kataku dengan menatap Felix yang duduk gagah disamping Om Sami.


“Cie… cie” Kata Kaila meledek kakaknya


Tapi tidak berpengaruh pada si manusi kutub utara, ia fokus menyantap nasi goreng yang aku buat dan emang dia sangat menyukai nasi goreng , ia menyendok beberapa kali kepirignya


“Bagus itu sayang’seorang istri itu emang harus pintar masak,” kata Tante Mira dengan menatap tajam ke Putri satu satunya,


“Uda deh Bu, nanti juga aku bisa masak,” sahut Kaila sewot


“Iya masak air sampai gosong,” kata Om Sami meledek anaknya lagi.


“Udah dong Yah nanti Kai belajar masak”Kata kaila dengan wajah merah karena diledekin kedua orang tuanya,


“Aku akan memasak yang enak enak nanti untuk kamu”  kataku dengan menyendok nasi goreng lagi  kepiring  Felix. Semua mata menatapku dengan senyum- senyum dan aku duduk disampingnya, wajahnya muram bagai kain lap yang tidak dicuci satu minggu.


Ia buru –buru menghabiskan nasi gorennya dan ingin bergegas mau pergi. Wajahnya tidak suka melihat perhatian yang aku tujukan.


Ia menyambar tas ransel tentaranya berniat mau berangkat


“Tunggu,” kataku tiba- tiba memberikan botol minum yang sudah aku isi dengan jus.


Aku meminta tangannya untuk aku salim. Tapi ia tidak mau, Ia melengos pergi, penolakan yang ia lakukan dilihat semua kelurganya,


Aku tersenyum licik lagi, melihat ia kesal dan marah.  Aku tidak marah ataupun  kesal sedikitpun.  Aku hanya mengikuti apa yang diminta padaku, ia bilang ia menyukai wanita yang elegan dan terhormat dan pintar memasak dan bisa mengurus kelurga.


Aku hanya menunjukkan padanya ingin mengatakan padanya:


Hai aku bisa juga seperti apa yang aku inginkan!


Om Sami melihatnya dan menghampirinya yang sudah siap jalan sedang  menghidupkan motornya.

__ADS_1


Lelaki paru baya itu terlihat memarahi Felix karena bersikap kasar padaku.


Haaaa, Haaaa aku tertawa puas dalam hati


__ADS_2