
Bahkan aku merasa hatiku bagai diperas dan diremuk-remuk habis itu disiram air panas
Aku mengangkat kakiku keatas kursi dan memeluk lututku menutup kepalaku.
“Apa kau ingin berencana ingin tidur diluar juga saat ini?” suara itu mengagetkanku lagi yang mataku hampir saja tertutup ingin mulai tidur.
“Felix?? A-a-apa yang akan kamu lakukan di sini, bagaimana kamu tiba-tiba disini,” aku kaget panik bagai mimpi.
“Aku ingin menemuimu kata Felix” dengan rambut dan jaketnya basah sepertinya ia naik motor datang menemuiku.
“Felix pergilah, apa yang akan kamu lakukan?” Aku mendorong badannya agar pergi sebelum orang lain melihatnya.
Terlambat!
Frans sudah berdiri didepan pintu dengan tangan dikepal. Menahan Emosi
Aku berdiri diantara dua Banteng yang siap beradu. Frans menatap Felix dengan tatapan mata lesernya yang tajam. Felix yang menganggap, aku dikurung di luar merasa berhak untuk marah.
“Kamu masih berani datang kesini? setelah kamu menghancurkan hidupku Ha…!”
~PAAAAAAAK~
Tiba tiba Frans memukul Felix yang berdiri disampingku. Ia terjungkal dan bibirnya pecah dan mengeluarkan cairan merah.
Aku makin panik, aku mencoba melerai keduanya karena. Takut orang rumah bangun.
“Aku mohon berhentilah” kataku mencoba menahan tubuh Frans tapi sayang, sepertinya emosinya sudah menguasai hati dan pikirannya. Ia tidak memperdulikanku, Ia mendorongku kesamping dan menghantam bagian wajah Felix lagi, tenaga keduanya seimbang, karena sama-sama manusia berotot dan memiliki postur badan hampir sama . Frans seolah ingin meluapkan semua kemarahannya.
Aku mencoba menarik tangan Frans, tapi sikut tangannya sangat keras mengenai wajahku , aku terpelanting kebelakang hingga mengenai sisi meja, punggungku juga, terkena sesuatu yang tajam, tapi aku menghiraukannya dan hidungku juga Rasanya sakit sekali bagai dipukul pakai balok kayu. Hidungku juga mengalir deras cairan merah segar hingga menetes kemulut, sama seperti felix. Aku hanya mengusapnya sembarang hingga belepotan sebagian wajahku.
Aku tidak merasakannya lagi, aku hanya ingin mereka berdua menghentikan pertengkarannya, sebelum orang yang dirumah pada bangun dan melihat kami, itu akan membuatku lagi semakin terhina.
Untung hujan deras pagi itu ,hingga tidak ada yang mendengar dan tidak ada yang melintas.
Aku memeluk tubuh Frans yang ingin menghajar Felix . Padahal Felix tidak melawan lagi, hanya terduduk diam dan terlihat tidak berdaya lagi.
__ADS_1
“Hentikan Frans, aku mohon” Kataku dengan memeluknya dengan erat. “Nanti keluargamu bangun Frans, apa yang mereka pikirkan lagi padaku” keluhku dengan suara memohon.
Karena sejak aku tiba dirumah ini, aku sudah jadi bahan gunjingan keluarga Frans. Keluarga yang mengetahui tentang masalah kami. Itu juga yang membuatku semakin tertekan dalam rumah Frans.
Tidak ada satupun yang berpihak padaku .Baik Frans yang sangat membenciku sejak aku tiba.
“Fai “kamu terluka?” Tanya Felix berdiri melihat wajahku. Cairan merah itu sudah memenuhi seluruh wajah,Frans berhenti membalikkan badan dan menatapku dengan panik.
“Aku tidak apa-apa Felix. Tapi tolong pergilah sebelum keluarga ini bangun. Mereka akan semakin membenciku jika melihatmu disini, aku akan semakin terhina nanti,” kedua telapak tanganku memohon pada Felix dengan penuh harap, sesekali tanganku masih mengusap hidungku yang masih mengalir dengan deras.
“Maafkan aku Faila, aku tidak bermaksud sekalipun ingin menyakitimu. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada Frans, tapi aku tidak tahu, kalau kamu jauh lebih tersakiti. Aku mohan maafkan aku, tadi aku hanya melintas didepan dan melihatmu makanya aku meneleponmu . Tapi mendengarmu menangis tadi, membuatku semakin merasa bersalah karena selalu menyakitimu,”kata Felix dengan kedua tangannya menutup wajahnya. “Tapi melihatmu terluka seperti ini, aku sungguh merasa bersalah dan menyesali semua tindakanku.
Tari sudah menceritakan semuanya padaku, berhentilah menyakiti dirimu sendiri Faila, Jika waktu itu terjadi apa apa padamu , aku tidak akan bisa memaafkan diriku,” kata Felix dengan penyesalan yang sangat mendalam.
“Aku-aku sudah tidak apa-apa kak” tolong pergilah kataku lagi, aku yang meminta maaf padamu dan keluargamu,” Kataku dan sesekali menatap pintu dengan sangat khawatir berharap tidak ada yang melihat kami.
“Baiklah Fai” ia melangkah pergi.
Fai” panggil Felix lagi berbalik dengan wajah ragu-ragu,” Jika suatu saat kamu datang padaku, aku akan memberikan senyuman padamu. Kamu akan melihat sisi Lain dari diriku, datanglah nanti jika kamu merasa tidak kuat lagi, tapi tolong jangan menyakiti dirimu sendiri,” kata Felix dengan sangat tulus,
Tapi kata “BAIKLAH” Sepertinya disalah artikan Frans. Ia menatapku dengan kepalan tangan. Belum juga Felix meninggalkan rumah itu.Tapi Frans sudah menyeretku masuk kerumah. Aku menoleh Felix yang masih menatapku, aku memberi kode tangan agar cepat pergi.
Frans menggenggam pergelangan tanganku yang terluka dan masih di balut dengan perban putih
.
Ia menyeretku hingga kekamar dan melemparkan tubuhku keatas kasur. Ia memegang dan menekan dakuku dengan keras. Bahunya naik turun menahan kemarahan. Aku tau . amarah itu sudah dipuncak batasnya
“Apa kau menangisi Pria tadi?” katanya masih menahan daguku . Aku merasakan sakit di seluruh badanku. Aku tidak punya tenaga untuk menjawab dan membantah.
Tapi tiba- tiba matanya yang menyala seperti bara api tadi. Tiba-tiba sayu . Ketika darah segar dari hidungku itu mengenai tangannya. Ia mengusapnya dengan lembut tangannya menarik beberapa lembar tissue dan memberikan ke tanganku.
“ Bersihkan lukamu” katanya dan pergi.
Aku merasakan rasa yang amat sakit dari bagian belakang tubuhku . Aku membuka jaket yang menutupinya.
__ADS_1
Aku berdiri melihat kaca, lukanya sangat parah. Ujung kaca meja yang tadi ternyata melukaiku sangat parah.ada sekitar 5 cm luka di belakang dan sepertinya butuh jahitan.
Bahkan sudah mengotori sepray kasur yang aku duduki tadi, rasanya sangat sakit, sampai aku merasa sangat lemas dan mataku berkunang-kunang,
Aku duduk kembali. Mencoba menahan dengan handuk basah. Aku merasa tidak kuat, ingin menelepon Frans agar menolongku.
Tapi tiba-tiba Ia datang membawa kotak obat,
OH syukurlah bisikku dalam hati.
“Ini obatin lukamu’ kalau kamu ingin benar-benar hanya ngin menolongku , Jika kamu ingin pernikahan ini dilanjutkan obatin lukamu katanya.
Masih dengan kemarahan , sepertinya kemarahannya masih belum reda. Ia melangkah ingin pergi
“Frans…” Suaraku sangat lemah.
“ jangan bilang, kamu ingin aku yang mengobatinya, aku masih marah Fai” katanya menatapku tajam.
“Oh tidak “
Ia pergi,
Setelah beberapa lama . Ia datang lagi dengan membawa obat luka memar untuk wajahku.
Ia berdiri didepanku dan memberikan ke tanganku,
“Ini untuk luka memarnya.” Kata Frans
“Baiklah Frans terimakasih “kataku menahan rasa sakit itu, aku ingin meringis tapi Ia masih berdiri menungguku mengolesinya.
“Apa kamu bisa melakukannya ?
“Iya “kataku menunduk
~Bersambung~~~
__ADS_1
Follow IG @sonatha-nata