Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Ditampar


__ADS_3

Umur  mami Frans usia lima puluh,  tetapi wajah  nya masih fres dan cantik seperti umur tiga puluh tahun.


 Sementara aku wanita yang paling malas  olahraga,  ia menarik selimutnya dan memaksaku  bangun,  mendorongku  kekamar mandi. Mami  selalu mendukung, agar bisa memiliki body seksi katanya agar Frans mau jadi kekasihku.


“ Bajumu masih yang kemarin?  kamu belum mandi?” tanya Mami, ia selalu sabar dan tenang melihat sikapku.


“Aku lagi malas, Mi”


“Baiklah Fai, mungkin nanti kita olah raga bersama,” ucap Mami, ia  sangat maklum dengan sikapku.


Entah kenapa kepalaku berat diajak bangun bawaan pengen tidur saja rasa cemburu itu membuatku ingin tidur,  aku  tidak ingin   kehilangan Frans,  aku membasuh wajahku dengan air seadanya dan gosok gigi ganti baju, aku turun kedapur dan bersikap  ceria seperti biasa


Di meja makan  sudah ada  ke empat laki- laki  tampan anak-anak mami. Regi,   karena hari minggu dia pulang  ke rumah yang,  biasanya tinggal di asrama sekolah militer(Akmil) di Magelang Jawa Tegah


“Pagi Fai.” sapa Regi lelaki bertubuh tinggi tegap itu menunjuk kursi di sampingnya   “Duduk sini.” Menarik kursi.


“Kapan datang?”


“Kemarin sore,” jawabnya  makan dengan buru-buru, terbiasa makan cepat saat latihan militer membuat terbiasa,  melakukannya  di  rumah  juga.


Arjun  si  bontot  lagi  fokus p ke layar ponsel  milik dan Kak  Dion seperti  biasa  dia  akan lebih  banyak  mendengar  dari pada  bicara, ia  cuek  dan sikapnya  dingin seperti  kulkas dua  pintu.


Pangeranku, belahan jiwaku,  Frans masih  berkutat dengan  serapan di dalam piringnya. Aku tersenyum manis padanya, aku melupakan kemarahannya tadi malam, aku memang pemaaf padanya. Tidak peduli ia semarah apa padaku, aku selalu memaafkanya, melihatku tersenyum ia hanya besikap biasa saja,


Tapi tidak mengapa ia bersikap cuek,  melihatnya saja pagi ini, sudah membuatku bahagia, apa lagi kalau ia sudah tersenyum padaku, dunia seolah di penuhi gambar love-love.


Papi, menyungkan roti gandum  ke depanku dan tidak lupa juga   memberiku  segelas susu tanpa lemak, papi dan mami  syudah memperlakukan diri ini seperti putri mereka.


“Makasih Pi,” ucapku


“Iya, Fai”


‘Inilah calon keluargaku kelak, aku nanti akan jadi menantu di rumah ini’ ucapku dalam hati.


 Melihat cowok- cowok tampan  itu wanita mana yang menolak jadi menantu di rumah ini, tentu tidak ada yang menolak,


‘Ah  tampannya,  beruntungnya diriku di kelilingi  cowok tampan yang baik dan perhatian  dan paling  berutungnya  mereka  menggapku  sebagai  keluarga  di  rumah,    menerimaku  dengan segala  tingkah  dan kepolosan  dan kebodohanku’ ucapku dalam hati.


Mami  sudah selesai olah raga,  menjatuhkan panggulnya  di kursi,  di  samping  si  bontot,  kepala  di sandarkan  di bahu Arjun,  ia  yang  sedari  tadi  masih sibuk memegang ponsel.


“Mami  keringatan,  bajuku  jadi  basah,”   protes menoleh  bajunya  yang    kena  air  keringat  mami.


Memulai obrolan  di meja  makan,  membuat  kelurga  ini  begitu  sempurna  di  mataku dan susah untuk  berpaling dari rumah mereka.

__ADS_1


Papi  yang sangat  mencintai  Istrinya, tidak pernah  sungkan -sungkan  memamerkan kemesraan   di  depan anak- anaknya,  membuatku  iri dengan mami Frans,  karena ada seseorang yang begitu  mencintainya,  selalu  menuruti  semua  kemauan istrinya.


“Kita  perlu jalan- jalan lagi nih,” kata mami tiba- tiba,


“Ayo kita kemana?”Papi  selalu  sejalan dengan pemikiran istrinya


Ah beruntungnya mami, karena selalu di mengerti, karena wanita memang ,  selalu ingin di mengerti.


“Sory  mi,  aku ga bisa ikut,”ucap  Frans, kami ada  latihan persiapan untuk pertandingan bulan depan


“Aku bisa  mi…,"  sahut Arjun dan Regi,  Dion .


“Ok  kita  berangkat berarti  iya b  Frans ga ikut"


“Fai  kamu  gimana?" tanya papi, beliau melirikku.


“Bisa  mi, aku ikut saja liburan bosan di rumah"


“Ah  tumben , tapi  lakikmu kagak ikut.” Mami menujuk Frans


“Ga papa mi, aku ikut”


                               *


Hingga  malam tiba, hatiku belum tenang.


Pikiran-pikiran itu membuatku  ingin gila, sikap murahan itu muncul  lagi,  mencintai Frans membuatku nekat.


Aku mengetuk kamar Frans,


“Ada apa Fai?” tangannya,  hanya membuka daun pintu setengah.


Aku mendorong pintunya menerobos masuk.


Ia mengibaskan tanganya di udara saat aku menerobos masuk, ia menatap sinis padaku.


“Aku mau tidur di sini,” kataku.


“Apa yang kamu lakukan Fai,  ini sudah jam berapa, keluar …!”


Harga diriku sebagai wanita  memang  sudah tidak ada.


“Aku tidak mau,” kataku

__ADS_1


Ia menarik tangan ini agar aku pergi, aku memeluk leher Frans memburu  bibirnya  dengan paksa. Aku menjelma menjadi wanita murahan wanita yang takut kehilangan.


“Apa yang kamu lakukan?” Frans melepaskan tanganku dari lehernya.


“Aku ingin bersamu Frans selamanya,” kataku melapaskan pakianku bagian atas  “ Aku tidak mau, kamu sama orang lain, kamu harus tetap bersamaku”


“Fai, apa kamu sudah gila?”


“Kamu tidak boleh sama orang lain Frans, aku harus jadi milikmu.” Aku menanggalkan pakaianku dengan tubuh tanpa tetutup sehelai benang.


Aku mendekatinya mengapai lehernya kembali, bukan sambutan hangat yang aku dapat tapi tatapan jijik dari Frans.


“Kamu benar-benar sudah gila, Fai, pakai bajumu nanti Papi dan Mami melihatmu.”


“Aku tidak perduli, kamu milikku, tidak boleh sama wanita itu, kamu tidak boleh meninggalkanku,” ucapku ingin memeluknya lagi.


“Hentikan Fai”  Ia mendorong  tubuh ini,  dengan tatapan sinis.


“Aku hanya ingin bersamu aku mencintaimu aku ingin punya anak dari kamu agar kamu tidak meninggalkanku,” ucapku takut kehilangan Frans. Aku memburu bibir itu lagi tetapi tiba-tiba ….


 Pak ….


Satu tamparan keras mendarat di pipi ini


“Kamu wanita murahan Fai, aku jijik,   sama wanit yang tidak bisa menjaga harga diringya, pergilah sana aku muak melihatmu,” kata Fran tetapi aneh, sedikitpun aku tidak merasa terhina ataupun terluka.


Aku memungut pakaianku memakainya kembali,  Frans membelakangiku,membiarkanku  berpakaian.


Aku sudah rapi barulah keluar dari kamar Frans dengan  bersikap tenang. Kembali ke kamarku, tidak ada rasa malu sedikitpun!atau merasa terluka, aku  bersikap biasa saja,  merebahkan tubuh ini di ranjang  lalu tidur lansung terlelap,


“Terimakasih Frans,” kataku tersenyum mengusap bibir ini dan  tidur.


Bersambung ….


Bantu Vote iya ikut lomba nih


tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-The Cursed King(ongoing)


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)


__ADS_2