
Saat bangun di rumah itu, melihat wanita yang merawatku, aku melihat wanita itu sepertinya tidak asing lagi, aku sepertinya mengenalnya, wajahnya tidak asing. Tapi aku lupa-lupa ingat.
Entah suatu kebetulan atau takdir yang membawaku ke rumah
Si Felix, lelaki yang aku sebut manusia kejam yang tidak punya perasaan ternyata kakak kelasku sewaktu kecil yang dulu duduk di bangku SD. ibunya adalah teman Ibu sesama Dokter.
Setelah aku bangun dari acara pingsan bohonganku, pandangan ku tertuju pada foto lama yang masih di pajang di salah satu kamar tamu yang aku tepati,
Ada empat orang dalam foto itu berpakaian Dokter dan salah satunya ibuku di masa mudanya, bahkan sangat memiliki tingkat kemiripan yang tinggi denganku,
Wajahnya yang lembut dan sifatnya yang penyabar tidak akan ku lupakan,
Ibu, aku merindukanmu, seorang wanita datang kekamar itu menatapku dengan tatapan yang susah di pahami,
“Hai aku ibunya Felix ,bagaimana keadaanmu apa masih merasakan pusing? Tanya wanita itu dengan sangat ramah berbeda dengan anaknya yang bernama Felix itu, ia memiliki sifat cuek dan dingin seperti es batu.
Aku menuliskan dalam kertas “ Aku sudah tidak apa-apa, aku hanya mengantuk.”
“Tadi mereka sudah menceritakan semuanya, maafkan anak saya, iya,” kata wanita itu dengan senyuman mengembang di wajahnya,
“Iya “ aku mengangguk.
Kamu mirip seseorang yang aku kenal kata wanita dengan pandangan matanya menatap Foto lama yang tergantung di dinding,
Tidak bagus membohongi seorang ibu dan apalagi wanita ini teman ibuku
Tanganku menunjuk Foto ibuku yang cantik,
“Iya kenapa? apa kamu mengenalnya?” Tanya tante Mira
“ Iya,” aku mengangguk
“Apa kamu mengenalnya?” Tanya wanita itu dengan wajah serius dan tatapan memburu.
Tak ingin menunggu lama, aku mengambil kertas itu lagi dan menulisnya agar tante Mira bisa mengetahuinya.
“Iya, ia Ibuku,” aku menulisnya di buku itu lagi.
“Apa?? benarkah, ternyata dugaanku benar, pertama aku melihatmu tadi, aku sudah terpikir kamu mirip dengan teman lama saya.Desy itu nama Ibumu,kan?”
“Iya”
“Apa yang terjadi sayang, sudah sangat lama sejak kepergian ibumu, banyak kabar yang bilang kakekmu depresi dan mengantar kamu ke pantai asuhan dan kakak laki- lakimu juga depresi, harus di rawat di luar Negeri,” kata Tante Mira.
__ADS_1
Kabar yang tidak pernah aku tahu. Setahuku kakak belajar di luar Negeri untuk mendapatkan gelar Dokternya, bukan karena depresi di usia muda.
“Tapi sekarang kamu kenapa kamu seperti ini?”
“Aku kecelakaan,” aku menjelaskan semua kondisiku pada Tante mira. Tante mira seorang Dokter dan mengerti keadaanku
Banyak fakta baru yang membuatku seperti baru bangun dari Tidur panjang. Fakta tentang Maminya Frans adalah sahabat ibuku.
Apa ibu dan Ayah yang mengantarku kesini, apa pertemuanku dengan kedua Tentara itu petunjuk dari Ibu dan Ayah?
Aku merasa Ibuku membuat pertemuan yang tidak terduga ini, bisa bertemu dengan tante mira bukan satu kebetulan tapi suatu takdir yang sudah diatur.
“Aku akan memeriksamu,” kata tante mira membawaku ke ruangan prakteknya,
Dan menunjukkan banyak Foto kenangan kecil kami, termasuk sama Felix teman masa bermainku waktu kecil.
“Fai kamu tidak ingat ini,” kata tante Mira menunjukkan Foto masa kecil kami ada Enam orang laki laki dan dua orang anak perempuan lagi berpose layaknya Ratu dan Raja,
Aku menggeleng dan menyerah, karena otakku tidak akan mampu mengingat itu, karena sudah diketahui otakku akan selalu payah dalam hal mengingat.
“Ini kalian sama anak tante Sinta juga,”
“Ha?” tante sinta Maminya Frans.
“Oh iya,” tumben otakku sedikit mengingat wajah bulat kak Dion, kakaknya Frans yang sekarang sudah menjadi seorang Dokter
Aku mulai mengingatnya ada, Frans di foto itu wajah tampannya ternyata sudah terukir sejak ia dari kecil,dan felix manusia sombong itu terlihat murung karena tidak ingin di foto,ada Regi juga, dan
“Ini siapa?,” aku menunjuk anak perempuan yang manis berambut panjang
“Dia anak saya, Kaila” umurnya sama kamu beda 2 tahun, ia dibawah kamu, tidak ingat?” Tanya tante Mira menatapku.
“Tidak,” aku menggeleng
Otakku terasa asing seperti pergi ke masa lalu di waktu kecilku apakah ini semacam permainan takdir?
Kenapa selama ini, aku tidak tahu kalau aku pernah bertemu dengan Frans waktu kecil.
“Oh iya, Regi juga sering main kerumah tante ia sama anak saya Kaila menjalin hubungan.
Kamu tahu, kamu sama Felix dulu sudah kita jodohkan waktu kecil sama Ibumu,” kamu juga sama Felix pernah ada niat menjodohkanmu dengan Felix.” Kata Tante Mira, aku kaget mendengarnya di jodohkan sama manusia dingin dan sombong itu rasanya tidak mungkin.
Mendengar penjelasan tante Mira aku sepertinya otakku belum mencerna dengan baik dan hanya berputar sekitar di situ -situ saja,
__ADS_1
“ Fai kamu masih bingung iya karena aku menjelaskan tiba tiba.
Sebenarnya karena Felix bilang kamu sakit dan mencurigakan aku sama Om menyelidiki kamu, kami melakukan itu karena tidak mau lagi hal-hal buruk terjadi pada anak kami
Kami menyelidiki identitas kamu tadi saat kamu tidur, karena kami takut juga terjadi apa- apa sama kamu jadi kami mencari informasi mengenai dirimu,” kata tante mira.
Mataku langsung melotot, menyadari aku di selidiki dan mungkin sudah menghubungi nomor di ponselku. Wah aku kan niatnya mau melarikan diri dari mereka juga.
“Tapi kami tidak bisa membuka kunci ponsel kamu dan identitas kamu juga terbatas jadi kami menunggu kamu bangun “ kata tante Mira
Membuatku bernafas lega,
Tapi kenapa Maminya Frans tidak pernah memberitahukan itu padaku, Padahal kami tinggal bersama sudah lumayan lama, kenapa Mami Frans tidak mau menceritakan tentang semua ini.
“Ayo turun, aku akan memberitahukan pada mereka siapa kamu agar tidak dicurigai sama Felix dan temannya,” kata tante Mira
Tapi aku menolak untuk memberitahu si Felix –Felix itu biarkan saja berjalan begitu saja. Toh juga aku cuman sebentar di sini pikirku.
Karena melihat sifat sombongnya tidak ada niat untuk memberitahukan hal yang sebenarnya,
“Kenapa Fai? Tanya tante Mira
“Biarkan saja tante, tidak usah di beritahukan kalaupun nanti harus tahu biarkan aku yang memberitahukannya,” aku menulis pada tante Mira.
“Baiklah sayang, terserah kamu mana baiknya, tapi tolong mengerti dan maafkan sikap kasar Felix,” kata tante Mira.
Di meja makan ada Felix dengan gaya yang cueknya menoleh sebentar dan fokus lagi pada makanannya, serapan pagi hari itu nasi goreng buatan om Sami, sekilas suasananya mirip kayak di rumah Frans. karena suami yang sering pegang dapur.
Ada enam orang yang mengelilingi meja makan, Om Sami dan Jhon adik dari Felix dan satu temanya Rio dan satu orang membuat jantungku hampir copot karena kaget. Regi ,adiknya Frans ada di meja makan itu bersama calon istrinya, Kaila anak dari tante Mira yang tadi diceritakan mereka di jodohkan, Ia seorang calon Dokter juga
Regi juga pernah cerita kalau pacarnya calon Dokter,
“ Fai” Regi tiba –tiba membuat mata semua orang tertuju pada kami berdua,
Regi dengan tiba –tiba memelukku,
“Kakak dari mana saja sih, semua mencari kakak kemana- mana semua orang panik” Kata Regi dengan cemas bercampur senang,
“Kamu mengenalnya ?” Tanya Jhon pada Regi,
“Iya ia kakakku,”
“Haaaa!” Ketiga lelaki kaget.
__ADS_1
bersambung