Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Akan melakukan apapun untukmu


__ADS_3

Aku  tinggal di rumah  Frans tujuanya  hanya ingin sekolah dan mendapatkan pendidikan yang tinggi. Kakekku berharap aku bisa sarjana tetapi  harapan orang tua itu, sepertinya tidak akan berjalan mulus, aku saat ini jadi semakin malas belajar, alhasil nilai semesterku semuanya minus.


Aku jurusan Fakultas Kesehatan Masayarakat Ahli gizi  memasuki Semester Enam. Niat awalnya  masuk  ke  Universitas. Tujuan utamaku  hanya  ingin kuliah   dan mendapatkan gelar  sarjana,   entah kenapa,  tujuanku  jadi  berubah  haluan,   bukannya mengejar  cita- cita   malah  mengejar  laki- laki berwajah tampan itu.


 “Aku  ingin  mengurus rumah  tangga  setelah  menikahimu,  karena itu  tidak ada  niatku  kuliah lagi,  hanya ingin  bersamu,” kataku hari itu.


“Kuliah dulu yang benar, menikah mah.. gampang, banyak laki-laki yang hebat nanti Fai untuk kamu.” Frans memainkan remote TV ditangannya, menganti canelnya dengan malas, raut wajahnya tidak berselerah celana boxer yang di pakai menyingkap sampai di atas paha, memperlihatkan otot  paha yang keras,


Ia seakan membuatku terbuai lagi, sengaja atau tidak kali ini,  ia meneguk minuman dari botol  minum di sampingnya,  jangkungnya naik turun terlihat sangat seksi


Otak mensumku bergentanyangan, aku berfantasi liar melamun sampai ke langit ketujuh, membayangkan Frans menarik pinggangku yang lebar untuk  duduk di pangkuannya, aku membayangkan ia memelukku.  Lamunanku  behenti saat tangan Frans memukul kepalaku dengan botol bekas minumnya.


“Lo, lamunin apa sih, ndut!”


“Mikirin kamu, kita lagi berciuman.”


Ia tertawa  miring mendengar pengakuan polosku


“Jangan kebanyakan mikirin yang mesum-mesum, entar bawah lo, basah,” ujar Frans ia berdiri.


“Sudah basah,” jawabku apa adanya.


“Iya ampun Fai, lu  itu polos apa bodoh sih, gue itu cowok Fai, lu gak takut, gue  apa-apain lagi,  terus gue tinggal?”


Ia menatapku dengan tatapan tegas, seperti seorang kakak yang mengajari, banyak hal untuk adek perempuannya yang kurang didikan.


“Tidak, aku tidak takut Kak Frans, justru aku pengen di cium sama Kakak, bagaimana rasanya di cium, kata Tari rasanya seperti makan permen nano-nano, tapi saat aku memakan permen itu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya ciuman,” kataku.


Mendengar itu frans menarik napas panjang, matanya menelitiku,


“Fai, lu itu  sudah dewasa bukan anak puber lagi, masa seperti itu sudah kamu lewati, bahkan lebih Fai,” bisik Frans pelan.


“Ngak    frans,  aku belum pernah, aku tidak pernah pacaran. Aku melakukannya saat itu baru pertama sama Kakak,” ucapku.


Tangan Frans membekap mulutku, ia melirik ke arah pintu.


“Sttt … Jangan kencang-kencang nanti mami mendengar, kamu tidak pernah bilang siapa-siapa kan? Ingat iya ini rahasia kita berdua”

__ADS_1


“Tapi aku ingin melakukanya lagi. Kak aku iklas”


“Fai … Hentikan, kamu akan melakukanya dengan orang yang kamu suka  dan mencintaimu nanti”


“Tapi aku menyukaimu Kak Frans. Aku hanya akan melakukannya dengan Kak Frans, tidak mau sama orang lain”


Frans terlihat putus asa mendengarku.


“Tapi aku tidak menyukaimu, Fai. Apa yang kita lakukan beberapa  tahun lalu,  satu kesalahan.” Menatapku dengan tatapan sendu.


“Tapi aku  sudah mencintai Kak Frans dari  sejak aku SMP”


“Perasaan tidak bisa dipaksakan Faila, kamu sudah seperti saudaraku sendiri, mami sama papi sangat menyayangimu, kami semua juga.”


“Tapi seorang kakak tidak akan merengut kesucian adik perempuannya kan. Kak?”


“Fai … Fai! Aku sudah bilang itu satu kesalahan, kita tidak seharusnya melakukan itu”


“Tapi mami mau kok aku jadi menantunya dia mendukung kakak”


“Aku yang tidak bisa Fai. Tolong mengertilah”Frans menatapku  tajam.


Frans mempunyai empat saudara dan semuanya berjenis kelamin laki-laki.


Papinya Frans memiliki beberapa Restauran mewah


Restaurant itu yang jadi ladang mata pencarian untuk  mereka .


“Tapi aku tidak mau di anggap saudara aku mau jadi istri kamu, aku akan jadi istri yang baik nantinya,  hanya mengurus rumah dan anak-anak dan mengurus kamu,” kataku dengan wajah bersemangat, aku akan  bersikap bodoh amat setiap kali ia menolakku, aku tidak akan mau menyerah pada Frans.


“Ah … otak gue  jadi sakit, sudah, sudah terserah lu. Keluarlah dari sini, gue mau tidur.” Lagi-lagi lelaki  berwajah  tampan aktor India itu mengusirku dari kamarnya.


“Tapi aku mau berciuman Frans, aku ingin merasakanya, ajarin aku sekali saja,” kataku   lagi.


“Kamu gila iya, Fai, kamu itu perempuan. Perempuan itu harus punya harga diri,”  kata Frans.


Aku mendekatinya lalu  duduk di pangkuanya melingkarkan tangan ini,  di lehernya.

__ADS_1


“Ajarin aku,” ucapku  menempelkan bibir ini dengan paksa.


“Fai.. kamu gila iya, kamu berat, kaki sudah mau patah.” Frans ingin berdiri  tapi aku menahan tubuhnya.


Melakukanya dengan paksa, jika biasanya lelaki yang meminta duluan, tetapi saat ini, aku yang  melumat paksa.


“Baik-baik, aku melakukannya,”ucapnya kemudian, aku melepas tanganku dari lehernya. “Awas kamu berdiri dulu, kamu berat.” Frans memintaku  berdiri.


Matanya menatap wajah ini dengan tatapan mata datar, ia terlihat melakukanya,  karena aku memaksanya.


Aku masih menunggu reaksi dari Frans, napasku tertahan menunggu reaksi Frans.


Tangannya meraih pinggangku dan memposisikan tubuh kami  saling berhadapan, mataku semakin membelalak dan membulat, bola ini memutar dan aku  tersenyum rianf tidak sabar menunggu sentuhan Frans. Lelaki yang aku kagumi  dari sejak dulu.


Lagi-lagi ia menarik napas panjang, sepertinya ia sangat berat hati melakukan hal itu.


Saat ini posisi kami berdiri saling berhadapan  dan ia sedikit mendorong tubuh ini ke dinding , awalanya aku kaget, tetapi posisi tubuhku sekarang lebih nyaman bersandar di tembok kamar Frans. Kamar bercat putih itu saksi saat Frans mengambil hal yang paling berharga dari hidupku. Itu jugalah yang membuatku tidak bisa melepaskan lelaki tampan itu begitu saja. Dulu saat aku memakai  seragam putih abu-abu  Frans merengut  mahkotaku, saat itu juga aku mengantungkan segala harapan dan cintaku pada Frans seorang, aku tidak tahu bagaimana indahnya pacaran bagaimana  manisnya sebuah ciuman.


Maka saat ini, aku menanginya pada Frans, lelaki yang paling aku cintai. Karena ia masuh menatapku dengan ragu, aku tidak  ingin menunggu lama. Lalu aku kembali bertindak duluan,  aku merangkulkan tangan ini lagi ke lehernya , aku yang duluan mendaratkan bibir ini,  menyentuh bibir Frans dada besarku menekan kuat otot dada Frans, ukuran dadaku memang besar dan montok karena tubuh memang berisi alias bahenol.


Aku merasakan bagian kenyal di dadaku terhimpit oleh tekanan dada frans , tubuh itu menekan tubuh ini ke tembok kamar. Akhirnya ia melayania apa yang aku minta.


Ia ******* bibir ini dengan lembut, melakukanya dengan  baik.


Tadinya aku  pikir Frans akan melalukanya dengan kasar karena aku memaksa. Namun, lelaki berkulit  coklat ini mempeelakukan diri ini dengan baik malam itu,  membuatku  bagai terbang ke angkasa paling indah terdampar di lautan kenikmatan. Anganku kembali melayang terbang sampai ke langit ke tujuh.


Aku merasakan aliran listrik mulai mengaliri tubuh ini menyinggapi tubuhku, keringat sudah membasahi tubuhku kami berdua. Di tengah aktifitas panas itu Frans bertanya.


“Fai, aku tidak ingin-”


Sebelum ia melanjutkan kalimatnya aku membekap mulutnya denan bibi  ini, ia tampak pasrah dengan sikapku, ia hanya diam saat aku melepaskan kaos polo yang ia pakai. Ia hanya diam menatapku  dengan pasrah. Hingga semua kain penghalang itu terlepas dan tubuh kami saling menyatu.


“Fai aku tidak ingin kamu menyesal,” ucap Frans menatapku dengan tatapan lelah.


“Tidak akan, Kak,” ucapku dengan napas memburu.


“Fai aku minta-”

__ADS_1


Lagi-lagi aku membungkam mulutnya dengan ciuman panasku, aku tidak ingin ia menyebut sepatah katapun. Aku tidak butuh kata-kata, aku hanya butu kehangatan dari tubuh Frans. Lelaki yang membuatku selalu merasa gila jika tidak melihatnya lelaki yanga sangat aku cintai. Aku tergila-gila padanya, bahkan rela melakukan apapun untuknya. Aku tersenyum manis padanya  dan berbaring di samping tubuh Frans yang bermandikan keringat.


Bersambung ..


__ADS_2