Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Masa kecil yang menyedihkan


__ADS_3

Setelah seseorang yang membawaku ke rumah sakit itu, meletakkan tubuh ini ranjang rumah sakit.


“Bisa buka  matamu, apa kamu  bisa mendengar suaraku?”  Dokter itu  mencoba  membangunkanku.


 Saat ini aku  berbaring di rumah  sakit,  aku  mengingat  semu  masa-


masa suram  yang  menyakitkankan ,  rasa  sakit  yang  aku  kusimpan    jauh dalam lubuk hati ini selama bertahun-tahun, menyebabkanku mengalami penyakit trauma.


Penyakitku mulai muncul saat kakek mengurung  dan meniggalkanku  di rumah  sampai  berhari – hari, kakek menyalahkanku  atas kematian ibuku,


Ibuku  anak semata  wayangnya  yang  dia  perjuangakan  seumur hidupnya  sejak  almarhum  nenek meninggal,  kakek berjuang sendiri untuk  membesarkan   ibu.


Kakek melampiaskan  kesedihannya  pada  gadis  kecil berusia 7  tahun  yang  tidak tahu apa – apa, ia  disalahkan  atas  kematian  ke dua  orang tuanya.


Kakekku  meninggalkanku  di  rumah berhari - hari di  ruangan  gelap dan ia pergi entah kemana.


Ketakutan dan mengigil itu yang aku rasakan saat itu, ia bilang  kalau  melihatku  akan melihat  wujud   ibuku, karena tidak tahan melihatku.


 Kakek memilih mengantarkanku kepantai asuhan, walau aku memohon  supaya  aku jangan diantar kesana, ia tetap membawaku ke sana.


Berjanji akan menjemputku  kembali,  selama di panti aku berbuat nakal,  berharap  kenakalan  yang  aku   lakukan,  kakekku  memberi perhatian  dan  membawaku pulang dari panti.


Tetapi yang aku dapatkan malah kebalikanya, setiap kali aku  berbuat nakal,  pemilik  pantai  asuhan marah dan menghukumku, dikurung  di  gudang  gelap,  aku  berteriak mereka  akan  menyiramku  dengan satu ember  air  dingin,  setiap  hari.


 Aku    selalu berharap kakek  datang menjemput, seminggu, sebulan bahkan tahun. Tetapi harapanku tidak pernah terwujud  kakek membuangku di pantai asuhan selamanya.


Hari  berganti,  mingu berganti,  anak  kecil yang  malang itu  masih berharap,  akhirnya tahun -tahun berganti, aku   membiasakan dirinya  tinggal  di panti asuhan,  perlakuan  kejam  dari pengurus  panti padaku aku terima, hingga akhrinya aku berhenti berharap pada kakek dan kakak laki-lakiku.


Walau  malam itu  aku  selalu  bertanya  pada Tuhan  apa  salahku,  kenapa  aku  dihukum  seperti ini  dan  bibir kecilku  memohon pada Tuhan  agar  menyuruh  kakekku menjemputku  dari  rumah   Panti yang  menyedihkan  itu


Tetapi  mungkin Tuhan  tidak  mendengar  doa  gadis  kecil  yang  malang  sepertiku  atau  Tuhan  lagi  sibuk , aku selalu  duduk  tiap malam memandang bintang kecil di langit,  memandang  bintang  dan berbicara  pada  benda berkilau itu dengan begitulah aku merasa sangat tenang.


Karena  ibu  ayahku, aku pikir  di  surga  dan  dekat  dengan bintang , aku memohon pada  bintang  agar  menjemputku.


Hingga aku ber umur  10  tahun,  aku memilih  kabur dari panti asuhan  dan jadi  anak  jalanan  dan makan  dari tempat sampah  dan kadang  berebut  dengan  kucing  jalanan. Berebutkan  nasi basih bekas makan orang yang tidak layak lagi untuk  di  makan,  demi  mengisi  perut agar bisa berhan hidup.


 Saat menjadi anak jalanan,  kami  dipimpin  beberapa  preman memaksa  kami  mengamen dan jika tidak mendapat uang ,  akan  dipukuli  dan dikunci  di bedeng  di tempat yang  gelap  dan penuhi  sampah  dan tikus .


Dua tahun hidup  di jalanan  mengamen di pukulin  itulah kisah hidup yang aku alami.


 Hidup  di jalanan  membuatku, sempat melontarkan kata-kata buruk,  mengutuk ibu dan  ayahku  yang  membawaku  ke dunia ini, tetapi menelantarkanku sendirian.


Saat berusia 12  tahun,  aku dan teman-teman  rajia  sappop PP di bawa ke diinas  sosial, dibina,   tadinya aku akan  di pulangkan  tapi  aku  tidak  mengakui  ada keluarga  karena tidak ada keluarga, aku  beri  pekerjaan, mencuci piring di  salah  satu  restoran  di  Jakarta


Satu  tahun kemudian kakek datang  membawa ku kembali kerumah  yang  menakutkan itu.


                    **


Flas on.


Saat ini, aku masih berbaring di ranjang rumah sakit.


Mataku  masih  terpenjam  dengan  air  mata masih  mengalir  seperti sungai  kecil, membasahi  pelupuk  mata ini,  aku pernah berjanji pada diriku, kalau aku tidak akan menemui kakekku dan kakak, berjanji  pada  diriku  tepat  setelah  kakek  membuangku  di  Panti asuhan.  Kakek  lebih  memilih  cucu  laki - lakinya  dari  pada  aku,

__ADS_1


Kakek membuangku  seperti barang  bekas, aku  sudah berjanji  tidak menangis dan menyimpan  semua  kenangan buruk itu dan berjanji tidak akan memaafkan  mereka  berdua  yang  telah membuangku.


Setiap kali aku bersedih dan menangis,  aku akan mengalami kejang – kejang. Kali inipun terjadi, aku  kembali  mengalami kejang dan mulutku berbusa.


Samar-samar aku mendengar seseorang  berteriak  histeris  memanggil  dokter, ia  menekan  tombol darurat   tidak lama kemudian


segerombolan  dokter   berlari  menghampiriku, memberi  tegangan kuat di dada ini, mataku sedikit terbuka menatap kearah dinding kaca,  mereka  berdiri memandangiku.


Dalam  aksi  kejang - kejangku  pandanganku  hanya  tertuju  pada


kakekku  dengan  seorang  laki -laki tinggi  rupawan  itulah  kakak laki-lakiku.


Orang yang tega  menelantarkanku  bersama  kakek,  dari sekian sebanyak orang yang  berdiri memandangiku dengan rasa  iba.


Mataku  hanya  terpokus  pada  kakek  dan kakakku, mulutku berbusa  dan tubuhku menegang,  tetapi  mataku  masih terpokus  pada  mereka berdua, ia ikut menangis  memeluk  kakek.   Pandangan  mataku  makin mengecil  dan akhirnya tertutup. Saat meliha kakek dan kak Henro, aku berharap aku tidur selamanya, agar tidak melihat kedua lelaki itu lagi.


\*\*


Setelah beberapa lama, menutup mata, dalam bayanganku, aku sudah mati dan sebentar lagi akan bertemu dengan ibuku. Pikiranku tergangu dengan bau wangi bunga, bunga yang sering aku petik bersama ibu waktu aku masih kecil


  ‘Apa  aku  sudah  mati,  apa  masih  hidup?’


Tidak tahu berapa lama aku tertidur, aku  kembali sadar saat ada bau  harum bunga.


Mencoba membuka mata, aku melihat di sekeliling mencoba mencari tahu dimana keberadaan tubuh ini.


“Apa  aku  sudah  di  Surga?” gumamku pelan.


 Muncul  seorang  wanita  bepakaian  putih tersenyum  manis .


 Tiba-tiba datang lagi lelaki berparas tampan alisnya tebal berbaris rapi hidungnya mancung dan rahangnya tegas jangan lupakan badannya atletis dan ber otot tidak ada kata lain selain tampan.


‘Apakah  dia  juga  malaikat yang tampan?


Tapi tunggu …  bukankah ini Frans, apa dia juga mati? dan mengikuti ke surga?’


 “Selamat  pagi  tuan putri,” sapa   Frans  kemudian di ikuti  mami  dan kakek.


Mataku mergerjap-erjap mengawasi kesekeliling, ternyata aku masih hidup   aku belum  mati,   aku  masih diam mengamati sekeliling, ternyata aku masih di kamar rumah sakit  wangi   dari  vas yang  di  letakkan  di samping  tempat tidur dan  peralatan  yang kemarin,  tidak  menempel lagi  pada  tubuh ini,  hanya  selang  infuse menempel  di  lenganku.


Aku  tidak merasakan rasa  sakit di tubuh ini lagi, seperti yang  aku rasakan saat dia membawaku ke rumah sakit.


“Kamu  sudah  bangun sayang, kamu pingsan sangat lama”  Mami  Frans  mencium keningku.


Mataku   masih  mengamati  sekelilingku  mencari seseorang yang sagat aku benci kakak laki-lakiku.


“Dia   masih  ada  urusan Fai,” ucap  kakek   seola-olah dia  tahu  dan bisa membaca  pikiranku.


‘Jadi   ini bukan   di dalam  mimpi?  lelaki itu  memang  datang  melihatku , kakakku yang aku benci dan tidak ingin aku lihat, ternyata benar datang bukan  dalam mimipi?’


Aku  ingin duduk  membuat  mereka  bersuara  serentak.


“Fai,  jangan  duduk  dulu   istirahat  saja”

__ADS_1


Aku  dengan  spontan  menarik  infuse. “Aku  sudah  baik-  baik  saja  mari  pulang”


“Fai!”  Mami  menjerit melihat  darah  menguncur  dari  lengan.


Frans  Mumemelukku  ia  mencoba  memenangkanku    dan  menahanku. Tetapi aku tidak merasakan apa-apa lagi dari pelukan yang di berikan Frans.


“Aku  sudah  tidak  apa-  apa. Aku ingin pulang”


“Sayang’  kamu  masih lemah  istrahatlah  dulu,”  bujuk  mami lembut.


“Mi,  aku tidak lama-lama di sini,   aku  bisa  mati  karena  sesak. Aku phobia  rumah  sakit ,  aku  bisa  kejang - kejang  lagi  nanti.   Jadi  tolong  keluarkan  aku  dari  sini “


Atas persetujuan dokter, aku bisa pulang ke rumah. Keluarga Frans dan Frans mendadak jadi pendiam, selama perjalan pulang, suasana dalam mobil jadi hening.


“Fai …. Maafkan Mami, iya. Kami tidak tahu kalau kamu mengalami penyakit seperti itu,” ucap mami Frans wajahnya merasa bersalah.


“Tidak apa-apa Mi, aku juga tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya”


“Tapi harusnya kamu jujur sama mami agar kita bisa membawa kamu  ke dokter,” ujar wanita cantik itu menatapku dengan iba.


Aku hanya mengeleng menyandarkan kepala ini di jok mobil memilih tidur.


                                        *


Setelah hampir empa puluh menit, mobil Frans berhenti di depan rumah.


“Aku  akan  istirahat  di  kamar saja Mi,” ucapku saat kami semua tiba di rumah Frans.


“Tapi,  kita  harus memeriksa  kamu  dulu, Fai,” Dino, memperingatkaku


“Ga usah  Kak, aku sudah tidak apa-apa”


 Berjalan menuju kamar yang biasa aku tinggalin.


“Tapi  Fai …. Aku ingin memberimu  suntikan!” Teriak  Dion  wajahnya cemas.


Aku  tahu  mereka masih  bigung  seseorang  yang  hampir  mati  kemarin  bertingkah seakan -akan semua baik-  baik saja,


Kajadian malam itu,  ketakutanku kambuh karena rumah Frans sepi dan lampu di depan di padamkan, itu menyebabkanku  hampi mati. Ternyata Frans datang dan melihatku sekarat dan melarikan ke rumah  sakit, sedikit saja  terlambat dokter mengatakan aku tidak akan selamat.


penyakit yang aku sembunyikan dari keluarga  Frans selama bertahun-tahun, pada akhirnya ketahuan juga.


 Tapi  setelah  kejadian itu,  tubuh  ini  merasa  ada  yang  baru,  setengah beban terasa  hilang, mungkin karena  aku  menuntaskan  dengan tangisan yang biasanya aku  pendam  selama ini,  aku  berharap  ada  yang  berubah dengan hidupku mulai saat ini.


Aku berharap ingin meneruskan kuliah, ngin mendapatkan masa depan yang lebih baik, lupakan tentang Frans, kakek dan kakak.


Bersambung …


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)


__ADS_2