
Setelah seseorang yang membawaku ke rumah sakit itu, meletakkan tubuh ini ranjang rumah sakit.
“Bisa buka matamu, apa kamu bisa mendengar suaraku?” Dokter itu mencoba membangunkanku.
Saat ini aku berbaring di rumah sakit, aku mengingat semu masa-
masa suram yang menyakitkankan , rasa sakit yang aku kusimpan jauh dalam lubuk hati ini selama bertahun-tahun, menyebabkanku mengalami penyakit trauma.
Penyakitku mulai muncul saat kakek mengurung dan meniggalkanku di rumah sampai berhari – hari, kakek menyalahkanku atas kematian ibuku,
Ibuku anak semata wayangnya yang dia perjuangakan seumur hidupnya sejak almarhum nenek meninggal, kakek berjuang sendiri untuk membesarkan ibu.
Kakek melampiaskan kesedihannya pada gadis kecil berusia 7 tahun yang tidak tahu apa – apa, ia disalahkan atas kematian ke dua orang tuanya.
Kakekku meninggalkanku di rumah berhari - hari di ruangan gelap dan ia pergi entah kemana.
Ketakutan dan mengigil itu yang aku rasakan saat itu, ia bilang kalau melihatku akan melihat wujud ibuku, karena tidak tahan melihatku.
Kakek memilih mengantarkanku kepantai asuhan, walau aku memohon supaya aku jangan diantar kesana, ia tetap membawaku ke sana.
Berjanji akan menjemputku kembali, selama di panti aku berbuat nakal, berharap kenakalan yang aku lakukan, kakekku memberi perhatian dan membawaku pulang dari panti.
Tetapi yang aku dapatkan malah kebalikanya, setiap kali aku berbuat nakal, pemilik pantai asuhan marah dan menghukumku, dikurung di gudang gelap, aku berteriak mereka akan menyiramku dengan satu ember air dingin, setiap hari.
Aku selalu berharap kakek datang menjemput, seminggu, sebulan bahkan tahun. Tetapi harapanku tidak pernah terwujud kakek membuangku di pantai asuhan selamanya.
Hari berganti, mingu berganti, anak kecil yang malang itu masih berharap, akhirnya tahun -tahun berganti, aku membiasakan dirinya tinggal di panti asuhan, perlakuan kejam dari pengurus panti padaku aku terima, hingga akhrinya aku berhenti berharap pada kakek dan kakak laki-lakiku.
Walau malam itu aku selalu bertanya pada Tuhan apa salahku, kenapa aku dihukum seperti ini dan bibir kecilku memohon pada Tuhan agar menyuruh kakekku menjemputku dari rumah Panti yang menyedihkan itu
Tetapi mungkin Tuhan tidak mendengar doa gadis kecil yang malang sepertiku atau Tuhan lagi sibuk , aku selalu duduk tiap malam memandang bintang kecil di langit, memandang bintang dan berbicara pada benda berkilau itu dengan begitulah aku merasa sangat tenang.
Karena ibu ayahku, aku pikir di surga dan dekat dengan bintang , aku memohon pada bintang agar menjemputku.
Hingga aku ber umur 10 tahun, aku memilih kabur dari panti asuhan dan jadi anak jalanan dan makan dari tempat sampah dan kadang berebut dengan kucing jalanan. Berebutkan nasi basih bekas makan orang yang tidak layak lagi untuk di makan, demi mengisi perut agar bisa berhan hidup.
Saat menjadi anak jalanan, kami dipimpin beberapa preman memaksa kami mengamen dan jika tidak mendapat uang , akan dipukuli dan dikunci di bedeng di tempat yang gelap dan penuhi sampah dan tikus .
Dua tahun hidup di jalanan mengamen di pukulin itulah kisah hidup yang aku alami.
Hidup di jalanan membuatku, sempat melontarkan kata-kata buruk, mengutuk ibu dan ayahku yang membawaku ke dunia ini, tetapi menelantarkanku sendirian.
Saat berusia 12 tahun, aku dan teman-teman rajia sappop PP di bawa ke diinas sosial, dibina, tadinya aku akan di pulangkan tapi aku tidak mengakui ada keluarga karena tidak ada keluarga, aku beri pekerjaan, mencuci piring di salah satu restoran di Jakarta
Satu tahun kemudian kakek datang membawa ku kembali kerumah yang menakutkan itu.
**
Flas on.
Saat ini, aku masih berbaring di ranjang rumah sakit.
Mataku masih terpenjam dengan air mata masih mengalir seperti sungai kecil, membasahi pelupuk mata ini, aku pernah berjanji pada diriku, kalau aku tidak akan menemui kakekku dan kakak, berjanji pada diriku tepat setelah kakek membuangku di Panti asuhan. Kakek lebih memilih cucu laki - lakinya dari pada aku,
__ADS_1
Kakek membuangku seperti barang bekas, aku sudah berjanji tidak menangis dan menyimpan semua kenangan buruk itu dan berjanji tidak akan memaafkan mereka berdua yang telah membuangku.
Setiap kali aku bersedih dan menangis, aku akan mengalami kejang – kejang. Kali inipun terjadi, aku kembali mengalami kejang dan mulutku berbusa.
Samar-samar aku mendengar seseorang berteriak histeris memanggil dokter, ia menekan tombol darurat tidak lama kemudian
segerombolan dokter berlari menghampiriku, memberi tegangan kuat di dada ini, mataku sedikit terbuka menatap kearah dinding kaca, mereka berdiri memandangiku.
Dalam aksi kejang - kejangku pandanganku hanya tertuju pada
kakekku dengan seorang laki -laki tinggi rupawan itulah kakak laki-lakiku.
Orang yang tega menelantarkanku bersama kakek, dari sekian sebanyak orang yang berdiri memandangiku dengan rasa iba.
Mataku hanya terpokus pada kakek dan kakakku, mulutku berbusa dan tubuhku menegang, tetapi mataku masih terpokus pada mereka berdua, ia ikut menangis memeluk kakek. Pandangan mataku makin mengecil dan akhirnya tertutup. Saat meliha kakek dan kak Henro, aku berharap aku tidur selamanya, agar tidak melihat kedua lelaki itu lagi.
\*\*
Setelah beberapa lama, menutup mata, dalam bayanganku, aku sudah mati dan sebentar lagi akan bertemu dengan ibuku. Pikiranku tergangu dengan bau wangi bunga, bunga yang sering aku petik bersama ibu waktu aku masih kecil
‘Apa aku sudah mati, apa masih hidup?’
Tidak tahu berapa lama aku tertidur, aku kembali sadar saat ada bau harum bunga.
Mencoba membuka mata, aku melihat di sekeliling mencoba mencari tahu dimana keberadaan tubuh ini.
“Apa aku sudah di Surga?” gumamku pelan.
Muncul seorang wanita bepakaian putih tersenyum manis .
Tiba-tiba datang lagi lelaki berparas tampan alisnya tebal berbaris rapi hidungnya mancung dan rahangnya tegas jangan lupakan badannya atletis dan ber otot tidak ada kata lain selain tampan.
‘Apakah dia juga malaikat yang tampan?
Tapi tunggu … bukankah ini Frans, apa dia juga mati? dan mengikuti ke surga?’
“Selamat pagi tuan putri,” sapa Frans kemudian di ikuti mami dan kakek.
Mataku mergerjap-erjap mengawasi kesekeliling, ternyata aku masih hidup aku belum mati, aku masih diam mengamati sekeliling, ternyata aku masih di kamar rumah sakit wangi dari vas yang di letakkan di samping tempat tidur dan peralatan yang kemarin, tidak menempel lagi pada tubuh ini, hanya selang infuse menempel di lenganku.
Aku tidak merasakan rasa sakit di tubuh ini lagi, seperti yang aku rasakan saat dia membawaku ke rumah sakit.
“Kamu sudah bangun sayang, kamu pingsan sangat lama” Mami Frans mencium keningku.
Mataku masih mengamati sekelilingku mencari seseorang yang sagat aku benci kakak laki-lakiku.
“Dia masih ada urusan Fai,” ucap kakek seola-olah dia tahu dan bisa membaca pikiranku.
‘Jadi ini bukan di dalam mimpi? lelaki itu memang datang melihatku , kakakku yang aku benci dan tidak ingin aku lihat, ternyata benar datang bukan dalam mimipi?’
Aku ingin duduk membuat mereka bersuara serentak.
“Fai, jangan duduk dulu istirahat saja”
__ADS_1
Aku dengan spontan menarik infuse. “Aku sudah baik- baik saja mari pulang”
“Fai!” Mami menjerit melihat darah menguncur dari lengan.
Frans Mumemelukku ia mencoba memenangkanku dan menahanku. Tetapi aku tidak merasakan apa-apa lagi dari pelukan yang di berikan Frans.
“Aku sudah tidak apa- apa. Aku ingin pulang”
“Sayang’ kamu masih lemah istrahatlah dulu,” bujuk mami lembut.
“Mi, aku tidak lama-lama di sini, aku bisa mati karena sesak. Aku phobia rumah sakit , aku bisa kejang - kejang lagi nanti. Jadi tolong keluarkan aku dari sini “
Atas persetujuan dokter, aku bisa pulang ke rumah. Keluarga Frans dan Frans mendadak jadi pendiam, selama perjalan pulang, suasana dalam mobil jadi hening.
“Fai …. Maafkan Mami, iya. Kami tidak tahu kalau kamu mengalami penyakit seperti itu,” ucap mami Frans wajahnya merasa bersalah.
“Tidak apa-apa Mi, aku juga tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya”
“Tapi harusnya kamu jujur sama mami agar kita bisa membawa kamu ke dokter,” ujar wanita cantik itu menatapku dengan iba.
Aku hanya mengeleng menyandarkan kepala ini di jok mobil memilih tidur.
*
Setelah hampir empa puluh menit, mobil Frans berhenti di depan rumah.
“Aku akan istirahat di kamar saja Mi,” ucapku saat kami semua tiba di rumah Frans.
“Tapi, kita harus memeriksa kamu dulu, Fai,” Dino, memperingatkaku
“Ga usah Kak, aku sudah tidak apa-apa”
Berjalan menuju kamar yang biasa aku tinggalin.
“Tapi Fai …. Aku ingin memberimu suntikan!” Teriak Dion wajahnya cemas.
Aku tahu mereka masih bigung seseorang yang hampir mati kemarin bertingkah seakan -akan semua baik- baik saja,
Kajadian malam itu, ketakutanku kambuh karena rumah Frans sepi dan lampu di depan di padamkan, itu menyebabkanku hampi mati. Ternyata Frans datang dan melihatku sekarat dan melarikan ke rumah sakit, sedikit saja terlambat dokter mengatakan aku tidak akan selamat.
penyakit yang aku sembunyikan dari keluarga Frans selama bertahun-tahun, pada akhirnya ketahuan juga.
Tapi setelah kejadian itu, tubuh ini merasa ada yang baru, setengah beban terasa hilang, mungkin karena aku menuntaskan dengan tangisan yang biasanya aku pendam selama ini, aku berharap ada yang berubah dengan hidupku mulai saat ini.
Aku berharap ingin meneruskan kuliah, ngin mendapatkan masa depan yang lebih baik, lupakan tentang Frans, kakek dan kakak.
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)