
“Mommy hanya pergi sementara sayang, nanti Bunda pulang dari rumah sakit,”
“Momy jangan pergi lagi tetaplah bersama kami,” ucap Arden menatapku dengan tangisan.
“Baiklah Mommy tidak akan pergi, jangan menangis lagi Mommy tidak tahan melihat air mata itu”
Niat ingin pergi besok aku tunda, melihat bocah kembar itu menangis karena aku ingin pergi membuatku mengurungkan niatku ingin pergi maksudnya menunda dulu, aku pikir mereka bersedih karena tidak ada Tari di rumah, mungkin kalau Tari dan kakak sudah pulang kerumah bocah itu juga akan lupa pada Mommy mereka sendiri, itu wajar karen perhatian Tari dan kakak untuk mereka berdua sangat besar.
Hari ini Tari akan pulang kerumah, kalau ia melihatku ia akan mengamuk lagi, lebih baik keluar dari rumah dari pada ia marah-marah lagi nanti, saat kedua bocah kembar itu tidur siang itu kesempatanku keluar dari rumah, tidur di Hotel beberapa hari ini sebelum terbang menjelajahi dunia.
Melihat mereka tertidur pulas seperti itu, hatiku terasa sakit, kenapa kami tidak bisa hidup layaknya sebuah keluarga yang utuh Ayah Ibu dan Anak-anak kami.
“Tolong jaga mereka iya mbak, saya ada tugas di luar Kota, sebentar lagi bapak dan Bu Tari pulang dari rumah sakit.”
“Iya bu” kedua wanita mudah itu mengangguk serentak.
Menarik koper besar Haris membantuku memasukkannya ke bagasi mobil membawa ke Hotel, tiba di kamar Hotel rasa sunyi dan rasa sepi itu semakin menjadi, untungnya aku sudah sembuh dari trauma itu kalau tidak, bisa-bisa aku mengelepar dengan mulut berbusa saat ini.
Benar kata orang cinta membuatmu bersemangat dan cinta kadang membuatmu kuat, karena beberapa alasan, tapi saat aku kehilangan cinta rasanya kosong dan hampa sangat terasa.
Sore telah tiba aku tidak melakukan apa-apa satu hari ini hanya nonton tidur bermalas-malasan , aku ingin berjalan -jalan dan menyetir sendiri mungkin menikmati sendiri kemacetan Ibu kota Jakarta barang kali bisa mengisi kesunyian di hati.
Menyetir sendiri tanpa tujuan, untungnya tidak terlalu macet, jalanan lancar hingga aku berakhir di salah satu café di Jakarta Selatan, masih ingat itu dulu tempat kami sering nongkrong dengan Frans Tari juga beberapa kali aku ajak nongkrong di sana café ala jaman Belanda itu paling cocok tempat nongkrong berlama-lama, terletak di pinggir jalan dan pemandangannya menarik dan unik. Kopi robusta andalannya Café, aku pesan satu gelas untuk menemaniku nongkrong untuk mengenang masa lalu, tapi saat menunggu, tiba tiba seseorang duduk di sampingku.
“Frans kok kamu bisa tahu aku ada disini?” menatapnya dengan bingung,
“Kamu lupa Fai, kantorku di lantai atas, justru aku yang harus bertanya kenapa kamu bisa sampai terdampar ke sini?”
__ADS_1
“Terdampar? emang ikan Hiu terdampar,” aku mendumal kesal,
Frans tertawa renyah melihatku mengoceh dan bibir naik tiga centi meter.
“Entah mimpi apa aku tadi malam, tadinya aku ingin pulang lebih cepat dari kantor, tapi tiba-tiba ada sesuatu dalam hatiku seakan menyuruhku pulang agak malam agar bisa melihatmu kali disini,” ucap Frans menatap dengan serius benar atau tidaknya hanya Frans yang tahu, tapi aku bisa melihat ketulusan di matanya.
“Aku hanya asal jalan , tapi tiba ke daerah ini, aku dulu ingat kita sering mampir kesini maka itu aku juga mampir”
“Hmm, kita dulu sering kesini aku pikir kamu sudah melupakannya Fai, padahal aku karena sering lewat dari sini, aku merasa sudah biasa,” ucap Frans memesan kopi yang sama dengan aku pesan.
Duduk di sini berdua dengan Frans mengingatkanku tentang masa lalu itu, seorang gadis dengan rambut di gulung sanggul selalu datang membawa rantang bersusun membawa makanan yang aku masak sendiri untuk Frans, mengingat hal itu tiba-tiba aku sangat membenci diriku yang dulu, kenapa aku dulu bersikap murahan dan memalukan seperti itu.
“Mikiran apa?”
“Mengingatkan aku tentang diriku yang dulu memalukan dan murahan,” kataku menatap kosong kearah jalanan. Aku tahu Frans tidak suka aku membahas masa lalu, ia mengalihkan pembicaraan.
“Apa kamu jadi pergi?”
“Iya”
“Besok Frans”
“Ha? Secepat itu, bukankah kamu bilang beberapa minggu lagi,” tanya Frans matanya menatapku dengan tatapan tidak percaya.
“Aku merasa hampa Frans, aku merasa tidak punya semangat hidup, aku merasa ada bagian hatiku yang hilang , dan aku tidak tahu apa itu, aku ingin suasana baru, aku ingin membuang segala beban dalam hidupku, aku harus melakukanya sebelum aku gila”
Frans menatapku dengan tatapan dalam, ada sesuatu yang ia ucapkan padaku, tapi ia berat mengungkapkannya, aku juga tidak ingin memaksanya untuk bicara, karena aku saat ini bukanlah apa-apanya, kami saling berdiam diri untuk beberapa saat, tanganku sibuk mengintari gelas kopi yang aku pegang.
__ADS_1
“Fai, apa aku boleh ikut?” tanya Frans menatapku dengan tatapan sendu.
“Ta-ta-tapi apa kamu mau Frans?”tanyaku tiba-tiba merasa gagap karena aku ingi Frans sebenarnya ikut tapi aku malu mengajaknya,
“Tentu”
“Ayo…”ajakkku dengan senang hati, pergi bersama Frans mungkin akan sangat berbeda dengan pergi sendirian.
“Kamu yakin aku boleh ikut?” tanya Frans bertanya lagi padaku.
“Iya”
**
Hubunganku dengan Frans hanya sebatas hanya mantan suami istri, tapi kami berdua memutuskan berpetualang berdua entah apa jadinya nanti aku tidak tahu,
Ajakanku malam itu ternyata di tanggapi serius sama Frans, setelah mengurus semuanya paspor miliknya, kami memulai perjalanan kami dari Singapura menaiki kapal Pesiar ingin berkeliling dunia, salah satu keinginanku dari dulu. Menaiki kapal Pesiar Hitman dari singapura akan berlayar ke Korea Selatan.
“Kamu siap berpetualang?” tanya Frans menatap dengan senyuman manis.
“Siap,” kataku ada rasa tidak enak juga antara dua rasa dalam hati antara Frans dan kak Hendra,
Kakak Hendra tidak memperbolehkanku bersama Frans lagi walau hatiku, jujur masih sangat mencintainya, tapi kakakku sudah seperti orang tua dan penyelamatku untukku memilih dan pergi Frans seperti saat ini, sama saja aku membohongi kakakku, tapi ini tentang hati.
Kini kami berdua sudah berada di atas kapal pesiar mewah itu bersiap mengarungi lautan luas menyusuri setiap Negara, Frans terlihat senang tidak ada beban dalam wajahnya berbeda denganku yang serba salah, saat di Jakarta ingin pergi, tapi saat berada di atas kapal saat ini terlihat memikul banyak beban.
“Ayolah jangan banyak berpikir seperti itu, nikmati apa yang sudah kamu pilih”
__ADS_1
“Tapi bagaimana kalau kak Hendra tahu kalau aku perginya dengan kamu?”
“Jangan pikirkan, tidak akan tahu sudah nikmati, Ayo,’ ucap Frans menggenggam telapak tanganku membawaku ke lantai paling atas kapal, menikmati setiap pemandangan yang terlihat dari atas kapal, rasanya sulit di ungkapkan, rasanya mungkin tidak akan sama kalau aku pergi sendiri.