Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Lupa ingatan


__ADS_3

WajahTari mendadak panik, bagaimana tidak, sahabtnya yang selalu bersamanya, tiba- tiba tidak bisa mengingatnya lagi,


Sepulu Menit kemudian ada beberapa Dokter datang memeriksaku, setelah mereka tau aku tidak bisa melihat,


  “Bagaimana Dokter?”  Mami juga menutup mulutnya dengan tangannya ia hampir menangis.


Beberapa dokter bergantian memeriksaku karena mereka semua berbeda beda jurusan dan penyakitku juga komplikasi.


     “Sepertinya ia lupa ingatan sementara, karena benturan keras yang mengenai kepalanya”  Penjelasan salah satu Dokter itu menjadikan ruangan itu tiba -tiba hening, bermain dengan pikiran masing- masing.


“Maaf bukan hanya itu, sepertinya Ia kehilangan Pita suaranya juga”  Dokter yang terlihat masih muda itu, memberi pandangannya dari hasil pemeriksaan yang ia lakukan.


Tubuh mami langsung berreaksi, Ia terisak memandangku masih dengan tatapan sedih.  Menjadi bisu dan lupa ingatan, sangat menyedihkan rasanya, Frans melihat dengan tatapan susah di jamarkan dengan kata kata,


Ia duduk si pojok ruangan dengan kepelan tangan di remas, dengan tatapan mata kosong,


“Iya ampun Fai, Apa yang harus kita lakukan sayang”  Mami Frans memeluk tubuhku, Tari ikut menangis juga,


l


Rombongan Dokter meninggalkan kami yang masih diselimuti rasa sedih, Frans mengepal tangannya , matanya berkaca


Aku tercatat sebagai Pasien lupa ingatan dan bisu, mami dengan setia menemaniku, baik papi dan ketiga anak anaknya, mereka bergantian menjagaku,


Masih dalam ruangan ditempat aku dirawat,papi dan kakek terlihat percakapan serius, mereka lagi membahas bagaimana nasibku selanjutnya,


Tak beberapa lama bang Niko dan  calon istrinya Farida datang dengan wajah cemas,


  "Fai kamu tidak ingat kami ?" bang Niko menjelaskan betapa dekatnya kami dulu bagai adik dan kakak,tapi sepertinya sia-sia,  Aku hanya mendengar dan mencoba mengingat. dan akhirnya aku pura-pura menggeleng,


  Untung ruangan yang kugunakan kelas VIP  ruangan yang luas yang mampu menampung mereka yang datang bergantian menjengukku dan tidak  mengganggu kamar lainnya,


Hendro dan kakek memutuskan akan membawaku, keluar Negeri untuk mendapat perawatan yang terbaik disana, mereka berpikir mendapat perawatan di Negeri orang dapat menyembuhkan hidupku, tapi nyata mereka berdualah  biang penyakit yang aku alami.


Aku tidak setuju walau aku tidak bisa berbuat apa- apa,

__ADS_1


  Frans sepertinya mengerti perasaanku, ia menolak  kalau aku akan dibawa  ke luar Negeri, baik bang Niko  dan Tari juga mereka semua tidak menyetujuinya.


Tari tidak rela kalau aku jauh darinya,


"Ia akan ketakutan kalau Faila mendapatkan dirinya di tempat yang asing yang belum ia datangi,”  kata Tari


Niko dan Frans kompak menolakku di bawa, karena mereka berdualah yang paling tau tentang  keadaanku,


"Tapi ia butuh penanganan  yang Bagus agar bisa normal lagi”


Hendro kakakku mencoba meyakinkan mereka berdua, ia berpikir kalau ia kakakku dan lebih berhak atas adeknya, dan Frans berpikir kalau semua penderitaan yang di aku alami karena kelakuannya dan kakek,


Maka saling adu pendapat pun terjadi,Frans tidak ingin aku dibawa kemana pun


  “Siapa yang akan mengurusnya kalau bukan kami kelurganya”  Hendro tidak mau kalah.


“Terkadang kelurga, belum tentu bisa membuat kesembuhan dan kadang keluarga itu justru yang membuat dia sakit dan berakhir di sini” kata Frans menatap tajam ke Hendro


Hendro terdiam karena dia tertuduh,


Ia berpikir umurnya jauh lebih tua tapi kenapa belakangan ini sikap Frans begitu tidak menghormatinya.


“Saya seorang dokter” Hendro menatap tajam pada Frans.


  “Saya tahu” Jawab Frans percaya diri.  “Dokter juga bisa jadi pembunuh karakter seseorang” kata Frans  bersikap acuh.


“Ada apa denganmu, kenapa kamu begitu membenciku ? Kalau ada masalah kamu bisa bilang dan bicara padaku jangan berbelit-belit seperti ini. Itulah cara laki- laki menyelesaikan masalah” kata  Hendro pada Frans,


“Laki- laki akan jadi seorang pelindung bagi wanita, bukan jadi penghianat”


Suana semakin panas di dalam ruangan mendengar mereka berdua saling bersahutan kata dan anehnya mami dan papi dan kakek,  hanyan jadi penonton, tidak ada yang mencoba melerai mereka,


Mami tau Frans bukan tipe orang yang mencampuri urusan lain kalau memang sudah tepat, tapi jika ada hal yang dia anggap sudah salah, maka ia  tidak segan- segan ber-argumen, maka kedua orang tuanya hanya akan menunggu jawaban dari pertanyaan mereka,


“Apa maksud kamu? Kamu tau apa tentang hidupku” kata Hendro emosi.

__ADS_1


“Justru aku tau, makanya aku bicara. dulu aku bertanya-tanya, kenapa Faila tidak mau bertemu dengan kakaknya sendiri dan setiap aku bertanya Abang tidak mau berterus-terang. Waktu dia terluka kemarim aku mengerti, kenapa ia membenci kamu dan kakek, aku mendapatkan jawabannya dari pertanyaanku.”


Frans melihat ke aku, Tari dan Nikolas, suasana makin panas kakekku  yang tadiny duduk beliau berdiri,


“Apa maksudnya?” Hendro gugup


"Apa aku perlu menjabarkan semuanya,kenapa ia seperti saat ini bukan karena ulah kamu dan kakek? ia jadi penakut, bukankah karna kakek mengurungnya di kamar gelap, dan meninggalkannya? bukan hanya itu kalian juga meninggalkan di Panti asuhan.


Kenapa kalian seperti peduli padanya padahal kalian membencinya dan selalu menyalahkannya?”


“ Apa dia yang mengatakannya?” Wajah Hendro menjadi mendung dan mendadak melempam bagai kerupuk yang masuk angin, diikuti dengan tatapan Kakeknya yang merasa sangat menyesal,  memandang ke arahku yang  masih terbaring lemah,


“Dia tidak mengatakan apa- apa. Justru ia tidak mau berterus terang makanya ia menderita sendirian selama ini dan bodohnya, aku juga tidak mengetahuinya.  Ia mengalami trauma masa kecil dan bukan hanya satu ketakutan. Faila mengalami banyak ketakutan,” kata Frans ia menundukkan kepalanya


Niko ikut berdiri dan menjelaskannya pada saudara laki lakiku dan kakek .


“Hidupnya yang dijalaninya sangat berat, harusnya pada situasi seperti ini dukungan keluargalah yang dibutuhkan tapi sayang, sifatnya yang menutupi masalahnya, menjadikan hidupnya memikul beban berat sendirian,


Bukanya saya sok tau ,untuk masalah ini tapi pengalaman yang memberitahukanku,


Adek perempuanku mengalami penyakit yang dialami Faila, dan kami terlambat mengetahuinya dan kami kehilangan dia,


Aku mengerti apa yang terjadi pada Faila. Karena aku sudah menganggapnya sebagai seorang adek perempuan bagiku,” Nikolas menatap Mami yang selama ini tidak menyukai nya karena kedekatannya  denganku, wajah Nikolas sedih mungkin karena mengingatkannya pada adek perempunya,


" Yang terjadi bukan seperti yang kalian pikirkan” Hendro masih membela diri,


"Apa yang terjadi pada  Faila  melebihi dari  yang anda bayangkan,”  balas Niko membalas Hendro kakakku,


“Jadi menurut pendapatku, membawa Faila jauh dari sini bukan ide yang baik”


"Kami kelurganya dan berhak memutuskan kemana adek kami untuk dibawa, Hendro begitu keras kepala dan Kekek beliau kali ini,  duduk diam, tidak banyak bicara wajah tuanya ada banyak hal yang  tidak bisa di utarakan lewat kata kata,


Kakek memandangiku dengan tatapan rasa penyesalan, bang Nikolas memperlihatkan Vidio dimana aku begitu tersiksa  melawan penyakit traumaku.


    “Aku yang akan menjaganya, aku akan menikahinya dan bertanggung jawab untuknya” Frans membuat semuanya diam, “Jadi kalian tidak perlu memikirkannya biar dia jadi tanggung jawabku”

__ADS_1


__ADS_2