
Seluruh karyawan berkumpul disatu Aula. Untuk menyambutku sebagai atasan mereka.
Bermacam –macam tatapan Mata memandangku.
“Ini Faila Kirana’ cucu Pemilik Hotel kita. Ia sekarang mengambil alih semua kepemimpinan Hotel kita!” kata Seorang kepala Manager Hotel.Wajahnya sudah berumur.Ia tersenyum kecil padaku Memberiku kesempatan. Mengucapkan sepatah dua kata sambutan
Sekarang bekerja di Hotel dan Restoran sendiri. Aku menjadi Faila yang baru saat ini. Faila yang lupa Ingatan.!
“Ck’ aku berdecak kecil.
Jadi Ceo salah satu Hotel berbintang di Jakarta. Tentu saja kakak menjadikanku untuk memikul tanggung Jawab besar.
Apa Ia tidak terlalu cepat memberi tanggung jawab besar ini padaku kataku dalam hati.
Sepertinya kakak, ingin aku langsung menyibukkan diri dalam pekerjaan. Kami baru tiga hari sejak tiba tapi sudah langsung menyuruhku bekerja.
“Tidak ada , waktu untuk bermain Faila, sibukkan dirimu dengan pekerjaan” Katanya.
Ia sudah menyiapkan semuanya untukku, pengawal berbadan tegap yang siap mengawalku kemanapun aku pergi, seorang supir pribadi
Lelaki itu, tidak memberiku sedikitpun waktu untuk bermain . Setiap jam Pengawal merangkap jadi sekretaris. Ia akan membacakan skedul kerja untukku mengawasiku dalam segala hal, apa yang aku makan aku ingin bertemu tempat yang ingin aku kunjungi.
*
Seminggu sudah sejak kami tiba di Jakarta, aku ingin keliling Jakarta, baik hanya sehari saja.
Ia tadinya kak Hendro tidak setuju, tapi karena Istrinya yang membujuknya ia mau juga, kami liburan keluarga kali ini untuk pertama kalinya, diajak liburan tentu saja si Kembar akan bersorak gembira.
“Kita makan disini dulu aja, rindu makan soto Betawi ajak Tari disalah satu tempat makan sederhana, duduknya juga pakai lesehan tapi sangat ramai, kami keteteran dengan tingkah dua bocah kembar.
Untung saat di Jakarta Tari akhirnya mau memakai jasa pengasuh karen keteteran mengawasi si kembar.
Kak Hendro memesan dua meja sekaligus, untuk kami dan untuk pengawal dan supir yang mengantar kami. Seperti biasa .Arden tidak bisa diam, ia bisa diam hanya saat tidur saja. Kali ini tangannya melempar bola mengenai meja yang membelakangi kami. Sekelompok anak remaja sepertinya anak kuliahan yang sedang mengerjakan tugas kelompok.
“Maaf ya , anak saya tidak mau diam” kataku meminta maaf karena bola plastik itu mengenai seorang remaja memakai kerudung.
“Kak Faila.!” Pekik seorang pemuda tampan berpostur tinggi. “Ini aku kak Arjun” ucapnya Ia mendekat , terlihat sangat dekat denganku dulunya. Karena terlihat kegembiraan di wajahnya ketika melihatku.
“Itu anak kakak?” Aku masih diam dalam kebingungan.
__ADS_1
Kak Hendro datang. Menarik tanganku sepertinya kakak dan Tari , mengenalinya karena mereka semua diam den mendiamkan lelaki remaja yang mengenalku tadi.
Pengawal itu kena teguran keras dari kakak, ketika lelaki remaja itu memegang tanganku. Menurutnya, itu pelecehan dan ia salah mengenali orang.
Aku merasa kakak terlihat sangat posesif mengawasiku.
Akibat aku diam , kembali duduk, anak yang bernama Arjun tadi kembali duduk, dalam kebingungan. Tapi matanya masih mengawasi kami.
Kakak merasa tidak nyaman . Ia mengajak kami pergi meninggalkan tempat itu
“Siapa yang tadi?,” aku bertanya pada Tari ia diam tidak menjawab, membuatku semakin curiga, mereka menyembunyikan sesuatu dariku,
Dalam perjalanan pulang kerumah, Tari baik Kakak, memilih untuk diam, Tidak biasanya juga dua bocah kembar itu, ikut diam karena kelelahan, Untuk mengobati rasa penasaranku pada remaja tampan tadi, aku mencoba mencari akun facebooknya. Tapi banyak yang bernama Arjun. Apalagi nama itu begitu pasaran,
Aku tidak menyerah untuk mencari tau tentang dirinya, Walau aku begitu penasaran dengan sosok Remaja yang tadi, Ia terlihat akrab padaku. Tidak mungkin aku punya hubungan khusus dengan Anak remaja Tadikan? Aku bermonolog sendiri. Karena wajah Tari dan Kak Hendro begitu tegang saat silelaki itu menyapaku,
Sampai dirumah, belum terlalu malam , masih ada waktu berbincang-bincang. Karena jam baru bertengger di angka delapan, aku duduk memilih duduk di ruang tamu berharap Kakak duduk dan menceritakan membahas soal yang tadi.
Tapi tidak, Ia langsung masuk ke kamar
Hatiku semakin penasaran. Gejolak keinginan tauanku, semakin bangkit, aku mengerti Kakak menghawatirkan keadaanku.
Ni abad ini, manusia sudah semakin pintar, dan mengetahui segalanya , dan memiliki satu dukun. Ya itu Mbah Google Yang mengetahui semua hal.
Apa kak Hendro tidak tau, kalau internet lebih pintar dari Manusia bisikku dalam hati,
Kembali bergelut ke pencarian di internet, tentang sosok Remaja yang tadi yang mampu membuat Kakakku mood Kakakku tidak baik.
Dari dalam kamar mereka, Aku mendengarnya berbicara dengan nada kesal.
“Kenapa sih keluarganya Malhotra harus ada di situ tadi”
“Kita tidak bisa menutupi semuanya , dari Faila Pi” Ia pasti tau, suatu saat nanti, siapa mereka. Lebih baik kita ceritakan pada saat ini, agar bisa mengatasinya secara perlahan,” kata Tari.
Aku masih menguping di balik daun pintu kamar mereka, pintu itu tidak tertutup dengan Rapat, apa yang mereka bicarakan terdengar sangat jelas olehku.
“ Aku ini Dokter Tari, aku yang tau bagaimana kondisi Fisiknya saat ini. Ia terlihat sehat dari luar tapi, apa kau tau,
Ia masih belum mampu menahan beban pikiran berat!” kata Kak Hendro.
__ADS_1
Aku tidak ingin kepergok sama mereka, akan sangat memalukan rasanya, jika ketahuan menguping pembicaraan orang lain,
Aku kembali ke kamar , Mencoba search lewat Internet mendapat satu petunjuk , dari nama belakang yang di sebutkan kakak tadi. Aku menyambungkan nama Arjun Malhotra
**
Jam sudah menunjukkan 06:00 Tapi badanku berat rasanya untuk bangun. Padahal jam tujuh, ada rapat penting di Kantor.
Rencana pembagunan cabang restauran di Kuta Bali, dengan sangat berat aku menyeret kakiku kekamar mandi.
Di meja makan hanya ada Tari yang sedang bergelut dengan bocah kembarnya. Ia begitu gigih, berjuang keras untuk menyuapi keduanya.
“Fai serapan sebelum berangkat” Kata Tari mengingatkanku, terlihat seperti ibu untuk kami berempat
“Aku tidak serapan leherku sakit,” kataku ia menoleh dan memegang dahiku.
“Badanmu sedikit demam apa kamu kuat ke kantor Fai?”
“Harus Tar di Paksa’ Aku memegang tanggung jawab besar sekarang”
“Mommy sakit?” Tanya Arden dengan aksinya masih menutup mulutnya, tidak mau makan.
“Iya sayang, makanya ya, makan biar ga sakit kayak Mommy, Kasihan Bunda, udah capek, nanti Bunda sakit kayak Mommy siapa yang urus Arden sama dedek Aretha?” Kataku mencoba ikut membujuknya,
Matanya menatap Tari dengan sendu, Tari menarik kursi di depannya. Entah kenapa, ia kalau sudah makan coklat tidak mau makan lagi. Tari berjuang membujuknya, makan dulu sebelum dibawa ke sekolah.
“AaaBun …”Katanya membuka mulutnya dengan sangat lebar.
Tari menatapku dengan senyuman bahagia.
“ Kak Hendro kemana sepagi ini Tar?”
“Ia ada pertemuan dari pihak rumah sakit katanya Pertemuannya diadakan di Hotel kita juga,”
“Oh Aku juga ada Pertemuan hari ini, aku berangkat saja”
“Fai kamu tidak serapan dulu?”
“Takut telat Tar, nanti saja di Hotel,” kataku.
__ADS_1
“Nanti juga kami mau main kesitu, pulang mereka sekolah”