
Kita dimana? Ini kita bukan di Jakartakan.
Ini masih dijakarta walau bukan di kotanya Ini perbatasan Jakarta Bekasi .
“Wah benarkah ini masih di Jakarta .Masih adakah rumah dan suasana seperti ini di pinggiran Ibukota?
Kakimu terkilir dan tanganmu terkena pisaunya makanya aku membalutnya dan memakai penyangga di kakimu.
“Oh terimakasih kataku, tapi pandangan mataku tidak lepas dari wajah itu mengingatkanku pada seseorang yang baru aku lepaskan
“Oh siapakah kamu Tampan? Aku menghayal sampai kelangit ketujuh.
“Hei “ Ia menjentikakkan jarinya ke wajahku. Aku tertangkap basa memplototin dadanya yang dipenuhi tonjolan keras dimana-mana dan bagian perutnya seperti di tempel beberapa batako disusun rapi hingga berbentuk kotak-kotak.
Oh aku membuat Imed nya para janda semakin buruk, untuk saat ini aku, aku harus minta maaf untuk para janda di Duni ini karna ulahku, terlihat sekali aku membutuhkan kehangatan dari laki, Aku mempermalukan diri didepan Pria berotot dan bertubuh sempurna ini
Entah kenapa mataku tidak bisa kukendalikan menatapi tubuh atletis lelaki ini, eh namanya Arvind.
“Lagian siapa suruh membuka baju didepan janda muda kesepian seperti aku ‘ Aku berbisik dalam batinku.
“Kamu tidak Apa-apa Non Tanya ibu yang tadi.
“Tidak bu” aku ingin keluar melihat suasana luar “ Karena aku merasakan hawa dalam rumah semakin gerah , karena melihat lelaki berbadan atletis itu.
Ibunya membantuku berdiri “Tapi sumpah demi “ Demi bulu ketek bercabang!” JatuhKu kali ini, serius tidak dibuat-buat” . Ia dengan sigap menangkap tubuhku. tangannya tepat diantara dadaku yang bahenol. Tadinya aku ingin menendangnya. Untung otakku cepat merespon kalau Ia yang menolong tadi malam . Kalau Ia ada niat macam-macam . Mungkin tadi malam Ia sudah melakukanya tapi sepertinya Ia tidak tertarik denganku .Terlihat dari cara Ia memperlakukanku kasar dan cuek.
“ Oh iya ampun itu posisi jatuh yang tidak tepat” aku membatin.
Sepertinya dugaanKu. Ia tidak terusik walau tangannya memegang buah dadaku, Ia berpikir hanya ingin menolongku dan mendirikanku dengan posisi tegap kembali
Aku menyeret kakiku yang sakit dengan susah payah. Hingga akhirnya bisa duduk sempurna di kursi di teras rumah sederhana milik Arvind.
“Wah..!
Ungkapan takjub yang keluar dari mulutku, saat aku melihat suasana sekeliling,
__ADS_1
Rumah itu berdiri diantara gedung-gedung tinggi, Ia berdiri dikelilingi bangunan apartemen dan Hotel bahkan dinding bangunan itu menjadi tembok tinggi mengelilingi nya,
Kita tidak bisa melihat apa-apa melainkan gedung tinggi kanan’kiri belakang depan dan hanya disisahkan jalan setapak untuk akses masuk ke Rumah sederhana itu, luas tanahnya padahal lumayan 300m. Kalau dijual bisa nilai jualnya M
Tapi kenapa mereka mempertahankannya? Ini mirip dipenjara, atau mirip tempat persembunyian.
Seorang bapak yang sudah berumur boleh dibilang sudah tua sedang memberi makan Ayam –ayam peliharaanya,
“Oh ini mereka ayam yang adu suara tadi “ Ayam-ayam peliharaan Arvin lumayan banyak
Di samping rumah itu ditanamin berbagai tanaman aneka sayur,
“Ini makanlah Non! ini saya ambil dari kebun belakang. Ia menyunguhkanku lagi Ubi rebus. Tidak enak untuk di tolak walau tidak terbiasa makan ubi rebus , saya menghargainya mencoba satu potong.
“Maaf ya Non hanya ini yang bisa aku suguhkan. Padamu kata si Ibu, dengan raut wajah ramah .ia sangat ramah wajah kripunya selalu tersenyum lembut menatapku.
“Sudah berapa lama Ibu tinggal ditempat ini? Aku memulai obrolan setelah si Ibu duduk disampingku.
“Oh ini Warisan dari Ibu saya”
“Kakeknya Arvind? Tanyaku kepo, pakai bangat!.
Kali ini pemuda tampan Itu duduk di kursi kayu tidak jauh dari tempatku.Oh kali ini wajah itu terlihat begitu jelas.Terpanpang nyata .Pria tampan itu kini duduk di depanku dengan begitu dekat.Ia menatapku sekilas dengan manik-manik mata hitamnya. Membuat dewi batinku bergejolak.
“ Oh ayolah Faila , kamu itu sudah Mama-mama ,jangan keganjenan begitu” Aku memperingatkan diri sendiri
Tapi kenapa Manusia tampan seperti Ia harus tinggal digubuk seperti ini sih? Umurnya mungkin dibawahku. Tapi ketampanan makhluk yang satu ini susah di jabarkan dengan kata-kata. Sekilas Mirip dengan Frans .
Tapi semakin dilihat lagi Ia mirip dengan Hamis Daut suami Raisha Aktor tanah air
Tapi bedanya kalau Hamis terlihat ramah dan sering senyum .Tapi lelaki yang satu itu.Wajahnya tegas dan seperti memikul segudang beban hidup di pundaknya.
Aku membuang pandanganku, aku tidak ingin terlihat terlalu gatal didepannya. Tapi didalam Batinku aku ingin lebih dekat padanya aku ingin lebih mengenalnya
Mungkin dengan cara berjalan alon-alon akan lebih baik. Aku menatap kakiku yang dipakai penyangga itu. Bagaimana kalau lelaki ini tidak datang tadi malam menolongku. Entah apa yang terjadi padaku .
__ADS_1
Aku merinding membayangkan lelaki bau busuk itu, menyentuh tubuhku, habis itu aku dilenyapkan seperti gadis malang itu.
Jadi aku berhutang besar pada lelaki tampan ini. Jadi Ia boleh meminta apapun padaku “ apa lagi diminta jadi kekasihnya “ wah..! Aku akan berlari bernyanyi , berguling-gulingan, ala India saat itu juga, saking senangnya. Jadi kalau Ia sudah jadi kekasihku, aku akan menjaganya supaya tidak diambil orang. Bila perlu aku akan memajangnya di dinding Jadi hiasan.
“Haaaa aku tertawa riang dalam hati”
“Bagaimana dengan keluargamu?, Tanya Ibu Arvind membangunkan ku dari khayalan indahku.
“Saya mempunyai anak kembar Bu Umur 4 tahun. Jawabku melirik Arvind degan ekor Mataku.Tapi lagi-lagi Ia tidak terusik sedikitpun.
“Oh mungkin Ia sudah punya kekasih barang kali, Iya itu sudah pasti lelaki setampan Ia . tidak mungkin kalau tidak punya kekasih,
“Wah saya pikir kamu masih anak gadis Non! sudah punya anak toh. Ibu Arvin bergurau. tidak menyangka.
“Iya Bu”Aku tersenyum kikuk
“Apa suamimu tidak mencarimu Non?’ pertanyaan itu membuatku berat untuk menjawabnya. Perceraian bukanlah keinginan dan menjadi single kembali bukanlah satu kebanggaan
Seandainya Frans tidak menduakanku mungkin aku tidak berakhir seperti ini. kadang aku berpikir, apa yang aku pilih sudah tepat? Mungkin aku sudah membuat Adella tertawa puas mendengar perceraian kami. Ia mungkin sudah merasa menang!
“Aku sudah berpisah Bu” Kataku dengan sangat pelan nyaris tidak terdengar.
Sesungguhnya aku malu menyandang predikat Janda muda.
Aku terkadang menyesali keputusanku.
Tapi semuanya sudah terjadi yang harus dilakukan menjalani. Menghadapinya dan menjalaninya. Menatap hidup yang lebih baik.
Ibu Arvind menatapku dengan tatapan Iba.
“Oh, tidak apa-apa sayang, semua punya jalan hidup masing-masing”.
Melihatku terdiam.Ia mengerti tidak mau menanyakan tentang kehidupan rumah tanggaku yang suram.
Iya” emang suram aku tidak pernah berpikir rumah tanggaku dengan Frans akan berakhir sakit seperti ini,
__ADS_1
“Tetaplah disini” sampai situasinya aman! . Karena kedua bajingan itu dalam pencarian Polisi. Kata Arvind
“Baiklah, aku mengerti.