
Maminya Frans semakin menangis
“Maaf . Tante Ia belum bisa mengingatnya . Tolong berhenti menangis itu membuatnya nanti semakin bingung, Kata Tari.
Mereka menatapku dengan tatapan menyelidiki.
Tiba tiba dua orang anak gadis, dengan menenteng tas mahal mendekat mengawasiku, tangannya memegang satu majalah terkenal asal Inggris Vogue.
‘Siapa mereka? Pengemar kah? Haha aku serasa menertawakan diri sendiri
“Kak Faila iya!?. Mereka bertanya dengan wajah sumringah, memperlihatkan deretan gigi berkawat. Ala gaya anak remaja tanggung.
“Iya jawaku santai.
“Faila Kirana Kan ? kata seorang yang lebih bermata sipit, dengan tatapan berbinar, m
Kakak yang ini Kan? Tangannya menunjuk fotoku di dalam salah satu lembar majalah , edisi terbaru,
“Iya, itu aku kataku tersenyum “
“Benarkan! kataku temanku juga bilang, kalau kakak sudah pulang ke Indonesia. Apakah kakak akan kembali ke Oxford?
“Saya belum tau” Kataku
Minta foto dong kak ! sama minta tanda tangan di foto kakak ini kata mereka berdua.
Anak remaja yang Cantik itu sepertinya bergabung dengan Fans clup artis Dunia. Seperti Fans clup Tutan.
Tapi saya tidak tau, kenapa aku ikut dalam daftar mereka.
Untuk beberapa saat suasana jadi teralih hanya pada kami.
“Apa Ia tidak mengingat , kami sedikitpun Tar? Tanya Tiara menatapku dengan tajam.
“Ia hanya mengingat masa-masa saat ini. Ia tidak mengingat semua masa lalunya kata Tari.
“Aku ingin izin Pamit Tante om saya masih ada pekerjaan” kataku meninggalkan mereka semua.
Baik Tari dan kakak juga meninggalkan mereka juga,
Ini Pertemuan ku secara langsung dengan keluarga Frans
Kakak dan Tari pulang membawa Baby Twin. Ia sepertinya tidak ingin mengekspos wajah mereka.
Leherku masih sakit memilih untuk membawanya ke Dokter kebetulan Rumah sakitnya sekat dengan Hotel,
“Biara saya saja yang Ke Dokter” kataku pada kedua lelaki itu,
“Tidak boleh mbak, Bos besar akan marah, pada nanti pada kami.
Haris langsung membuat janji dengan Dokter Rumah sakit.
Dion mengurus administrasinya, jadi aku tinggal menunggu dipanggil kedalam ruangan
__ADS_1
Aku duduk di Ruang tunggu, menunggu namaku dipanggil yang terjadi saat ini, suatu kebetulan apa memang faktor sengaja,
Lelaki yang bernama Frans yang tadi, juga ikut duduk kursi antrian. Ia mendekat dan duduk sampingku.Ekor matanya melirikku aku tau itu, Ia menungguku, untuk menyapanya. Tapi aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak tau sedekat apa hubungan kami dimasa lalu , Tapi aku tidak mengingatnya,
“Hai aku Frans yang kita bertemu tadi di Hotel Kata Frans.
“Saya Tau!’
“Oh saya pikir kamu lupa kata Frans Ia terdiam.
Aku memilih menutup mataku dan bersandar disofa, tidak keinginan untuk mengobrol dengannya, karena rasa sakit di bagian leherku, sungguh menggangu mood hari ini. Aku menyandarkan kepalaku di sofa yang super empuk itu. Ruangan ViP selalu memberikan kenyamanan pada penggunanya.
“Mbak! Haris membagunkanku. Giliran mbak yang masuk katanya “
“Baiklah “ aku masuk, dokternya sudah terlihat sangat senior.
Diperiksa di beri obat, sudah . Aku meninggalkan Frans yang masih menunggu. Ia menatapku dengan tatapannya yang misterius.
Kata Tari kehidupan yang sekang seperti kebalikan dari kehidupanku yang dulu.
“Apa Maksudnya Tar? kataku penasaran hari itu
“Kamu dulu orangnya gampang senyum dan banyak bicara. Kamu yang sekarang Irit bicara seperti kakakmu terkadang. Dan sekarang kamu jadi cuek dan tegas dan sangat cantik.
Pada saat melihat Frans saat ini, apa mungkin dulu pecicilan jika melihat lelaki tampan seperti itu ? bisikku dalam hati karena saat ini aku cuek melihatnya,
Meninggalkan rumah sakit, tapi rasanya aku tidak ingin langsung ke Hotel, setelah berapa lama di Jakarta belum pernah nge mall. Tidak tau juga, bagaimana bentuknya Mall di Jakarta.
Ia terpaksa harus bekerja layaknya seorang sekretaris professional untukku, kakakku tidak ingin memakai seorang pekerja perempuan untukku , Jadi tepaksa Haris dan Dion lelaki berbadan tegap itu, bersiap dengan segala tuntutan pekerjaan.
“Aku ingin cuci mata ke Mall dulu, ada beberapa barang yang ingin saya beli,
“Baik Mbak” Ia langsung menutup tabletnya.
Menyuruh supir menunggu di depan Rumah sakit
“Ada rekomendasi Mall yang cocok, yang tidak ramai.
Haris dan Dion saling menatap satu sama lain , dengan wajah bingung, Walau aku tau pertanyaanku terdengar konyol. Karena Mall dimana-mana memang selalu ramai , kalau tidak ramai bukan mall , tapi Kuburan. Kataku dalam hati.
Tapi membiarkan mereka berduaan berpikir, dam memutuskannya.
Aku tersenyum licik melihat wajah mereka bekerja keras memikirkannya pertanyaanku,
“Mall ciputra mbak! Kita mau lewat sebentar lagi kata Haris, Ia melirik dari jendela, perumahan raffles. Tapi saat membaca, Hatiku bergejolak apa aku pernah ke tempat ini ?
Bahkan saat kami sudah berdiri di lobby Mall Ciputra yang berlokasi di Cibubur. Aku merasakan kalau aku sering ketempat itu,
Mencoba mengingat masa lalu dalam hidupku , satu kesalahan untukku, kakak sudah sering memperingati agar jangan melakukan hal itu,
Karena kepalaku , bukan seperti kepala orang normal pada umumnya, sudah banyak ordedilnya yang diganti Itu kata kakak.
Aku terlalu memaksakan diriku pada ingat-ingat masala
__ADS_1
Baru melangkah sebentar, aku merasakan Pusing yang sangat luar biasa , kepala itu seakan mau meledak. Aku merasa cairan hangat mengalir dari Hidungku,
“Oh “Aku meringis memegang hidungku, cairan merah segar itu bahkan mengenai baju kerja yang kau pakai
“Mbak !” Dion dan Haris dengan sigap membopongku, aku melakukan kehebohan di Lobby Mall itu.
“Bawa Mobil lagi turun cepat.Ia berteriak pada Supir yang sudah sempat menaikkan mobilnya ke parkiran.
Aku tidak mengingat apa-apa lagi , aku tidak tau berapa lama aku tidak sadarkan diri, hingga masuk ke Ruangan perawatan.
Suara bentakan kakak membagunkanku, untung kami memakai ruangan VIP jadi tidak ada yang merasa terganggu karena suara kemarahannya,
“Apa yang kalian kerjakan Ha? Saya sudah bilang jangan melakukan kegiatan tampa dapat Izin dari saya. APa kamu paham! Jika Ia tidak bangun-bangun. Jangan Harap kalian selamat. Ia memberi peringatan pada Haris Dan Dion.
Mereka berdua menarik Nafas panjang,
Mereka tidak salah sedikitpun, justru aku suka cara kerja mereka berdua . Mereka selalu membuat batas diri, tidak mau mengurusi hal pribadi.
Tapi yang membuatku jadi seperti ini, kakak Hendro, kenapa mereka menyembunyikan kebenarannya padaku.
Aku ingi mereka berdua menceritakan kebenaran . Siapa Itu Frans. kenapa kakak setiap melihatnya seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Kenapa dengan keluarga itu , kenapa kakak sangat membenci kelurga mereka semua.
Kenapa kakak tidak memperbolehkan Felix juga bersama denganku apa hubungannya?
Kak Hendro tidak mengizinkan Felix mendekatiku, bahkan kata Tari Ia menolak lamaran Lelaki tepat sebelum kami datang ke Jakarta,
“Ris !” mbak sudah sadar? Syukurlah hampir saja aku kehilangan pekerjaan !” kata Haris.
“Kalian tidak akan kehilangan pekerjaan “Kataku dengan serius.
“Syukurlah” wajah Dion sumringah
“TAPI! Dengan syarat kamu harus melakukan apa yang aku perintahkan. Kataku penuh penekanan.
Wajah keduanya mendadak tegang dan serius, aku duduk , menatap langsung kemata Mereka . Bahwa aku Menegaskan perkataanku aku buku main-main
“Apa. Mbak?’ katakana saja. Kata Haris menerima mandat penting dariku,
Aku menyerahkan amplop biru pada mereka.
“Selidiki mereka untukku.
Aku akan terus begini, jika kalian tidak melakukan sesuatu padaku, kataku pada mereka berdua.
berikan informasi yang rinci tentang nama-nama itu. Tapi ingat ini rahasia, jangan kakakku sampai mengetahuinya kataku.
Ada dengan semua ini, aku merasa ada yang salah dari perlakuan kakakku dan Tari padaku. Bahkan mereka tidak memperbolehkanku menemui anakku sendiri.
Aku Punya firasat buruk . Jadi kerjakan tanpa sepengetahuan kakakku.
“Baik! Mbak.
__ADS_1