Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Masih suamiku


__ADS_3

Hingga tiba diruangan Frans. Aku menunggu dan duduk disalah satu sudut ruangan , menatap jauh kejalanan melihat hilir mudik kendaraan , Mencoba mengawasi letak kepadatan di sudut jalanan ibukota, mataku sibuk berandai-andai. Andai bisa memindahkan mobil –mobil itu dengan kekuatan super, menyusunya dengan rapi dan tertib , agar tidak jadi selalu macet tiap hari, selalu jadi santapan tiap hari menghadapi kemacetan Ibu kota,


Aku tidak menyadari Frans sudah berdiri di tepat disampingku.


Matanya ikut mengawasi arah pandanganku, dengan segala hayalanya


“Haaa. Frans ! aku terkejut ketika, Ia juga menundukkan kepalanya tepat disampingku, Wangi, dari tubuhnya menyerbu hidungku.


“Apa yang menarik dari jalanan itu, Ibu Faila?


Mengingatkanku dikantor dulu, pada saat kau berpura-pura tidak ingat dirinya, mendengar Ia bicara begitu padaku saat ini, rasa aneh.


“Oh . Frans ! tidaka ada. Aku hanya menatap jalanan saja .


“Apa yang membuat kesini?


Kenapa-kenapa tatapan matanya begitu dingin lagi saat ini, Marahkah Ia saat ini. “Aku hanya ingin bilang, kak Hendro memindahkan Arden kerumah sakit lain”.


“Kenapa kamu hari ini berubah? Apa ada hal baik terjadi dalam hidupmu “Bu Faila?


“Apa?


“Kenapa kamu tiba-tiba begitu , berubah biasanya kamu, Tidak suka melihatku walau kamu kamu sudah mengingatku , tapi kamu bersandiwara tidak mengenalku , untuk apa?


“Frans Apa kamu sedang marah padaku?


“Terus , kamu pikir Apa?


“Frans kamu tidak dalam posisi tepat untuk marah saat ini, apapun yang kamu pikirkan dan apapun yang , aku lakukan itu untuk kesembuhan anakku dan itu yang paling penting!”

__ADS_1


Apa kamu tidak pikir aku tidak berhak untuk mereka?


Suasana memanas, dan suara yang meninggi yang kami lakukan, mengundang perhatian , Ini tepatnya di sebut pertengkaran antara suami istri atau mantan istri. Karena penasaran . Apa benar Ia tidak menandatangani surat perceraian kami. Aku mencek sendiri ke kantor pencatatan sipil. Benar saja kami masih tercatat hubungan suami Istri.


Aku melakukan kesalahan besar dalam hidupku. Aku mendengus kesal. Kesal pada kebodohan sendiri.


Aku berpikir, Jika kami menjauhkan si kembar dari Frans adalah kesalahan.


“Maka itu, aku datang kemari Frans, Ponselku disita kak Hendro , agar aku tidak bisa memberitahukan kamu. Tapi aku datangkan memberi tahumu


‘Jika kamu bilang kamu punya hak atas anak-anak, aku mau bilang aku hanya seorang Ibu yang melahirkan mereka Frans, Kakakku dan Tarilah yang merawat mereka berdua sejak datang kedunia ini Frans!


“Tapi akulah yang sesungguhnya ayah untuk mereka Faila, Bukan kakakmu yang dipanggil papi dan Tari dipanggil Bunda! Aku tidak mengerti! Wajah Frans terlihat menunduk menahan rasa sedih


Frans jika kamu bertanya padaku kenapa jadi seperti ini aku hanya bilang ini semua takdir. Matanya menatap dengan, dengan tatapan sendu , hatiku merasa seperti coklat yang meleleh dibuatnya ,Aku tidak tahan melihat kesedihan dimatanya.


Ada cerita duka dibalik itu semua, Kenapa Tari di panggil Bunda dan kak malah di panggil Papi. Tari kehilangan bayinya demi mempertahankan mereka berdua, Begitu juga kakak sempat di vonis Dokter manduk, karena menjagaku, agar aku tetap hidup.


“Apa kamu mau bilang juga, bahwa aku tidak punya hak juga?


Wajah Frans tidak terima , karena saya bilang seperti itu, aku berhak untuk anakku. Kamu harus tau itu dan aku bisa buktikan itu nanti katanya wajahnya mendung itu kini berubah bentuk Ia marah.


Mendengar. Ia berhak untuk sikembar, membuatku merasa rambutku naik berdiri dan mengeluarkan asap, siap membakar mulut Frans.


“Apa kamu tidak mau mendengar penjelasanku?


“Aku, mendengar Fai, Aku mendengarnya dari tadi , kamu mau bilang , aku tidak berhak , Karena aku tidak merawat mereka karna kakakmulah yang merawatnya. Begitukan?


Aku menarik nafas panjang, ada rasa sesak didadaku .

__ADS_1


Harusnya kita tidak berdebat seperti ini Frans! Kamu mengecewakanku, kamu masih seperti yang dulu, tidak pernah percaya padaku! Coba saat itu kamu percaya padaku dan berterus terang akan keadaanmu mungkin , Mungkin kita sudah menjadi keluarga kecil yang dipenuhi kegembiraan saat ini, apa kamu pernah memikirkan itu Frans?


Aku percaya padamu, Aku menyangimu, karena itu aku membiarkanmu pergi. Aku tidak ingin kamu melihatku tidak berdaya, Kamu tidak tau tentang apa yang aku alami Faila! Suaranya menurun dan hampir tidak kedengaran, raut wajah itu menggambarkan betapa berat hari yang Ia lalui.


“Aku tau Frans ,aku tau sekarang.!


“Apa maksudnya ? Ia menatap ku dengan mata membelak, tidak percaya. Apa yang kamu tau?


“Semuanya Frans. Itu juga menjawab pertanyaanmu, yang tadi kenapa aku harus datang kesini?


Kita berdua melakukan kesalahan Frans, kamu tidak berterus terang padaku saat itu, tentang sakit yang kamu alam. Aku tidak, mencari tau kenapa kamu melakukan semua itu padaku


Kamu membiarkanku pergi membawa rasa benci padamu, kakakku berpikir demikian, Ia berpikir kamu mencampakkanku.


Maka itu, biarkan dulu seperti ini Frans! Sampai situasinya tenang,


“Itu artinya aku tidak boleh menemui mereka?


“Iya” sampai situasi tenang. Jika kamu mengacau, aku khawatir Tidak punya kesempatan. Bahkan untukku juga, saat ini kita hanya mengharapkan kebaikan kakakku,


Ia terdiam menyimak dan menimbang apa yang kau katakana, Aku berharap Ia berpikir dengan tenang,


Aku melirik jam di layar ponsel .Pamit meninggalkan Frans karena tidak ingin ketahuan pada ka Hendro,


Dalam situasi ini, aku berharap Frans memang harus mengerti apa yang aku bicarakan dan aku akan bicara pada Kak Hendro tentang kebenaran semuanya.


Hampir sat u minggu Arden dirumah sakit . Frans mengerti apa yang aku katakana. Ia tidak datang maupun menelepon. Itu sangat tepat . Kak Hendro tidak mengungkit-ungkit hal itu lebih,


Kini tinggal menjelaskan semuanya padanya, tentang semua yang terjadi termasuk ingatanku, yang sudah pulih dan sudah mengingat semuanya.

__ADS_1


Memikirkannya membuatku merasa sesak. Membayangkan reaksi kakakku mengetahui Frans masih suamiku.


__ADS_2