
Aku semakin mengesot kebelakang dengan rasa takut yang mendalam lututku semakin bergetar ketika tangannya mengeluarkan benda tajam dari balik jaketnya. Wajahnya begitu bringas menatap tajam padaku ia , seolah mengangagapku mangsa empuk yang siap dilahap , jangan berteriak atau celurit ini menebas lehermu hingga kepalamu terlepas nanti.Ia mengangcamku.
Aku menggigil ngeri membayangkan celurit tajam itu mengenai leherku, terbayangkan olehku sekali tebas bisa kepalaku lepas dan bergelinding bagai bola.
Oh inikah akhir hidupku? Oh tolong aku siapa saja ! Bagaimana dengan anak-anakku nantinya.
Aku semakin mengesot kebelakang hingga mentok di dinding tembok . Aku semakin menggigil merasakan situasi mencekam aku merasakan tulang-tulangku seperti terlepas dari tungkai ototnya, karena tiba-tiba lettoi tidak bertenaga
Ia berjongkok di depanku, Bau alkohol menyeruak dari tubuhnya di campur bau keringat yang begitu menyengat hidung.
“Anak manis! Guraunya dengan senyumnya penuh kerakusan. Wah kamu cantik sekali “ ia menyisihkan rambutku dari wajahku, tangannya meletakkan benda tajam bentuk melengkung itu disampingnya. Ia semakin dekat kewajahku.
Tangan kotornya mulai berani menyentuh pipiku. Aku masih mematung dengan badan ketakutan dan bergetar. Bahkan hanya untuk mengucapkan satu kata saja mulutku tidak sanggup
Bau alkohol di campur bau rokok. Bau menjijikkan belum lagi peringainya yang menyeramkan sukses membuat perutku mual pengen muntah.
“Buaaaakkk
Benar-benar petaka, aku menumpahkan semua isi perutku persis di wajahnya.
“Ahhhhh sialan’ bentakanya lantang.
“Praaak satu pukulan keras mengenai kupingku dan hidungku”
“Menjijikkan pekiknya dengan marah”
“Ah dasar Ia ingin menendangku
“ Puaaak suara keras menghampas perutnya membuat lelaki menyermakan itu terpalanting kebelakang,
Kupingku semakin berdegup hingga akhirnya tuli sebelah. Hidungku mengeluarkan cairan merah . karena ulah lelaki biadap itu. Aku menyesali diriku malam ini, kenapa aku harus keluar ini bukan mencari udara segar seperti tujuanku, tapi ini mencari kematian . Tamatlah hidupku kataku membatin hingga mataku ingin meredup . dengan samar-samar . Aku rasakan ada tangan kokoh menarikku dengan begitu kuat menaikkanya kepunggungnya dan berlari dengan begitu cepat.
“Terimakasih Haris! Kamu datang diwaktu yang tepat”
Ia diam hanya berlari menjauh dari lelaki biadap itu, Hingga aku tutup mata,
06:00
Suara ayam berkokok membangunkan ku.
“Sejak kapan ada Ayam dilingkungan rumah kami?. Rasanya baru kali ini aku mendengar ayam berkokok aku membatin dengan senyum sumringah bagai mimpi
saya sering bermimpi saat –saat seperti ini dimana ada suara ayam bertalu-talu berkokok saling bersahutan .
Pasti mereka ayam jantan tangguh yang saling pamer suara siapa yang paling kuat.
Mataku masih engan untuk dibuka, aku mencari bantal-bantal kesukaanku, Dengan tangan diraba-raba hingga tanganku menyentuh benda keras, Aku kaget karena bukan bantal guling seperti biasa aku peluk
__ADS_1
“Ini-ini aaapa ? Aku membatin gugup dengan tangan masih meraba Tapi seperti kulit manusia,
“Haaaaa. Apa Haris tidur bersamaKU? Waaaah kurang ajar..!
Aku terbangun terhentak dan duduk bercampur panik.
Tapi sesuatu yang membuatku lebih kaget lagi.
“Ini bukan Rumah kami pekikku dalam hati. Kau siapa bentakku pada lelaki yang berbaring disampingku.
Aku beranjak , berdiri tiba-tiba dan terjatuh tepat diatas tubuh Pria asing itu lagi.
“Oh aku menyadari pergelangan kaki sampai lutut dipasang penyangga .Otak cantikku belum bisa memahami apa terjadi sesungguhnya. Mataku masih mengawasi ruangan dimana kami berada saat ini.
Rumah papan sederhana, kami tidur saat ini diruangan tengah beralaskan tikar.
“Kamu bisa menyingkir dari tubuhku? Suara Baritto lelaki asing itu mengagetkan aku lagi
Dengan repleknya aku menendangnya kuat, dewi pertahananku hidup.
“Ohhhh sial! Pekiknya meringkuk memegangi perutnya
“Auuuuuuh”” suara jeritan juga keluar dari mulutku
Kami sama –sama meringis kesakitan. Ia sakit memegang perutnya yang aku tendang, Aku meringis karena menendangnya dengan kakiku yang sakit.
“Sudah bangun Non! Suara itu mengalihkan perhatianku seorang wanita tua membawa nampan. Ia meletakkannya disampingku satu gelas teh manis berwarna pekat dan satu piring ubi rebus.
Aku mencubit lenganku sendiri” woh sakit pekikku” Saya pikir saya mimpi masuk ke jaman waktu dulu, karena wanita itu memakai kebaya model wanita jaman Doloe.
Mana ada jaman sekarang orang menyunguhkan serapan Ubi rebus di Jakarta. Canggihnya teknologi jaman sekarang sudah mengubah hidup manusia. Bahkan jaman anak sekarang sudah melupakan budaya dan tradisi leluhur, itu yang aku pikirkan sekilas
Terus aku yang sekarang masu ke jaman tahun berapa . Mataku masih mengawasi seisi ruangan itu . semuanya terlihat dari jaman dulu mulai dari foto yang tergantung berwarna, hitam putih membuatku semakin yakin aku masuk ke dimensi lain.
Tapi bagaimana Lelaki asing ini? Beraninya ia tidur di sebelahku. Apa yang sudah diperbuat padaku?
“Kamu siapa tanyaku lagi?
“Ah berisik bangat” ia berdiri, meninggalkanku dengan raut masih bertanya Tanya
“ OH my..! Badannya membuatku menelan ludah bersusah payah. Itu Dada keras yang aku raba tadi?. Itu badan apa tiang beton sih, kenapa begitu keras ? Dewi batinku bergejolak.
Ia tidur hanya mengunakan singlet putih dan kini singlet putih itu dengan sengaja dilepaskan didepan mataku. Ia sukses mengalihkan perhatianku , sengaja atau tidak Ia telah menghipnotisku saat ini.
‘Oh iya ampun apa ia sengaja memancingku? Apa Ia tau aku seorang janda , Wanita kesepian?
“Namaku Arvind” aku yang membawamu tadi malam lebih tepatnya menyelamatkanmu.
__ADS_1
“Oh benarkah! Terimakasih! Sudah menyelamatkanku. Kataku tulus.
Tapia apa tidaka ada orang lain yang membawaku kesini.
MIsalkan temanku begitu?
“Tidak ada, aku sendiri yang membawuMu, kesini?
Oh berti saya salah menduga tadi malam meyebutmu Haris
Apa yang terjadi selanjutnya? Apa mereka menyelamatkan wanita itu.
“Tidak mereka membunuhnya setelah digilir
Aku terdiam tanpa aku sadari airmataku mengalir dengan amat deras. Masi terngiang suara lirih gadis malang itu minta tolong padaku.
“Kejam sekali mereka. Sudah di perkos* di lenyapkan lagi”
Kamu mengapa masuk ketempat sarang penyabun seperti itu?
“Oh , aku hanya sekedar lewat
“Sekedar? Wajahnya tidak percaya.
“Iya aku hanya niat ingin membuang kepenatan, Tadi tidak menduga mendapat kejadian Tragis seperti itu?
“Oh namaku Faila” aku memperkenalkan dirilku
“Oh istirahatlah dulu disini sampai kakimu pulih. Anggap saja rumah sendiri
“Aku di mana? Apa ini rumahmu?
“IYa ini rumahku yang tadi itu ibuku!
Saya menatapnya dengan tatapan menyelidiki, karena antara wajah dan tubuhnya dan Pakaian yang Ia kenakan, tidak sesuai dengan keadaan sekitar. Saya pikir tadi kami sama-sama terdampar.
Kita dimana? Ini kita bukan di Jakartakan.
Ini masih dijakarta walau bukan di kotanya Ini perbatasan Jakarta Bekasi .
“Wah benarkah ini masih di Jakarta .Masih adakah rumah dan suasana seperti ini di pinggiran Ibukota?
Kakimu terkilir dan tanganmu terkena pisaunya makanya aku membalutnya dan memakai penyangga di kakimu.
“Oh terimakasih kataku, tapi pandangan mataku tidak lepas dari wajah itu mengingatkanku pada seseorang yang baru aku lepaskan
Oh siapakah kamu Tampan? Aku menghayal sampai kelangit ketujuh.
__ADS_1
Bersambung.