
ko bercerita bagaimana mereka kehilang adiknya karena penyakit seperti yang aku alami, itu juga sebabnya lelaki bertubuh tinggi itu peduli padaku.
“Mungkin rasa penyesalan itu, akan kami bawa sampai kami sampai mati.
Orang tuaku hampir bunuh diri karena menyesal. Kami dua bersaudara adek perempuanku dan aku. Ia meninggalkan kami, tepat di usianya 20 thn tepat sebelum dia menyesaikan sekolah ke Dokterannya. Kematiannya yang tragis, membuat dunia kami berubah seperti Neraka” Bang Niko menaarik napas panjang.
“Dia sendirian di Tempat gelap itu, berhari- hari tanpa ada yang tau, duduk dengan posisi memeluk lutut , kedinginan dan ketakutan , mungkin dia ingin bersuara, tapi tidak mampu mengeluarkannya sehingga tidak ada yang mendengarnya.
Ia juga tidak memberitahukan pada kami tentang penyakit itu, ia menyimpan sendiri, ia menderita sendirian. Memikirkannya membuat dada ini sakit,” ujar Niko ia menceritakan kisa hidup adiknya yang mengalami penyakit yang sama denganku. Yakni; Takut gelap, takut sendirian, takut rumah sakit.
Melihat Niko menangi sedih aku juga mulai merasakan kepanikan yang sama. Aku mulai merasa dadaku mulai panas ingin meledak, untung bang Niko menyadarinya ia melepaskan pelukannya dan menatapku dengan dalam.
“Fai … . Mata itu masi sembab, “ Aku melihatmu sebagai adek kecilku itu, jika kamu sedih menangislah, jika kamu marah, maka marahlah, jangan kamu simpan sendiri di sana di menunjuk dadaku.
Jangan kamu membentuk duniamu sendiri dan tidak boleh seorang mengetahuinya
Jika kumu mampu berjalan tempat terang, kamu harus bisa juga berjalan di tempat gelap, jika kamu bersedih maka menangislah, jangan di tahan sendiri itu yang membuat penyakitmu semakin parah”
“Aku tidak bisa …. Aku bisa mati, aku tidak boleh merasa sedih,” ucapku memegang erat tangannya,
“Setidaknya, ada yang akan menolongmu jika kamu merasa ingin mati”
“Aku tahu kamu marah sama Frans, aku tau kamu membencinya tapi kamu menyembunyikan tentang penyakitmu darinya, kamu bungkus dengan sikap kamu yang pura- pura tegar, aku tau betapa marahnya kamu ketika dia menghina ibumu yang sudah meninggal, wanita yang memberimu kehidupan baru, tapi dihina, apa kamu yakin tidak marah?” Tanya Niko ia tahu segalanya tentang diriku.
“Sudalah, aku tidak ingin membahas hal yang lain”
“Itu yang aku mau katakan Fai, cukup dengan sikapmu yang seperti itu. Katakan padaku apa kamu tidak marah jika ibumu di hina ibu yang kau rindukan ibu yang sayangi?” tanya Niko mendengar pertanyaan itu aku merasa sesak nafas.
Aku wanita yang sangat rapuh setiap kali menrasa sedih aku akan merasa tubuh ini tidak berdaya, terkulai lemah juga menahan sedih. Niko dengan iklas memberikan pundaknya untukku menangis
Frans yang aku kagumi selama bertahun- tahun, malah tidak mengetahui diriku dan mengerti deritaku , tangisanku semakin jadi. Dadaku semakin memuncak entah berapa lama aku menangis. Aku terkulai lemas tidak sadarkan diri di pundak bang Niko.
__ADS_1
*
Aku terbangun, mengucek - ngucek mata ini, mencoba membaca situasi aku berada di tempat yang asing seperti di kamar seseorang aku melirik kanan-kiri. Tidak lama kemudian niko datang bersama kekasihnya , membawa nampan dengan segelas susu coklat panas di ikuti seorang wanita muda berambut pendek, berpostur mungil menghampiri ku
“Ayo serarapan dulu Fai.” Bang Niko menyodorka gelas isi coklat hangat .
“Aku di mana?” Mataku menatap mereka bergantian.
“Ini kamarku Mbak,” ucap wanita mungil berambut blonde, “Aku Farida,” menyodorkan tangan kanannya.
“Ia tunanganku Fai, kita berada di tempatnya sekarang. Jangan kawatir Fai, aku sudah meminta Farida mengabari Maminya Frans tadi malam,” ujar NIko, aku merasa sangat legah aku tidak ingin keluarga Frans kawatir.
*
Sejak kejadian itu, aku merasa beban di dadaku terasa sedikit berkurang dan aku belum pulang ke rumah Frans , entah kenapa hati ini rasnya sedikit berat kembali kerumah itu lagi.
Aku memilih tinggal di tempat sahabatku Tari, Ia menerima di sana di Asrama Universitas . Tari tinggal di sana agar menghemat biaya ongkos, sedikit demi sedikit menceritakan pada Tari, malam itu kami tidak tidur saling bertukar cerita dan menangis bersama-sama ia memelukku, ia merasa bersalah juga, seorang sahabat yang sudah lama bersamanya, tapi aku tidak pernah becerita padanya tentang penyakitku.
“Apa mungkin? kamu tidak benar - benar mencintai Frans selama ini. Maksudku mungkin kamu mengejar- mengejarnya, kamu hanya butuh hiburan dan hanya butuh teman saja, mungkin kamu hanya terobsesi pada suasana di sekitarnya temannya yang banyak, suasana rame membuatmu selalu terhibur dan kelurganya yang rame dan baik, jadi suasana yang nyaman untukmu dan selalu bergantung dan mempercayai mereka" Tari menatapku.
Aku terdiam apa mungkin seperti itu? Apa benar aku mungkin
benar-benar benar tidak mencintai nya .... Hanya menginginkan lingkaran kenyamanan dari Frans dan mencari sosok ibu di balik wujud mami Frans peran seorang ibu yang sangat aku inginkan.
'Apa mungkin seperti itu?' Tiba - tiba aku merasa sangat asing pada diriku.
Ponselku sengaja aku biarkan mati, aku hanya ingin bersemedi di dalam kamar Asrama Putri yang di tempati Tari. Bahkan sekedar
membeli makan keluar dari kamar itu, aku enggan melalukannya.
Setelah puas memendam diri berhari- hari di kamar Tari, aku memutuskan untuk pulang kerumah Frans untuk mengambil beberapa baju ganti.
__ADS_1
Aku memutuskan pulang ke rumah Frans walau awalnya, aku sangat berat hati untuk kembali ke sana, karena aku menyadari kelakuanku selama ini.
Aku pulang ke rumah ke Frans sepi, membuatku ketakutan lagi
suasana rumah gelap dan sepi, rasa takut itu menyelimutiku lagi, aku lama menunggu ditepan rumah malam, berharap seseorang yang membukakan pintu untukku , tapi sudah beberapa lama aku menunggu belum ada orang yang
datang, Jam sudah menunjukkan Pukul 23:00 ponselku mati, sappam di depan pos jaga tidak ada.
Aku memutuskan melawan dan menerobos kegelapan ruangan itu untuk masuk ke dalam kamar yang biasa aku tempati.
Baru beberapa langkah menuju ruang tamu, tapi aku sudah mulai berkeringat, aku merasa sangat gelisah, aku berpikir bahwa aku kuat dan berani dan harus mencobanya.
Tetapi ternyata dugaanku salah besar. Justru aku merasa dadaku semakin sesak dan lututku gemetaran, pada akhirnya aku tidak mampu melangkahkan kaki ini lagi, aku meringkuk dan seluruh badanku basah dengan keringat, aku ingin berteriakbminta tolong, tapi tidak mampu mengeluarkan suara, pandanganku mulai berkunang – kunang, mulai merasa ketakutan, aku memeluk kedua lutut ini, bibir bawah seperti mati rasa walai aku gigit sekuat- kuatnya .
Aku hanya berbisik pada diriku sendiri.”Aku akan mati sekarang,”
aku hanya mengingat satu nama dalam bayangan ku, menyebutnya dalam hatiku. Ban Niko.
Suana gelap di rumah Frans, membuat traumaku kambuh lagi, tubuhku gemetaran dan pingsan, aku merasa hampir mati karena aku juga kesusahan bernapas.
Tapi tiba-tiba, aku merasa tubuh ini diangkat seseorang.
‘Ah mungkin malaikat yang membawaku dari dunia ini, pikirku saat itu mataku masih tertutup
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)