
Setelah dua bulan pernikahanku dan Frans, akhirnya ia mendapatkan impiannya menjadi Arsitek muda. Setelah dikeluarkan dari Kampus yang lama . Ia pindah kampus yang baru untuk mendapatkan gelar sarjana. Aku masih berkutat dengan hidupku yang begitu-begitu saja.
Hari ini, hari pertamanya mendapatkan satu proyek besar setelah sebelumnya. Ia membuka Kantor pertamanya di daerah Sudirman disalah Satu gedung megah di daerah itu Gedung berbentuk pulpen itu, Atau yang disebut “ the Fountain Pen” Gedung Berlantai 45 menjadi pilihan Frans membuka kantornya. Ia memilih lantai 30 lumayan horor melihat kebawah
.
Papi mengundang semua karyawan Restorannya, untuk meramaikan pembukaan kantor baru Frans, ia terlihat sangat bahagia.
“Selamat Frans, impianmu tercapai,” kataku dengan tulus mengangkat satu gelas , mengajaknya bersulang
~Cearss~
Suara gelas kaca kami terdengar nyaring,
Empat bulan setelah Pernikahan,tidak terasa banyak yang sudah terjadi. Di rumah Frans kembali hidup seperti dulu,
Neneknya Frans tidak secerewet dulu lagi, karena aku menuruti semua apa yang Ia mau lakukan. Termasuk pagi ini ketika ia memberiku minuman yang rasanya pahit minta ampun.
“Ini minum” kata Ami menyodorkan mangkok putih tapi isinya warna hijau pekat, mencium baunya saja sudah makin mual.
“Apa ini?”tanyaku, tanganku menerima mangkok
“Itu obat penyubur ramuan keluarga turun temurun” kata nenek memaksaku meminumnya.
Mendengar itu, batinku ingin berteriak, semua mata dalam meja makan itu menatapku dengan penuh penyelidikan. Aku dan Frans bersikap , seolah tidak terjadi apa-apa diantara kami berdua. Aku sudah berjanji pada dirikku, selama 6 bulan kedepan aku tidak akan menyebabkan masalah pada Frans.
Aku ingin membantunya, makanya setiap ada masalahnya aku selalu membelanya, baik seperti tadi malam walau aku tau Ia jalan dengan Adella tapi aku membela didepan keluarganya.
“Apa rasanya Pahit Ami ?” Tanyaku pada Neneknya Frans.
“Iya minumlah, agar kamu cepat hamil, ini sudah 4 bulan” kata Ami.
Aku ingin tertawa dalam hati, bagaimana mau hamil disentuh juga belum
~Guuk , gukk~
Aku menghabiskannya, rasanya pahit, bau, aku pengen muntah,tapi aku tetap menahannya.
Mata dan mulut mami menganggap. Frans hanya menatapku sebentar dan Fokus lagi ke serapannya.
Sejak aku datang lagi kerumah Frans . rumah meja makan itu setiap pagi akan ramai serapan bersama.
__ADS_1
“Bukankah itu pahit?” kata Mami masih dengan raut wajah geli merinding.
“Iya” pahit bangat memang, kata Ami obat, jadi aku menghabiskannya” kataku menahan rasa di lidah.
“Kamu tidak ingin cepat punya cucu? Faila, harus rutin minum ramuan itu, agar cepat hamil” kata Ami. Raut wajahku rasanya seperti panas karena menahan malu.
Aku mengantar Frans kedepan pintu. Mulutku masih terasa pahit walau sudah minum yang manis-manis
“Kamu tidak perlu melakukanya” kata Frans menenteng ranselnya dan sedikit melonggarkan dasinya.
Ia tampan memakai kemeja putih hari ini
“Tidak apa-apa’ anggap saja obat untuk penyakit yang lain”
“Aku sudah bilang kamu tidak usah mengantarku juga seperti ini Faila, aku merasa semkin merasa tidak nyama,” kata Frans
“JIka aku tidak melakukan tugasku sebagai Istrimu, Nenekmu akan memarahiku Frans,” Jadi terima saja.
Anggap saja kita dalam pembuatan Film. Kamu hanya perlu berakting. Hingga waktunya selesai kataku.
Wajah Frans mengeras, aku menyalin tangannya. Walau itu hanya pernikahan kontrak .”Tapi hatiku senang pernah menjadi Istrimu. Frans Devan gumamku sedih
Mungkin Frans merasa bersalah kalau selalu berpura-pura didepan keluarganya . Makanya Ia lebih sering tidur di apartemennya.
Hari ini akan acara pembukaan Restauran baru,
nenek memanggilku ke kamarnya.
“Kamu harus memakai ini mulai sekarang,” kata Ami
“Apa ini?”membuka bungkusan yang ia berikan.
“Itu kain sari”
Mataku langsung melotot, ingin rasanya aku tertawa
“Ami aku bukan orang India, aku orang Indonesia yang kebetulan menikah dengan Frans, seorang keturunan India,” kataku menahan diri agar tidak tertawa. Membayangkan aku memakai kain sari seperti di film-film Hollywood
Waktu menikah dengan Frans aku masih mau.Tapi kalau di suruh pakai seperti neneknya Frans , yang setiap hari pakai sari, aku tidak akan percaya diri
“Kamu harus Faila! itu kemauan saya, dulu aku berharap anak-anak saya menikah dengan orang Hindi asli agar aku bisa melihatnya memakai kain sari seperti ini” Ucap Nenek nya Frans. “Tapi sayang anak saya ada empat orang . Tidak ada satu orang dari mereka menikah dengan orang dari kampung saya,” kata Nenek Frans dengan raut wajahnya yang sedih
__ADS_1
Oh hatiku meleleh tapi berat untuk melakukannya.
“Baiklah Ami, aku akan mencobanya “kataku dengan sangat berat hati
Seketika wajahnya langsung berseri. Tangannya dengan sigap memilih kain sutra yang akan aku pakai.
“Ini sayang, cobalah,” kata Ami ini namanya Punjabi. Salah satu jenis pakaian tradisional India bagian Utara kata Ami. Baju blouse diatas perut dan selendang panjang dan bawahannya kain sari berbentuk rok panjang.
“Ami… ini perutku kelihatan” kataku setelah mencobanya.
“Tidak apa –apa sayang , kita tinggal tutup dengan dengan selendangnya ,pinggangmu ramping , kamu sangat cantik,” kata Ami mendandaniku layaknya orang India. Rambutku selaras dengan kain yanga aku pakai.
“Nanti malam pembukaan Restauran baru papinya Frans aku ingin kamu memakai ini. Aku ingin tunjukkan pada mereka. Saya juga bisa punya menantu seperti mereka,” kata Ami dengan raut wajah sendu.
Frans mempunyai keluarga besar dari neneknya yang berdomisili di Jakarta dan Bogor, Medan juga. Maka setiap kali ada acara besar atau syukuran mereka sering berkumpul.
Jadi nanti malam Papinya Frans akan membuka Restoran baru. Nenek ingin, aku memakai kain sari itu bersamanya. Akhirnya malam mendebarkan itupun tiba.
Frans dari kantornya langsung ke tempat acara. Karena restauran baru Papi daerah Sudirman Juga. Mami dan papinya Frans sudah ada ditempat sejak dari pagi. Aku, Arjun, Regi, dan kak Dion akan berangkat bersama.
Baru saja kami turun dan nenek dari lantai atas . Regi, dan Ajun menatapku tidak percaya.
“Kak Faila!?”
“HA”HA”HA.
Arjun ngakak tidak percaya melihatku.
Memang benar aku memang sangat berbeda. Neneknya Frans sukses mendandaniku begitu berbeda. Bahkan sangat cantik, baju yang dicoba tadi pagi yang jadi pilihan terakhirnya. Rambutku yang panjang dirias dengan rapi. Terlihat seperti Artis India.
“Aku juga tidak mengenalnya tadi” kata Regi, ikut tertawa
“Aku kira ada wanita yang Ami bawa dari India sana, ternyata orang India nyasar” kata Dion ikut-ikutan membuatku semakin tidak percaya diri
Ketiga kakak beradik itu tertawa menertawai, jika saja sudah tertawa melihatku memakai kain sari bagaimana dengan tanggapan orang-orang nanti?
~Bersambung~
baca juga ceritaku yang lain
selalu dukung
__ADS_1
terima kasih atas dukungannya
Follow IG @sonatha-nata