
Saat aku dan Tari duduk, lagu jedah , membuat semuanya kembali duduk ke posisi masing - masing.
“Fai…!”Teriak Serli dengan ramah, ia memelukku
“Eh kemana aja, Fai?” Tanya Hendra
“Tidak kemana- kemana, masih tetap kuliah di sini kok,” jawabku mencoba tersenyum walau kaku bagai kanebo kering.
Walau sangat berat, aku bersikap biasa tetap rama, walau tidak sama seperti Faila yang dulu yang selalu menempel bak permen karet pada Frans.
Lagi - lagi Frans menatapku dengan tatapan susah di jabarkan dengan kata- kata, seperti dugaanku ke dua nenek lampir ini datang mengintimidasiku dan selalu ingin menjadi kompor meleduk.
“Wah sekarang uda, ada teman baru lupa ama kita iya,” Tiara mulai
“Iya, kemana cowok pengangum kamu itu, biasanya dia selalu datang menemuimu?” tanya Vera.
Sebenarnya malas bangat meladeni mereka,
“Hanya teman, namanya Mohan kali Vera,kan lo tau nama nya,”ucap Tari menatap marah pada keduanya
“Iya, sih siapa yang gak kenal cowok keren seperti dia,” kata Tiara.
Kami datang ke tempat ini, agar terhindar dari yang bernama Mohan, pengangu, tiba di sini ketemu yang lebih parah lagi ‘Nenek Lampir’ apes benar hidup ini.
Sepertinya Tari juga terjebak dalam situasi yang kurang enak ini, Ia diam membatu dan hanya jadi pendengar saja, di keliling cowok- cowok tampan, Hendra, Agus, Davit dan Frans dan satu personil nya kurang Bang Niko.
Aku bigung harus membuat alasan apa untuk kecangungan ini,
Mata menoleh ke belakang, melihat Repina dan Adira ada di kantin itu juga, aku merasa senang luar biasa.
Ada alasan untuk kabur dari tempat ini
“Itu Repi?” tanyaku pada Tari ia mengikuti arah telunjuk tanganku untuk memastikan.
“Oh, iya juga terlihat bersemangat, Tari juga pasti merasa canggung juga.
“Repi…!” panggil Tari si cewek tegas itu melihat dan melambaikan tangannya pada kami, ada beberapa orang satu meja dengannya, sepertinya ada satu lelaki yang membelakangi kami,
“Ayo ke situ saja ayo,” ajak Tari ia berdiri
“ Eh mau kemana Fai, di sini aja gabung sama kita,” kata Hendra menyuruhku duduk lagi.
“Gak enak kak, ini meja kalian." Tari kikuk. Tari memang begitu orangnya di depan orang -orang Tampan suka kikuk dan grogi.
Aku menoleh Frans dan gengnya, meminta meminta izin pindah tempat,
__ADS_1
Baru mau berdiri cowok di depan Repina ikut menoleh kearah kami, karena ajakan Repina untuk kami ikut bergabung di kursi mereka
Jeeeeng
Ternyata Mohan.
Membuatku hampir tersendak dengan minuman yang aku serumput, berniat menghabiskan minuman yang aku pesan tadi agar gelasnya bisa aku tinggalkan.
‘Ah gila ada Mohan’ aku memaki kesal dalam hati,
“Itu Mohan,”ujar Tari dengan mata melotot.
“Iya, kita keluar saja mendingan udah,” kataku sama Tari.
Tari juga sepertinya kaget sama seperti ku, tapi suasana hatiya berbeda.
Kalau Tari kagetnya bercampur senang dan gembira karena bisa ketemu sama cowok idolanya, kalau bisa setiap jam pun ia akan senang, bisa bertemu dengan Mohan
aku justru kebalikannya
“Ayo ,” ajaknya lagi, ia masih berdiri menunggu
“Tapi ada Mohan di situ kamu sajalah, aku malas,” kataku
Frans melihatku dan melihat Mohan yang melambaikan tangannya kearah kami.
Hatiku mulai tidak tenang. Kalau aku tidak ke sana maka Mohan lah yang menghampiri kami dan mulai mengacau di depan Frans maka akan terjadi perang,
Otakku mulai memprediksi keadaan, untung nya Tiara dan Vera dan teman teman Frans kembali berdiri meninggalkan kursi mereka
Bernyanyi mengikuti penyanyi di depan panggung, sehingga tidak menyadari mata Mohan dan Frans yag mulai saling beradu banteng.
Karena Frans tidak ikut- ikutan berdiri, ia hanya duduk mendengar alunan musik. Tetapi saat ini, melihat melotot tajam kearah Mohan ,
“Ayo, kita ke situ saja dari pada dia yang ke sini,” ujar Tari, ia pergi meninggalkanku berdua sama Frans.
Aku mengambil keputusan sendiri, meninggalkan tempat ini, jalan tebaik kataku dalam hati, aku tidak suka ada masalah-masalah lagi, aku tidak suka dengan tatapan Frans.
“Aku duluan pulang semuanya,” ucapku berdiri.
Aku berjalan cepat- cepat sebelum Mohan mengejarku dan melakukan hal hal konyol lagi.
Terakhir hal gila yang dia lakukan, ia memaksaku bertarung dengannya, berlomba makan satu Bangkok mie ayam porsi besar, kalau aku kalah, aku bersedia menjadi pacarnya, kalau dia kalah dia akan jadi babuku, tentu saja, menolaknya, karena kedua- duanya tidak ada yang aku inginkan.
Aku berjalan buru- buru meninggalkan tempat itu, dalam keadaan perut lapar, karena niatnya ingin mengisi perut.
__ADS_1
Tiba- tba aku merasakan ada tangan besar yang menarik lenganku dari belakang,
Aku berbalik ternyata Frans mengikuti dan kali ini dia memegang lenganku
“Ayo kita bicara dulu.” Frans masih menarik lenganku sebagai cowok idoladi kampus ia cowok tampan.
Kali ini, wanita-wanita popular atau wanita bojeus melihat kami mempelolotot ke arahku, saat Frans membawa menjauh dari kantin
seakan -seakan mereka tidak rela idola mereka bersamaku.
Aku berjalan mengikuti langkahnya, ia membawaku kearah ujung, tepatnya di pinggir danau yang penuhi Pohon -pohon rindang yang menyejukkan.
Ia menghentikan langkahnya di satu kursi dekat danau melihat pemadangan romantis orang mungkin akan mengangap kami sepasang kekasih yang ingin mojok atau ingin memadu kasih.
“Ada apa Frans,” tanyaku setelah ia melepaskan tangan ini, ia juga duduk di kursi kayu di pinggir danau.
“Duduklah, Fai,”ucapnya memintaku duduk di sampingnya.
Tapi aku engan menurutinya, aku masih berdiri dan memilih memandang ke arah danau, melihatku tidak mau menurutinya, ia juga ikut berdiri juga akhirnya.
“Fai kenapa kamu selalu menghindar dariku?” Ia menatapku dan tatapannya kali ini berubah lagi lebih mendung.
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab
“Aku tidak menghindar hanya ingin fokus kuliah"
“Kenapa? Apa kamu benar-benar ingin melupakanku selamanya?”
“Iya.”
“Apa kita tidak bisa memperbaikinya lagi, ayo kita mulai dari awal, aku akan membantumu melewati semua kesulitanmu,” kali ini suara terdengar sedikit memohon.
“Maafkan aku Frans , aku hanya ingin fokus menyelesaikan kuliah ini dulu,” ucapku.
"Fai, aku baru menyadari, kalau aku mencintaimu, bisakah kamu kembali ke rumah? Kami merindukanmu. Ayo kita mulai lagi dari awal, aku akan menjagamu selamanya? Apa kamu mau Fai?"
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)