Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Saat dia datang menawarkan cinta


__ADS_3

Saat aku dan Tari duduk, lagu jedah , membuat  semuanya  kembali  duduk ke posisi masing -  masing.


“Fai…!”Teriak  Serli  dengan  ramah, ia memelukku


“Eh  kemana  aja,  Fai?”  Tanya Hendra


“Tidak  kemana- kemana, masih  tetap  kuliah  di  sini kok,” jawabku  mencoba tersenyum walau kaku bagai kanebo kering.


Walau  sangat berat,  aku  bersikap  biasa  tetap rama,  walau  tidak  sama  seperti  Faila  yang  dulu  yang  selalu  menempel  bak permen karet pada  Frans.


Lagi - lagi  Frans  menatapku  dengan  tatapan susah di  jabarkan dengan kata- kata, seperti  dugaanku ke  dua  nenek  lampir ini datang   mengintimidasiku dan selalu  ingin  menjadi kompor meleduk.


“Wah  sekarang  uda,  ada  teman baru  lupa ama kita  iya,” Tiara  mulai


“Iya, kemana  cowok pengangum kamu itu,  biasanya  dia  selalu datang  menemuimu?” tanya Vera.


Sebenarnya  malas  bangat  meladeni  mereka,


“Hanya  teman, namanya  Mohan kali Vera,kan lo  tau nama  nya,”ucap Tari menatap marah pada keduanya


“Iya, sih siapa  yang  gak  kenal  cowok  keren seperti  dia,” kata Tiara.


Kami datang ke tempat ini, agar terhindar dari yang bernama Mohan, pengangu, tiba  di sini ketemu yang lebih parah lagi ‘Nenek Lampir’ apes benar hidup ini.


Sepertinya Tari  juga  terjebak  dalam  situasi  yang  kurang  enak ini,  Ia diam membatu  dan hanya jadi  pendengar  saja, di keliling  cowok-  cowok tampan, Hendra, Agus, Davit dan Frans   dan satu personil nya kurang  Bang  Niko.


Aku  bigung  harus  membuat  alasan apa untuk kecangungan ini,


Mata menoleh ke belakang,  melihat  Repina  dan Adira  ada di kantin itu juga, aku merasa senang  luar biasa.


Ada  alasan untuk  kabur  dari  tempat ini


“Itu  Repi?”  tanyaku pada Tari  ia mengikuti  arah telunjuk  tanganku  untuk  memastikan.


“Oh, iya juga terlihat bersemangat, Tari juga pasti merasa canggung juga.


“Repi…!”  panggil  Tari  si  cewek tegas  itu  melihat  dan  melambaikan tangannya  pada  kami,  ada  beberapa  orang   satu meja dengannya, sepertinya  ada satu lelaki yang membelakangi kami,


“Ayo ke situ saja ayo,” ajak Tari  ia berdiri


“ Eh mau kemana Fai, di sini aja gabung sama kita,” kata Hendra menyuruhku duduk lagi.


“Gak enak kak, ini meja kalian." Tari kikuk. Tari memang begitu orangnya di depan orang -orang Tampan suka kikuk dan grogi.


Aku  menoleh  Frans  dan  gengnya, meminta  meminta izin  pindah  tempat,

__ADS_1


Baru  mau  berdiri  cowok  di  depan Repina ikut  menoleh  kearah kami,  karena  ajakan Repina  untuk  kami ikut   bergabung di kursi  mereka


Jeeeeng


Ternyata  Mohan.


Membuatku  hampir tersendak  dengan  minuman   yang  aku  serumput, berniat  menghabiskan  minuman yang  aku  pesan tadi  agar  gelasnya bisa  aku tinggalkan.


‘Ah gila ada Mohan’  aku memaki kesal dalam hati,


“Itu Mohan,”ujar  Tari dengan mata melotot.


“Iya, kita keluar saja mendingan  udah,” kataku  sama Tari.


Tari  juga  sepertinya  kaget  sama seperti ku, tapi  suasana hatiya  berbeda.


Kalau Tari kagetnya bercampur   senang  dan gembira  karena bisa  ketemu  sama  cowok  idolanya,  kalau  bisa  setiap jam pun ia akan senang, bisa bertemu dengan Mohan


 aku justru kebalikannya


“Ayo ,” ajaknya lagi, ia masih  berdiri menunggu


“Tapi  ada Mohan di situ kamu sajalah, aku malas,” kataku


Frans    melihatku dan melihat Mohan yang melambaikan tangannya kearah kami.


Hatiku  mulai  tidak  tenang.  Kalau aku  tidak  ke sana  maka  Mohan lah  yang  menghampiri kami dan mulai mengacau di  depan  Frans  maka  akan  terjadi  perang,


Otakku  mulai  memprediksi  keadaan, untung nya  Tiara  dan Vera  dan teman  teman Frans    kembali  berdiri meninggalkan kursi mereka


Bernyanyi  mengikuti penyanyi di depan panggung, sehingga  tidak menyadari  mata Mohan dan Frans yag mulai saling beradu banteng.


Karena  Frans  tidak ikut- ikutan berdiri,  ia   hanya  duduk mendengar alunan musik. Tetapi saat ini, melihat   melotot tajam kearah Mohan ,


“Ayo, kita  ke situ  saja  dari pada  dia  yang  ke sini,” ujar  Tari, ia  pergi meninggalkanku  berdua  sama  Frans.


Aku  mengambil keputusan sendiri, meninggalkan tempat ini, jalan tebaik kataku dalam hati, aku tidak suka ada masalah-masalah lagi, aku tidak suka dengan tatapan Frans.


“Aku   duluan pulang semuanya,” ucapku berdiri.


Aku  berjalan  cepat- cepat  sebelum  Mohan  mengejarku  dan melakukan hal hal konyol  lagi.


Terakhir  hal  gila  yang  dia  lakukan, ia  memaksaku  bertarung  dengannya, berlomba makan satu  Bangkok mie ayam  porsi  besar, kalau  aku  kalah,  aku  bersedia menjadi pacarnya,  kalau dia  kalah  dia  akan  jadi  babuku, tentu saja,  menolaknya,  karena  kedua-  duanya  tidak  ada  yang  aku inginkan.


Aku  berjalan buru- buru meninggalkan  tempat itu,  dalam keadaan perut lapar, karena niatnya  ingin mengisi perut.

__ADS_1


Tiba-  tba  aku  merasakan ada  tangan  besar  yang  menarik  lenganku  dari belakang,


Aku berbalik  ternyata   Frans  mengikuti  dan  kali ini  dia  memegang  lenganku


“Ayo  kita  bicara  dulu.” Frans  masih  menarik  lenganku  sebagai  cowok idoladi kampus ia cowok tampan.


Kali ini, wanita-wanita popular atau wanita bojeus melihat  kami     mempelolotot ke arahku, saat Frans membawa menjauh dari kantin


seakan -seakan mereka tidak  rela  idola  mereka bersamaku.


Aku  berjalan  mengikuti  langkahnya,  ia  membawaku  kearah  ujung, tepatnya di  pinggir  danau   yang  penuhi  Pohon -pohon rindang  yang  menyejukkan.


Ia  menghentikan  langkahnya  di  satu  kursi  dekat  danau  melihat  pemadangan  romantis   orang  mungkin  akan  mengangap  kami  sepasang  kekasih  yang  ingin  mojok atau  ingin  memadu  kasih.


“Ada  apa Frans,” tanyaku setelah ia melepaskan tangan ini, ia juga duduk di kursi kayu di pinggir danau.


“Duduklah, Fai,”ucapnya  memintaku  duduk di sampingnya.


Tapi  aku  engan   menurutinya,  aku  masih berdiri  dan memilih  memandang ke  arah  danau, melihatku tidak mau menurutinya, ia  juga  ikut  berdiri   juga  akhirnya.


“Fai   kenapa  kamu  selalu  menghindar  dariku?”  Ia  menatapku  dan  tatapannya  kali ini berubah  lagi  lebih  mendung.


Aku  berpikir  sejenak  sebelum menjawab


“Aku  tidak menghindar hanya ingin fokus  kuliah"


“Kenapa? Apa  kamu benar-benar ingin melupakanku selamanya?”


“Iya.”


“Apa  kita  tidak  bisa  memperbaikinya  lagi, ayo kita mulai dari awal, aku akan membantumu melewati semua kesulitanmu,” kali  ini  suara  terdengar  sedikit  memohon.


“Maafkan  aku Frans , aku hanya  ingin fokus  menyelesaikan  kuliah  ini  dulu,” ucapku.


"Fai, aku baru menyadari, kalau aku mencintaimu, bisakah kamu kembali ke rumah? Kami merindukanmu. Ayo kita mulai lagi dari awal, aku akan menjagamu selamanya? Apa kamu mau Fai?"


   Bersambung …


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)


__ADS_2