
Memang kalian ke pasar senen ngapain?” Niko menatap kami bergantian.
Dengan senang hati ketiga cewek hunter itu menceritakan sedetail -detailnya semua pada bang Niko membuat bang Niko tertawa terpingkal- pingkal , karena aksi rakusku
Tapi bang Niko memaklumi kekonyolanku karena kami sudah lama berteman dan mengetahui banyak tentang diriku dan bang Niko, teman- temannya juga sering main dan menginap bahkan berhari - hari di rumah Frans, tahu bagaimana keluarga Frans memperlakukanku sebagai putri mereka,selalu di jaga kemanapun tidak boleh pergi tanpa diantar.
“Fai, mau aku antar pulang?” Tanya bang Niko.
Setelah kami menghabiskan makan sore, berunding membahas kemana kami akan bersenang-senang.
“Tari gimana?”
“Aku gampang Fai, mau nginap sama Adira saja sudah biasa,” kata Tari.
“Bang Niko Rumahnya jauh dari sini?” tanyaku penasaran.
“Dekat, mau lihat ayo, gimana kalau kita ke tempatku saja sebentar, nyantai – nyantai, nyanyi di sana rame , Fai,” ajak bang Niko, sadar akan penyakit trauma yang aku derita, ia selalu mengajakku ke tempat yang banyak orang.
“Boleh,” jawabku penasaran juga dengan lelaki pelawak ini.
Ternyata bang Niko tinggal di kosan- kosan juga , tapi bedanya, Bang Niko memiliki kamar dan lebih luas dari milik Adira, kamar mandi dan dapur juga di ruangan itu di lengkapi dengan pendingin Ruangan mirip apartemen nyaman
Mungkin tempat bang Niko jauh lebih mahal dari kedua gadis pelajar ini dan tidak seperti gambaran yang aku bayangkan, kalau kamar laki - laki itu berantakan, dan jorok seperti pada umum nya, kamar bang Niko rapi dan bersih buku - buku tebal layaknya orang hukum berjejer rapi di rak kayu miliknya.
“Silahkan duduk di mana saja,” ucapnya ramah , “Mau minum apa?” Jadi tuan rumah yang baik.
“Dingin ada?”
“Ada.” Mengeluarkan minuman bersoda beberapa kaleng,
Bang niko membawa kami ke lantai paling atas ruangan terbuka, pemandangan indah terlihat jelas, lampu - lampu jalanan lalu lintas berkeli -kelip menghiasi malam .
Ternyata di atas ada juga beberapa orang penghuni kos- kosan, penampilan mereka berbeda dari orang-orang biasa seperti mereka.
Boleh di katakan mereka dari kalangan berduit, dari penampilan mereka dan baju yang mereka juga bermerek
“Kenalin ne teman - teman gue.” Niko memperkenalkan kami berempat.
Cowok -cowok keren itu mengulurkan tangannya dengan senyuman manis
Duduk ngobrol bercengkrama dengan mereka dan bang Niko seperti nya selalu punya ide cemerlang agar suasananya rame dan gembira dia membawa dua gitar dan memberikan satu untukku
“Ayo nyanyi Fai.’ Niko mengajak bernyanyi, setiap kali bersamanya hati ini selalu terhibur.
__ADS_1
Bernyanyi ada yang membuat suara dari botol ada dari ember bekas suasana malam itu sangat menyenangkan tidak terasa waktu hampir jam sepulu malam, aku sedikit panik karena belum mengabari Mami kalau aku pulang akan larut.
“Aku mau pulang iya, ini sudah malam aku berdiri”
“Iya ni sudah malam,.” Adira juga ikut bergegas
“Baru jam sepulu malam ledies- ledies sebentar lagilah,” bujuk teman bang Niko terlihat sangat tampan, iya tadi dia memperkenalkan namanya, Davit dia seorang pengacara.
“Besok kami harus kuliah pagi ,” jawab Tari ikut bergegas
Untungnya Bang Niko mengerti kekawatiranku
“Ayo aku antar Fai.” Ia berjalan mendahuluiku turun dan mengeluarkan motor miliknya, Ninja besar berwarna hitam .
Tanpa protes, aku mengikutinya dan bukan waktunya untuk protes karena aku tau mami sudah menungguku dan menghawatirkanku karena sudah larut malam aku belum pulang.
Jam menunjukkan jam sebelas malam, aku tau Mami sudah gelisah karena ponsel milikku mati kehabisan baterai
Bang Niko melajukan motor besarnya dengan kecepatan tinggi, ia tau kalau mami akan sangat kawatir kalau aku pulang malam
Tepat jam sebelas lewat lima menit kami sampai di depan pagar rumah besar milik keluarga Frans, Pak Soni satpam penjaga rumah itu membuka gerbang dengan sangat hati- hati dan pelan atas instruksi,
“Kok baru pulang Non, tadi ibu bolak-balik keluar menunggu Non pulang”
“Iya pak, ada tugas kuliah tadi,” jawabku dengan suara pelan.
Didepan Rumah sudah ada terparkir mobil frans dan sekilas aku lihat
dia mengawasi kami dari balkon kamarnya,
Tapi aku berpikir kalau ia tidak peduli, tapi tidak mengapa juga bagiku, saat ini yang aku kawatirkan hanya Maminya Frans, rasa tidak enak menghantuiku, biar bagaimanapun aku adalah orang yang menumpang di rumah keluarga Frans.
“Apa aku ikut masuk, untuk menjelaskan pada maminya Frans?” Tanya bang Niko, ia mungkin melihat kekawatiran di wajahku, ke dua tangannya membantuku mencari bandolan pengunci helem itu.
“Ga usah bang makin ga enak nanti karena sudah malam,” Kataku
“Iya uda aku balik Iya.”
“Ok makasi ya Bang.”
Bang Niko membentuk bulat dengan jari-jarinya tanda “Ok”
Aku menarik napas dari hidung membuang dari mulut, ritual kecil itu bisa menyelamatkan dari serangan panik. Aku menyiapkan jawaban sebaik mungkin apa bila mami masih menungguku
__ADS_1
Aku lega ternyata mami sudah masuk ke kamarnya, aku berjalan pelan -pelan dan berjinjit agar tidak mengeluarkan suara,
Berjalan mengendap- endap dengan suasana sebagian lampu sudah di
Matikan, aku menaiki lantai atas tepat sebelum aku masuk kamar
Tiba- tiba kak Frans membuka kamarnya dan mengagetkanku. Aku hanya memegangi jantungku yang hampir tercecer di lantai karena Frans.
Seperti biasa ia tidak akan bilang apa- apa hanya diam dan berpapasan denganku aku melempar senyum sopan dan ramah padanya. Tapi ia melenggang tanpa menyapaku gelas kosong ditangannya sepertinya ia ingin ke dapur , ia tidak menyangupiku dia hanya melonggos melewatiku,
‘Baiklah’ ungkapku dalam hati, mungkin kamu masih marah’
Aku masuk ke kamarku dan menguncinya membersihkan diri sebentar dan bermimpi indah
Aku bangun pagi pagi sekali, bukan akan menyiapkan serapan seperti biasanya, aku hanya ingin kabur dari Mami dan karena belum siap dengan jawabanku dari aksiku tadi malam
Aku merasa bersalah karena pulang larut malam untuk pertama kalinya dan tidak memberi kabar pada mami
Baru saja mau melangkah menuju keluar
“Fai.” Mami baru selesai jogging di susul papi dan arjun dan kak Dion dan tidak ketinggalan kak Frans juga,
Setelah seminggu telah berlalu aksinya yang melabrakku , seperti nya ibu dan anak ini sudah berbaikan kembali
Aku senang untuk hal itu.
“Eh … Mami, habis jogging, iya,” ucapku nyengir kuda.
Aku seperti maling yang tertangkap basah. Aku panik karena berasa bersalah. Satu keluarga itu gantian menatapku dengan tatapan aneh.
“Mau kemana Fai?”
“Eh ... anu itu, aku mau kuliah Mi,” aku panik karena tertangkap basah tanpa persiapan.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-The Cursed King(ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoi