
Kak Hendro terlihat tegang ketika Felix bicara seperti itu.Tari juga demikian. Ia mengantar mereka kekamar. Menyalakan penghangat ruangan. Ia kembali ikut bergabung dengan kami.
“Maaf iya” kamu harus ikut repot” kata kak Hendro menepuk pundak felix.
“Tidak apa Bang, nyantai aja, tapi mereka sangat lucu. Aku juga nanti pengen seperti itu, punya anak kembar kata Felix senyum , tapi matanya menatapku. Karena aku tidak mengerti apa maksud Felix, aku hanya ikut tersenyum membalas
“Ruuar biasa rasanya ”Kata Kak Hendro memijat-mijat lengannya yang mungkin sangat pegal.
Acara Malam itupun , selesai dengan aman tenteram karena dua bocah kembar itu sudah terlelap tidur,
Karena sudah malam Felix memilih menginap dirumah kami,
“Aku tidur duluan” kata Hendro dan meninggalkan kami bertiga yang masih mengobrol ngalor ngidul dengan asik.
“Tar, sebenarnya aku ingin mengajak Faila jalan. Tapi aku tidak enak, mau ngomong ama suamimu,” kata Felix. Kami dan Tari saling melihat satu sama lain, kami tertawa.
“Memangnya anak baru kemarin apa, harus minta izin dulu ama keluarganya,”kata Tari meledek Felix
“Harus ngomonglah , tau sendirikan kalau Faila kemana-kemana bareng kakaknya”Kata Felix
Kakakku memperlakukanku, seperti anak yang butuh pengawasan, alias anak dibawah umur. Semenjak sakit, pergaulan dengan orang luar juga diawasi
Natal sudah usai, dan keceriaan Natal sudah mulai berlalu . Kak Hendro sepakat kalau kami pindah ke London. Rumah dan Restauran yamg penuh kenangan itu, kini dijual kembali. Untuk mendapat kehidupan yang lebih baik.
Aku semakin pulih, tidak merasa sering pusing-pusing lagi. Baru dua hari berada ditempat yang baru di London.
Stasiun televisi ternama di London, menawariku sebagai salah satu Model untuk salah satu Produk alat-alat dapur. Tentu saja kami menerimanya, walau tidak memasak sebagai Koki.
Tapi aku berpose dan berpakaian layaknya seorang Koki Profesional.
Baby Twin tertawa bahagia, ketika wajah Mommynya menghiasi layar kaca. Yang mereka tonton. Ada rasa bangga, ketika saat itu wajahnya Arden dan Aretha berseri-seri melihatku ada disana.
Benar kata orang bijak:
Jika satu momen bahagia menghampirimu dan terlaksana. Sering sekali kegembiraan yang lain mengantri untuk datang juga. Begitu juga sebaliknya , jika kamu mengalami kesialan mungkin kesialan lain sedang mengincarmu.
Maka sering, kita dengar sudah jatuh tertimpa tangga Pula .
__ADS_1
Tapi saat ini, setelah menjadi seorang Model iklan peralatan Masak dan tampil juga di salah satu Majalah terkenal di London Vogue. Itu rasanya sangat Amazing. Semangat makin berkobar
Kali ini aku juga aku mendapat job. menjadi seorang Juri dalam acara lomba masak -memasak. Di salah satu acara televisi yang tayang sekali seminggu di televisi di Negara itu.
Menjadi entertainment bukanlah impian saya, terkadang nasib seseorang melenceng dari apa yang kita inginkan.Tapi apa yang aku terima saat ini patut aku syukuri,
Karena tidak semua orang , mempunyai kesempatan seperti aku. Mungkin diluar sana, masih banyak yang antri lebih layak menjadi Model profesional. .
Hubunganku dan Felix semakin dekat, Kami berdua sudah mulai sering makan berdua, jalan berdua seperti sedang pacaran.
Tadi siang, ia menjemputku setelah pemotretan untuk majalah edisi terbaru. Felix ternyata sudah menunggu bahkan ikut melihatku bekerja bekerja dan dengan sabar menunggu.
“Makan ayo, ajak Felix tangannya memegangnya perut makan siang, bukan, mungkin makan sore. Karena jam sudah menunjukkan 03:00 waktu Inggris.
Sembari nunggu pesanan datang, aku bertanya pada Felix apa kami dulu pernah dekat.
“Tidak kita tidak pernah dekat,” kata Felix
“Aku merasa kita sudah pernah dekat kataku,” sedikit menimang-nimang,
“Kamu harus melupakan masa lalu Fai yang perlu kamu lakukan, meniti masa depan,” kata Felix sama seperti omongan kak Hendro
Hello, my love
I’ve been searcing for someone like you
For most my life
Happiness ain’t a thing I’m used to dst…
By .weslife.
“Halo” Fai! Aku mengangkatnya
Terdengar Tari, panik di ujung telepon,
“Kenapa Tar?”
__ADS_1
“Arden hilang!” Suara membuatku, tidak kalah panik
Padahal makanan yang kami pesan, baru kumasukkan kemulutku dua sendok. Tapi tidaka ada yang penting dari semua itu.
“Ardin hilang !” aku memberitahukan Felix tanpa ditanya Ia juga langsung berdiri, dan mengeluarkan mobilnya.
Aku memohon dalam hati, agar Arden anakku tidak benar-benar tidak hilang,
“Tenang Fai” Felix mencoba menenangkan ku yang terlihat mulai menunjukkan cara pamungkas . ala Wanita ya itu dengan menangis. Menangis adalah salah satu cara Pamungkas wanita untuk meluapkan Emosi dan perasaanya.
Didalam Rumah , yang baru dua hari kami tempati itu .Tari terlihat menangis dengan wajah yang begitu lelah.Di gendongannya terlihat si cantik Aretha memegang botol susunya. Wajah polos tersenyum melihat kedatangan kami. Ia tidak tau, kepanikan Orang tuanya karena ulah kembarannya.
“Fai’maafkan aku kata Tari sesenggukan, tangannya satunya menyeka air matanya yang jatuh kepipinya. Aku tidak tega melihat tangisan sahabatku.
“Tenanglah Tar. Kita akan mencarinya jangan menangis anakmu tidak akan terjadi apa-apa kataku, menenangkan terlihat munafik ,Padahal saya sendiri juga menangis dijalan menuju kerumah tadi,
Tapi dihadapan tari berubah menjadi sosok yang tegar.Walau hatiku menangis ingin menjerit karena kehilangan anakku.
“Tadi aku , lagi mandiin adiknya dikamar mandi . Karena Ia tumpahin susu di seluruh tubuhnya. Aku lupa mengunci pintu” kata Tari tangisannya lebih keras.
“Apa kamu sudah mencari kehalaman? Tanya Felix.
“Sudah” Cuaca diluar sangat dingin. Ia tidak memakai jaket tadi. Suara itu semakin bergetar.Aretha hanya memandangi wajah Bundanya dengan senduh, tangan mugilnya mengusap pipi Tari. Sangat mengemaskan.
Arden sangat pintar, diumurnya yang melebihi tiga tahun. Ia sudah mengerti banyak hal. Dan bicara juga sudah sangat jelas baik bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia Ia mengerti.
“Apa sudah menelepon kakak Hendro?”
“Ia tidak bisa dihubungi. Ponselnya tidak aktif, mungkin masih dalam ruangan seminar. Aku takut kalau , Ia sudah pulang nanti Fai! kata Tari semakin pilu tangisannya semakin menjadi jadi.
Hari ini kak Hendro lagi mengadakan seminar di Rumah sakit tempat yang dulu. Mungkin Ia masih dalam acara seminar.
Tari takut kalau kakak tau . Arden hilang, aku lebih takut.Aku takut Ia memarahi Istrinya.
Hampir dua jam kami mencarinya , tidak menemukannya . Cuaca diluar semakin dingin . Hujan salju semakin deras.
Kali ini kak Hendro yang menelepon balik. Mungkin ia mengecek ponselnya , ada banyak panggilan masuk. Aku melirik Tari yang duduk lemah dengan wajah pucat, karena lelah. Kali ini juga Polisi ikut mencari.
__ADS_1
baca juga ceritaku yang lain
Follow IG @sonatha-nata