
setelah tubuh ini kembali mengalami kejang-kejang, kini, diletakkan di atas ranjang rumah sakit dan di dorong oleh petugas tumah sakit.
Ternyata di ruangan dalam sudah ada kakek dan kakakku, dan semua kelurga Frans lagi, entah siapa yang mengabari mereka , tapi yang pasti mereka sudah sampai duluan dari kami. Mami Frans menangis memegang tanganku yang didorong ke sebuah ruangan
Tatapan sinis ditujukan Frans pafa kakek dan kakak. Pengakuaanku Frans tentang perlakuan kakek dan kakak di masa lalu membuat mengalami penyakit ini , mata Frans menatap tajam kepada kakekku dan kakakku, sepertinya berhasil mengusik batin kakak laki -lakiku, Frans yang duduk di salah satu kursi yang paling pojokkan, dengan wajah tertunduk kedua siku bersimpuh dipaha kakinya dan telapak tangannya direma- remas dengan gelisah sesekali pandangannya ke kamarku.
Dimana seorang gadis yang dulu diabaikan dan di acuhkan bertarung hidup di dalam kamar.
Frans selalu menghormati kakek, tapi sejak tau kejadian masa kecilku yang menyedihkan perasaanya berubah,
Entah kenapa perasaan benci pada kedua orang terdekatku, ikut di rasakan Frans, NIko, Tari dan Mohan masih duduk dalam diam dan sibuk dalam lingkaran pikiran masing masing mereka masih menunggu.
Hanya Adira wanita berparas Ayu itu yang berkutat dengan ponselnya, mereka ber empat tidak menghiraukan pandangan para pembesuk yang lalu- lalang yang menatap ke empat orang itu, dengan berbagai macam tatapan. Aku dalam penanganna dokter. Hendro datang, ia penasaran dengan sikap Frans yang tib-tiba berubah.
“Ada apa Frans? Ada yang salah yang kulakukan?” ujarnya samar -samar aku dengar
“Tidak, hanya saja merasa capek,"balas Frans bersikap cuek
Mami frans tiba- tiba datang memotong pembicaraan mereka di tangannya membawa satu baju yang bisa membungkus tubuh anaknya, karena dari tadi Frans hanya memakai singlet putih.
Menyuruh Frans memakai bajunya karena saat duduk diruang tunggu ada beberapa orang anak-anak gadis melihat Frans, maka maminya memberinya baju untu ia pakai mataku masih melirik mereka
*
Aku sudah mendapat perawatan, Frans dan yang lainnya sudah pulang dan digantikan Maminya Frans yang menjagaku.
Setelah beberapa lama berbaring dengan pengaruh obat bius seluruh tubuhku terasa sakit bagian leherku terasa perih, aku terbangun dan melihat sekeliling
"Oh rumah sakit tempat yang aku benci kini aku berada disini lagi'ucapku membantin.
Tangannya Mami mengengam hangat jari- jariku, ia tersenyum dengan lembut.
__ADS_1
”Kamu sudah bangun, Fai?”
setelah beberapa lama pergi dari rumah Frans, aku merindukan mami.
Aku hanya mengangguk kecil.
Setelah mengalami kejang-kejang dan mengigau di kampus tadi, dokter menyuntikkan bius padaku, karena aku seperti mengalami sakau.
Kini, pengaruh biusnya perlahan mulai menghilang, meninggalkan rasa sakit leher dan seluruh tubuhku, tapi sepertinya nasip sial dan nasip buruk masih menghampiriku, saat ini mendadak pita suaraku hilang.
'Ya ampun apa lagi ini?'aku membatin ingin menangis apa lagi melihat pandanga mereka yang menatapku iba, aku tidak menyukainya aku bukan anak kucing yang kejebur got yang dikasihani
Ingin rasanya memiliki tongkat sihir, agar aku bisa menghilang dari tempat itu segera, tidak tahan aku melihat pandangan orang- orang yang melihatku dengan rasa ibah yang berlebihan, membuatku jengkel.
Apalagi dengan tatapan Dokter dan para perawat seoalh hidupku begitu mengerikan,
Mami dengan setia menemaniku, Tangannya dengan lembut mengusap rambutku mata sembab,
“Aku merindukanmu Fai” Ucapnya hanya ku balas dengan sebuah senyuman yang kecil,
Tanpa sungkan memberikan kecupan di kening ini beliau sudah mengangapku sebagai Putrinya,
Semua keluarga Frans akhirnya paham kondisiku.
“Fai apa kamu mau makan?” Papi mengupas sepotong apel dan memberikanya padaku,
Aku bicara menggunakan bahasa isyarat
dan mengeluarkan suara aneh dari mulutku. Tanganku memberi petunjuk dengan tangan menunjuk leherku, kalau suara indah milikku tiba- tiba menghilang
Seperti biasa Mami akan panik duluan, menekan tombol darurat beberapa orang berlari keruanganku karena panggilan mami,
__ADS_1
Sepertinya Frans sudah datang lagi kerumah sakit dengan pakaian sudah rapih dan Tari juga menunggu dengan setia,
Melihat beberapa orang berlari keruanganku Frans ikut panik, ia juga dia berlari melihatku, matanya memandangku dengan tatapan tidak bisa diartikan,
Tubuhku didorong beberapa perawat,kesuatu ruangan seperti ruang Rongsen melewati koridor dimana Frans ,Mohan, Niko,kakek dan Henro kakakku, membuatku tutup mata tidak ingin mentap mereka,
Tujuanku melakukanya bukan untuk membuat mereka panik, hanya karena aku belum siap bertatap mata dengan mereka dengan semuanya, tiba- tiba aku merasa asing dengan mereka seperti mahluk luar angkasa yang terdampar di bumi terlebih kakak lelakiku yang aku anggap sebagai penjahat di masa laluku.
Itu karnea aku mengingat setiap kejadian demi kejadin waktu kecil dank arena itulj aku berahir di rumah sakit,
“Apa yang terjadi Dok?” Terdengar suara Tari panik melihat tubuhku didorong melewati mereka,
“Kami akan membawanya ruangan pemeriksaan karena Pita suaranya rusak, perlu pemeriksaan lanjutan,”
“Apa penyebabnya Dokter?” Dokter yang masih muda itu mencoba menjelaskan singkat pada Tari,
Aku mengintip dari ekor mataku Kakekku terlihat sedih memandangku, akhinya tubuhku didorong lagi, semakin menjauh meniggalkan koridor dimana mereka duduk berkumpul
Mendengar kata rumah sakit selalu membuatku merasa takut dan mengangap sebagai tempat kematian, aku di bawah keruangan yang di penuhi banyak alat, ruangan yang begitu sepi ruangan yang bisa membuatku mati
Aku menahan tubuhku agar tidak bereaksi lagi, aku menutup mataku sebisa mungkin untuk menahan ketakutanku, terasa sesak karena masuk keruangan berbentuk kapsul itu hanya diriku,
Aku merasakan baju yang aku kenakan semakin basah seiring keringat yang membasaki tubuhku semakin banyak,
Kenapa mereka membawaku ketempat ini, apa mereka tidak membaca catatanku, aku takut tempat seperti ini.
“Cepat keluarkan dia!” terdengar suara panik memberi perintah dan aku masih belum berani membuka mataku,
Tapi belum juga sempat mau dikeluarkan, tubuhku terguncang lagi, dan berreaksi hebat memberi guncangan pada alat pendeteksi tersebut, hinga membuat alat itu mengeluarkan suara peringatan alaram kebakaran, aku menendang merontadan mungkin merusak salah satu alat sistimnya,
Maka terjadilah kehebohan, akibat diriku, aku terus meronta dan mengakibatkan satu luka di kepalaku, darah segar meluncur membanjiri keningku dan bajuku , hampir mati dirungan pemeriksaan,
__ADS_1
Semua orang berlari membantu kami yang terjebak bersama dua orang dokter dan dua perawat laki laki, dan parahnya bukan hanya aku terluka kedua dokter itupun ikut terluka akibat percikan api dari alat tabung yang berbentuk bulat , Alat CT scan, tujuannya memeriksa keseluruhan tubuhku terutama jantungku radioalogi atau Dokter yang menanganiku ikut terluka juga, Hidupku sepertinya selalu di timpa kemalangan.
Bersambung ....