
Aku hanya diam saat Frans memegang tangan ini, aku tidak ingin mengatakan apa-apa dan tidak mau hal lain. Saat itu aku hanya ingin mencari pekerjaan.
“Tolong jangan pergi Fai,” ucap Frans.
Tiba-tiba Bang Niko datang entah dari mana, di ikuti anak-anak yang lain.
“Fai kamu tidak apa-apa?” Niko meneliti wajahku.
“Tidak apa- apa Bang,” balasku melepaskan tangan Frans.
“Tetapi kamu berdarah Fai!”Semua mata menatap kearah ku, Frans ikut berdiri.
Ternyata kening ini terluka aku sendiri tidak menyadarinya.
Pantesan aku merasa pusing , Mohan sepertinya melempar tas ransel milik nya dan mengenai kepalaku. entah apa isinya membuat kening ini berdarah.
Bang Niko menarik tanganku, ingin mengobati luka ini.
Ternyata Frans juga menarik tangan ku, tarik - tarikan pun terjadi kali ini, entah apa yang terjadi di antara dua sahabat ini
“Aku bisa mengobatinya,,” ucap Frans menata tajam pada Niko.
“Aku pulang, kepalaku sangat pusing,” kataku
“Aku akan mengantarmu pulang.” Niko berjalan di depanku
Sepertinya Frans tidak terima, ia menarik tanganku ia tidak ingin Niko mengantarku.
“Jangan lagi, aku benar-benar pusing,” kataku dengan lemas.
Frans menyerah bang Niko membawaku menaiki motor gede
miliknya memeluk dari belakang menyandarkan kepalaku ke
badannya. Bukannya ingin bermesraan tapi aku benar - benar pusing
beberapakali bang Niko, membenarkan pegangan tanganku, karena aku tertidur di punggungnya, khawatir aku akan jatuh bang Niko juga memegang tangan ini agar tida jatuh.
Aku membuka mataku sudah berada di ranjang rumah sakit, aku beranjak ingin kabur, menyadari kami berada di rumah sakit . Rumah sakit Adelia cibubur ketakutanku semakin menjadi- jadi kala aku melihat para Dokter memakai jubah kebesaran mereka
Tubuhku gemetaran, meringkuk memeluk lututku. Rumah sakit salah
satu tempat yang menakutkan bagi ku, aku merasa rumah sakit tempat
pembunuhan dan penjagalan tubuh manusia
“Tenanglah Fai, tidak akan terjadi apa- apa,” bisik Niko memenangkan ku.
__ADS_1
Tubuh ini masih gemetaran, aku punya penyakit phobia rumah sakit, tubuhku masih gemetar melihat aku ketakutan, Bang Niko memelukku untuk menenangkan.
“Tenanglah adek kecilku, semuanya akan baik - baik saja. Kamu harus melawan ketakutan itu, kamu harus melawan penyakit itu.
Kamu harus sembuh, hanya kamu yang bisa menyembuhkan dirimu bukan orang lain,” ujar Bang Niko seolah-olah aku adalah adik kecilnya dan sudah mengenal diriku dan penyakitku
Aku menyimak perkataan bang Niko, pelukan lelaki berdarah batak ini begitu menenangkan jiwa membuatku tenang, ia bagai seorang kakak menenangkan adiknya, seperti itulah kehangatan yang aku dapat dari bang Niko,
“Apa bang Niko mengetahuinya semua penyakitku?”Aku bertanya, menatap kedalam matanya, mencoba mencari jawaban lewat mata itu.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Sejak kapan?” tanyaku penasaran.
“Sudah lama, Fai”
“Bang Niko sudah tahu kalau aku puya penyakit, lalu kenapa baru sekarang memberitahuku?”
Jantungku berdetak lebih cepat. Aku terdiam, mencoba mengingat kembali, sejak kapan bang Niko mengetahui penyakitku, padahal menyimpannya rapat aku simpan di lubuk hati paling dalam, aku tidak ingin siapapun tahu.
“Apa Frans juga tahu?” tanyaku lagi
“Tidak.” Ia menggeleng.
“Baguslah”
*
Mendapat suntikan, akhirnya tubuh ini tenang juga.
Setelah beberapa jam istirahat di ranjang ruma sakit aku sudah merasa sehat, dokter mengizinkan kami pulang, Bang Niko masi setia menemaniku layaknya seorang kakak menjaga adik.
Saat kamu keluar dari rumah sakit, Niko membawa ku ke sebuah taman, duduk melihat bintang di langit , begitu indah, begitu menenangkan melihatnya, ia membiarkan aku beberapa lama bermain dengan pikiranku sendiri, bang Niko duduk di sampingku dengan senyum yang manis bahkan sangat manis,
Mungkin kalau Bang Niko tidak menceritakan bahwa ia sudah bertunangan mungkin aku sudah lama Jatuh cinta padanya.
Tapi bang Niko orang yang jujur, ia menceritakan padaku, bahwa ia sudah di jodohkan dengan Paribannya, dengan perjodohan khas orang batak, anak dari Pamannya. Tunangannya kuliah di UKi mengambil jurusan Kedokteran. Wanita yang beruntung bisa mendampingi lelaki baik dan punya jiwa sosial yang tinggi, perduli antar sesama itulah yang sering aku lihat dari Niko.
“Fai!” Panggil Bang Niko
“Ya”
“Kita harus bicara Fai … dengar baik- baik. Hidup itu selalu ada dua sisi Jahat dan baik, malam dan siang dan kamu tidak boleh membuat selalu siang”
Aku hanya mendengar dan menyimak kemana arah pembicaraan Bang Niko.
Walau otak kecilku dan lambat dalam berpikir tetapi aku mencoba membaca ke mana tujuan pembicaraan dan memahaminya.
__ADS_1
“Fai, penyakit trauma yang kamu derita selama ini , kita akan mencoba menyembuhkannya.”
“Apa , menurut abang, aku ini gila?”
“Tidak Fai, banyak orang yang mengalaminya dan bisa sembuh.”
“Caranya ?” Tanyaku lagi.
“Jangan menghindarinya Fai, kamu harus mengatasinya bukan malah menyimpannya dalam hatimu, kamu harus mempercayai orang dan terbuka pada orang, itu cara mengatasi penyakit traumamu”
“Abang sudah lama tahu kalau aku sakit?”
“Sudah lama Fai’
Mendengar itu ada perasaan tidak enak pada Bang Niko, sekarang aku mulai mengerti kenapa dia selalu bercanda dan membuat ke lucuan setiap bersamaku. Ia selalu mengatakan padaku;
“Tidak apa-apa tempatnya ramai”
Ternyata ia sudah tahu kalau aku ketakutan pada tempat yang sepi, gelap.
“Tepatnya setahun yang lalu, aku melihatnya dan menyadari ada sesuatu yang kamu sembunyikan, kamu pikir aku bertingkah konyol dan sedikit gila di depanmu , karna apa? kamunya saja menganggap ku orang yang resah dan banyak ngomong , padahal itu aku lakukan demi dirimu Fai,” ujar Niko.
“Tapi kenapa?”
“Untuk menyelamatkanmu Fai.
“Apa yang kamu alami di alami adekku dari di situ aku menyadari satu hal tentang dirimu,”
“Tapi adekmu baik- baik saja bukan?”tanyaku
Ia menggeleng sedih,
“Kami kehilangan dia, kami terlambat mengetahuinya dan kedua orang tuaku, begitu juga aku di hantui rasa bersalah hingga saat ini,” kata Bang NIko. Karena itulah aku tidak ingin kamu mengalami apa yang dialami adikku.
Bersambung …
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)
__ADS_1