Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Dibawa Paksa


__ADS_3

 


 


Saat keluar dari kelas, ternyata Frans menunggu di depan pintu, matanya menatapku dengan tatapan tegas.


“Ayo  kita  bicara Fai”


Aku tidak ingin ada keributan atau tidak mau mengundang perhatian orang- orang aku mau.


“Kalian jalan duluan iya, nanti aku menyusul,” kataku pada Tari dan Repina dan Adira.


“Jangan lama-lama iya, tugas kelompok kita banyak Ni Fai.” Tari menunjuk buku tebal di lenganya.


“Baiklah


Frans berjalan  dan aku memilih mengikutinya daru belakang, membawaku  jauh  dari  keramaian  mahasiswa, ia memilih tempat  yang agak   sepi,  sebuah jembatan   berwarna merah di  di belakang kampus.


“Ada  apa Frans?” tanyaku saat  kia berhenti.


Ia  menahan  napas,  seakan-akan   ada  beban yang tertahan  di  dalam  dadanya ,  bahunya  naek  turun  dan posisinya  membelakangiku.


“Fai,  ada apa  denganmu?”


“Ada apa  denganku?” Tanyaku   pura - pura  tidak tahu,  padahal aku  sudah  tau  kemana  arah  dari  kemarahan itu.


“Apa  kamu  harus  bertindak  sejauh  itu dan senekat  itu?”


“Apa  maksunya  aku  tidak  ngerti”


“Apa  kamu harus  sejauh itu  sama  Mohan?”


“Emang  kenapa  dengan  Mohan?  Memang  apa  yang  kami  lakukan?” Tanyaku penasaran dengan isi dalam otaknya.


“Apa  kamu  harus  melakukan itu  dengan  mohan. Apa  harus  di  kampus  ini  juga?” Matanya menatapku tajam.


“Apa malasah,  aku  tidak  menyangkut pautkan  denganmu juga kan?” ujarku dengannya aku memang tidak mau perduli lagi dengannya.


“Aku terusik Fai, aku terusik semua orang bertanya padaku, aku marah aku tidak suka”


“Kita tidak sedekat itu Frans, jangan membuat  semua jadi sulit pada dirimu,” ujarku  dengan tenang.


“Fai,  aku  akan selalu  menjagamu , mengawasimu  aku perduli dan sayang padamu dan selamanya akan menjagamu”


Mendengar  semua, keluar dari  mulut  Frans rasanya  aneh, entah  kenapa, sepertinya  hatiku  saat  ini  enggan  mendengar  kata-kata  menjagamu, dan sayang, aku  merasa  hanya  mualan  semata.

__ADS_1


Kenapa  harus  sekarang  di  saat  hati ini sudah tidak menginkanya lagi.


“Fai,  apa  kamu  tidak  yakin  lagi  dengan  perasaanmu padaku?”


“Entahlah,  aku  tidak pernah memikirknya lagi, aku tidak perduli dan tidak penting lagi, masih ada yang lebih penting dari hanya sekedar perasaan,” kataku santai.


Tiba  tiba  tatapanya  menyala bagai  sebuah  sinar  leser,  ia  menatap  mataku  dengan  tegas  dan  menguncinya.


“Ayo,  akan  aku buktikan padamu,” ucapnya  menyeret dan memaksaku.


“Heeei Frans kita  mau  kemana?” Aku tidak suka dengan sikap memaksa yang ia lakukan.


  Aku panik   menoleh  ke kanan-  kekiri    semua  orang  melihat kami dengan tatapan   bigung,  Frans  menarik  tanganku membawa paksa   ke  dalam  mobilnya,   ini  bagai  adengan  penculikan  di  drama-  drama  drama Korea yang wanitanya di bawa paksa.


“Jangan aneh-aneh deh Frans,  kita mau kemana?” Aku semakin panik saat ia menginjak pedal gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi  aku  aku berusaha  membuka  pengaman  yang  mengikat  tubuhku.


“Diamlah Fai.” Suaranya  ringan  tapi  tegas  dengan tatapan  tajam kearahku.


“Tapi kamu membawaku kemana Frans? Aku tidak suka degan cara dipaksa”


Ia tidak menjawab, aku  berdiam  diri  dan  menurut  padanya  karena taku ia semakin marah.


Entah apa yang merasukinya kali ini, aku  membiarkan  Frans  fokus  dengan  setir dan  aku sibuk  dengan  pikiranku  sendiri,


Berbagai  pertanyaan  bermunculan  di  otakku, Bagaimana  kalau  kalau  dia  membawa ku  langsung  ke  gereja?  dan  menikahiku  saat ini  juga,  seperti   di  adengan  drama  Korea  yang aku  pernah  nonton


‘Terus  bagaimana  kalau ia  membawaku ke  Hotel? Lalu  memperkosaku. Ah  tidak,  ia  tidak  senekat  itu.Tapi  bagaimana  dia  membawaku  ke hadapan  kakekku?’


Tiba-  tiba perasaanku  gelisah  tidak  karuan dan  akhir nya  Mobil  fortuner  merah  itu berbelok  ke  arah  Taman  Melati  Margonda


  Aku  tahu  Frans  memiliki  apartemen  di sana  dan  apartemen  miliknya  hasil  karyanya  sebagai  seorang asitektur. Benar saja ia membawaku ke apartemennya.


 ‘Oh apa  yang ingin ia lakukan? ‘Jantung berdetak lebih cepat.


 Ia    masih  dengan  aksinya,  menarik  paksa tanganku  memasuki  apartemen  mewah itu  setelah  ia  memarkirkan mobilnya  di  lantai  dasar


“Kita  mau  ngapain  kesini, Frans?” Ia tidak menjawab masih menyeretku dengan paksa. Aku mulai panik  dan  mengantipasi  semua  kemungkinan.


Tatapannya  tidak  lagi  menyala  seperti  yang  tadi


     Tiiiing …!


Bunyi lift terbuka, ia meyeret tangan ini untuk masuk, jari-jarinya menekan angka 8 itu, apartemen milik Frans, ada di lantai delapan


“Apa yang ingin ia lakukan? Aku mulai ketakutaan, kalau dulu bahkan menghayal Frans membawaku dengan cara seperti ini, tapi saat ini aku tidak menginkannya lagi, aku tidak ingin Frans lagi’  Aku membatin.

__ADS_1


 Tiiing …!


Lift terbuka membuatku terkejut karena melamun sepanjang kami naik, ia membawa tanganku paksa lagi. Hingga tiba di depan pintu apartemen Frans, ia  menempelkan  ibu  jarinya  untuk  membuka  kamar  apertemennya,


Dreet”


Denyit suara pintu, ia memaksaku  masuk lagi.


“Frans kita mau ngapain kesini?” kataku menolak tapi tenaganya  jauh lebih kuat dariku ia menarik tangan  ini dengan paksa lagi sampai benar-benar maskuk ke dalam apartemen.


Pemandangan  seisi  ruangan itu,  mengingatkan ku  dengan  kenangan  dulua.  Horden  yang  aku  pilih  dengan  mami, sofa  pilihanku juga dan satu  set meja  kursi  untuk  di  tempatkan  di  balkon  untuk  tempat  bersantai, kursi  pahatan  dari  akar  pohon mahoni yang  terbentuk  indah,  pahatan tangan-  tangan  ajaip  dan kreatip. Hampir semua isi apartemen Frans pilihanku, aku menunduk tidak ingin mengingatnya lagi.


‘Untuk apa dia  membawaku  kesini? Bertanya dalam hati, belum menemukan jawaban, tiba- tiba tangan kekar Frans megangkat tubuhku dengan  seenaknya.


Belum smpat berpikir


“Eee …? A-a-apa yang mau kamu lakukan , Frans,” aku  grogi bercampur panik.


Dia melemparkan tubuh ini di  ranjang besar  yang super empuk  itu ukuran king size, ranjang pilihanku juga saat itu,


‘Apa yang akan  ia lakukan ,aku membatin perasaan ‘


 Suara pintu kamar terkunci


jantungku berpacu kencang , tangannya membuka kancing baju perlahan mata yang tegas menatapku dengan misterius


“Apa yang ingin kamu lakukan Frans, jangan seperti ini, aku tidak mau,” kataku menutup dadaku dengan bantal.


“Mengingkatmu agar kau tidak kabur lagi.


“Frans jangan seperti ini, aku tidak ingin melakukanya,”  kataku brontak.


Aku mendorong tubuh kekarnya  hanya tersisa celana jeans, kini dia bertelanjang dada dengan Wangi parfum menyeruak dari tubuh etlisnya , Wagi cody kesukaanku.


‘Dulu aku memang menyukai hal seperti ini tapi saat ini semuanya sudah berubah aku ingin hidup normal’


“Dulu aku memang mengemis untuk satu pelukan dan satu ciuman darinya. Tapi itu dulu Fran …. saat ini , aku tidak menginkanya lagi kataku” aku menolaknya.


  Bersambung …


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta untuk sang pelakor. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)


__ADS_2