
Saat keluar dari kelas, ternyata Frans menunggu di depan pintu, matanya menatapku dengan tatapan tegas.
“Ayo kita bicara Fai”
Aku tidak ingin ada keributan atau tidak mau mengundang perhatian orang- orang aku mau.
“Kalian jalan duluan iya, nanti aku menyusul,” kataku pada Tari dan Repina dan Adira.
“Jangan lama-lama iya, tugas kelompok kita banyak Ni Fai.” Tari menunjuk buku tebal di lenganya.
“Baiklah
Frans berjalan dan aku memilih mengikutinya daru belakang, membawaku jauh dari keramaian mahasiswa, ia memilih tempat yang agak sepi, sebuah jembatan berwarna merah di di belakang kampus.
“Ada apa Frans?” tanyaku saat kia berhenti.
Ia menahan napas, seakan-akan ada beban yang tertahan di dalam dadanya , bahunya naek turun dan posisinya membelakangiku.
“Fai, ada apa denganmu?”
“Ada apa denganku?” Tanyaku pura - pura tidak tahu, padahal aku sudah tau kemana arah dari kemarahan itu.
“Apa kamu harus bertindak sejauh itu dan senekat itu?”
“Apa maksunya aku tidak ngerti”
“Apa kamu harus sejauh itu sama Mohan?”
“Emang kenapa dengan Mohan? Memang apa yang kami lakukan?” Tanyaku penasaran dengan isi dalam otaknya.
“Apa kamu harus melakukan itu dengan mohan. Apa harus di kampus ini juga?” Matanya menatapku tajam.
“Apa malasah, aku tidak menyangkut pautkan denganmu juga kan?” ujarku dengannya aku memang tidak mau perduli lagi dengannya.
“Aku terusik Fai, aku terusik semua orang bertanya padaku, aku marah aku tidak suka”
“Kita tidak sedekat itu Frans, jangan membuat semua jadi sulit pada dirimu,” ujarku dengan tenang.
“Fai, aku akan selalu menjagamu , mengawasimu aku perduli dan sayang padamu dan selamanya akan menjagamu”
Mendengar semua, keluar dari mulut Frans rasanya aneh, entah kenapa, sepertinya hatiku saat ini enggan mendengar kata-kata menjagamu, dan sayang, aku merasa hanya mualan semata.
__ADS_1
Kenapa harus sekarang di saat hati ini sudah tidak menginkanya lagi.
“Fai, apa kamu tidak yakin lagi dengan perasaanmu padaku?”
“Entahlah, aku tidak pernah memikirknya lagi, aku tidak perduli dan tidak penting lagi, masih ada yang lebih penting dari hanya sekedar perasaan,” kataku santai.
Tiba tiba tatapanya menyala bagai sebuah sinar leser, ia menatap mataku dengan tegas dan menguncinya.
“Ayo, akan aku buktikan padamu,” ucapnya menyeret dan memaksaku.
“Heeei Frans kita mau kemana?” Aku tidak suka dengan sikap memaksa yang ia lakukan.
Aku panik menoleh ke kanan- kekiri semua orang melihat kami dengan tatapan bigung, Frans menarik tanganku membawa paksa ke dalam mobilnya, ini bagai adengan penculikan di drama- drama drama Korea yang wanitanya di bawa paksa.
“Jangan aneh-aneh deh Frans, kita mau kemana?” Aku semakin panik saat ia menginjak pedal gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi aku aku berusaha membuka pengaman yang mengikat tubuhku.
“Diamlah Fai.” Suaranya ringan tapi tegas dengan tatapan tajam kearahku.
“Tapi kamu membawaku kemana Frans? Aku tidak suka degan cara dipaksa”
Ia tidak menjawab, aku berdiam diri dan menurut padanya karena taku ia semakin marah.
Entah apa yang merasukinya kali ini, aku membiarkan Frans fokus dengan setir dan aku sibuk dengan pikiranku sendiri,
Berbagai pertanyaan bermunculan di otakku, Bagaimana kalau kalau dia membawa ku langsung ke gereja? dan menikahiku saat ini juga, seperti di adengan drama Korea yang aku pernah nonton
‘Terus bagaimana kalau ia membawaku ke Hotel? Lalu memperkosaku. Ah tidak, ia tidak senekat itu.Tapi bagaimana dia membawaku ke hadapan kakekku?’
Tiba- tiba perasaanku gelisah tidak karuan dan akhir nya Mobil fortuner merah itu berbelok ke arah Taman Melati Margonda
Aku tahu Frans memiliki apartemen di sana dan apartemen miliknya hasil karyanya sebagai seorang asitektur. Benar saja ia membawaku ke apartemennya.
‘Oh apa yang ingin ia lakukan? ‘Jantung berdetak lebih cepat.
Ia masih dengan aksinya, menarik paksa tanganku memasuki apartemen mewah itu setelah ia memarkirkan mobilnya di lantai dasar
“Kita mau ngapain kesini, Frans?” Ia tidak menjawab masih menyeretku dengan paksa. Aku mulai panik dan mengantipasi semua kemungkinan.
Tatapannya tidak lagi menyala seperti yang tadi
Tiiiing …!
Bunyi lift terbuka, ia meyeret tangan ini untuk masuk, jari-jarinya menekan angka 8 itu, apartemen milik Frans, ada di lantai delapan
“Apa yang ingin ia lakukan? Aku mulai ketakutaan, kalau dulu bahkan menghayal Frans membawaku dengan cara seperti ini, tapi saat ini aku tidak menginkannya lagi, aku tidak ingin Frans lagi’ Aku membatin.
__ADS_1
Tiiing …!
Lift terbuka membuatku terkejut karena melamun sepanjang kami naik, ia membawa tanganku paksa lagi. Hingga tiba di depan pintu apartemen Frans, ia menempelkan ibu jarinya untuk membuka kamar apertemennya,
Dreet”
Denyit suara pintu, ia memaksaku masuk lagi.
“Frans kita mau ngapain kesini?” kataku menolak tapi tenaganya jauh lebih kuat dariku ia menarik tangan ini dengan paksa lagi sampai benar-benar maskuk ke dalam apartemen.
Pemandangan seisi ruangan itu, mengingatkan ku dengan kenangan dulua. Horden yang aku pilih dengan mami, sofa pilihanku juga dan satu set meja kursi untuk di tempatkan di balkon untuk tempat bersantai, kursi pahatan dari akar pohon mahoni yang terbentuk indah, pahatan tangan- tangan ajaip dan kreatip. Hampir semua isi apartemen Frans pilihanku, aku menunduk tidak ingin mengingatnya lagi.
‘Untuk apa dia membawaku kesini? Bertanya dalam hati, belum menemukan jawaban, tiba- tiba tangan kekar Frans megangkat tubuhku dengan seenaknya.
Belum smpat berpikir
“Eee …? A-a-apa yang mau kamu lakukan , Frans,” aku grogi bercampur panik.
Dia melemparkan tubuh ini di ranjang besar yang super empuk itu ukuran king size, ranjang pilihanku juga saat itu,
‘Apa yang akan ia lakukan ,aku membatin perasaan ‘
Suara pintu kamar terkunci
jantungku berpacu kencang , tangannya membuka kancing baju perlahan mata yang tegas menatapku dengan misterius
“Apa yang ingin kamu lakukan Frans, jangan seperti ini, aku tidak mau,” kataku menutup dadaku dengan bantal.
“Mengingkatmu agar kau tidak kabur lagi.
“Frans jangan seperti ini, aku tidak ingin melakukanya,” kataku brontak.
Aku mendorong tubuh kekarnya hanya tersisa celana jeans, kini dia bertelanjang dada dengan Wangi parfum menyeruak dari tubuh etlisnya , Wagi cody kesukaanku.
‘Dulu aku memang menyukai hal seperti ini tapi saat ini semuanya sudah berubah aku ingin hidup normal’
“Dulu aku memang mengemis untuk satu pelukan dan satu ciuman darinya. Tapi itu dulu Fran …. saat ini , aku tidak menginkanya lagi kataku” aku menolaknya.
Bersambung …
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini karena ikut lomba , tolonng tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta untuk sang pelakor. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang Kecil Untuk Faila(ongoing)