Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Babu


__ADS_3

Babu


Frans selalu memanggilku “ndut” yang artinya gendut


Kalau ia yang panggil aku dengan sebutan itu, aku  tidak pernah marah, menurut  Frans  aku  sangat gendut, tetapi menurutku aku tidak gendut, hanya berisi,


Dengan  tinggi  badan ku 166 dan BB ku 55 tapi yang  membuatku


sedikit gemuk  dan berisi adalah bagian dadaku yang  sedikit menantang ke depan. Ia besar alami dari  sononya bukan karena di tiup seperti balon.


dengan  ukuran 36B karena itu.  Karena itu juga aku


tidak  pernah pede pakai  baju pas body,  aku  selalu memakai  baju yang  longgar  yang  membuatku  terlihat  sangat  gemuk.


 Aku dan Tari masuk kelas, kelas kami di lantai paling  atas maka, setiap pulang kadang Tari mengajakku naik tangga lumayan mengurangi bobot katanya. Berada dalam  kelas dengan dosen yang membosankan membuatku menguap dan merasa sangat jenuh. Setiap kali memikirkan Frans perasaan inilah yang selalu muncul, alhasil nilai semesterku F


akhirnya  kelasku  selesai  juga, selama di  dalan kelas tadi aku merasa   jarum jam lambat  berputar  dari biasanya. Tari  mencubit  lengan ini, karena  beberapa  kali  aku terlihat  menguap  dengan malas.


“Kenapa Fai,  pengen  bolos lagi? Untuk nemanin Frans” Tanya Tari bibirnya sewot. Ia tidak suka aku mengabaikan kuliahku, ia juga tidak suka melihatku mengejar-ejar Frans, Tari marah setiap kali aku bolos kuliah karena lelaki itu.


“Gak,  hanya   mengantuk aja  nih,”


“Emang,  tadi  malam  habis ngapain?


“Jangan  bilang kamu nungguin  pangeranmu  sampe malam lagi.” Tari menatapku dengan tatapan mata memburu.


“Kamu  tau  aja sih,” ucapku terkekeh.


 “Iya  ampun  Fai, kamu  betah  bangat  kayaknya  jadi mahasiswi  abadi,” hardik Tari.


“Sudah, ayo pulang. Jangan marah-marah nanti cepat tua loh …,” ujarku merangkul lengannya.


Saat keluar dari kelas, Tari lagi-lagi membawaku  menurunin  tangga, niat wanita cantik ini sangat mulia agar berat badanku berkurang dan aku bertambah cantik, turun tangga tidak terasa kareba ia mengajak bercanda.  Tari membahas  segala  cerita  yang  menarik


Tari orang baik  sahabat satu-satunya yang aku miliki, aku  mengenalnya  dua  tahun  lalu  sejak  aku tiba di kampus .

__ADS_1


“Itu pangeranmu.” Tari menunjuk  Frans  yang  lagi  duduk  di  kantin  kampus  dikelilingi cewek pengemarnya,


“Aku duluan iya Tari, sampai jumpa besok,’ ucapku berjalan buru-buru


 berlari  kecil kea arah Frans dan  duduk di sampingnya  bergelayut manja di lengan Frans.


Dia  melirik kearahku sekilas tanpa bilang apa-apa , ia  tidak  protes  dengan  aksiku, tapi biasanya ia protes, tapi kali ini ia tumben bersikap baik.


“Sudah  selesai kelasnya?”


“Sudah,” jawabku  singkat  aku peluk  erat  lengannya,  bau  keringat  khas Frans membuatku semakin bersemangat.


“Babunya Frans sudah datang,” ucap  Rania, aku menanggapinya dengan  senyuman, aku sangat senang  sama teman satu team  Frans,   mereka baik  dan ramah kalau teman-teman cewek mereka semua seperti ular, tetapi aku tidak perduli


 Mereka semua, sudah biasa  dengan  tingkahku karena teman-teman Frans tidak pernah  mengagapku pacar Frans.


Mereka  mengangapku  saudara  yang  tinggal  satu  rumah  dengannya dan  aku tidak  terlalu  memusingkan tanggapan  mereka, karena aku dan Frans yang tahu sejauh mana hubungan kami.


Dekat  dengan  lelaki tampan seperti  Frans  dan punya  teman - teman  yang baik dan  selalu bercanda membuatku  bahagia.


“Kita  kemana nih?” tanya  Niko  teman  Frans dan tim   basket.


 “Kita ke cafe saja, ayoo,”  ajak  Rania  dengan manja mencoba memegang lengan Frans dengan  sigap  aku singkirkan tangan Rania, ia menatap tajam padaku.


“Eh …?” Rania cemberut.


Aku  menangapi  dengan  senyuman Frans milikku tidak ada yang boleh dekat-dekat padanya.


“Kerumah  aku saja, lebih  dekat,”  ajak  Tiara


“Boleh  boleh  aku  setuju,” sahut Hendra


Teman team basket   Frans  semua  tampan dan ganteng dengan postur tubuh tinggi,NIko ,Hendra  Bimo dan Sgus  mereka  teman  yang paling  dekat sama Fran, memiliki badan atletis, karena mereka  pemain  basket professional, tapi   bagiku Frans yang paling ganteng dari mereka semua.


Tiara dan Rania kedua  perempuan cantik ini, sering main bersama  dengan Frans  dan sering kali juga, mereka berdua seperti tom dan jery

__ADS_1


“Kemana  ni,  jadinya sudah  siang  protes  Agus, dari pada bigung mau nongkrong di mana ,ayo kerumahku saja,” ajak  Agus,  ia seorang anak Kepala polisi dan ibunya seorang Dokter  dan  dia  mengikuti  jejak bundanya dari pada  ayahnya jadi  Dokter,


 Dari  semua  teman  Frans hanya Agus yang tidak banyak bicara ia orang yang irit bicara, aku tidak suka padanya.


 “Iya  sudah  lebih dekat,” kata Frans   akhirnya  keputusan kapten   di iyakan semuanya di putuskan  ke  rumah  Agus.


 Kehebohan saat ingin berangkat ke rumah Agus.


“Tiara, aku  ikut  mobilmu saja, iya,”  bujuk  Hendra  memelas dan sedikit  berharap


“Ogah,”  tolak  Tiara. Hendra menyukai gadis cantik itu, tapi sayang, Tiara menyukai Frans sama sepertiku.


“Kita  bawa  dua  mobil saja, cowok  ke cowok  dan cewek ke cewek,”  intruksi  Agus  selaku  Tuan Rumah


“Aku  gak  mau sama  dia,”  Tiara menunjuk Rania, dibalas dengan dengusan kesal dari Rania.


Akhirnya  di  putuskan  tiga  mobil, Tiara, Hendra dan Agus,Vera. Mobil ketiga aku magnetnya frans  jadi otomatis ikut mobil Frans dan Niko ikut mobil Frans jua,  sedikit tentang Niko,  dari  semua teman  Frans  yang  paling berisik dan yang paling kocak. Lelaki yang  satu  ini,  ia berasal  dari  kota  Medan,  sering  di panggil ucok medan.  “Horas bah”


Mengaku bernama Lengkap  NIko Parluhutan  Simamora yang  bercita- cita  ingin jadi  jaksa  seperti bapaknya.


Seperti kebanyakan orang  medan    yang mengeluti  di bidang Hukum.


Sebelum  berangkat ke ruma  Agus Fran menarikku agar jauh lalu ia berkata;


“Fai, lo pulang saja gak usah ikut-ikut,” ucap Frans, wajahnya terlihat marah.


“Kok, marah? Tadi kamu tidak marah, aku nempel-nempel sama kamu?” tanyaku sedikit bigung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.


“Fai, aku tidak mau mempermalukan kamu di depan anak-anak, kamu menempel seperti itu padaku kamu pikir aku senang?  aku bosan Fai, sudah bertahun-tahun kamu bersikap seperti ini, beri aku waktu bebas Tolong …” Frans memintaku pulang


.


“Aku tidak mau, aku sudah bilang Mami tadi, kalau aku mau jalan sama kamu.”


“Hadeeeh, lo itu nyusahin jadi perempuan,  baik jangan menempel seperti itu lagi padaku”

__ADS_1


Frans  membuka pintu mobilnya dengan keras dan menutupnya dengan kencang menandakan kalau lekai tampan ini sedang marah. Lalu ia melajukan mobilnya menuju rumah  Agus.


Bersambung ….


__ADS_2