
Lelah bertarung dengan pikiran sendiri, belum lagi keluarga Frans menyiksaku dengan pekerjaan babunya. Tiba tiba tante Mira terlintas lagi dalam benakku. Wanita baik itu , aku merindukannya.
Aku masuk kedalam kamar Frans kembali. Tapi tiba tiba seperti ada gempa di ruangan itu , kertas kerja Frans tiba –tiba berserakan di mana-mana di segala tempat, melihat itu aku takut sepertinya ada yang menggangu pikirannya,
Aku memilih berdiam dan berbaring di Sofa, yang jadi Lahan untuk tidurku
Aku tidak mau ikut campur. Aku takut jadi sasaran kemarahannya.
~Dik-dak-duk~
Suara jantungku semakin berdetak tidak karuan aku coba menutup mata, menjauhkan diri dari petaka kemarahannya, tapi rasanya . Ia semakin melampiaskan kemarahan pada kertas yang ,Ia digambar, merobeknya, mengepal, melempar dengan sangat kesal.
~Kriiiing~
~Kriiiing~
Nada panggilan masuk ke ponselku, Tari menelepon aku memanfaatkan kesempatan itu untuk keluar lagi.Rasanya suasana di kamar Frans terasa sangat Panas.
“Fai keluar ayo, aku bosan disini” kata Tari di ujung telepon
Saat itu aku sadar , menikah itu tidak enak , tidak bisa bebas mau ngapain,
“Aku tidak bisa Tar, dirumah Frans lagi ada perang dunia ketiga” kataku
“Kami mau jalan ketempat nongkrong biasa” kata Tari. Membayangkan mereka nongkrong di cafe tempat biasa , membayangkan mereka memesan minuman yang biasa kami minum membuatku merasa haus.
Aku harus keluar dulu dari rumah ini , aku tidak tahan, tapi aku harus mencari alasan yang tepat, agar bisa keluar dari penjara ini
Tidak biasanya otaku cepat berpikir ,”kakek” Aku menelepon kakek menayakan keadaanya katanya lagi kurang sehat,
Bagus, sedikit bersyukur tapi bukan bersyukur karena kakekku sakit. Tapi karena aku punya alasan keluar.
Aku mencari papinya frans, karena hanya beliau yang mau mendukungku saat ini. Papi lagi duduk sama neneknya Frans , aku mundur , tidak akan mungkin rasanya minta Izin ada nenek cerewet itu disitu yang ada aku malah yang di khotbah nantinya.
Aku berputar putar bagai setrikaan rusak, Neneknya Frans lagi menelepon dan berdiri. Aku memaanfaatkan kesempatan itu.
“Pi”
“Fai,kenapa sayang?” kata papi melihat wajahku yamg dibuat buat sedih.tapi emang sedih .Tapi tidak sesedih aktingku saat ini.
“Saya ingin pulang kerumah kakek dulu Pi, kakek lagi kurang sehat” kataku, dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
“Oh, iya pergi saja, papi ikut sedih sayang, tapi masalahnya kalian baru menikah baru kemarin, dan kita harus buat acara untuk kalian berkunjung pada keluargamu,” kata Papi.
Oh iya ampun ribet ini masalah, memutar otak agar bisa keluar.
“Aku tidak punya keluarga pi, Inilah keluargaku “Frans juga lagi sibuk kerja dikamar Pi. Kalau untuk mengajaknya akan susah. Luka di punggungku rasanya sakit juga Pi, sekalian mau periksa juga”
Aku yakin berhasil karena. Papi sangat sayang padaku, Ia melihat Ibunya yang masih membelakangi kami.
“Baiklah Fai, pergilah sebentar ,nanti pulang sebelum makan malam iya,”kata papi mengingatkanku.
“Baik Pi ” Kata hampir kebablasan karena rasa senang ,karena bisa juga menghirup udara segar. Setelah aku dibawa dan dipingit dirumah ini aku hanya di kamar.
Aku naik lagi kekamar Frans.Aku berpikir , haruskah aku minta izin. Tapi dalam kontrak di tulis tidak saling mencampuri urusan masing-masing, Tapi ini termasuk enggak iya.
Ia tidak lagi duduk mengerjakan gambarnya.Ia lagi merebahkan tubuhnya di kasur . satu tangannya diletakkan di keningnya, sepertinya pekerjaan itu menguras pikirannya.
Aku tidak ingin membangunkannya, Jadi aku hanya mengambil dompetku dan ingin pergi.
“Apa kamu juga tidak akan memberitahuku kamu mau kemana?” Tanya Frans dan duduk.
“Oh, saya pikir kamu tidur jadi tidak ingin menggangu”
Mendengar kata tidak peduli itu, rasanya sakit sekali. Tapi sudahlah, aku harus membiasakan diri dengan hal itu.
“Tadi aku sudah meminta Izin pada Papi Jadi-“
“Jadi kamu, tidak perlu minta izin padaku seperti itu?”
Potong Frans.
“ Bukan seperti itu” Tapi tidak ingin berdebat dengan Frans karena akan membuang –buang waktuku.
“Baiklah, aku mau menemui kakekku” kataku.
“Kamu yakin diberi izin sama papi ?” tanya Frans tidak percaya.
“Iya”
“ Baiklah,” kata Frans tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak bertanya . kapan pulang ? dijemput ama siapa? dan diantar sama siapa?’
Apa yang kamu harapkan Faila dari orang tidak mencintaimu lagi, bermonolog sendiri.
__ADS_1
Rasanya aku tidak ingin kembali kerumah ini, tidak ada satu alasan yang membuatku ingin kembali.
Aku memesan gojek yang membawaku , ke kafe tempat biasa kami nongkrong.
Baru juga sampai Adira sudah memburu dengan pertanyaan mesumnya yang membuatku merasa miris, karena belum mendapatkannya dan tidak akan mendapatkannya. Rasanya aneh memang kalau aku sangat menginginkannya,
“Ceritain dong,” kata Repina.
“IYa, kita-kita ingin dengar ingin tahu,”kata Adira. Jangan bilang kalian belum melakukanya kata Adira meledekku. Ia sudah sering melakukanya bersama mantan pacar-pacarnya. “Apa perlu kamu belajar dari ahlinya?” kata adira.
Satu hal tentang Adira wanita cantik ini. Ia seorang wanita yang bebas. Ia tidak mau pacaran sesama mahasiswa , karena tidak mempunyai duit katanya. Ia akan berpacaran sama lelaki yang benar-benar punya duit. Tidak peduli Ia mau yang tua apa suami orang atau jelek yang penting duitnya.
Aku hanya menggeleng tersenyum ketir, ketika diburu pertanyaan
Aku memilih tidak membahasnya , untungnya sahabatku Tari yang mengerti dan mengalihkan pembicaraan.
Bertemu dengan Tari, Adira, Repina, dalam Cafe membuatku lupa segalanya , Kami masi terlihat seperti 4 mahasiswa Jomblo wanita.
Aku lupa pesan papi. Sebelum makan malam bahkan tidak terasa sudah jam Sembilan malam.
“Iya ampun sudah jam Sembilan malam,mati aku,” kataku panik disambut tawa mereka bertiga.
“Iya yang punya suami ni,” gurau repina.
“Kita masih disini sampai tutup, akan menonton lagi,” kata Adira seperti sengaja memanas-manasiku.
“Bodoh…! aku pulang”
Tidak ingin merusak kepercayaan papi. Untungnya sebelum ketemu Adira dan Repina aku mampir dulu menjenguk kakek jadi aku tidak begitu takut karena berbohong.
Jam sudah menunjukkan Jam sepulu malam . Frans terlihat masih duduk di Balkon kamarnya. Aku pikir jika aku belum pulang tadi. Ia akan khawatir dan meneleponku, padahal sejak duduk di kafe itu, aku berharap ponselku berbunyi dan berharap satu panggilan untukku darinya menanyakannya pulang jam berapa?apa perlu dijemput? atau mengingatkannya jangan pulang terlalu malam. Atau menelpon , hanya sekedar memarahi juga tidak apa-apa .aku menatap ponselku berbunyi dari tadi
Melihatnya duduk tenang di Balkon kamar itu membuatku benar –benar yakin kalau cinta itu sudah tidak ada lagi, rasanya tidak ingin naik keatas dan melihatnya
Keluarga Frans sudah tidur. Hanya Frans yang belum tidur, kesal di hatiku sepertinya ingin meledak.
Tidak bisakah Ia memberi perhatian sedikit seperti dulu,
Masuk ke kamar mandi hal yang tepat saat ini, menguyur tubuh di bawah shower, untuk meredakan panas kepala dan panas di hati
Aku masih sangat berharap perhatian Frans untukku seperti dulu, tapi itu sepertinya hanya keinginanku semata ia cuek dan bersikap bodo amat denganku sejak kami menikah.
__ADS_1