
Kasihan lelaki itu, menjaga jodoh orang lain bisikku dalam hati,
Lagi asik melamun tiba-tiba lelaki itu muncul “Uda makanya?”
“Udah” tanganku meletakkan piring yang berisi masih setengah lagi, niatnya tadi ingin menghabiskan, tapi karena kekasih pinjaman ku sudah keburu nongol, malu, kalau pengen di habiskan makanannya
Entah apa yang merasukinya, dan apa niatnya ibu jarinya tiba- tiba menyeka bibirku, dan sekilas bibirnya mendarat dipipiku,
Gila ini orang ini namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Aku memaki dalam hati ,aku belum pernah melakukan itu, seumur ini, kamu mencuri kesempatan makiku pengen saya beri bogem mentah. Tapi kami masih jadi perhatian orang jadi kuurungkan niatku dan hanya berbalas senyuman jengkel dariku.
“Ayo pulang,” tangannya menggenggam tanganku dengan sangat erat,
Tapi mata wanita itu masih belum lepas dari Felix, terlihat jelas pernikahan mereka karena dipaksakan
Bukan hanya aku yang melihatnya, bahkan semua orang tahu kalau mereka tidak ada cinta siwanita masih mengharapkan lelaki yang saat ini sedang menggenggam tanganku,
Wah kasihan kedua orang ini bisikku dalam hati,
Meninggalkan gedung itu, Felix memberikan jaketnya yang dia kenakan untuk aku pakai, meninggalkan aula pernikahan dan menyusuri jalan dan membela gelapnya jalan
Ia memacu motor gede miliknya dengan kecepatan tinggi, aku tidak lagi mengungkit masalah kissing tadi, karena raut wajahnya kembali dingin mungkin sihirnya sudah hilang,
Membiarkannya dengan pikirannya sendiri, mungkin hal yang tepat untuk saat ini.
Mau tidak mau, aku harus memeluk tubuh kekarnya dengan erat, karena laju Motor gede yang kami naikin melebihi batas maksimal, ia bagai kesetanan mungkin karena efek sakit hatinya karena di tinggal wanita yang dia cintai,
“Kita mau kemana?” tanyaku penasaran
“Kerumahku” jawabnya dengan enteng dengan sikapnya yang dingin lagi,
Gila ini orang, sudah selesai memanfaatkan ku dan aku sudah membantunya, bukanya berterimakasih malah menjebakku, aku tidak mau kerumahnya.
“Ada orang menunggumu dirumah” katanya dengan enteng meninggalkanku yang masih berdiri membatu, di depan rumah Felix.
“Tapi aku sudah bilang aku tidak ingin bertemu mereka” wajahku mendung, air mataku hampir tumpah membasahi pipi.
“Mereka bukan kakekmu dan kakakmu, Kelurganya tante Sinta” ucap Felix.
Berarti maminya Frans dan Frans ada disana juga, Jantungku berdegup kencang pengen berteriak dan menghilang.
“Aku tidak ingin bertemu mereka,” kataku, akhirnya bendungan itu tumpah dan terisak, ”Kamukan, sudah janji” ucapku dengan pilu bahkan hampir tidak kedengaran,
Dia menghentikan langkahnya tangannya baru saja ingin membuka gerbang rumah besar keluarganya.
“Fai…ada apa? kenapa tidak ingin bertemu mereka”
“Aku tidak ingin bertemu dengan kelurga itu” Tangisan itu terdengar benar- benar pilu sepertinya bisa menyentuh hati Felix.
“Ayo naik,” katanya kemudian karena melihatku menangis, tidak ingin bertemu kelurga Frans
__ADS_1
Pergi meninggalkan rumah niatnya ingin kembali ke panti asuhan. Tapi sudah terlalu larut, tidak ingin menganggu Ibu Panti,
“Aku tidak enak membangunkan mereka,” kata Felix yang masih berhenti di depan pagar Panti,
“Aku juga, tap aku bingung, harus kemana”
“Kita ke Hotel aja”
“Ha? Hotel”
“Kenapa…Ha.Tenanag saja aku tidak mau apa-apain kamu, aku hanya ingin istirahat” ucap Felix
“Baiklah tapi aku tidak ada uang” kataku berucap jujur.
“Pakai kartu aja saja” Felix menawarkan kartunya.
“Habis aku antar kamu aku, akan pulang ke rumah” kata Felix.
Tibalah disalah satu Hotel mewah di Malang. Tiba- tiba perasaan takut menghampiriku, pikiran buruknya muncul
Bagaimana nanti aku takut dan kejang –kejang, bisikku dalam hati,
Chek in sudah selesai. Satu kamar untukku sendiri
“ Tapi, aku takut” ucapku dengan wajah memelas.
“Terus…” Wajah Felix suram, mungkin karena capek “Kita harus pulang lagi begitu?”
“Aku takut tidur sendirian, dan takut sepi,” aku memili jujur mencoba menjelaskan keadaanku.
Tapi Felix menilaiku salah. Ia berpikir aku akan menggodanya,
“Faila, dengar yang masalah di gedung tadi, perlakuanku padamu, maaf tidak ada maksud di balik itu, Maaf jika aku memperlakukanmu tadi seperti itu aku harap kamu tidak salah mengartikan perlakuanku.”
Oh iya ampun , benar ia salah paham padaku. Seperti yang kupikirkan, felix berpikir kalau aku menyukainya dan ingin tidur dengannya,
“Aku tidak ada berpikir yang macam- macam kok masalah yang tadi, aku sudah bilang aku hanya takut tidur di tempat yang sepi.”
“Tapi masalahnya aku tidak ingin tidur dengan orang yang tidak aku sukai” Felix menatapku dengan rendah.
“Iya Tuhan aku juga tidak ada niat ingin tidur denganmu Pak Felix, percayalah aku bukan wanita yang murahan seperti yang kau pikirkan padaku”
Sikapnya membuatku benar- benar marah, gampang bangat ia menilai orang.
“Terus apa yang kamu inginkan” kata Felix kemudian
“Aku hanya ingin berdua tidur dalam satu kamar artinya aku ingin kau menemaniku tidur kamar yang luas dan sunyi ini, aku takut tidur sendirian temani aku tidur”
Aku bersumpah dalam hati’ semoga tidak menemukan wanita dalam hidupmu
Rasa kesal menyelimuti hatiku, apa aku segatal itu dimatanya apa karena aku mau diajak jadi pacar kebohongannya tadi, dasar lelaki jahat gumamku dalam hati.
__ADS_1
Ini artinya niat baik dan ketulusan kita disalah artikan,
Lama berpikir dan penuh pertimbangan, pada akhirnya Ia mau dengan syarat dia akan tidur disofa Hotel,
Harusnya aku yang mengantisipasi seperti itu. Kenapa seolah aku yang ingin menggaulinya dan memaksanya, sebagai wanita aku merasa di rendahkan, tapi iya sudahlah.
Tatapannya seolah ingin memberi jarak padaku seolah aku ini, bukan wanita yang layak untuknya,
Felix merebahkan tubuhnya di Sofa kamar hotel, aku merasa tidak nyaman dengan pakaian itu dibawa tidur rasanya akan lebih baik jika aku membersihkan diri di kamar mandi terlebih dahulu.
Mungkin Hari ini sial , akan selalu akan selalu datang dalam hidupku, terlalu bersemangat berendam di Bathtub kamar mandi Hotel, membuatku lupa diri,
Masuk kekamar mandi dan melupakan handuk hotel yang akan aku gunakan,
aku meletakkannya di atas tempat tidur, setelah selesai merendam, aku baru menyadari kebodohan ku, karena tidak membawa barang pembawa petaka tersebut ke kamar mandi,
Karena aku pikir felix si Manusia kutub utara itu. sudah tidur, karena sebelum aku masuk kedalam kamar mandi, Ia sudah menutup matanya,
Aku membuka kamar mandi itu dengan pelan- pelan, berjinjit mencoba meraih bath robes dengan satu tanganku yang tadinya aku letakkan disisi tempat tidur yang berukuran King size .
Satu tangan menahan Dres yang aku pakai dari undangan Mantan felix yang kulilit ketubuhku dengan seadanya.
Tapi apa dayaku tanganku belum menyentuh Bath robes tersebut keburuh tangan Felix yang menarik tubuhku terpelanting menindih tubuhnya, aku belum sempat berpikir dan bereaksi tapi tangannya dengan cepat juga membalikkan tubuhku, dan kini berada di bawah tubuhnya dan anehnya matanya memancarkan kemarahan, bagai mata burung yang ingin menghabisi mangsanya.
“Apa yang kamu lakukan?” pekikku panik bercampur kaget dan takut melihat sorot matanya yang tajam.
Ia tidak menjawab, tapi bibirnya dengan kasar mendarat di bibirku
“Apa yang kamu pikirkan” teriakku lagi, dengan bersusah payah menjauhkan tubuh besarnya yang menindih tubuhku yang setengah polos.
“Apa yang aku pikirkan?? bukannya itu yang kamu inginkan dari tadi”
“Haa, kamu pikir aku wanita gampangan Buang otak kotormu,” makiku dengan emosi dan menendang batang kakinya dengan keras membuatnya meringis dan menjauh dari tubuhku.
“Kamu sengaja melakukan ini semua, untuk memancingku bukan? hal seperti yang kamu lakukan bukan hal yang baru lagi untukku” Kata Felix dengan mulut dan tatapan mata yang menghina membuat harga diriku sebagai wanita, baik –baik terluka,
“Aku kasihan melihat lelaki sepertimu. Otakmu yang kotor, merusak matamu” Kataku dengan penuh amarah, otak gilaku muncul seiring kemarahan yang menyelimuti pikiranku
dengan cueknya membiarkan dress yang tadi dijadikan menutup setengah tubuhku, melorot begitu saja,
Kamu akan ingat tubuh indah. Tapi tidak akan bisa kau sentuh, bisikku bagai iblis yang lagi marah,
Aku membiarkannya melihat indahnya lekuk tubuhku yang tidak pantas kau rendahkan, Jika sedikit saja ia mendekat aku akan menghabisimu kataku membatin.
Aku membiarkan dress melorot, dan menggantinya dengan handuk Bat robes hotel,
Aku meraih tas kecil yang aku pakai tadi dan meninggalkannya,
Kasihan lelaki itu, menjaga jodoh orang lain bisikku dalam hati,
~Bersambung~
__ADS_1