Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Izin untuk menikah


__ADS_3

Hari yang ditunggu akhirnya tiba, hari ini Frans akan datang ke rumah untuk  melamarku. Setelah saling memaafkan saling menyakiti, hati ini masih untuk frans aku berharap kaka lelakiku sebagai pengganti kedua orang tuaku mau menerima hubungan kami kembali.


Aku sengaja pulang kerumah lebih awal, kedua bocah kembarku berlari.


“Hore ibu sudah pulang.” Aretta bergelayut manja di lengan ini.


Tetapi tidak untuk kembarannya , ia hanya menatapku dengan tatapan penuh makna. Batinku kembali bergejolak,. ‘Akankah anak-anakku  sedang jika ayah mereka datang?’


“Jangan melamun,”ujar Taru menyodorkan gelas  untukku.


Aku masih terlihat sangat gugup sampai-sampai Tari bisa  dengan mudahnya membaca  beban yang dalam pikiran ini.


“Ada apa?” Tanya Tari menatap dalam  kearah mata ini.


“Tar, kakak Hendro dalam situasi hati yang baik tidak?” tanyaku gugup.


“Kakakmu jangan tanya, belakangan ini dia sangat sibu urusan rumah sakit dan urusan anak-anak,” ujar Tari.


Aku menghela napas  berat, menunggu Frans datang melamarku, ini lebih berat dari sidang skripsi  lebih berat saat menunggu  detik-detik melahirkan sekalipun.


Biar bagaimanapun ini pernikahan keduaku dengan mantan suamiku pula. Lelaki yang  begitu banyak menyaikitiku di masa  lalu dan juga memberiku cinta. Sementara kakak lelakiku Hendra memperlakukan  diri ini  dalam pengwasannya karena apa?


Karena penyakit yang aku alami di masa lalu, penyakit trauma dan operasi pembedahan kepala.


“Ada apa sih?” Tanya Tari sabahatku sekaligus jadi kakak iparku saat ini.


“Aku mau menikah lagi,” kataku.


Tari tersenyum simpul. “Bagus dong sama siapa dimana rumahnya?”


“Sama Frans”


Wajah Tari langsung  surut dari senyum dan tiba-tiba jadi diam, ia berdiri menyimpan gelas bekas minumku.


“Kenapa Tar, kami saling mencintai,” kataku mengikutinya berdiri.


“Fai, tidak harus begitu juga”


“Apa masalahnya Tar?”


“Fai, kalian baru bercerai masa mau menikah lagi”


“Apa masalahnya Tar?”

__ADS_1


“Masalahnya kakakmu tidak akan menerima Frans dan begitu juga aku”


“Nanti Frans akan datang melamarku,” ujarku lagi.


Wajah Tari semakin tidak senang melihatku.


“Fai, ayo kita bangun ketenangan di rumah kita ini,” ujar Tari.


Ia terlihat seperti seorang ibu ibu yang mengingatkan anak perempuannya untu tidak menikahi lelaki brengsek.


“Aku ingin  bahagia juga Tar,” ujarku  dengan suara melemah.


“Tidak ada yang  melarangmu bahagia Fai, tetapi jangan pada lelaki itu. Uda sudah cukup banyak menyakitimu di masa lalu Fai, dia lelaki yang banyak menanam luka di hatimu”


“Tapi dia ayah anak-anakku Fai dan aku mencintainya,” kataku lagi mencoba membujuk.


“Kita bukan anak remaja yang memikirkan tentang cinta-cintaan lagi Fai, tugas kita membahagiakan anak-anak kita,” ujar Tari, perkataan itu serasa tidak adil untukku walau apa yang dikatakan Tari ada  benarnya juga tetapi aku merasa tidak adil.


Aku meninggalkan Tari dan kembali ke dapur, sebagai sahabat aku merasa kecewa padanya karena ia tidak mengerti aku. Namun sebagai kakak ipar hal yang wajar, karena ia  pasti akan membela suaminya.



Mendengar penolakan Tari pada Frans aku sudah yakin kalau kak Hendra pasti akan melakukan hal yang sama juga.


Kupandangi lama benda persegi empat tersebut ingin menelepon Frans untuk memintanya untuk tidak datang. Namun, rasanya berat bangat aku sampai  beberapa kali   mengetik pesan dan menghapusnya lagi, begitu aja sampai beberapa kali. Hingga akhirnya aku putuskan meneleponnya langsung bicara langsung akan lebih baik.


“Apa Fai?” Suara Frans terdengar bergetar di ujung telepon napasnya terdengar sangat berat aku bisa dengar diujung telepon kalau ia menghela napas berat. Aku jadi tidak tega memintanya agar tidak datang.


“Frans lagi di mana?” Tanyaku dengan hati-hati.


“Masih di rumah  , masih menunggu Kak Dion . Kenapa Fai?”


“Frans apa kamu yakin akan melamarku lagi?” Tanyaku dengan suara berat dan pelan.


“Tentu Fai. Kenapa?” Tanya Frans lagi.


“Aku khawatir kalau Kak Hendra tidak menerima lamaranmu,” ujarku menahan tangisan.


“Apapun hasilnya aku akan mencobanya, aku ingin menjadi lelaki yang gentleman di hadapan anak-anakku. Kelak mereka bisa mengerti kalau ayah mereka bukan pengecut. Kelak mereka menyadari kalau ayah mereka pernah melakukan kesalahan . Namun, berusaha memperbaiki keadaan dan berani meminta maaf”


“Lalu kalau dia  menolak lamaranmu apa yang kamu lakukan?” Tanyaku lagi, kali ini volume suaraku semakin  bersemangat.


“Menculikmu dan membawamu pergi,” ujar Frans  mendengar hal itu dari   mulut Frans aku begitu bersemangat. Apun keputusan kakak nantinya itulah tidak akan penting dan tidak akan mempengaruhi hubungan aku dan Frans yang penting kami berdua sudah menunjukkan rasa hormat kami pada kak Hendro sebagai  pengganti orang tuaku.

__ADS_1


Frans sangat menghargainya karena  ia yang  menjagaku saat melewati banyak rintangan dan kesulitan. Tetapi aku tidak mau selamanya hidup di bawah pengawasan kak Hendra.


Setelah kakak pulang dari rumah sakit, aku sengaja turun  untuk bicara dengan kakak mengenai kedatangan Frans, aku tidak mau nanti dokter tampan ini terkejut mendengar kedatangan Frans yang tiba-tiba.


“Kak Baru pulang?” Tanyaku duduk di sofa.


“Iya mendengar kamu datang kakak langsung pulang, Tari juga memintaku pulang cepat,” ujarnya menatap istrinya dan menatapku bergantian. “Ada apa memintaku pulang cepat. Anak-anak kemana?


“Mereka sama pengasuh di kamarnya,” ujar Tari ia duduk  di samping suaminya tetapi tatapannya padaku masih menunjukkan kekecewaan.


“Apa kakak Lelah?” Tanyaku ingin mencairkan suasana yang terasa tegang,  menghadapi lelaki yang satu ini sudah seperti menghadapi dosen pembimbing di saat menyusun tugas  skripsi..


“Tidak juga, Oh aku punya sebuah hadiah kakak,” kataku memberikan kotak  .


“Apa ini?’ Tanya Kak  Hendra. Ia membuka kotak tersebut bibirnya tersenyum kecil , itu adalah sebuah jam. Jam bukan aku beli tetapi  jam itu milik ayah kami.


“Oh dari mana kamu mendapatkan ini?” Tanya Hendar dengan wajah sumringah.


“Aku mendapatkannya di kamar kakek saat direnovasi,” ujarku.


“Kakak, itu milik ayah bukan? Saat ini kamulah ganti orang tuaku,” ujarku


“ Baiklah Fai,Lalu ada apa?”


“Kakak nanti, sore keluarga Frans akan melamarku kembali,” wajahnya langsung tidak bersemangat.


“Lalu apa ini, apa sogokan? Aku tidak mau menerima dia kembali du rumah ini”


Lalu kak hen


  Bersambung …


Bantu Vote iya kakak untuk karya  ini karena ikut lomba , tolong tekan like dan tanda hati iya kakak.  Jangan lupa kasih komentar terbaik kalian juga di karya ini dan karya yang lain juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta untuk sang pelakor. (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


-Bintang Kecil  Faila(ongoing}

__ADS_1


__ADS_2