Bintang Kecil Untuk Faila

Bintang Kecil Untuk Faila
Pertemuan pertama dengan keluarga Frans


__ADS_3

“Ada apa Fai? Kamu ingin bicara apa padaku?


kita pesan minum dulu iya, Kamu terlihat lelah”


Ia tersenyum memperlihatkan gigi putih yang berbaris rapih. Matanya mengawasiku , sebisa mungkin aku berusaha bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


Hingga pesanan kami tiba aku masih membiarkannya menunggu.


Bukanya membuatnya cemas menunggu, tapi aku yang memilih momen yang tepat untuk memberitahukanya.Tiba-tiba meraih minuman, dalam gelas porsi jumbo menghabiskannya dengan beberapa kali tegukan. Mataku terbelalak melihatnya , seperti itu, ia tidak sabar mendengar apa yang ingin aku katakan.


‘Sudah…”Ia menunjukkan gelas di tangannya sigap menarik beberapa lembar tissue mengusap mulutnya


Ia menatapku dengan sikap siap mendengar,


“Frans…”


“Ayo katakan apa yang ingin kamu bicarakan” ucapnya kali ini wajahnya tidak sabar lagi ingin mendengar apa yang aku ucapkan.


“Baiklah, Seperti yang aku katakana sebelumnya, kakak orang yang keras, Ia tidak percaya dengan hubungan kita frans .Ia menyuruhku memilih antara kamu apa anak-anak. Aku memilih anak- anak. Aku tidak bisa bersamamu Frans… Maaf, kita harus mengurus perceraian kita, mari kita jalanin seperti sebelumnya, di mana kamu berpikir tidak ada aku di Jakarta, anggap saja aku tidak pernah ada”


Matanya menatapku dengan tatapan kecewa, aku tidak mudah Frans menerima itu, bagaimana mungkin ia disuruh melupakan anak-anak, itu saat ia ingin bersama mereka tapi malah dipisahkan, aku tahu itu sangat berat untuknya.


“Itu artinya kamu menolakku Fa?” tanya Frans matanya mendung,


“Iya. Maafkan aku Frans, aku lebih memilih anak-anakku”


“Bagaimana dengan aku. Faila? Bagaiman dengan posisiku sebagai ayah dari mereka berdua?”


“Nanti, aku akan bicara pada kakak agar kamu bisa menemui mereka berdua” kataku terasa hambar saat mengucapkannya.


Serasa awan gelap mengelilinginya, tatapan matanya kosong dengan terasa hampa dan tidak bermakna. Ia berpikir aku mengambil impian terbesarnya.


Tangannya terlihat lunglai diatas meja. Ia berharap dan bermimpi bisa bermain dengan anak-anaknya. Ia sudah jadi penurut beberapa minggu ini, aku memintanya untuk menahan diri untuk tidak menemui si kembar Ia menurut. Walau beberapa kali Ia memohon untuk melihat merekah hanya sebentar, aku menyuruhnya menahan diri, tapi akhirnya ini juga yang dapat dari penantian. Penolakan dari kak Hendro


“Ia hanya kakakmu FaiIa. tidak berhak atas anak-anakku” Matanya memerah seolah Ia tidak rela kakakku yang memegang kendali atas aku dan anak-anaknya. “Aku melawan, aku akan merebut anak-anakku dari kakak yang kejam itu”katanya dengan marah.


“Frans, jangan melakukan hal yang diluar kemampuanmu, justru malah menyakiti anak-anak nantinya. Lihat posisimu dan posisiku. Bukan begini caranya kamu melawan kakakku”


“Terus…! aku harus diam kalau kakakmu itu tidak memperbolehkanku menemui anakku”


“Kenapa kamu harus mengotot tentang mereka Frans kita selesaikan dulu masalah antara kita.Apa kamu melupakan aku .Tuan Frans?” kataku suasana jadi tidak terkendali, ia marah tidak terima, aku juga marah karena kakak.


Ia menatapku , dengan pandangan mata sayu seakan memohon.”Jangan menambah lagi Faila, aku harus merebut anakku dulu, dan aku ingin hidup bersamamu, kita akan tinggal bersama, tolong bantu aku Faila” Wajah Frans memohon dengan tatapan sayu


Aku mengutukki diriku sendiri yang begitu lemah jika di depan Frans. Kenapa Ia punya pesona seperti mempunyai sihir dihadappanku. Aku tidak berdaya menolaknya. Ada apa denganku setelah masa sulit yang aku terima darinya selama ini. Padahal aku bukan wanita yang kekurangan saat ini .


Tapi melihat pesona lelaki, itu membuatku seperti terkena sihir .Apapun yang Ia katakana selalu aku terima.

__ADS_1


*


Setelah beberapa hari,


“Gila, Ia pikir siapa dirinya!” Kakak menggerutu kesal Ia melempar amplop berwarna coklat .


Pengadilan Negeri Jakarta,


Frans , benar-benar berani. Ia menggugat kakak atas hak asuh anak-anaknya


Wajah kakak benar-benar emosi, aku tidak ingin melihat itu. Tapi disatu sisi aku merasa kasihan pada Frans yang tidak diberi sedikitpun kesempatan untuk hanya melihat anak-anaknya.


Aku tidak tau harus berbuat apa –apa dan bingung harus berada dipihak yang mana


“Demi ****** merlin, kepalaku pusing” kataku, Tari nyengir kuda mendengar ngurawanku.


“Fa, kamu masih mencintainya?” Wajahnya menatapku dengan serius.


“Tar, aku memalukan iya? Padahal Ia sudah memandangku empat tahun lalu, tapi masih saja Hati s ini mengharapkannya Tar, Anehkan” Cercaku pada Tari.


Tangannya mengusap- usap perutnya hamilnya,walau belum kelihatan bentuknya tapi , selalu saja mengelus-elusnya.


“Aku. percaya padamu Fai , kamu pasti akan membuat keputusan yang tepat demi kebaikan” Pernyataan Tari mengisyaratkan, Ia menyuruhku memilih kakakku secara tidak langsung.


Setelah beberapa Hari dengan bujukan bahkan tangisan. Aku memohon kakak agar memberi Frans kesempatan demi anak-anak. Frans juga beberapa kali datang meminta maaf,


Aku memutuskan datang sendiri kerumah Frans, Karena seperti biasa hari minggu biasanya mereka selalu dirumah . saya pikir akan lebih baik bicarakan dengan kelurganya. Akan lebih sopan, Biar bagaimanapun mereka masih mertuaku.


Memilih –milih buah tangan untuk dibawah kerumah Frans. Haris dan Dion mememaniku kali ini , karena sebelumnya mereka berdua sibuk mengurus projek di pembagunan restauran di Bali.


“Mungkin aku agak lama, kalian berdua jemput lagi nanti pergilah libur hari ini.


“Baik mbak,” jawab Haris terlihat bersemangat karena sudah lama , Ia tidak mendapat libur.


“Ini! Pakailah.Beli yang kalian mau. Pin di bawanya, anggap saja Bonus dari kerja keras kalian” Wajah Dion yang bersemangat menerima kredit cardnya.


Tapi tunggu dulu, jaga dulu si kembar disini, biar aku panggil Frans buat gendong mereke berdua.


Sikembar aku bawa pertama kalinya, sesuai janjiku pada papi. Hari ini akan mempertemukan mereka sebagai kado ulang tahunku untuk Papi.Sebelumnya Papinya Frans sudah beberapa kali melakukan vidiocall untuk mereka. dan rela memohon pada kakakku agar diberi kesempatan bertemu. Melihat kebaikannya selama ini kakakku akhirnya luluh.


Aku menenteng buah dalam keranjang yang dipilih Dion dan Haris.


Tiiing…tong


Aku menekan bel pintu Frans. Arjun membuka pintu.Wajahnya senang tapi bercampur panik.


“K-k-kak Fai…” Ia gagap saya pikir karena tidak lama bertemu makannya. Ia gugup.

__ADS_1


“Hai, Jun” ada Mami sama Frans?


“Iya” ada-ada Ta-tapi,” wajahnya makin gugup seolah menahanku agar tidak masuk.


Aku masuk.


Tadaaa…


Wajah mami gugup tak karuan,sekarang aku mengerti kenapa Wajah Arjun gugup tadi.


Ternyata mereka mengadakan Pesta merayakan ulang tahun maminya dam disana ada Adella lagi duduk manis.


Frans datang dari luar menghampiriku.


“Hai sayang, kamu datang” Ia membawakan buah yang aku bawakan. “Ayo Ia menarik tanganku ke Arah Taman. Disana ada banyak teman-temannya yang mengumpul. Mami dan Adella dan ibunya hanya diam mematung aku tidak tau apa yang terjadi. Tapi tatapan ibunya Adella sangat tajam menatapku.


“Tunggu, Aku belum menyapa Mami” kataku Ternyata Mami merayakan Ulang tahun dengan teman-teman sosialitanya.


“Selamat ulang Tahun Mami”


“Iya,Iya Fai wajahnya masih panik dan kaget, bercampur, melihat kedatanganku yang tiba-tiba,


“Ayo!” Frans menarik tanganku.


“Frans …” Ia menatapku, “Sikembar , ada di Mobil , aku ingin kamu menggendongnya”


“A-a-apa? Wajahnya . iya Tuhan” Matanya melotot tidak percaya. Ia menjatuhkan Buah dari tangannya dan berlari menuju mobil yang di luar dimana Dion dan Haris menunggu.


Kehebohanpun terjadi, bukanya Frans yang berlari Arjun yang sudah lama ingin bertemu dengan keponakannya, akhirnya kesampaian.


“Apa? sikembar?” Ia mengunakan jurus lari seribu bayangan.


Rumahnya yang ramai tadi mendadak riuh berhamburan menyambut dua Idola baru .


Frans langsung mengendong Arden . Tapi Aretka takut memilih bersembunyi di belakang Haris. Karena ini pertama kalinya Iya bertemu dengan Frans. Arden sudah pernah dirumah sakit. maka Ia tidak takut lagi,


“Ya tuhan cucuku,Mami ikut berlari menghampiri, tapi wajahnya mami terkesan hanya terpaksa.


“Momy mereka ciapa?” Aretha bingung melihat keramaian dan kehebohan itu.


Adella dan ibunya bagai kambing congek hanya diam terabaikan. Hanya menonton ,


Didalam rumah Aretha tidak mau digendong siapapun. Ia hanya merangkul leherku. Arden tidak diragukan Ia cepat bergaul .Bahkan sudah bercanda dengan Frans.


Papinya Frans akhirnya datang juga . seperti cerita Frans mereka pisah rumah sudah empat tahun lamanya. Anehya Aretha malah berlari ke pelukan kakeknya. Kata kakak Hendro mereka sudah beberapa kali bertemu


.

__ADS_1


“Kakek…”Ia berlari memeluk .Frans, Arjun baik Maminya dibuat melongo menyaksikan pemandangan langka itu.


__ADS_2